HEBOH FOTO “EKSTRIM KULINER” KALBAR…?

Pemberitaan oleh http://m.tribunnews.com/nasional/2015/01/11/foto-pembantaian-monyet-diduga-di-kalimantan-mendapat-kecaman-netizen pada Minggu, 11 Januari 2015 13:26 WIB dengan judul Foto Pembantaian Monyet Diduga di Kalimantan Mendapat Kecaman Netizen”, menunjukkan adanya kehebohan. Foto pembantaian belasan monyet dengan sadis itu mendapat kecaman dari para netizen. Foto tampak berada di antara satu perkampungan atau hutan.
.
Dalam foto terlihat empat pemuda asyik sembelih monyet dan diposting akun Facebook Chen Yu Liang pada satu di antara group tertutup komunitas tertentu, Sabtu (10/1/2015) malam. Dalam postingan Chen Yu Liang memasang status “Siapa Yang Binatang? | Manusia Lebih Binatang…! Dan kasus Pembantaian makhluk ini diduga terjadi di Kualan – Balai Bekuak – Simpang Hulu Ketapang – Kalimantan Barat.” Alhasil, dalam waktu tidak sampai dua jam postingan tersebut mendapatkan 93 likes dan sebanyak 97 komentar. Umumnya komentar berisikan nada kecaman bahwa manusia sudah tidak memiliki rasa belas kasihan meskipun terhadap binatang.
.
Bagi kami di Kalimantan Tengah, khususnya kabupaten Barito Selatan, kasus seperti ini rasanya teranggap biasa saja. Kenapa? Pertama, Barito Selatan masih banyak terdapat hutan sebagai habitat monyet, orang utan, bekantan dan satwa liar lainnya. Setiap orang bebas membunuh atau menangkap satwa di hutan tanpa sanksi apa pun. Kedua, Barito Selatan tidak punya hutan lindung, cagar alam atau taman nasional sehingga semua flora dan fauna dianggap liar, tidak ada perlindungan sama sekali. Memang sih ada Dinas Kehutanan atau Jagawana, tapi itu sangat terbatas dan tinggalnya di kota. Kalau pun ada peta hutan lindung, itu cuma peta di atas meja, bukan di alam nyata. Ketiga, sebagian masyarakat Barito Selatan memang terbiasa menyantap hidangan daging monyet, bekantan, bahkan orang utan dan satwa liar lainnya. Kebiasaan ini berlanjut sampai sekarang. Keempat, satwa liar seperti monyet, kera, orang utan, ular, beruang sudah menjadi hama karena merusak kebun masyarakat, kebun sawit perusahaan dan mencuri di rumah-rumah warga. Tampaknya satwa tersebut sulit memperoleh pangan di hutan sehingga harus mencuri di kebun orang atau masuk ke rumah masyarakat. Di kampung terapung Bambaler, monyet-monyet pada pagi dan sore hari berjajar di tepi-tepi sungai menunggu penghuni rumah lanting lengah sehingga mereka bisa turun mencuri makanan apa pun yang ada.
.
Sekedar mengingat kembali peristiwa di kampung kami, berikut tulisan di http://mobile.tribunnews.com/tribunners/2011/02/23/ekstrim-kuliner-kalteng-1,Rabu, 23 Februari 2011 oleh Syamsuddin Rudiannoor berjudul Ekstrim Kuliner Kalteng (1)”
.
TRIBUNNEWS.COM, PALANGKARAYA – Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, satwa dilindungi yang terdapat di Kalimantan Tengah adalah orangutan Kalimantan (pongo pygmaeus pygmaeus / pongo pygmaeus wurnabii), bekantan (nasalis larvatus), owa-owa (hylobates agilis), kera (macaca fascicularis), beruk (macaca nemestrina), kancil (tragulus javanicus), beruang madu (helarctos malayanus), rangkong (buceros sp), rusa sambar (cervus sp), kijang (muntiacus muntjak), trenggiling (manis javanica) dan kukang (nycticebus coucang).
.
Tapi tahukah anda kenapa hewan-hewan itu kian terancam keberadaannya bahkan punah? Salah satu penyebabnya adalah hewan-hewan itu merupakan menu santapan favorit masyarakat tertentu. Maka untuk sekedar membuktikannya, berikut pengalaman yang saya saksikan langsung 3 tahun yang lalu.
.
Hari Jum’at tanggal 26 Desember 2008, saya melalui perjalanan darat dari Palangka Raya menuju Buntok menggunakan taksi Kijang “Tulus Travel”.
.
Pukul 14.00 WIB kendaraan kami tiba di Kalahien seberang. Beberapa menit menikmati kapal penyeberangan, pukul 14.45 WIB kendaraan kami meninggalkan ferry sungai Barito dan mendarat di Kalahien Hilir.  Perjalanan diteruskan langsung menuju Buntok.
.
Disaat  kami melewati desa Kalahien itulah, tepatnya di tepi sungai sekitar 20 meter ke hulu Kariring Jaya Pangkalima Sapi, tampaklah beberapa laki-laki sedang membakar bulu-bulu bekantan (nasalis larvatus) ukuran sedang dan satu ukuran besar.
.
Tampaknya bekantan dan beberapa monyet tersebut (mencapai 10 ekor) adalah hasil buruan masyarakat dengan cara ditembak. Melihat kejadian itu hati saya sedih. Tapi apa boleh buat, sedih saya atas matinya binatang dilindungi itu adalah menu pesta favorit bagi rakyat kami. Harapan saya, semoga kasus seperti ini tidak terulang lagi.
.
Menu apa yang akan disajikan dalam pesta rakyat hari itu? Biasanya rakyat kami mengolah daging primata tersebut menjadi S-3, yaitu: sop, soto, sate. Diluar itu biasanya ada pula bumbu kare dan masak merah.
.
Lalu bagaimana mempersiapkan masakan S-3, bumbu kare dan masak merah paikah alias bekantan? Prosesnya sama saja dengan membuatnya dari bahan lain, tidak perlu disampaikan disini.
.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s