HATI MANUSIA LEBIH KERAS DARI PADA GUNUNG BATU

Khutbah Jum’at di Masjid As-Sunnah Buntok tanggal 2 November 2012

 

Oleh :  SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

 

 

KHUTBAH PERTAMA

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

 

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Hari ini dan dari mimbar ini untuk kesekian kalinya saya bawakan firman Allah surah Ali Imran ayat 7:  “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”.

Ayat ini tegas menunjukkan adanya ummat Islam yang sangat gandrung atau hobi memplintir ayat untuk menimbulkan fitnah dan menimbulkan takwil atau tafsir-tafsir sesuka hati.

Dalam hal agar selamat dari takwil dan menimbulkan fitnah dalam ber-islam, solusi yang Allah jelaskan diantaranya surah An Nisa ayat 59. Malah dalam khutbah yang lalu telah dibacakan dari surah An Nisa ayat 59 sampai 70.

Dalam An Nisa 59 Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik takwil / akibatnya.”

Inilah jawaban Allah bahwasanya sebaik-baik takwil adalah takwil Allah karena hanyalah Allah yang Maha Mengetahui. Artinya, haram bagi kita berislam dengan mengandalkan takwil-takwil kecuali takwil itu resmi berdasarkan takwil Allah dan Rasul-Nya. Dan ulil amri yang dimaksud dalam ayat ini tiada lain adalah siapa pun yang membawa kepada Allah dan Rasul secara mutlak. Tidak dikatakan ulil amri apabila para pemimpin itu tidak mau kepada Allah dan Rasul-Nya dalam semua urusan.

 

Selanjutnya An Nisa 60 Allah berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”.

Coba bayangkan ayat-ayat diatas. Apakah mungkin ulil amri mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya padahal disaat yang sama tidak memperjuangkan hukum-hukum Allah, malah memperjuangkan hukum-hukum thaghut? Sungguh ini sebuah kesesatan yang jauh.

AN NISAA’ (4:61): “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada  hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”.

Inilah dua ayat yang menunjukkan realitas ummat Islam: 1. Mengaku beriman namun menolak berhukum kepada hukum Allah, justru sebaliknya mengakomodir hukum thagut. 2. Tatkalan diajak kepada penerapan hukum Islam maka tampak jelas adanya tokoh dari ummat ini yang menghalang-halangi sekuat tenaga walau pun mungkin saja mulutnya tidak menyatakan kekufuran.

Baiklah kita tunjukkan ayat muhkamat dari firman Allah surah Al An Nur ayat 58 – 59: “[24:58] Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (pembantu lelaki dan wanita) yang kamu miliki dan orang-orang yang belum balig di antara kamu meminta izin kepada kamu tiga kali: sebelum sholat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaianmu di tengah hari dan sesudah sholat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [24:59] Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig maka hendaklah mereka meminta izin seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

 

Dari kedua ayat diatas dengan tegas Allah mewajibkan agar apabila kita berada di luar kamar maka aurat harus terpelihara karena urusan aurat adalah urusan di dalam kamar.

 

Pada masa waktu-waktu aurat maka siapa pun yang ada urusan dengan kita, sementara kita berada di dalam kamar, maka wajib atas mereka meminta izin. Inilah kewajiban yang jelas dan tegas, sebagian dari ayat muhkamat kepada kaum muslimin. Artinya, tidak boleh orang masuk ke dalam kamar orang lain seenaknya kecuali harus dengan izin pemilik kamar.

 

Dalam riwayat An-Nasa’i, juga dalam shahih Muslim disebutkan Rasulullah SAW pernah bersabda melalui khutbah beliau. Setelah beliau memuji-muji Allah dan menyanjung-Nya dengan puji dan sanjung yang sudah menjadi hak-Nya maka beliau SAW bersabda:   “Barang siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitab Allah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW. Seburuk-buruknya urusan ibadah adalah yang dibuat-buat, semua yang dibuat-buat adalah bid’ah, semua bid’ah adalah sesat dan semua kesesatan di dalam neraka.”

 

 

KHUTBAH KEDUA

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ؛

 

Jamaah yang berbahagia.

Apa yang saya maksudkan dengan penjelasan ayat-ayat pada khutbah pertama tadi? Itulah sebagai mana firman Allah surah Al Hasyr ayat 21:  “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung maka pasti kamu melihatnya tunduk terpecah-belah karena takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”.

Cobalah kita bayangkan ayat Allah ini. Kalau saja Al Qur’an diturunkan kepada gunung maka gunung berantakan terpecah-belah karena takut kepada Allah. Namun berulang-ulang ayat Al Qur’an dibacakan kepada kita justru hati kita bukannya luluh malah menjadi keras melebihi gunung batu. Hati manusia memang lebih keras daripada batu.

Di dalam surah Ar Ra’d 31 Allah pun berfirman: [31] Dan Al Qur’an itu adalah bacaan yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi menjadi terbelah atau orang-orang mati dapat berbicara. Sesungguhnya segala itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji”.

Dengan demikian sangat jelas bahwa ayat-ayat Al Qur’an adalah perintah dan larangan Allah yang tidak main-main, walau pun sangat disayangkan ternyata hati manusia kebanyakan enggan menerimanya didalam menjalankan kehidupan ini.

Didalam hadits dari Zaid bin Arqam dari Nabi SAW diriwayatkan bahwa beliau telah bersabda:  “Amma Ba’du. Ingatlah wahai manusia, sesungguhnya aku tiada lain hanyalah manusia biasa yang didatangi utusan Allah (Jibril) lalu kujawab panggilannya. Aku meninggalkan bagi kalian dua peninggalan yang berat, yang pertama adalah kitab Allah yang mengandung petunjuk dan cahaya (yakni tali Allah yang kuat. Barang siapa mengikutinya berarti berada didalam petunjuk dan barang siapa yang meninggalkannya berarti berada di atas kesesatan). Ambillah ajaran Kitab Allah  dan peganglah dengan teguh”. (HR Muslim, kitab Fadhailush shahabah, bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib IV: 1873, nomor 2408).

Buntok, 1 November 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s