PERINTAH PUASA RAMADHAN


Khutbah Jum’at tanggal 17 Agustus 2012 di Masjid As-Sunnah Buntok
 
Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR
 
 
 
 
 
KHUTBAH PERTAMA
 
 
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
(Ali Imran 102)

: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. (an Nisa’ 1)
 
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. (al Ahzab 70-71)
 
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
 
 
Jamaah Jum’at yang mudah-mudahan dirahmati Allah SWT.
 
Allah Sub-hanahu wa Ta’ala secara lengkap menurunkan perintah puasa ramadhan dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 183 sampai 187:

 


[183] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,


[184 (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.


Inilah perintah itu, perintah yang ditujukan khusus kepada orang-orang Islam (beriman) supaya mereka bertakwa. Namun perintah ini memiliki pengecualian yaitu tidak semua orang Islam harus berpuasa kecuali mereka tidak bepergian dan tidak sakit. Namun demikian, mengupayakan tetap berpuasa adalah lebih baik.


[185] Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Barang siapa di antara kamu mempersaksikan bulan itu maka berpuasalah pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajib berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur. 

 

Sangat jelas dan tegas bahwa Al Qur’an diturunkan dalam bulan ramadhan, pada malam yang penuh berkah, yakni pada malam Lailatur Qadar (QS Al Qadr 1). Lalu kenapa kita mengatakan Al Qur’an diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan, padahal penetapan ini tanpa dasar ilmu sama sekali? Kalau pun kita merujuk kepada hadits-hadits shahih dari Rasulullah SAW maka dengan gamblang dinyatakan bahwa Malam Al Qadr (Lailatul Qadar) itu adanya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan ramadan. Artinya lailatul qadar turun pada antara tanggal 21 sampai 29 Ramadhan, inilah malam-malam Nuzulul Qur’an. Tanggal 17 Ramadhan itu sudah pasti haul Perang Badar, lalu kenapa kita menyalahinya dengan mengatakan sebagai Nuzulul Qur’an? 

 

Fungsi Al Qur’an pun jelas yaitu sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Pertanyaannya, kenapa kita masih saja berislam dengan menetapkan sesuatu tanpa dasar Al Qur’an sama sekali? Misalnya, kita tetapkan Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan padahal Al Qur’an menegaskannya pada malam Al Qadr dan malam itu adalah sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Lalu.., kenapa kita tidak mau merayakan 17 Ramadhan sebagai HUT Perang Badar padahal sangat jelas perang Badar terjadi pada tanggal tersebut? Islam macam apa kita?

 

 

QS Al Baqarah 186 Allah menegaskan: [186] Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

 

Inilah bukti bahwa Ramadhan adalah bulan Al Qur’an. Allah menyatakan diri-Nya sangatlah dekat. Kalau Allah itu sudah sangat dekat maka kita manfaatkan kedekatan itu dengan maksimal meminta dan berdoa kepada-Nya secara langsung, asal kita memenuhi persyaratan-Nya, yaitu:  memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. 

 

Dengan demikian kita wajib meminta langsung kepada Allah.

 

 
 

 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
 
 
 
 

 
 
KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ
 
 

 

Dalam Al Baqarah 187 Allah berfirman: [187] Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

 
 

Inilah dalil yang tegas bahwa kaum muslimin disyariatkan pada malam bulan ramadhan bersahur dengan hubungan suami-istri, makan sahur dan minum sampai tibanya adzan Shubuh, kemudian Imsak atau memulai berpuasa ketika adzan Subuh berkumandang. Dengan begitu maka Imsak adalah rukun puasa yakni menahan diri dari makan dan minum dan segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai awal malam. Dengan demikian waktu Imsak adalah lebih 12 jam, sejak adzan subuh sampai adzan magrib. Artinya Imsak 10 menit sebelum adzan Subuh adalah Bid’ah.
 
Selama bulan ramadhan kita hanya dilarang berhubungan suami istri ketika i’tikaf di Masjid. Kalau tidak i’tikaf maka sikat saja bleh, halal dan baik. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.  
 
Artinya,tujuan Puasa Ramadhan adalah mencapai Taqwa, sehingga kita sangat bingung ketika ada ulama yang menyatakan bahwa orang yang berpuasa akan mencapai tingkat Khawash bil khawash atau Khawash. Kenapa kita mau saja merubah tujuan puasa kita kepada KHAWASH padahal Allah yang menjanjikan TAQWA kepada kita?

Wallohu’ Ta’ala A’lam.

 
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s