WAYANG KHAS KALIMANTAN TENGAH (2)

WAYANG KHAS KALIMANTAN TENGAH (2)

.

JUDUL UTAMA

.

PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR

.

Penulis :

SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Alamat :

Jalan Panglima Batur Nomor 7 RT 11 Buntok 73711

Kalimantan Tengah

Kontak Telepon : 0525-22238 ;  0813 4960 6504

e-mail :  srudiannoor@yahoo.com

.

.

BABAGONGAN

(Wayang Khas Kalimantan Tengah)

BAGIAN KEDUA

.

.

Sub Judul

ATMOSFIR 50 TAHUN ARCAPADA MERDEKA

2004

.

Babagongan 1

.

DOSA BULAN HARAM

Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Negeri Arcapada telah sampai usia emasnya. Karenanya,  selama satu bulan rakyat wayang diharuskan  ikut  memeriahkan pesta emas kampung tercinta.  Satu bulan penuh peringatan dan perayaan digelar besar-besaran.  Satu bulan penuh suka cita rakyat harus ditampilkan. Satu bulan pol berbagai atraksi dan lomba berpacu silih berganti. Pokoknya sabulanan tungkal, kata orang Kutaringin. Akibatnya, ulang tahun kali ini sangat meriah warnanya.  Sangat cerah rona kulit wajahnya.  Sangat manis suasananya. Indah. Meriah. Jauh lebih indah  dan meriah dari tahun-tahun sebelumnya.

Umbul-umbul berjajar-jajar dimana-mana. Pokoknya meriah dan sedap dipandang mata, tidak perduli tiangnya bambu curian. Tidak  perduli kain  benderanya kain rampokan atau hasil manyimbat. Itu semua urusan panitia. Yang penting semua harus meriah dan dapat selamat di-SPJ-kan ke Bagian Keuangan. Toh semua itu demi bangsa dan negara. Sebagian pertanggung-jawaban juga diakui sebagai dukungan sponsor, jadi bukan hasil mambegal, titik.

Lega hati Kiyai Semar Pangantutan Alaihi Salam  melihat pertumbuhan dan kemajuan negerinya hingga usia lima puluh tahun ini. Senyum lelaki sepuh-tuha-ganal burit itu seraya bergumam:

“Alhamdulillah…”, katanya penuh kesyukuran. “Se- tengah abad sudah negeri ini. Tahun emas negeri tercinta.  Inilah bulan suci negeriku. Inilah bulan haram itu. Bulan penuh berkah bagi kampung tersayang. Bulan yang lebih baik dari 600 bulan sebelumnya selama merdeka. Inilah bulan penuh  berkah bagi kampung tersayang.  Kiranya Allah senantiasa beserta kita….!!”

“Puji Tuhan”, kata Petruk Onta melengkapi gerunum dan ristaan Bapaknya. “Maju pesat negeri kita ya, Bah?”

“Maju apa?”, sergah Bagong Jambulita protes sekonyong-konyong. “Mana bisa maju?”

“Beraninya Yu ngomong jelek begitu!”, hardik Gareng sok garang. “Ngomongan  itu dasarnya apa?”

“Itu mereka sendiri yang pasang spanduk. Negeri ini masih punya  utang 50 tahun dengan BRI!”

“Apa?”, tanya Petruk keras seraya merasa sangat heran. “NKRI punya utang?”

“Iya!”, jawab Bagong keras pula. “Coba lihat spanduk-spanduk itu. Bunyinya begini: “50 tahun Negeriku, 100 Tahun BRI!” Kan sulit negeri kita maju kalau masih punya utang 50 tahun di BRI? Belum lagi kalau bunga utangnya cukup tinggi, kan repot?”

“SSttt!”, kata Kiyai Semar seraya membungkam mulut anaknya yang kritis. “Kamu jangan bikin-bikin penyakit, ah!”

Melotot mata Semar memandangi anaknya yang boncel nakal. Besar mata itu bagai bola tenis Steffi Graf.  Merah mata itu bagai  mata  Jin Kauk.

Besok harinya, ikut juga Semar Pawai Pembangunan dalam rangka HUT Emas negerinya. Dia tahu keikut-sertaannya akibat korban instruksi. Jelas itu. Tapi demi negeri wayang tercinta dan demi kesyu­kuran 50 tahun kemerdekan, tersenyum juga Semar sepanjang jalan. Terus saja tersenyum dan tersenyum. Sampai akhirnya, tersenyum pula dia tatkala arak-arakan tengah melewati panggung kehormatan didepan rumah jabatan Batara Guru Penguasa Arcapada Khalifatullah Panatagama.

Di podium kehormatan, tersenyum lebar Tuan Besar Batara Guru seraya terus melambai-lambaikan tangannya. Duh Tuhan,  bangga betul lelaki itu menyambut salam emas seluruh peserta pawai. Walau aki­batnya dia harus berdiri terus dan melambai terus dari tengah hari hingga malam. Capek dia. Wei, senyum itu terus mengembang dibibirnya, walau pun dia harus kehilangan Shalat Asyar dan Maghrib sekaligus. Celakanya lagi, Pandita Abdus Salam Rauf Tarus yang Ketua Majelis Ulama Arcapada, yang berdiri disamping Batara Guru, yang terus tersenyum dan melambai pula, juga adem ayem melangkahi waktu  fardu Asyar-Maghrib. Celaka!

Karena arak-arakan masih lama baru akan berakhir  sementara perut  Semar sudah mulai melilit-lilit sakit pertanda hampir masuk waktu Isya’, terpaksa orang tua itu meninggalkan barisan pawai. Riuh-rendah peserta pawai menyoraki Semar yang lari meninggalkan barisan.

Sesampainya di masjid kecil di Kampung Raja, seketika sakit mulas perut Semar hilang. Dan memang, penyakit perut orang tua itu akan kontan hilang kalau dia dekat masjid atau pengajian. Dus, cepat lelaki abdi itu mengambil wudlu. Segera ia mendirikan shalat jama’ ta’khir Magrib-Isya. Segera dia bertaubat dan berdoa. Segera dia pingsan di masjid itu. Tuhan telah menghukumnya. Tuhan sedang men­jewer kupingnya yang keras. Tuhan sedang menegurnya. Kenapa? Karena dihari emas negerinya, dihari haram kampungnya. Dia tidak memperbanyak syukur dan dzikir kepada-Nya. Dia tidak meningkatkan rasa ingatnya kepada Allah, tidak. Malah dihari itu dia telah banyak berbuat dzalim dengan mempraktekkan shalat jama’ dua kali  di waktu Dhuhur dan Isya dalam sehari! Apa betul kelakuan serupa itu? Apa ada rukhsah untuk kejadian remeh seperti itu?  Belum lagi shalat itu dilakukan dengan sangat tidak khusuk. Kan celaka besar?

Tapi bagaimana dengan ribuan peserta pawai lain plus Batara Guru, Batara Narada, Patih Supala dan Pandita Abdus Salam Rauf Tarus yang sama sekali los alias lepas total shalat mereka dihari haram ini?  Apakah  hari  haram  ini  juga haram hukumnya? Atau apakah semua dosa-dosa ini Semar juga yang menanggungnya? Entahlah! Karena dalam masyarakat pewayangan, Batara Guru adalah juga Pandita Durna. Kan dia Wan Guru Ugama Sayyidul Muslimin Panatagama Arcapada menurut SK. Buktinya, setelah dia berganti baju dari Baju Batara Guru  menjadi Pandita Durna, dia cukup sering menjadi khatib shalat Jum’at.  Kalau sudah begini, apa pantas Semar juga yang menanggung dosanya?  Kan bukan Semar yang Eselon  I   tapi  Dia?

Kumai,  29 Juni  1996.

.

.

Babagongan 2

.

NYELU BULAU,  PESTA BULAU

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Perayaan Tahun Emas Negeri Arcapada juga sangat meriah di Kelurahan Nyaru Menteng Panunjung Tarung. Tidak kalah meriah bila harus dibandingkan dengan kelurahan lain, kampung lain, kabupaten lain bahkan propinsi lain. Kok bisa begitu? Ya jelas dong!  Karena pada puncak perayaan atau hari H atau Hari Haram itu seluruh kegembiraan dikeluarkan tanpa sisa.  Seluruh potensi seni budaya dikedepankan. Semua karya terbaik dan lomba terindah digalakkan dan dipersembahkan demi negeri tersayang.  Pokoknya,  sip  deh!

Terjadi perang spanduk dimana-mana. Lihatlah dan bacalah. Ada yang berbunyi:  “Selamat Nyelu Bulau, Lewu-ku”.  “Selamat Pesta Bulau Kawan Pahari”.  “Dirgahayu Negeriku Tercinta!”  “Selamat Datang Kebangkitan Nasional II, Selamat Datang Abad XXI”. “Selamat Memasuki PJP Tahap II”. Pendek kata, berwarna-warni tulisan-tulisan itu berserakan. Berkelap-kelip lampu-lampu hias menerangi malam yang sejuk. Megah meriah tugu-tugu, umbul-umbul dan umbel sepanjang kampung. Riuh-rendah segala lapisan dan penjuru desa. Habis-habisan mulut-mulut gang dan dukuh disambut Lawang Sakaping atau Pintu Gerbang terbaik. Seru disegala penjuru. Hebat. Dahsat! Camuh.  Semrawut.  Kalut.  Hot!

Malam Resepsi Kenegaraan adalah malam puncak perayaan yang paling ditunggu-tunggu. Apa kabar? Tentu saja karena ada hiburan gratis dan terbesar. Buktinya, diatas panggung hiburan acara telah dimulai dengan segala kemeriahannya. Di puncak panggung, Antang Bajela Bulau tampak tersenyum bangga. Sedangkan didadanya bertulis besar: DIRGAHAYU NEGERIKU. Pendeknya, semua yang hadir dimalam itu terlihat sangat gembira. Semua bangga. Semua bahagia.  Coba cari, wayang mana yang tidak senang dihari akbar ini?  Tidak ada, kan? Semua gembira. Semua cermin kegembiraan. Semua harus gembira. Harus!

Karena ini pesta rakyat, maka rakyat yang jadi raja. Rakyat yang dimanja. Bukan sebaliknya, rakyat yang berjubel-jubel dan datang duluan, Batara Guru dan Pejabat Tinggi malah datang terlambat. Dan celakanya, mana Batara Guru sebagai pemimpin panutan telah  datang terlambat, eee… malah dipersilakan duduk paling depan dan  dikasih makanan paling enak.  Ini kan tidak adil namanya! Aturannya, siapa yang datang paling duluan, itulah panutan. Itulah teladan. Jangan yang datang paling molor yang paling dimuliakan. Kan camuh sa’umuran! Yang tepat itu seperti terminologi Jum’atan di masjid, gitu lah! Yang datang duluan, dia yang duduk paling  depan  dan dapat pahala terbesar. Siapa yang paling telat datangnya, pahala Jum’atnya hilang,  titik!  Tidak pandang bulu. Tega. Lugas. Adil!

Malam itu pentas Dang Dut adalah arena paling heboh. Bagaimana tidak, rakyat Nyaru Menteng adalah rakyat dang dut.  Semua mesti dimulai, diisi dan diakhiri dengan dang dut.  Semua harus dang dut.  Pokoknya harus dang dan dut. Kalau tidak dang dut, rakyat tidak faham.  Rakyat cuma tahu dang dut! Titik. Begitulah hati rakyat:  Hati  dang dut.  Dut.

Satu persatu artis Dang Dut bergoyang dan berdendang. Kesim­pulannya, seluruh goyang dang dut yang disajikan biduanita malam itu hukumnya haram.  Sekali lagi “haram!”. Tapi meskipun goyang-goyang dang dutnya haram, nyatanya para ulama dan masyarakat menikmati hiburan haram itu. Apalagi artis penyanyi itu kebanyakan telah hajjah dan selalu memakai “assalamu’alaikum” sebelum berdendang dan bergoyang, karuan saja hukum haram kontan berubah menjadi mubah bahkan wajib bagi mata alias fardu ain. Kan mubazir kalau tontonan terbesar tidak ditonton, kapan lagi ada yang semeriah ini? Gratis lagi. Hasilnya, halal dan haram tidak penting malam itu. Yang penting rakyat senang. Buktinya? Rakyat paling kecil yang duduk paling depan tampak paling terhibur di kursi empuknya.  Sementara tangan kanannya pegang paha ayam goreng, tangan kirinya pegang sekaleng sprite dingin. Kepalanya tampak manggut-manggut. Bibirnya selalu tersenyum-senyum. Sedangkan para petinggi kampung sebangsa Batara Guru, Batara Narada, Tuan Kadi dan Patih Supala, tetap saja mereka berdiri berdesak-desakan diujung paling belakang. Kasihan para pejabat itu terhimpit-himpit dan terdesak-desak kesakitan.  Kacar liur mereka melihat rakyat kecil yang duduk paling depan dengan segala fasilitas  makanan dan kenyamanan yang menggiurkan. Tapi apa mau dikata? Semua ini telah terlanjur disebut pesta rakyat, jadi rakyat yang jadi raja. Rakyat harus menikmati malam ini. Rakyat yang mesti gembira. Bagitu kata Undang-undang.

Lalu apa pasal para pejabat tinggi macam Batara Guru, Batara Narada, Tuan Kadi dan Patih Supala harus berdiri berdesak-desakan paling belakang? Ya salah sendiri! Kenapa dalam setiap kegiatan hobinya datang molor! Kenapa tradisi terlambat dipelihara? Kalau maunya duduk paling depan dan dapat kursi paling empuk, ya datang dong paling awal. Kebiasaan sih datang terlambat! Salah awak seorang! Ibarat Jum’atan, masih untung pahala Jum’atnya tidak sampai dibatalkan. Coba kalau dibatalkan, kan kasihan Sampeyan semua.  Masih untung ada dispensasi, paling minim demi alasan persatuan dan kesatuan bangsa wayang. Coba kalau tidak, bisa runyam dunia pewayangan.

Sampai akhirnya ke larut malam, pesta terus berjalan semakin meriah. Dang-dut itu semakin seru saja menunjukkan lenggak-lenggok kegenitannya. Semua bergoyang. Janggut bergoyang.  Tangan bergoyang. Jagung Arab bergoyang. Pinggul begoyang. Buah kates juga bergoyang. Padang ilalang juga bergoyang. Semua jadi berjoget. Semua berdendang riang. Semuanya tampak sangat bergembira. Semua berdang-dut ria.  Ceria!

Atagfirullah al azdim.  Rupanya Dang Dut itu shalat tahajjud mereka. Besok harinya, koran-koran menulis berita heboh dimalam pesta bulau itu. Betapa tidak? Ada rumah kemalingan saat ditinggal nonton dang dut 50 tahun kemerdekaan. Ada pemuda mati karena minum spritus dan pil koplo. Ada gadis diperkosa pemuda berandal dan pengangguran. Ada tukang ojek dibunuh karena rebutan betina haram. Celakanya lagi, berita itu justru terbaca oleh Kiyai Semar yang jantungan.  Hasilnya, repot lagi orang sekampung mengurus  orang tua itu.  Pingsan lagi lelaki tua itu begitu koran pagi selesai dibacanya. Huh, dasar Semar cengeng!  Baca berita tidak penting saja koma.

Kumai,  29 Juni  1996.

.

.

Babagongan 3

.

DATANG BULAN SEKAMPUNG

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Semua orang  tahu kalau negeri Arcapada  telah sampai  usia emasnya. Semua orang tahu kalau selama tahun emas segalanya  dikaitkan  dengan peringatan emas.  Semua juga tahu kalau Pawai Emas telah dilaksanakan  dengan  gegap  gempita penuh keemasan.  Bahkan  orang kampung pendulangan liar tidak lupa memperingati hari emas negerinya dengan beramai-ramai memasang gigi emas. Pokoknya, sekali emas  tetap  emas.

Pawai  Emas  telah dilaksanakan dengan sangat meriah.  Semua orang  tahu kalau para petinggi kelurahan dan ribuan  peserta  pawai sama  sekali tidak shalat wajib karena  arak-arakan  tidak  kunjung usai.  Tapi adakah yang tahu kejadian remeh di sebuah surau reot  di tepi  kali?  Begitu adzan Ashar berakhir, tak satu pun orang kampung yang  datang shalat ke surau.  Yang shalat cuma  Resi Bisma  dan  si boncel Bagong  Jambulita. Yang lain kemana? Orang kampung  agaknya masih  setia berdiri di tepi-tepi jalan menonton pawai.   Selebihnya? kebanyakannya ikut pawai dengan tertib dan semarak. Demi Tuhan dan segala  ciptaan-Nya, pawai itu memang sangat meriah  dan  luar  biasa.  Sungguh sayang kalau harus dilewatkan begitu saja. Shalat kan  mema­kan  waktu juga? Kan sayang kalau tertinggal walau cuma sebarisan demi  membela shalat! Besok kan pawai tidak ada lagi?  Kalau  shalat kan masih bisa besok dan seterusnya? Pendeknya,  itulah rona dunia.

Begitu adzan Magrib berakhir, tak ada pula orang kampung yang datang shalat ke surau. Ada apa gerangan?  O…, rupanya pawai masih belum juga usai sejak dhuhur hingga magrib. Rupanya anak-anak negeri masih  setia menyaksikan arak-arakan dan ikut arak-arakan.  Rupanya, gelar  dunia  fana telah mendominasi hidup  manusia. Kiranya  Allah masih berkenan mengampuni dosa-dosa mereka, amin!

Selesai  tahiyat  akhir dan memberi salam, Imam shalat  Resi Bisma  dan makmum  tunggal Bagong Jambulita  meneruskannya  dengan  dzikir  dan  do’a. Selepas itu, berbicaralah Resi  Bisma  memberikan kuliah  magrib  kepada agen tunggalnya. Kuliah itu terkenal  dengan kuliah  tujuh  menit atawa kultum. Kuliah  singkat  tentang manusia dalam pandangan Allah sang Pencipta. Juga pandangan manusia tentang Allah Tuhannya. Kuliah tentang bagaimana Allah dan Manusia saling berpandang-pandangan.

Tidak  lama  setelah kultum sang resi  berakhir, Resi  Bisma membuka  mimbar bebas, forum demokrasi.  Begitu kata kader-kader  PDI  menuntut.

“Bagaimana, Ndak?”,   tanya Resi Bisma menawarkan.

Cukup nakal lempar­an itu. Bagong yang dipanggil Andak alias Endek alias Pendek  rupanya  tidak mendengar. Setengah melamun rupanya Endek Bagong  senja itu.  Entah apa yang difikirkannya.

“Endek Bagong?”, seru Bisma sekali lagi. Agak keras suara itu.

“Hah? Ya! “, jawab Bagong kaget.

“Bagaimana pendapat Bagong tentang Magrib di hari Emas ini?”

“Eeee,  maksud Wan Resi?”, tanya Bagong bingung. Telmi  rupanya  ABG  masa  kini itu,  mungkin akibat pengaruh pil koplo atau pil  ekstasi yang kian merebak luas.

“Pendapatmu  tentang  magrib sepi ini? Tentang surau  bagai  kuburan  ini?   Adakah do’a emas kita tadi didengar Allah, sementara yang lain membelakanginya dengan alasan tontonan emas  dan pertunjukan  emas pula?”

“Ya, bagaimana, ya?  Ya salah, dosa….!”

“Benar, Nak! Tapi ya bisa juga tidak, lho?”, jawab Resi Bisma  bagai  pegawai  negeri yang terbiasa berpolitis kata. Agak  munafik  bunyi  kalimat itu terlontar.

“Lho,  kok?”, tanya Bagong heran tak percaya. Maklum dia masih  anak kecil,  jadi terlalu  lugu untuk segera  mencerna  maksud  kalimat  bersayap.

“Iya….., tidak berdosa!”, tegas Resi Bisma meyakinkan. “Kan Allah tidak      mewajibkan perempuan haid untuk shalat! Malah haram hukumnya  kalau  shalat juga, begitu!”

“Hah?”,  gumam Bagong heran sekali.

“Iya!”, tegas Resi Bisma pula.

“Jadi Wan Resi menganggap orang sekampung perempuan semua hari ini?”

“Yap!!”

“Dan  haid  semua?”

“Ya!”

“Tapi  Abah  ulun Semar, Kang Petruk, Kak Gareng, Kang  Fuad,  Tuan Kadi, Pangeran Bendahara, Batara Guru, Batara Narada,  Wan  Patih  Supala  dan Pandita Abdus Salam Rauf Tarus, semua laki-laki tulen! Malah  ada  diantaranya yang punya istri dua, tiga atau  empat!? Bahkan ada lagi yang dilengkapi pula dengan WIL?”

“Iya  betul! Tapi itu kan cuma jenis kelamin. Itupun hanya  sebatas keterangan KTP! Realitanya?”, tanya Bisma aneh.

“Realita  bagaimana? Semua juga pada bisa kencing berdiri?”,  tanya Bagong tambah heran. “Wan Guru bisa saja?!”

“Realitanya kan hari ini orang sekampungan prei shalat!  Itu tandanya  orang sekampung perempuan semua! Wanita semua!”

“Artinya?”

“Artinya,  cuma kita berdua saja laki-laki dikampung ini  sekarang!  Yang lain betina semua!!”

”Lha  Abah,  Kang  Petruk,  Kang  Gareng?  Mau dikemanakan  burung  mereka?”

“Formalnya  mereka  tetap  lelaki. Tapi di hati  Ane, mereka  semua wanita!  Sebab apa? Sebab kalau mereka tidak dianggap  wanita,  Ane  salah!  Ane ikut berdosa besar!”

“Berdosa apa, Wan?”

“Ya  itu  tadi!  Hanya wanita haid yang haram  shalat. Kalau  mereka tidak wanita, buat apa mereka mengharamkan shalat pada hari ini?”

“Hihi…!”, tertawa Bagong mengukir senyum.  “Wan Resi memang benar!  Wan  Resi cerdas!  Hitung-hitung rukhsoh, ya  Wan?  Darurat, gitu!”

“Begitulah! Semoga darah ambeien Semar terhitung darah haid hari ini?”

“Subhanallah!”, istigfar Bagong sok ulama.  “Siapa tahu datang bulan kompak ini sebagai akibat Pil Penunda Haid yang dimakan ramai-ramai bulan puasa lalu?”

“Iya kali?”

“Tapi kok bisa haid-nya kompak dihari emas ini semua, ya?   Dan masya Allah,  lama sekali khasiat pil itu hingga hari ini?”

“Mungkin sekali!  Ini kan era moderen!”

“Pantas  orang sekampung puasa sebulan penuh tahun kemarin!   Rupanya  ada pil ampuh, ya!?”

“Itulah kemajuan dunia, Nak!  Haid saja  bisa  ditunda  demi ibadah puasa yang dipaksakan. Hati-hati saja meniti hidup ini.”

“Inggih, Wan!”, jawab Bagong terkesan Kejawen total.

Hari  memang sudah malam. Malam itu berlalu dengan  mencubit pipi Sang Pencipta. Marahkah Baginda Sidinullah hal adzim itu? Cuma Dia yang Kuasa menjawabnya.  Wallahu  a’lam bis sawab.

Kumai,  27 Juni  1996.

.

Babagongan 4

.

JI’UN

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Alkisah datanglah seorang pendulang emas kepada Kiyai Semar Alaihi Salam.  Lelaki ini datang mengadu tentang kejadian yang telah dialaminya di pendulangan. Ini sebuah kisah nyata.  Kisah yang terjadi di Negeri Siang di Kepala Barito, Kalimantan Tengah.  Kisah nyata pemburu emas di tahun emas. Lalu kenapa lelaki itu mengadu kepada Semar? Kenapa? Karena menurut pandangannya, Kiyai Semar diyakini akan mampu memberikan suatu kepastian.  Satu kepastian, satu saja. Yakni, berdosakah dia dalam kaitan dengan peristiwa yang terjadi  itu?

“Tapi Abah ingin dengar dulu duduk soalnya. Setelah itu baru Abah bisa memberikan pandangan. Kalau belum-belum sudah ditanya soal halal-haram atau berdosa-tidaknya, tentu Abah tidak bisa menjawab. Iya toh?”,  kata  Semar  kebapakan penuh santun.

“Inggih, Kiyai!”,  jawab pemuda itu sopan pula.

“Baguslah kalau demikian! Ini baru pemuda Arcapada!”,  puji Semar  manis. “Kalau begitu, silakan anak berceritera terlebih dahulu!”

Setelah  menarik  nafas  dalam maka berceriteralah  lelaki muda bernama Nanang Emek itu. (Dasar kebiasaan,  hanya karena terlalu banyak wayang Banjar yang bernama Nanang di banua, terpaksa Nanang yang satu ini diberi gelar Nanang Emek. Sebenarnya tidak pantas menggelari wayang menyangkut anatomi.  Ini kan termasuk penghinaan. Tapi karena terbiasa, terpaksa si Nanang ini terima saja setiap dipanggil Nanang Emek alias Nanang Temek  alias  Nanang Pesek.   Kan camuh?). Begini ceritera itu:

Sebagai Penambang Emas Tanpa Izin atau PETI, Nanang termasuk pendulang kelas kambuhan. Kenapa begitu?  Karena dia akan bekerja alias mendulang emas apabila hatinya sedang senang saja. Istilahnya, dia baru bekerja kalau sedang mood atau sedang pas arah anginnya. Ma’entai hewui bahalap, kata Ewen Tumbang Kapuas. Kasus spesifiknya? Ketika ramai-ramai orang menambang di Ampalit,  ada Nanang Emek di sana.  Tatkala musim orang sedang hot ma’udak Sungai Sekonyer dan Taman Nasional Tanjung Puting, terkadang hadir Nanang Emek di sana. Terakhir ketika ribut-ribut-but orang mendulang dan  menyemprot di udik Tanah Siang, muncul pula si Emek di sana. Pokoknya, dimana ada bau emas, di situ ada Nanang.  Syaratnya, asal hatinya lagi senang. Ujar bahasa Sangiang, hung kuweh tege bulau, hete tege Nanang.  Dimana ada emas,  di  situ   ada   Nanang.   Pendeknya,  sudah kenyang si Nanang dicap pemerintah sebagai penambang liar dan kocar-kacir dikejar Tim Penertiban PETI. Puas pula tunggang-langgang diburu Tim Siluman yang datang dari mana-mana. Susah benar hidup ini. Tapi biar pun begitu, prinsip dimana ada emas disitu ada Emek agaknya tetap berlaku.  Hasilnya, tiada emas berarti tak ada pula Emek  disana.  Hidup Emek!

Maka berjubellah orang banyak di penambangan liar udik Barito. Tak tahulah orang-orang itu datangnya dari mana. Pokoknya banyak  sekali manausia di sana. Kehidupannya sangat kompleks. Boleh dibilang kehidupan disana adalah kehidupan gembel. Di sana ada emas. Ada perempuan hot dan pundut alias lonte. Ada brandy, wisky dan baram. Ada dadu gurak dan daun domino. Ada rumah video porno dan komplek liar. Pokoknya, ada bandar merejalela disana. Keras. Undas dan begundal berkumpul.  Klop dengan kilau emas yang sungguh menggoda.

Walau nyaris semua pemegang KTP di pendulangan beragama Islam, namun sayang tak satu pun yang terdengar mengaji. Tak sempat. Sibuk. Itulah alasannya. Faktanya? Karena begitu pagi mulai merekah, semua orang langsung pergi ke hutan memburu emas. Dan begitu gelap tiba, barulah mereka kembali ke pondok di kem untuk tidur. Sampai  akhirnya,   tak  ketahuan  seorang  pendulang mendadak sakit dan meninggal di pondok kem sewaktu ditinggal pergi.  Baru kematian itu diketahui setelah para pendulang kembali dari hutan. Hari sudah lepas magrib. Cuara sangat gelap berkabut. Badan sudah lemas semua. Apa kabar? Bingung orang se kem mendapat musibah itu.  Lebih bingung lagi, yang meninggal ternyata di KTP-nya bukan beragama Islam. Bagaimana ini? Bagaimana cara menyelesaikannya? Ini peristiwa langka. Nah lho, repot semua jadinya. Celaka!

Hari sudah kian malam. Hujan turun rintik-rintik. Polisi tidak ada didekat kem. Posisi kem benar-benar sangat terpencil diantara bebukitan dan hutan seram. Sementara yang mati juga tidak jelas asal-usulnya. Tak satu pun yang tahu juriat tutus si mayit. Disisi lain, si mati juga tidak pandai bergaul sebagai pendulang pendatang baru di sana. Buntutnya, belum sebulan menjadi pendulang, e..e..e.. malah mati tanpa basa-basi. Tapi bagaimana penyelesaian kasus ini? Semua serba bingung. Semua buntu. Serba susah. Serba salah. Padahal, mayat sudah kian membeku bagai bongkahan es.

Setelah runding punya runding, disimpulkan bahwa mayat harus segera dikuburkan malam itu juga. Kalau tidak, kapan lagi?  Bikin  repot saja. Kalau ditunda-tunda malah bisa bikin perkara baru. Jadi, mayat harus ditanam malam ini juga.

Secepatnya mayat digulung dengan tikar tidurnya. Selesai diikat, segera mayat diantar beramai-ramai seluruh penghuni kem  masuk hutan. Berjalan sekitar setengah jam, rombongan stop di tengah hutan yang dinggap cocok.  Segera liang lahat digali beberapa orang. Secepatnya tikar gulung bangkai diturunkan ke dalam lubang dan ditimbuni tanah lembab hutan belantara. Selepas ditimbun, serentak  mereka menjadi kebingungan. Ada apa? Pasalnya, tak satupun oknum wayang yang ikut malam itu yang tahu cara mendo’akannya.  Jangankan  mendoakan mayat lain agama. Diri sendiri saja tak tahu apa itu do’a. Do’a sapu jagat saja tidak pas kalau harus disuruh membacanya.  Buntutnya, terjadilah ketegangan di pusara basah itu seketika. Setelah berjalan beberapa saat, dead lock berhasil ditembus. Artinya, masih syukur ada seseorang yang punya nalar agak lebih disaat-saat paling kritis. Kesimpulannya, mayat dihibur saja dengan lagu yang relatif hafal semua. Setelah suara terbanyak mencapai kata sepakat, menyanyilah para wayang itu bersama-sama memecah keheningan malam buta. Koor mereka bagai pasukan bina vokalia.

Ini bukan penghinaan atau mengada-ada. Ini fakta yang baru sempat didokumentasikan. Ya. Begitu koor itu telah setengah jalan dalam menyanyikan Lagu Wajib Indonesia Raya:

“……….Bangunlah Jiwanya………

Bangunlah Badannya….,

Untuk…………….!”

Lari semua para pengantar jenazah ini meninggalkan pusara. Fikir mereka, siapa tahu mayat itu tiba-tiba bangun begitu mendengar lagu yang dilantunkan menyuruhnya bangun?  Siapa kira dia bisa bang­kit akibat lagu itu? Ih, siapa nyana dia jadi hantu? Kan bisa gawat.  Bisa celaka!

“Bagaimana, Kiyai? Apa saya berdosa berada disana malam itu?”, tanya Nanang mengakhiri ceriteranya. Halus suara itu menghiba.

Hanya berkerut dahi Kiyai Semar dibuatnya. Bingung orang tua itu  kelihatannya.

Kumai,  1 Juli  1996.

.

.

Babagongan 5

.

BACK TO BASIC

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Terdengar juga oleh Kiyai Semar tentang maraknya pemakaian istilah back to basic. Koran-koran begitu gencar memberitakannya. Majalah, tabloid dan buletin tak kalah seru memuat berbagai makna dan versinya. Apalagi akhir-akhir ini semakin banyak saja seminar, temu ilmiah dan fihak-fihak tertentu yang menggunakan sekaligus mempopuler kan istilah itu. Akibatnya, jadilah back to basic sebagai istilah baru yang sedang hangat dibibir. Sedang  ‘in’  kata  biak  anum.  Sedang nge-pop kata yang lain lagi.

Bagi Gus Dur, back to basic merupakan upaya sungguh-sungguh kembali ke khittah-26. Bagi para serdadu  juga punya  makna dan arti sendiri dalam rangka membina citra keprajuritannya.  Para ulama dan beberapa lapisan masyarakat juga ramai memakainya dengan cita rasa dan takaran masing-masing. Ujung-ujungnya,  Kanjeng Semar  malah jadi bingung untuk menemukan makna hakiki dari kalimat baru  bertuah itu.

“Menurut kamu, apa itu back to basic?”, tanya Bagong kepada tetangganya Misru’ yang baru sembuh dari sakit gila.

“Hah?”, tanya Misru’ bego. Maklum Misru’ Kumai terkenal pinpinbo.

“Iya-iya!  Back to basic itu apa?”

“Ooo!”, jawab Misru’ heran berkepanjangan. “Anuu…, anu…!”

“Kok anu-anu?”, tanya Bagong lagi, “apa dong, cepat?”

“Iya! Back to basic artinya?  Artinya, kalau asalnya gila, sekarang  waras, besok ya back to basic! Ya… gila lagi, hahaha…!”

“Jadi?”, tanya Bagong kurang percaya, back to basic itu besok gila  kembali alias ……?”

“Ya… tergantung dari mana kita mulai?”, jawab Misru’ mendadak  intelek mengandung tanya.

“Kalau begitu, back to basic sama dengan kumat?”

“Oooooooo….”.

Di sebuah masjid yang sedang ramai dengaan siswa Pesantren Kilat, lain lagi yang didengar Nala Gareng tentang back to basic.

“Back to basic artinya kembali kepada fitrah! Ringkasnya insaf, sadar, taubatan nasuha. Kembali jadi orang-baik-baik…!”, ujar sang ulama kilat menjawab pertanyaan seorang santri.

“Kalau begitu, sebelum back to basic kita harus gila duluan,  mabuk, sinting, teler, madat dulu ya?”, tanya seorang santriwan  ekspres  main-main.

“Iya dong!”, timpal seorang santri kilat lain yang lebih kilat lagi  atau  santri kilat khusus. “Harus itu!”

“Ya..bisa juga!”, jawab sang ulama ekspres mencoba demokratis.  “Tapi  kalau sebelumnya kita telah baik-baik, ya sebaiknya tidak perlu gila dulu agar bisa back to basic. Kan lebih indah kalau kita tetap fitrah sepanjang masa, begitu…!”

“Ooo…!”

“Tapi manusia mana yang tidak pernah khilaf? Coba? Makanya back to basic cukup baik buat kita semua. Insyaf kita, sadar kita!  Back to  basic kita…!”

Lalu apa yang didapat Petruk Onta dikelompok wayang yang lain  untuk istilah yang sama?

“Back to basic itu ya kembali ke kandang semula, Abah!”,  jelas Petruk kepada Abah Semar yang mengutus mereka  bertiga  beradik  untuk melacak arti dan makna back to basic. “Jadi kalau dulunya mereka hidup di Jakarta sebagai copet dan maling. Begitu gagal jadi transmigran di Despot Kutaringin karena tidak bisa bertani…, ya  mereka  akhirnya back to basic!  Ya kembali jadi maling!”

“Oooo!”, gumam Semar dengan senyum misterius.

“Kok, ooo? Apa abah sudah jelas?”, tanya Petruk datar.

“Astagfirullah hal adzim!”, kata Semar istigfar seraya  mengurut dadanya yang hitam.

“Memang kenapa, Bah?”, tanya Bagong keheranan begitu melihat Kiyai  Semar istigfar sambil terkaget-kaget.

“Iya, Bah, kenapa?”, timpal Nala Gareng  ikut heran.

“Jadi…., back to basic itu rupanya yang mencuri guci-guci antik dan sapundu nenek moyang Dayak Darat?”,  reka Semar bingung tak  pasti.

“Entahlah, Bah? “, jawab Petruk gampang untuk menghindar diri.

“Iya!”, celetuk Gareng santai. “Kan kita-kita bukan intel!”

“Tapi kalau saya dengar-dengar, kayaknya…..iya..!”, ucap Petruk  terputus dan bimbang.

“Dengar apa?”, tanya Semar mencegat dan bergairah.

“Itu, Bah!  Para trans itu, Bah.  Katanya selain mereka back to basic  di Kutaringin, mereka kabarnya juga back to basic ke tempat-tempat lain disekitar kita! Malah terakhir… mereka benar-benar akan back to basic ke Jakarta ke kandang asalnya. Katanya malah ada yang  sudah pergi segala…?!”

“Lha kok? Laa…., terus lahan pertanian mereka yang diberi pemerintah untuk digarap?”, tanya Bagong bingung.

“Ya dijual, dong!  Masa harus ditinggal begitu saja? Kan sayang kalau  tanah itu kembali jadi tanah ulayat Dayak Darat.  Tak sudi lah,  ya…?”

“Memang bisa tanah rakyat yang sudah dirampok pemerintah bisa dikembalikan kepada rakyat lagi?  Kan… Mas Atmo kepala BPN  sudah  bilang  kalau di Kalteng tidak dikenal tanah ulayat!  Semua  kan tanah pemerintah,  tanah negara!”

“Terus…, mereka back to Jakarta, mau apa?”, tanya Gareng sambil  memegang kuncirnya.

“Ya kamu…lagi!!”, cela Petruk Onta kepada saudaranya yang bego setengah linglung itu. “Ya back to begal!  Back to nyopet, dong!  Back to nJowo!  Kan Koes Plus sudah bikin lagunya segala….!”

“Kok bisa?”, potong Bagong heran.

“Iya!”, jawab Petruk cepat. “Kan lagu itu yang telah mereka nyanyikan beramai-ramai ketika menaiki tangga kapal  Bukit Raya di Pelabuhan Kumai! ”

“Hah?”

“Iya! Ramai-ramai mereka koor “….Ke Jakarta aku kan kembali…. Walau pun apa yang  kan terjadi..!”

“Begitu, ya?”, tanya Semar pendek setengah hati.

Begitu laporan anak-anaknya telah lengkap diterima Kiyai Semar, pingsan lagi hamba Alaihi Salam  itu  ditengah   gubug  tuanya.  Dasar Semar cengeng! Mendengar berita begitu saja langsung terkena  alergi berat.  Huu..!

Kumai,  29  Juni  1996.

.

.

Babagongan 6

.

MANGUJUK  ANAK  WARIK

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Ribut para pemuda dan remaja Kampung Bawah Rangas akhir-akhir ini.  Apa pasal? Ternyata mereka sebagai OKP dan Ormas  Pemuda  yang bernaung dibawah Sentral Organisasi Pemuda Kampung (SORPEK) terlibat selisih pendapat dengan ketua umum. Kata pepatah bijak, beda  pendapat adalah rahmat. Benar pendapat itu kalau perbedaan hanya  masalah furu. Tapi kalau beda pendapat sudah mencapai atmosfir ruh, itu sudah perkara sangat gawat. Itu sudah perkara prinsip. Perkara asas. Perkara visi dan misi perjuangan. Itu sudah musibah namanya.

Ramai  para  ketua Ormas dan OKP mengumbar berita  di koran-koran untuk menggoyang ketua umum. Tak ketinggalan diperkuat  dengan aksi unjuk rasa dan aksi beber poster. Ada mimbar bebas dimana-mana. Riuh  rendah pawai penggusuran itu berlangsung. Isinya,  Ketua  Umum sudah menyimpang jauh dari alur konstistusi perjuangan. Dia  sudah ingkar dari janji-janji kampanyenya. Dia sudah bukan lagi ketua yang dapat  dipertanggung-jawabkan menurut AD/ART  organisasi. Pokoknya, dia sudah khianat secara nyata. Dia hanya mengincar kursi  semata-mata.

Meskipun aksi unjuk rasa dan unjuk berita berlangsung hingga berbulan-bulan, ternyata sang Ketua Umum tak tergoyahkan oleh hingar-bingar teriakan mayoritas anggotanya. Apa pula  sebabnya? Ternyata AD/ART hanya mengesahkan proses pengangkatan dan pemberhentian ketua umum melalui kongres, bukan ditentukan oleh unjuk  rasa. Lalu kenapa tuntutan kongres prematur juga gagal menyejukkan hati  aparat Kelurahan?  Olala! Ternyata Ketua Umum yang ada masih  yang terbaik dimata Batara Guru. Belum lagi karena alasan keamanan, alasan  sibuk dan alasan pendanaan yang belum tersedia. Artinya, Ketua yang  sudah ada  masih dibutuhkan oleh fihak Kelurahan. Artinya  pula, disaat orang ramai sedang gencar menyatakan pendapat dengan suara keras dan kampanye  terbuka yang cenderung brutal.  Sang Ketua  Umum ternyata  jauh lebih arif dan bijaksana. Dia nyatanya lebih memilih tenang dan pro kampanye  tertutup  dalam survival  tactic-nya.  Buktinya,  dia tenteram saja duduk di kursinya. So pasti satu kursi empuk di DPRD-K akan mulus jatuh ke pantatnya tahun depan. Makna lainnya? Dia dipan­dang masih lebih mampu bekerja sama dengan pemerintah daripada  yang  lainnya. Dia masih yang nomor satu dalam hal kemampuan mendengarkan bisikan sepi pemerintah daripada mayoritas kawan-kawannya. Dia lebih sejuk cara politiknya. Dia lebih mengayomi. Dia kenal betul tradisi dan tanah pijakannya. Dia tidak terjebak dengan slogan-slogan  semu demokrasi Barat. Dia memang anak bangsa ini.  Begitu kata mereka.

Merasa  aksi-aksi  mereka menemui jalan buntu, pusing para anggota  Ormas dan  OKP itu.  Salah sendiri,  kenapa berani-berani meludah ke atas? Kenapa coba-coba mengabaikan asas musyawarah untuk mufakat, mufakat dulu sebelum musyawarah, lalu musyawarah lagi untuk menuju mufakat? Coba? Kan rugi sendiri, toh?

Karena  sudah  kehabisan cara dan upaya. Karena  sudah habis akal-muakal. Pergilah para pemuda itu kepada Al Mukaram  Al Allamah Arif Billah Asy Sayyid  Semar  Alaihi Salam.  Pendek kata singkat ceritera.   Fahamlah  Semar akan duduk persoalan yang dilaporkan kepadanya. Kesimpulannya, Semar tidak  memihak  siapa-siapa dalam Kasus SORPEK  ini.  Namun  sebagai Sayyidul Ummah atau Mayoret Marching Band Pemda atau Dirijen Orkestra Anak Negeri, dia berkenan memberikan kenang-kenangan berupa  se­buah renungan. Hanya itu.  Karena cuma itu yang  dapat diberikannya sebagai  warga IDT. Lalu macam apakah mutiara hikmah  pemberian  Ki Ageng Semar? Intinya, jangan pakai kekerasan.  Solusinya? Ditariklah sebuah qiyas.

Di hutan rimba Tanjung Puting pernah terjadi hal serupa.  Tapi  kejadiannya  antara  sesama  Ormas dan OKP warik dari bangsa Kera.  Di hutan sana, terdapat seekor warik anak Batara Hanuman bernama Batara  Tarsius. Tarsius sangatlah betah tinggal disatu-satunya pohon sakti-subur-makmur-bagus-mewah-berbuah lebat pemberian ayahnya Abah Batara Hanuman  si Raja Kera. Hal ini sangat membuat iri warik-warik  alias kera-kera  lain yang tidak kebagian pohon.  Hasilnya,  si  Tarsius selalu diupayakan untuk diusir dari pohonnya. Terusannya, terjadilah usaha  kudeta  dan penggusuran besar-besaran. Caranya?  Segala cara terus  dilakukan. Misalnya, pohon syurga itu diguncang-guncang  oleh ratusan bahkan ribuan anggota Ormas dan OKP warik anum.  Hasilnya, si kecil  Tarsius  tidak juga jatuh dari pohonnya.  Malah  sebaliknya, warik itu semakin kokoh pelukannya kedahan pohon.  Gagal.

Pernah  pohon  itu ditebang oleh salah satu OKP,  tapi tetap saja pohon sakti itu berdiri lagi dan Tarsius tetap abadi diatasnya. Pernah  juga  disewa preman bernama Dewa Badai  untuk menghembus- kan angin  topan Tornado dan badai Helen, tapi tetap saja Tarsius  dapat bertahan. Sampai akhirnya, putus asa semua fihak yang terkait penggusuran.  Pusing semua. Lalu apa akal?  Tersenyumlah Dewi Bayu  lalu menawarkan  jasanya kepada mayoritas warik miskin yang sedang  sedih  bergeletakan di semak-semak di bawah pohon sakti Tarsius.

“Bagaimana caranya, Dewi Bayu?”, tanya anak Bekantan menghiba.

“Iya,  Dewi!  Tolonglah  kami ini!?”, seru  anak orangutan memohon  kasihan. Sungguh memelas suara pinta itu.

“Iya-iya,  baiklah!”,  jawab Dewi Bayu enteng.  “Tapi bekerja  sama  denganku ada syaratnya! Oke?”

“Oke!  Syaratnya apa dulu, cepat saja katakan?”, pinta anak beruk tak  sabar.

“Tapi setuju tidak?”

“Pasti kami setuju!”, janji kelompok anak lutung alias hirangan.

“Baik. Syaratnya, pertama. Hentikan semua aksi brutal. Hentikan aksi unjuk  rasa. Hentikan adu otot. Hentikan aksi  saling  hardik dan cemo’oh.  Faham?”

“Faham!”

“Kedua,  segera kembali keinduk organisasi masing-masing dan secara terbuka bersedia meminta maaf secara jantan. Dan ketiga, bersedia  menunggu hingga musim buah tahun depan!   Oke??”

“Oke  sih oke!  Tapi kenapa mesti menunggu kongres, eh  musim buah tahun depan segala?”, protes anak Owa-owa.

“Maaf-maaf!  Aku tidak butuh protes. Aku kesini cuma butuh bersedia apa tidak dengan segala syarat itu? Kalau tidak ya sudah! Aku tidak rugi. Aku cuma mau menolong kalian saja, titik!”

“Baik-baik! Kami setuju!!”, potong anak orangutan memangkas.

“Oke! Kita tunggu tahun depan! Daagg!”, ucap Dewi Bayu pamit pergi.

Lalu Dewi itupun pergi bersama angin. Gone with the wind!

Hari berganti,  bulan berlalu, sampailah kepada tahun yang dijanjikan. Sampailah masa musim buah yang sangat dihajatkan.  Dan  sampailah kehari yang sungguh diharapkan. Di siang itu, sungguh sebuah siang yang penuh deg-degan. Para warik gelandangan sudah gelisah tak sabar menunggu aksi kolusi halus mereka dengan Dewi Bayu siang ini. Namun demi janji, terpaksa mereka  mau  saja  pura-pura tidur di bawah pohon besar  Tarsius  yang  maha  bagus  dan menggiurkan. Sementara di atas, terlihat Tarsius  sedang  asyik  berat  santap siang dengan aneka-rupa  buah-buahan lezat di pohonnya. Selepas membantas atawa makan besar, Tarsius sekali  lagi kekenyangan.  Wow lezat, oi.

Difihak lain, Dewi Bayu sudah bermitra atau bersekongkol pula dengan Dewa Surya. Hari ini sebagai hari H pelaksanaan Kongres alias Persekongkolan Resmi merupakan hari yang dijanjikan.  Dewa Surya menjanjikannya sebagai hari yang paling panas. Hasilnya? Hari ini memang sangat panas   terik   sesuai  pesanan.  Akibatnya?     Begitu kekenyangan sedang dinikmati Tarsius dengan bersantai, perlahan-lahan satwa itu merasakan kepanasan  yang kian  bertambah-tambah. Gelisah kera kecil berkuasa itu kegerahan. Tepat disaat strategis sudah pas  hitungannya,  beraksilah Dewi Bayu dengan mengeluarkan keahliannya.  Hasilnya? Begitu  Dewi Bayu menghembuskan angin sejuknya yang semilir membelai-belai, seketika Tarsius yang telah dibuat kekenyangan dan kegerahan  merasa nyaman dan  rileks.  Selang beberapa menit kedepan, kontan Tarsius meresa sangat mengantuk. Menguap mulut satwa itu penuh kenikmatan. Tidak seberapa lama, tertidurlah dia dengan penuh kenyamanan.

Terus, begitu kenikmatan tidur lelap kekenyangan dibelai Dewi Bayu  telah mencapai titik klimaksnya, tiba-tiba  Tarsius terjatuh dengan sendirinya dari atas pohon. Olala. Rupanya tidur nyenyak telah  membuatnya  lupa akan pegangan. Dampaknya? Tanpa komando,  saat  itu juga  ramai-ramai para Ormas dan OKP yang pura-pura tidur menangkap Tarsius yang terjatuh. Segera mantan bos itu diamankan dengan  tuduhan KKN.  Dan karena tidak ada unsur kriminal  atau  tindak  pidana tampak didalamnya maka Kongres atau Persekongkolan Resmi itu mencapai sukses besar. Bravo Generasi Muda!  Viva Pemuda!  Hidup Kera!

Setelah   Tarsius   jatuh,   lalu  siapa yang pantas untuk naik  ke pohon ajaib itu? Ribut lagi warik-warik anum berebut untuk naik.  Ramai  lagi  banua akibat ulah anak bekantan, anak orangutan,  anak owa-owa, anak beruk, anak lutung dan anak warik bamban saling cakar-cakaran berebut pohon. Kelahi lagi mereka membuat huru-hara dan onar sambil hura-hura. Dasar anak warik! Dasar bangsa kera! Maunya berorganisasi apa kelahi? Apa memang begini yang namanya  organisasi modern post mufakat itu?

Kumai,  6  Juli  1996.

.

.

Babagongan 7

.

GENERASI PANANARUSNYA

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Suasana  Kampung  Bawah Rangas sudah reda suhu  politiknya. Kasus SORPEK  sudah dianggap selesai dengan naiknya  kembali  Ketua lama  dipucuk pimpinan. Tapi apakah  dinamika  kehidupan berhenti sampai  disitu?  Ternyata tidak! Buktinya, kembali  Ormas Pemuda  dan OKP yang ada membuat gebrakan yang cukup realistis  dan akademis.  Apa  itu?  Dengan bekal restu fihak Kelurahan  dan  restu Ketua Umum, digelarlah Seminar tentang Pemuda dan Kepemimpinan  Masa Depan. Intinya, ternyata masih banyak unsur dan oknum  pemuda  yang belum  puas  dengan didudukkannya ketua lama  sebagai  ketua  umum. Alasan  lain,  para  pemuda yang terangkum di ormas dan  OKP  belum sepenuh  hati  mampu menerima kalau hanya disebut  sebagai  pemimpin tukang  ribut atau pengguna setia pil koplo  semata.  Disisi lain, SORPEK  juga  memerlukan masukan darah segar untuk  memacu perkembangannya menyongsong abad-21.

Berbicaralah  para  cerdik pandai dari segenap negeri  dalam seminar  itu.  Ada akademisi, teknokrat. Ada resi, pembakal. Dan  ada pula  asykar  alias serdadu.  Kok  asykar  bicara  kepemimpinan, bukan tentang  perang?  Ya entahlah, sebab panitia yang menentukan  semua itu. Logikanya? Mudah saja. Otoritas berada ditangan panitia, titik.

Semua narasumber berbicara dalam topik yang sama, meski dalam kadar  dan tensi yang beragam. Masing-masing  memaparkan  pentingnya sistem kepemimpinan menurut versi masing-masing. Secara utuh,  kese­muanya  terangkum dalam pandangan Islam sebagai tariqat atau  pengakuan  keberagaman sudut pandang. Konsep asasinya tetap  sama,  yaitu kepemimpinan adalah fitrah Tuhan. Kepemimpinan adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Tapi bagaimana bentuk dan proses kepemimpinan?  Itu  yang menjadi bahasan seminar kali ini.  Itu yang sedang menjadi perdeba­tan.  Tapi  ingat, Pemimpin bagi Tuhan tidak sama  dengan  Penguasa. Karena  baginya, hanya Dia saja yang Maha Kuasa. Tidak ada  penguasa  lain selain  Dia, titik.  Maka kalau tetap  ada pemimpin yang mengaku  sebagai penguasa maka dia tidak lain adalah pencuri kekuasaan  Tuhan. Dia adalah maling, rampok dan begal yang sangat  nyata. Sangat jauh beda antara Pemimpin dan Penguasa.

Dalam sesi  tanya  jawab, terdengarlah  berbagai suara  dan  kepentingan.  Satu diantaranya bertutur: “Dalam  tragedi SORPEK”, kata seorang Ketua OKP, “itu memang  potret hitam-putih  kegagalan kami. Gambar bopeng wajah kami.  Tapi  untuk Ketua Umum   lama  yang  ternyata   duduk  kembali, kami tetap tidak dapat terima! Sebab dimata kami, kepemimpinan  Pak Ketua Umum  adalah  gagal bagi organisasi!”

“Gatot!”, teriak Ketua OKP yang lain tinggi, “gagal total!”

“Tapi kenapa kok Dia didudukkan kembali?”, tanya yang lain sengit.

Setelah moderator menyela, pertanyaan itu dijawab  narasumber dari kaki-tangan Kelurahan. Katanya datar:

“Kami  pun sependapat dengan Ketua-Ketua ORMAS dan  OKP tadi.   Dimata kami,  Ketua Umum SORPEK gagal total dalam kepemimpinannya. Tapi kok bisa jadi Ketua Umum lagi?  Pertama, tragedi SORPEK telah  menunjuk­kan bahwa ketua-ketua Ormas dan OKP hanya bisa berebut kepemimpinan daripada jadi Pemimpin. Buktinya? Begitu jabatan Ketua Umum lowong, yang  ada  cuma cakar-cakaran semata! Bagi Kelurahan, ini  sangat berbahaya. Apalagi ini menjelang Perang Baratayudha  tahun  depan. Artinya, Ketua lama masih layak untuk diangkat kembali untuk sementara waktu. Ringkasnya, dia kita akui gagal total dalam  kepemimpi­nan terdahulu. Namun meskipun demikian, tenaganya masih kita butuh­kan  untuk  memimpin SORPEK beberapa tahun mendatang.  Ya…sambil menunggu  lahirnya Tokoh Pemimpin SORPEK yang baru dan lebih  baik. Disamping itu, apa salahnya kita memberikan kesempatan sekali  lagi kepada  beliau untuk berkarya lebih baik. Semoga sang  ketua  dapat memetik pelajaran dari pengalaman terdahulu. Hanya soal waktu  saja masalahnya.  Siapa tahu kader-kader yang ada sudah  semakin  dewasa  dalam masa penantian itu.  Sekian!”

Muncul kesimpulan dan satire lain di forum itu:

“Kalau  demikian,  kegagalan  bukan berarti  akhir sebuah  jabatan. Maknanya, meskipun Marcos dipandang gagal dan korup dalam  kepemimpinannya, dia tetap saja dibutuhkan  sebagai  Maskot Philipina. Bagaimana bencinya  orang  sedunia  terhadap  kepemimpinannya,  toh terus saja Fidel Castro dibutuhkan negerinya sebagai Maskot Negara Kuba.  Tetap saja Semar Maskot Punakawan, meskipun  beliau dikenal  sebagai pemimpin droping yang dipaksakan untuk menjadi pemain dalam  percaturan dunia pewayangan. Tetap saja Paduka Raja  Sultan  dari Dinasti Bolkiah sebagai maskot Brunei Darussalam, walau  bagaimana juga omongan orang. Terus saja orangutan menjadi Maskot Kotawaringin Barat meskipun cukup banyak alternatif  lain yang dapat dipilih.  Apa  ini  berarti kepemimpinan abadi, gitu?  Lalu  mana  dong  suksesi  itu?”

“Yes, hidup Hitler! Jerman memang uber alles!!”, sela seseorang.

Pendapat itu memperoleh tanggapan panelis ahli lainnya:

“Benar saja pendapat semua itu! Namun sisi pandang lain juga  pantas kita perhatikan. Contoh konkritnya, kita punya tragedi SORPEK  yang sangat memalukan. Seluruh Ormas dan OKP setuju ketua umum  diganti. Kepemimpinannya  dinilai gagal. Semua sependapat. Tapi apa  jadinya dengan  suksesi gaya beber poster dan unjuk rasa itu?  Begitu  ketua umum  mundur atau dimundurkan, mana itu pemimpin yang  lebih baik?  Coba  jawab? Kan tidak ada buktinya. Non sense!  Yang  terbukti  kan cuma  cakar-cakaran rebutan kedudukan sampai berlarut-larut.  Kalau terus  dibiarkan,  pasti kelahi terus sampai bungkuk dan  beranak-cucu?! Kacau kampung ditangan pemuda.”

“Ya!”,  sindir  seorang cecunguk OKP bernada sinis serius.  “Kalau  keadaan terus seperti  sekarang, kesinambungan kepemimpinan sama dengan keabadian bagi seorang komandan. Singkatnya, kami sebagai  generasi penerus akan terus menjadi generasi nunggu terus. Yang  jadi  Ketua, terus saja jadi generasi terus menerus. Sedangkan yang paling bawah atawa  anggota, selamanya sebagai generasi tak  terurus!! Memang susah jadi yang paling kurus. Sebab kebanyakan pemuda akhir abad 20 ini kegemukan sehingga sulit sekali mencari  pengurus untuk  duduk jadi pengurus!!”

“Heh!  Apatis sekali kamu?!”, cela seorang Ketua OKP yang  merangkap  sebagai Abdi Dalam Kelurahan.

“Ho-oh!”, jawab ketua ormas lain. “Habis serba salah sih? Ada suksesi,  salah!  Tidak diadakan malah lebih salah!  Nanti  bisa  dikira komunis segala, ih!  Masih untung cuma dicap ormas papan nama saja. Tapi gimana, dong?”

“Ambil  saja jalan tengah!”, celetuk Ketua OKP yang lain.  Maka  pas pula yang bicara seorang wanita Ketua Ormas Perempuan.

“Ya  jelas  ambil jalan tengah dong kalau yang menyarankan  seorang gadis  cantik macam sampeyan!”, celah yang lain sambil  menunjukkan tingkat kebuayaannya, “Perempuan kan nyuruhnya menuju yang ditengah saja!  Sebab kalau menuju yang lain kan bisa haram hukumnya!”

“Ya… jangan porno, dong!!”, bantah seorang utusan daerah.

“Iya, nih!  Senangnya  kok  saru!”

“Saya kira tidak juga! Paling yang dimaksud adalah yang paling aman, gitu! Yang aman memang ambil jalan tengah.  Kanan-kiri oke, gitu!”

“Ya, benar itu!”

“Tapi bagaimana kalau jalan tengah itu berarti munafik atau plintat-plintut atau tidak berpendirian?”

“Ya repot, dong!”

“Repot gimana?”

“Jelas  repot sekali! Coba fikir! Dikira perempuan, eh… ternyata lelaki. Kan tidak bisa dipakai. Kita kan bukan hombreng!  Kita  ini asli,  lho!  Jadi kita tidak bisa AC-DC. Mana mau kita  sama  wadam alias bancir alias bencong! Amit-amit!!”

“Iya, ya! Biar cantik kaya Sherly tapi kalau jenis kelaminnya  laki-laki,  kan tidak jalan!”

“Ya repot, ya?”

“Terus gimana?”

“Ya teruskan sendiri! Sesuaikan saja dengan falsafah hidup berbangsa dan bernegara di kelurahan masing-masing!”

Dari luar forum, Kiyai Semar dan ketiga anaknya cuma tersenyum getir mencium angin besar yang sedang berhembus dikampungnya.  Angin Barat rupanya  angin politik yang sedang  menerpa kencang.  Allahu Akbar!  Semar hanya mampu termangu-mangu dipelataran  politik  tanah  air  ini!

Kumai, 28 Juli 1996.

.

Babagongan 8

.

K A P S T O K

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Kampung Tingang memang kampung yang terbilang dinamis. Buktinya, seluruh lapisan masyarakat turut aktif dalam proses pembangunan negeri.  Jangan tanya soal aktifitas generasi  mudanya. Orang-orang anum kampung itu tak kalah bersemangat  dalam mengisi  pembangunan  bangsa. Malah  karena terlalu bersemangatnya,  timbul buah bibir minus tentang oknum orang anum yang dinilai terlalu   aktif  dalam menggeluti pembangunan ini. Buktinya? Simak saja dialog bebas yang terdengar dibilik ini disiang yang mendung.

“Biarkan saja!  Itu  kan hak asasi warganegara!”, jawab Gareng acuh  bangat.

“Iya. Hak asasi sih iya! Tapi sebagai orang Timur, sopan santun kan perlu dipertimbangkan!?  Masa disemua  organisasi  masuk sebagai  pengurus? Sepuluh organisasi, sepuluh jabatan yang dipegang?!”,  bantah Petruk.

“Itu namanya kepercayaan! Jabatan adalah kepercayaan, Om..! Kamu iri ya tidak dapat kepercayaan seperti dia?”, sindir  Bagong  sinis.

“Kepercayan  apa? Iri bagaimana? Ini sih namanya  aji mumpung! Kaji tampulu, Julak ai! Mumpung Abahnya  masih  jadi  pejabat   anu!     Tampulu   babe masih  jadi  Dewa Anu di Kelurahan  Anu!  Huh…..?”, cibir  Gareng bernada syirik.

“Kalau dia dipandang cakap dan mampu?  Apa  Kakang tetap iri juga, hah?”, celoteh Bagong menggoda.

“Buat apa? Asal sportif saja. Siratal mustakim, gitu! Oke-oke saja! Namun  perlu dicatat, tanpa organisasi apa pun,  aku  masih tetap hidup, kan?”

“La, kalau tidak iri, coba tolong jangan usil dengan aktifitas orang lain, dong!”, seru Nala Gareng kalam sopan bernada menasehati, “Siapa tahu dia benar-benar berorganisasi dalam rangka beribadah!  Kan dosa berprasangka buruk  kepada orang lain!?”

“Ini  bukan prasangka, Dik! Saya hanya mempermasalahkan pantas  apa tidak?   Dan lagi, di banua ini kan bukan cuma dia saja yang  pandai berorganisasi. Asas pemerataan dong difikirkan?”, kilah Petruk  tak mau kalah.

“Pantas,  bagaimana? Atau pemerataan model apa, Kang?” tanya Bagong  serius.

“Begini,  Gong!”,  jawab Petruk antusias. “Pantas apa tidak satu orang memegang semua kepengurusan organisasi yang ada di banua,  padahal di banua cukup banyak pemuda lain yang cakap untuk itu? Kedua,  apa  pantas hal itu dilakukan seorang wanita? Wanita, Dik?  Coba fikir? Kapan dia sempat jadi pengurus yang baik bagi sepuluh organisasi itu kalau  dalam satu minggu cuma  ada tujuh hari? Kapan? Dan kapan pula dia sempat belajar jadi  calon istri atau  calon  ibu  yang baik kalau dia sudah ekstra sibuk  begitu?  Kapan?”

“Ya  kapan-kapan!”

“Apa  ini  tidak mengundang tanda tanya?”, tanya Petruk  kian sinis  serius.  “Apa ini tidak sekedar menumpuk jabatan untuk tujuan politis tertentu?”

“Maksudnya?”

“Iya! Bisa saja dia berorganisasi sebanyak mungkin hanya untuk batu loncatan menjadi Caleg!?  Ini kan namanya Galeg Hunter?  Atau, bisa saja  dia begitu untuk sebanyak mungkin mencari kesempatan ke luar daerah  demi  uang  perjalanan yang lumayan? Kalau  sudah  begini, dimana  dong letak terminologi ikhlas dan lillahi  ta’ala-nya?  Kan repot kalau kegiatan ibadah sudah dipolitisir?”

“Tapi  kan masih wajar!”, bantah Gareng permisif. “Itu kan imbalan yang  setimpal bagi kerja  keras  yang dilakukannya  tak kenal  waktu…?!”

“Meski dia seorang wanita?”, tanya Petruk nyinyir.

“Emansipasi, toh?”, jawab Gareng padat.

“La…, pria mau dikemanakan?”

“Ya….  jadi Bapak Rumah Tangga!”, potong Bagong cepat. “Kan tidak  salah?”

“Sori saja!  Itu  salah fatal!   Sangat salah sekali!  Keliru  besar kalau  kita menempatkan wanita sebagai saingan  pria  dalam kata  emansipasi!  Pria itu mitra wanita,  bukan musuh!”

“Boleh juga!?”, jawab Bagong ragu.

“Iya!  Sesuaikan dong dengan fitrahnya!”, jawab Petruk agamis. “Dan sebaiknya  wanita itu lebih proporsional kalau banyak belajar  di rumah.  Sebab apa?  Sebab wanita adalah ibu rumah tangga yang menjadi  penyejuk hati suami dan anak-anaknya!!”

“Lalu,  sejak tadi ngobrol ngalor-ngidul kahulu-kahilir,  yang  jadi sasaran protes siapa?”, tanya Bagong tak faham.

“Fikir, dong?  Jangan suka enaknya saja!”

“Tahu, ah!  Buat apa repot-repot mikir! Kasih tahu, dong?”.

“Oooo..,  telmi ya kamu, Boncel?”, cibir Gareng. “Siapa lagi  kalau bukan  si  Nyai Siang-Malam. Kan Petruk sentimen  berat kepadanya!  Maklum cintanya ditolak mentah-mentah!?”

“Sori berat!”, bantah Petruk keras mau memukul Gareng.

“Et-et!”,  sahut Bagong tangkas seraya cepat-cepat melompat menjadi  penengah.  “Diskusi cukup sampai disini saja!  Sebagai penutup, kita harus segera menarik kesimpulan yang  baik!  Jadi, kesimpulannya bukan berkelahi, dong, oke?”

“Oke!”

“Baik!”

“Kalau begitu, kesimpulannya?”

“Namakan  saja  gadis  yang kita  permasalahkan  itu sebagai    gadis    kapstok! Dan     cantolkan atau gantungkan atau sampirkan saja  semua baju organisasi kepundaknya!”,  usul Petruk merengut.

“Boleh.  Asal  jangan ada unsur sentimen  pribadi dalam kesimpulan  itu”, kata Gareng bernada damai.

“Bagus!  Ini baru kesimpulan yang manusiawi sekaligus Indonesiawi!  Dengan begitu maka perang saudara dapat dihindari!”, potong  Bagong cepat seraya mendinginkan suasana.

“Hehe!”

Apa iya? Entahlah!

Kumai,  31 Oktober 1996.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s