WAYANG KALIMANTAN TENGAH (BAGIAN PERTAMA)

WAYANG KALIMANTAN TENGAH

.

Judul Utama

.

PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR

 

.

Oleh

Syamsuddin Rudiannoor

 

.

.

KATA PENGANTAR

Bulan Januari 2001 saya tercatat sebagai PNS pendatang baru di Pemda Kabupaten Barito Selatan dan ditempatkan di dinas baru pula yaitu  Dinas Informasi, Komunikasi dan Pariwisata Kabupaten Barito Selatan. Kenapa pendatang baru?  Sebab saya baru pindah bulan itu setelah 3,5 tahun sebagai PNS pada Dinas Pariwisata Propinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya  dan  8,5 tahun sebagai PNS Pemda Kabupaten Kotawaringin Barat di Pangkalan Bun.

Suatu hari Sabtu pertengahan Januari 2001, saya bertemu dengan Amang Nain (Kurnain  Apa’ Rama, PNS pada Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Barito Selatan) di perempatan Jalan Patianom – Uria Mapas – Panglima Batur, Buntok.  Apa yang terjadi?  Beliau menanyakan kedatangan saya. Saya jawab bahwa saya sudah pindah ke Buntok dan ditempatkan di Dinas Informasi, Komunikasi dan Pariwisata Kabupaten Barito Selatan.  Beliau tampak gembira dan menyampaikan harapan.  Katanya: “Bagus beh Ikau pindah! Mudah-mudahan Ikau kawa maangkat kesenian daerah itah!”   Menyadari harapan itu, saya jadi terkenang masa lalu dengan beliau. Apa itu?  Dalam  Riwayat  Lahirnya Babagongan, saya menyebut  lahirnya  2 Dalang lokal Buntok, yaitu Kai  Pa’ Baer (Kumis Saililah) dan Julak Pa’ Anen (Juri).  Kedua orang ini adalah  dalang pertama  dan generasi perdana yang saya tahu pernah dimiliki Buntok.  Setelah itu, barulah saya menyadari bahwa akan muncul lagi dalang baru atau generasi kedua dibelakangnya. Dalang baru itu tiada lain adalah Kurnain atau Amang Nain. Saya pernah melihat beliau magang dalang, berlatih memainkan saron, kangkanong dan gendang. Tapi sayangnya, saya tidak pernah tahu lagi dimana raibnya segala perangkat pewayangan itu pasca periode Amang Nain?  Seingat saya, Buntok pernah punya itu semua, tapi saya tidak tahu dimana semuanya sekarang.

Kalau Ki Dalang Kai Pa’ Baer dan Julak Pa’ Anen  saya pernah menyaksikan pertunjukannya.  Tapi khusus Amang Nain, saya belum pernah melihat keahlian beliau dilapangan. Makanya saya jadi ragu apakah Amang Nain pernah sempat lahir sebagai dalang atau belum? Agaknya, perubahan zaman telah mematikan kreativitas pe­wayangan di daerah ini.  Harapan saya, semoga sisa-sisa budaya wayang yang pernah ada itu dapat ditelusuri kembali keberadaannya, minimal dapat dikenang sebagai sebuah nostalgia yang indah.  Disisi lain, saya sebagai orang keempat dibelakang Amang Nain,  untuk sementara hanya mampu mengenang dan memainkan wayang Buntok itu sebatas melalui Babagongan ini saja.  Cuma ini daya upaya saya yang ada.

Wayang Buntok kali ini membawakan lalakun Wayang Kalimantan Tengah dengan judul: “PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR”. Tampilan ini merupakan kumpulan Babagongan  Seri  Pertama hingga Keenam, yang tentu saja akan diikuti dengan Babagongan seri berikutnya. Harapan saya, semoga karya ini bermanfaat adanya.

Diakhir pengantar ini disampaikan pengakuan jujur bahwa beberapa judul dari sekian banyak judul babagongan merupakan pengaruh langsung dari EMHA AINUN NADJIB tatkala beliau memberikan ceramah pada Pengajian Umum Cendekiawan Muslim Al Falah Surabaya pada hari Ahad, 28 Pebruari 1988 dengan tema: “ASPIRASI POLITIK UMMAT ISLAM INDONESIA DAN  REALISASINYA  DALAM KURUN WAKTU DUA PULUH TAHUN TERAKHIR”.

Terima kasih.

Buntok, 30  Mei  2002

Ki Dalang

SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

 

 

 

.

.

.

RIWAYAT LAHIRNYA BABAGONGAN

Antara tahun 1968 sampai 1975, Buntok masih kota sangat kecil yang sederhana. Kala itu sarana informasi rakyat yang paling moderen baru  berupa pesawat radio dan sedikit tape  recorder.  Tidak  ada pesawat televisi.  Listrik masih belum PLN.  Mobil masih tidak  ada. Sepeda  motor  termasuk vesva masih berbilang jari. Siaran RRI merupakan siaran idola seluruh rakyat.  Dus, dalam suasana seperti itu, tumbuhlah  saya sebagai seorang anak bawang berusia  5  sampai  12 tahun.

Dalam  kebersahajaan hidup Buntok tahun-tahun tersebut,  terkenanglah saya  akan  jasa almarhumah nenek  saya  Jawiah. Kenapa demikian? Karena dari mulut tua beliau, saya mendengar secara berulang-ulang  banyak kisah atau ceritera rakyat yang cukup variatif pokok  bahasannya. Pendeknya, ada ceritera kancil dan pak tani.  Ada kisah kura-kura dan burung pelatuk. Ada Sangumang dan keluarganya. Ada kisah Batara Gangga. Ada ceritera Supak dan Gantang.  Dan yang terakhir saya ingat adalah kisah lucu yang beliau namakan Babagongan  atau  Wayang Epat.

Kembali  ke suasana Buntok tahun 1968-1975, hiburan   rakyat   yang  hidup  kala itu  adalah musik-musik RRI  plus sedikit seni  tradisional.  Dan salah satu seni tradisi itu adalah  pagelaran  pentas wayang kulit. Terus, wayang kulit yang dimaksud adalah Wayang Banjar (atau  wayang Jawa yang dimainkan oleh orang Banjar (?)).  Pendek kata, seni yang dominan dimainkan di pahuluan Barito kala itu adalah seni pesisir yang dibawa orang Banjar.  Sampai kemudian, tercatat ada dua orang lokal yang berhasil menyalin kaji dan menjadi  dadalang wayang Banjar (yaitu Kai Pa’ Baer atau Haji Kumis Saililah dan  Julak Pa’ Anen alias Juri), meski pun kualitasnya terbilang prematur bila harus tega dibandingkan dengan dalang Jawa atau Paguruannya dari  Banjar.  Namun  anehnya, justru kelahiran prematur dalang  Buntok  berikut kualitasnya  yang diragukan, malah melahirkan wayang baru  yang tak kalah unik, minimal setelah kisah wayang itu dituturkan kembali oleh nenek saya Jawiah  kepada  saya  sebagai  cucunya.

Ilustrasinya mungkin begini.  Ketika wayang asli atau  wayang India  (berhasil dan atau gagal) diadopsi orang  Jawa,  orang  Jawa menciptakan wayang baru yang sesuai dengan kejawaannya.  Oleh karena itu,  tidak heran kalau kemudian wayang asli mendapat anggota baru (putera  daerah Jawa) seperti Wisanggeni, Ontoseno sampai  Punakawan alias Kiyai Semar dan anak-anaknya. Meskipun skenario ceritera tetap kisah India sejati  tapi sudah ada sisipan muatan  lokal akibat bakincahnya  para aktivis  pendatang  baru  tadi.    Lalu   tatkala  wayang India telah benar-benar (diakui) menjadi Wayang Jawa Asli, kala itulah  wayang   “diambil” oleh  Urang  Banjar   sesuai   kemampuannya.   Hasilnya,  keruwetan kisah India yang masih   “mampu” dipertahankan  Wayang Jawa, mulai “gagal” dilidah Dalang Banjar. Siapa waruh siapa tambuk?  Dari perkembangan selanjutnya, malah dalam beberapa kasus  wayang Banjar yang main di Buntok, bawayang justru kian menonjolkan sisipan Punakawannya saja daripada pakem asalnya. Terus, ketika wayang India yang telah di-Jawa-kan lalu di-Banjar-kan itu sampai juga ke Buntok, permintaan  pasar  atau selera rakyat  Buntok yang  sederhana  justru “hanya” menantikan Punakawan saja dalam khasanah  bawayang  mereka. Sampai  kemudian, karena keranjingan Punakawan berikut  akibat  kegagalan  nenek saya dalam mencerna lakon pewayangan,  malah  mematok kavling pewayangan baru dilingkungan keluarga kami. Itulah yang oleh nenek saya dinamakan Babagongan atau Wayang Epat atau Wayang Ampat. Artinya,  bawayang bagi nenek saya hanyalah Lalakun Punakawan  saja, dimana pemain utamanya adalah  si  endek  Bagong  Jambulita.

Kalau asalnya bawayang lakon utamanya adalah orang  India dan  kisah India, yang ketika di Jawa ‘bertemu’ Punakawan  sebagai sisipan.   Justru di Buntok  lakon utamanya  adalah  Punakawan. Keterbatasan nenek saya dalam menyerap dan menceriterakan  kembali kisah wayang tersebut kepada saya akhirnya malah mematok bahwa lakon utama wayang adalah Bagong plus ayahnya  Semar berikut kakaknya Petruk Onta dan Nala Gareng. Barulah kemudian  artis Babagongan yang empat itu yang ketemu  wayang-wayang lain dalam perjalanan hidup mereka yang penuh liku-liku.  Artinya, telah terjadi pemutar-balikan rambu-rambu dan ideologi pewayangan di Kampung  Buntok. Dan anehnya, revolusi itu justru terjadi di Buntok dilidah nenek saya Jawiah yang buta huruf dan buta wayang.

Mungkin timbul pertanyaan, kenapa Babagongan atau Wayang Epat yang menyimpang justru ditampilkan kedepan?  Jawabannya  singkat saja.   Saya  hanya ingin menampakkan bahwa Babagongan  atau  Wayang Epat merupakan wayang khas Kalteng yang mudah-mudahan dapat  menjadi pilar  seni  budaya nasional.  Ini yang pertama. Kedua, lewat  Baba­gongan saya ingin menjadikannya jembatan informasi yang dapat dibaca oleh Pemerintah dalam arti luas dan masyarakat pada umumnya.  Karena apa? Sebab  cukup  banyak dinamika dalam  masyarakat  Kalteng  yang mungkin belum sempat dibaca oleh pemerintah. Atau sebaliknya, cukup banyak  informasi dari pemerintah yang kurang sampai kepada  rakyatnya.  Singkatnya, kiranya Babagongan ini dapat menjadi sarana silaturrahim  non formal  dalam bermasyarakat  dan berpemerintahan  di Propinsi Kalimantan  Tengah, sebab seluruh  isi  dan kulit  dalam lalakun Babagongan yang ditampilkan diusahakan semaksimal  mungkin menyerap  dinamika masyarakat Kalimantan Tengah yang  sedang  aktif bergerak maju.

Semoga upaya ini dapat diterima dengan baik, amin.

Kumai, 31 Januari  1997

Penggagas,

Syamsuddin  Rudiannoor

Jl. H.M. Idris No. 581 RT 07

Kumai – Pangkalan Bun  74181

.

.

BABAGONGAN BAGIAN PERTAMA

.

Sub Judul

.

SEMAR PEMIMPIN DROPING

.

Babagongan 1

.

TRAGEDI  KENTUT  SEMAR

(PEMIMPIN  1)

Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

.

 

Batara  Guru  sedang berceramah di depan  para kiyai, lurah, demang, pembakal, dambung, mantir dan aparat desa lainnya se Arcapada. Katanya sih temu kangen atau jumpa fans atau temu kader alias jumpa aparat, walau para malaikat dan para wayang tetangga menuduhnya sebagai kampanye. Kampanye premature — kata mereka. Kampanye berlaku surut, kata orang tertentu Biro Keuangan mengomentari pertanggung-jawaban pendanaannya. Tapi apapun kata orang, Batara Guru tetap punya kilah mantap untuk menepis segala pendapat miring, sumbang dan parau yang ditujukan ke arah partainya. Siapa sih yang tidak kenal Batara Guru alias Si Komo alias Paduka Duli Tuan Raja yang bersemayam di atas Api Nan Tak Kunjung Padam itu? Tentu semua orang kenal dia, sebab dialah manusia paling cerah masa depannya di Nusantara Wayang ini bersama Mbak Titot. Begitu ramal Gus Dur.

Ceramah Batara Guru pada intinya masalah kepemimpinan menjelang PJP II. (Tidak pernah membicarakan masalah bawahan, selalu masalah kepemimpinan atawa  masalah atasan). Itu artinya masalah proses suksesi dan demokratisasi. Singkatnya masalah Dekorasi alias demokrasi dan suksesi.

Mendengar ceramah yang itu-itu juga dari si Anu sampai si Anu berikutnya, telinga Kiyai Semar Alaihi Salam menjadi kehilangan kontrol atas data yang masuk komputer otaknya. Crouded kepala hamba jujur itu. Pusing tujuh keliling secara otomatis. Lalu apa pasalnya? Ternyata ketika telinga kirinya memproses data pendengaran: “….demokrasi harus kita giatkan terus karena demokrasi adalah pemerintahan rakyat, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat…!” Secara ajaib telinga kanannya malah mendengar  “…. demokrasi harus kita  giatkan terus karena demokrasi adalah pemerintahan saya,  dari saya,  oleh sampeyan  dan  untuk  saya…!”

Membaca input dari telinga kiri (baca: reciver kiri) dan telinga kanan yang paradoksal alias saling melengos, kontan  super komputer otak Semar jadi konslet. Blap, mendadak  kepalanya jadi pusing, mata berkunang-kunang, tenggorokan terasa mual sekali dan badan mendadak panas dingin. Seperseribu detik kemudian, data amburadul itu menohok-nohok perutnya yang  kosong  (karena Semar memang sedang puasa sunnah), menggelitik senjata pamungkasnya  yang cukup lama diam. Dan — bergejolaklah angin dalam lambung dan ususnya. Dus….., seperseratus detik kemudian, menggelegarlah bunyi kentut Kiyai Semar Alaihi Salam membelah ruang Sidang Paripurna Istimewa Luar Biasa  Tiada  Tara  Seantero Jagat Dunia Fana.

Sontak mendadak para peserta temu kader melirik Kiyai Semar yang  mengeluarkan  kentut dahsat. Tunggang langgang para jin dan setan yang duduk dikursi utama dan pengembira lari ketakutan. Suasana jadi riuh rendah memprotes kentut Lurah Teladan Karang Tumaritis yang dinilai tidak punya etiket dan sopan santun Nasional. Percuma dong penataran P4 yang telah diikuti di Jakarta?

“Ai…, tuha-tuha kada ba’adat, Lih?”, gumam seorang peserta Hulu Sungai murka. Akibatnya, kontan ruang sidang gelap gulita karena aliran listrik PLN langsung konsleting. Udara tercemar bau kentut seluruhnya, menyebabkan terjadinya kabut hitam di langit  kota. Matahari langsung tertutup mendung kelabu. Rumput-rumput di halaman langsung layu. Bunga-bunga segar langsung layu dan mati. Tapi celakanya, tatkala belalang kembara yang sudah berencana merusak padi-padi  petani Kumpai Batu Atas, pas mendengar ledakan kentut  Semar, kontan planing itu langsung dibatalkan dan dialihkan menyerang Kotawaringin Tuha. Ya….., hancurlah sawah orang Kutaringin dan untunglah para petani di Negeri Paman Bu’un untuk sementara. Kenapa Negeri Paman  Bu’un masih untung? Sebab dendam para belalang itu tak  akan pernah  sirna kalau Kumpai Batu tetap berdekatan dengan lokalisasi Kalimati.

Bergegas-gegas para hadirin  berebut  keluar menyelamatkan diri. Karena kalau tidak segera keluar, baju safari organisasi  yang dipakai  hadirin akan lengket bau kantut sadu’ Semar. Kalau  kentut sadu’  sudah lengket di baju, harapan enam bulan baju itu terus berbau,  kecuali pemilik baju segera melakukan umroh  dan  bertaubat nasuha di Masjidil Haram. Itupun kalau taubatnya diterima Allah. Kalau tidak, bisa seumur-umur baju itu akan terus berbau-bau dan bau. Wow sedap!

Dengan perasaan murka, Batara Guru Komo (bukan Batara Guru Ijai) lari  keluar ruangan lewat pintu darurat di dekatnya. Dia meludah sambil mengumpat: “Bangsat!! Baru di sini ada Lurah berani menghina Ketua Umum di depan forum resmi. Sudah dikasih mobil dinas, dikasih  fasilitas, dikasih kesempatan korupsi, dikasih ini-itu, tetap saja belum mampu berterima  kasih! Awas kamu, pasti ku-recall!!!”

Tercenung Semar di ruang itu sendirian setelah ditinggal lari seluruh peserta Samrat. Dicopotnya baju safari  organisasi  yang dipakainya. Diciumnya baju itu. Ternyata bajunya juga tercemar  bau kentut. Merasa kecewa, segera baju kuning orsospol dilipatnya sembarangan. Tanpa banyak kicau, kontan baju yang  telah berubah berwarna  kuning  tahi  itu  dilemparnya keluar. Hasilnya, terbanglah sang baju dengan megahnya di langit banua. Umpatnya sembrono: ”Salah sendiri, kenapa safari partai memilih warna mirip warna tahi..!”

Demi melihat baju Semar terbang keluar, riuh rendah orang luar berebut menjangkau baju pengurus itu. Akibatnya, terjadilah tragedi baru di luar arena sidang. Dan karena begitu serunya perebutan baju terjadi, ada saja anggota partai yang berkelahi dan berbu­nuh-bunuhan demi baju pengurus yang didambakan. Ada yang berhasil? Ternyata belum! Sebab semakin baju itu diperebutkan, semakin tinggi baju itu ditampur angin. Terbang kesana terbang kemari. Melayang kesana melayang kemari. Cenderung kesana cenderung kemari. Terbang dan terbang ke arah mana angin berhembus, tak perduli bisikan nurani. Sampai akhirnya, sangkutlah baju keramat itu di pohon simalakama yang cukup tinggi di tengah kota.

Sudah tahu sangkut di pohon simalakama yang akarnya menjuntai di dasar neraka, tetap saja para pemburu baju saling berebut habis-habisan. Berkelahi lagi beberapa pengincar setia baju itu sesamanya. Berbunuh-bunuhan  lagi  mereka demi berebut galah yang diperlukan. Lalu  ketika  seorang anggota partai akhirnya  berhasil mendapatkan galah dengan cara cukup machiavelistik, giranglah hati badut  konyol itu. Gumamnya dalam nada bangga: “Huh…! Pasti aku segera diambil sumpah sebagai  pengurus baru! Makanya, kalian yang  masih kurang sakti,  kurang  banyak mantera dan sesajen (atau kurang banyak memo, lampiran dan hahantaran), jangan coba-coba melawan aku. Pasti Yu akan tahu akibatnya! Dasar tolol! Mana bisa jadi pengurus partai kalau alamat pohon cendana saja tidak tahu, kan aneh?  Huh…!”

Wei…, tersenyum badut itu penuh kemenangan, senyum yang menurut para wartawan Barat Laut adalah senyum paling  tragis  di  dunia.  Kenapa begitu ya? Karena senyum itu lebih banyak pamer taring daripada unsur ramahnya. Tapi akan berhasilkah pemimpin kita itu nantinya?  Hanya dalang yang maha tahu!

Kumai, 30 Oktober 1996.

 

3 thoughts on “WAYANG KALIMANTAN TENGAH (BAGIAN PERTAMA)

  1. Terima kasih Pak atas informasinya, ulun hanyar tahu kalau Kai ulun (Julak Pa’ Anen/Juri) termasuk dalang generasi pertama di Buntok, padahal selama beliau hidup, ulun belum pernah melihat pertunjukannya, artikel ini sangat membantu, sekali terima kasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s