Majapahit Penjajah dari Jawa (Nan Sarunai Usak Jawa)

 

MAJAPAHIT PENJAJAH DARI JAWA

NAN SARUNAI USAK JAWA

(1280-1700)

(Interupsi kecil dari Kalimantan)

oleh

SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Alamat :

Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok 73711

Kalimantan Tengah

Kontak Telepon : 0525-22238 ;  0813 4960 6504

PRAKATA

Segala puji dan kesyukuran hanyalah milik Allah semata-mata. Shalawat dan salam senantiasa dihaturkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, para keluarga, para sahabat dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Setelah bersusah payah sejak awal persiapan tahun 1995, awal penulisan tahun 1997 dan selesai bulan April 2002, akhirnya Sejarah Kalimantan ini tuntas dan diberi judul: ”MAJAPAHIT PENJAJAH DARI JAWA” (Nan Sarunai Usak Jawa) (1280-1700), Interupsi Kecil dari Kalimantan.

Pada awalnya karya yang sangat sederhana ini diberi judul: “NEGARA DAYAK DIHANCURKAN BANGSA JAWA (Nan Sarunai Usak Jawa) 1280-1700″. Namun karena pertimbangan teknis maka judulnya dirubah. Semoga perubahan ini berdampak positif dan selesainya karya ini mampu memicu lahirnya karya lain yang lebih bernilai dan lebih bagus lagi.

Patut diakui, beberapa bagian dari karya ini telah dipublikasikan kepada khalayak melalui surat kabar lokal “MEDIA KALTENG”. Ternyata pemuatan itu memperoleh tanggapan yang sangat baik. Media Kalteng memuat karya ini dalam edisi Kamis 27 Juni 2002, Minggu 30 Juni 2002, Selasa 2 Juli 2002, Minggu 7 Juli 2002, Kamis 11 Juli 2002, Selasa 16 Juli 2002, Kamis 25 Juli 2002 dan Minggu 4 Agustus 2002.  Kecuali edisi pertama yang dimuat pada halaman 11, edisi selanjutnya senantiasa dipajang pada halaman muka. Realita menunjukkan, cukup banyak pembaca yang meng-klipingnya. Yang pasti, karya ini merupakan tulisan yang dinilai baik, berani dan jujur. Dan  karena  dipandang cukup berharga maka beberapa fihak menyarankan agar dibukukan walau pun yang lain menilainya berbeda. Tapi apa pun kata orang, sejarah adalah fakta masa lalu yang harus diakui  keberadaannya.

Demikian Prakata ini dibuat agar maklum adanya. Semoga upaya kecil ini dapat mengobati kerinduan  akan langkanya sejarah lokal.

Terima Kasih.

Buntok,  23  September  2003

Penulis,

SYAMSUDDIN  RUDIANNOOR

KATA-KATA MUTIARA

1. Kebenaran datangnya dari Rabb-Mu  maka janganlah kamu tergolong orang yang ragu-ragu.   (Al Qur’an)

2. Sejarah adalah Politik masa lalu.  Politik adalah sejarah untuk masa yang akan datang. (Moto FP-IPS IKIP Surabaya, 1984)

3.   Katakan yang sebenarnya walau pun pahit. Katakan yang sebenarnya walau pun merugikan  diri  sendiri.   (Kata Mutiara Islam)

4.     Kami cinta damai tapi kami lebih cinta Kemerdekaan.   (Pejuang Kemerdekaan RI)

DAFTAR ISI

I.   Judul

II.  Prakata

III. Kata-kata Mutiara

III. Daftar Isi

IV. Kata Pengantar

V.  BAB  I    PENDAHULUAN

A. Pengertian Judul

B.  Sejarah Nasional Indonesia

BAB  II   MAJAPAHIT PENJAJAH NUSANTARA

BAB III   NAN  SARUNAI  USAK JAWA

A. MAJAPAHIT MENJAJAH TANAH DAYAK

B.  NAN  SARUNAI  USAK  JAWA

BAB IV    INDONESIA MENUJU MAJAPAHIT BARU

Kembali ke Majapahit Baru

BAB V  NKRI DAN NEO MAJAPAHIT

A. ANTARA NKRI DAN NEO MAJAPAHIT

B. KOLONIALIS-IMPERIALIS PANCASILAIS

C. DE-JAWANISASI INDONESIA

D. KONSEP NKRI HARUS DINILAI ULANG

VI. KEPUSTAKAAN

Syair Bahasa Dayak Maanyan tentang  NANSARUNAI USAK JAWA

NAN SARUNAI USAK JAWA

syair pertama

Nan Sarunai takam rome usak Jawa
Ngamang talam takam lulun unggah Gurun

Nan Sarunai takam galis kuta apui
Ngamang talam takam jarah sia tutung

Nan Sarunai takam wadik jari danau
Ngamang talam takam wandui janang luyu

Hang manguntur takam galis em’me angang
Kuda langun takam jarah mangalongkong

Suni sowong kala tumpuk tanan olun
Wayo wotak alang gumi Punei Lului

syair kedua

Batang Nyi’ai ka’i hawi tamurayo
Telang nyilu ne’o jaku taleng uan

Anak nanyo ka’i hawi nganyak kaleh
Bunsu lungai ne’o jaku ngisor runsa

Ngunu ngugah pasong teka watang tenga
Hamen bingkang kilit iwo pakun monok

Muru pitip Nan Sarunai ngunu hulet mengalungkung
Ngamang talam takam tantau nuruk nungkai

Hang manguntur takam kala harek jatuh
Kudalangun takam alang rakeh riwo

Hang manguntur takam kala buka payung
Kudalangun takam alang bangun tang’ngui

Jam’mu ahung takam kawan rum’ung rama
Luwai hewo padu ipah bawai wahai

(Diambil dari Banjar Virtual, Minggu, 24 Agustus 2008)

BAGIAN PERTAMA

Tema :

SEJARAH ADALAH POLITIK MASA LALU

KATA PENGANTAR

Ketika Kata Pengantar ini dipersiapkan, timbul komentar: “Sebaiknya Sejarah Dayak semacam ini jangan dipublikasikan demi persatuan dan kesatuan!” Mendengar permintaan itu saya terkesima sebab bagi saya justru sebaliknya.  Kalau kita ingin tetap bersatu maka kejujuran harus lebih diutamakan. Tidak boleh demi persatuan dan kesatuan maka kebenaran dan kejujuran diharamkan. Tidak boleh demi persatuan dan kesatuan maka fakta sejarah dihilangkan. Bukankah fakta ini sudah berabad-abad sengaja dihilangkan?  Artinya, demi persatuan dan kesatuan, kebenaran harus dihormati dan dijunjung tinggi walaupun kedengarannya menyakitkan.

Dipersiapkannya Kata Pengantar ini bersamaan momentumnya tatkala Letjen TNI Ryamizard Ryacudu menggelar HUT ke-41 KOSTRAD di Jakarta dengan mengusung tema  ”Gajah Mada dan Sumpah Palapa, (6/3-2002)”.  Di kaca TV sang Pangkostrad mengatakan bahwa semua pemberontak harus ditumpas sebab sejak Majapahit,  Indonesia sudah satu. Dengan mengambil simbol Gajah Mada Pemersatu Nusantara diharapkan bangsa ini tetap dapat dipersatukan sebab keadaan Indonesia saat ini mirip dengan keadaan Majapahit yang diselimuti pemberontakan dan disintegrasi bangsa.

Setelah kegiatan Re-Gajah Mada-isasi oleh Kostrad itu, Tabloid BANGKIT lalu mengangkat Isu Panas: “Ryamizard Satrio Piningit Baru”. Menurut paranormal asal Solo, ISMU WARDOYO, Ryamizard bisa dikatakan memiliki ciri Satrio Piningit sebab dia dikenal sebagai tentara tulen dan mengagungkan Gajah Mada*1). Maka dari kata pembuka dapatlah diketahui bahwa buku ini akan berbicara seputar Majapahit dan Indonesia-Majapahit yang selama berabad-abad telah menentukan takdir bagi tanah Dayak  seisinya.

Nasib buruk Dayak telah dimulai jauh sebelum penjajahan Majapahit. Kabarnya orang Dayak sudah hidup di pesisir sebelum tahun 700 M. Barulah pada sekitar tahun 700 M orang Dayak pesisir mendapatkan “gangguan” dari Suku Melayu Sumatera yang mengakibatkan orang-orang Dayak harus “diusir” dari tanah nenek moyangnya.  Sebagian orang Dayak lari ke pedalaman dan sebagian lagi bermigrasi ke negara lain.  Bukti menunjukkan, suku Dayak Ma’anyan sebagian harus lari sampai ke Madagaskar hanya  dengan  perahu  jukung*2).   Baru  pada  abad  ke-13  orang  Jawa  dari Jawa Timur datang menebarkan penderitaan baru bagi orang Dayak. “Sejak tahun 1200 Kalimantan merupakan salah satu daerah jajahan Kediri”.  Ini menurut berita Cina, sehingga rombongan Empu Jatmika dari Keling yang bermigrasi itu adalah “transmigran” sekaligus “penakluk”*3) negeri orang.

Setelah ratusan tahun sejarah pahit ini  “dilupakan”  secara nasional, tiba-tiba muncul kabar agar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus tetap berpegang dan kembali kepada Negara Nasional Majapahit sebab Indonesia Baru adalah “Majapahit” yang dilaksanakan secara murni dan konsekwen. Lalu betulkah begitu cita-cita yang kita idamkan?  Simaklah rangkaian tulisan yang disajikan selanjutnya.

Akhirnya semoga buku ini dapat menjadi bahan kajian lebih lanjut dalam menatap dan meretas jalan ke masa depan yang gemilang.

Viva Dayak! Viva Indonesia!

Buntok, 17 April 2002

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Pengertian Judul

Karya tulis ini berjudul: : ”MAJAPAHIT PENJAJAH DARI JAWA” (Nan Sarunai Usak Jawa) (1280-1700), Interupsi Kecil dari Kalimantan. Judul ini merupakan perbahan dari judul asal: “NEGARA DAYAK DIHANCURKAN BANGSA JAWA (Nan Sarunai Usak Jawa) 1280-1700″.

Judul awal “NEGARA DAYAK DIHANCURKAN BANGSA JAWA diambil dari terjemah bebas “NAN SARUNAI USAK JAWA”, sebuah episode tragis dan memilukan yang terdapat didalam tradisi suku Dayak Ma’anyan Taliwakas. Tradisi semacam ini dapat dirasakan dimasa sekarang  tatkala menghadiri acara perkawinan adat suku Dayak Maanyan atau sedikit dari kalangan suku Dusun yang menampilkan Ngamuan Gunung Perak dengan kesenian tari Burung Juei. Dalam acara inilah budaya tutur hadir dan kalimat Takut Jawa Hawi akan terdengar diperingatkan berulang-ulang.

Meneliti dan menelusuri sejarah Dayak memang memiliki kesulitan tersendiri karena orang Dayak tidak mengenal tulisan. Tulisan yang ada sejak zaman dahulu hanyalah berupa “tanda-tanda” atau ”sandi” yang disebut Patuk Bakaka atau Tetek Bakaka. Data sejarah yang diperoleh hanya bersumber dari ceritera turun-temurun dari mulut ke mulut, yang oleh Antropolog Amerika Serikat, A.B. Hudson disebut sebagai Traditional His­tory. Dan dua traditional history yang dikenal dikalangan bangsa Dayak yang hidup di Pulau Kalimantan bagian tengah dan selatan adalah Tetek Tatum dikalangan suku Dayak Ngaju dan Ot Danum serta Taliwakas dikalangan suku Dayak Ma’anyan dan sebagian kecil Dayak Dusun.

Secara nasional diakui bahwa kerajaan tertua di Indonesia adalah Kerajaan Kutai*(lihat catatan khusus I) di Propinsi Kalimantan Timur. Kemungkinan besar kerajaan itulah Negara orang Dayak tertua serta ter­luas pengaruhnya. Dan suku Dayak Lawangan yang sekarang berada di Kalimantan Tengah merupakan “anak” dari Kerajaan Kutai yang mengembara ke selatan dibawah pimpinan Panglima Brohong.

Meskipun hanya Kerajaan Kutai saja Negara Dayak yang diketahui luas dalam sejarah Nasional Indonesia, bukan berarti bangsa Dayak tidak memiliki kerajaan lain selain Kutai. Justru diluar Negara Kutai  terdapat beberapa kerajaan Dayak lain yang cukup terkenal seperti Kerajaan Nan Sarunai.

Banjarmasin Post, Kamis, 5 Agustus 1993, berjudul: “Apa Dibalik Candi Agung” oleh Attabranie Kasuma, menye­butkan bahwa “di daerah Candi Agung sebelum kekuasaan Ampu Jatmika paling sedikit ada tiga kerajaan, yaitu Kerajaan Nan Sarunai, Negeri Gagelang dan Kuripan.” Namun untuk menyebut pulau Borneo secara keseluruhan, berdasarkan peta zaman Belanda yang dibuat tahun 1938, menyebut Negara Kalimantan sebagai Tanjung Negara, artinya Negara yang menjulur ke laut.  Dan Pahlawan Nasional asal Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut, menulis bahwa istilah Tanjung Negara adalah nama yang dikenal sejak masa kejayaan Kerajaan Majapahit.

Negara Dayak Nan Sarunai adalah kelanjutan dari kerajaan bangsa Dayak  sebelumnya. “Didalam Taliwakas dan Tetek Tatum dengan jelas disebut kota tertua milik orang Dayak dan diperintah oleh orang Dayak sendiri yang kemudian ditaklukkan oleh Majapahit adalah Kayutangi. Selanjutnya kerajaan orang Dayak yang terakhir dihancurkan oleh orang Majapahit seperti yang dituturkan didalam Taliwakas ialah Negara Nan Sarunai.*4)  Episode ini dikenal orang Dayak Ma’anyan dan sebagian kecil Dusun sebagai sebuah ratapan abadi dengan judul elegi: “NAN SARUNAI USAK  JAWA”*5).  Nan Sarunai artinya nama Kerajaan Bangsa Dayak; Usak artinya diserang dan dihancur-leburkan; dan Jawa artinya Pulau Jawa Dwipa atau Bangsa / Orang Jawa. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa berita yang diindikasikan melalui Tetek Tatum dan Taliwakas cukup akurat kebenarannya.

Satu hal istimewa dari penuturan sejarah tradisional (traditional history) orang Dayak ini adalah proses pembacaan atau penuturannya yang dilakukan dalam ratap tangisan (tetek tatum / tangis tatum), merupakan nyanyian pilu para wadian atau balian (dukun) dan dibawakan dalam bahasa Pangun­raun alias bahasa sastra masa lalu yang setara dengan bahasa Sangiang / Nanyu atau bahasa para dewata. Maka tidaklah salah kalau Tjilik Riwut menyebutnya sebagai Ratap Tangis Sejati. Rasa-rasanya, hanya orang Dayak saja yang membawakan sejarah bangsanya dengan cara meratap tangis yang sebenar-benarnya.

B. Sejarah Nasional Indonesia

Sejak duduk dibangku kelas 4 SD tahun 1974, semasa SMP tahun 1977-1980, semasa SMA dan kuliah di Akademi, bahkan setelah bekerja di Pemerintahan, saya senantiasa menerima pelajaran sejarah yang sama intinya. Hanya metode penyampaiannya saja yang bisa berbeda-beda. Katanya, Negara Kesatuan Republik Indonesia meru­pakan evolusi terbaik dari Negara Nasional yang telah ada sebe­lumnya, dimulai dari Negara Sriwijaya dan kemudian Majapahit.

Tidak banyak yang diketahui tentang Negara Nasional Sriwijaya kecuali dikatakan sebagai Negara Maritim termasyhur di Dunia, disanjung dengan lagu “nenek moyangku orang pelaut”. Berbeda dengan Negara Nasional Majapahit. Kerajaan ini dikampanyekan secara terus-menerus di seluruh Nusantara Indonesia seba­gai sebuah negara yang dahsyat karena mampu mempersatukan Indonesia bahkan Asia Tenggara kedalam Wawasan Nusantara berkat Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada**(lihat catatan khusus II). Penataran demi penataran dilaksana­kan, pelajaran demi pelajaran diberikan. Intinya, Negara Majapahit adalah Negara Nasional Indonesia Terbaik sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Malah katanya, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sekarang merupakan pengejawantahan atau penjelmaan sempurna Kerajaan Majapahit. Republik Indonesia adalah Majapahit II. Oleh karena itu maka tidak salah kalau Mahapatih Gajahmada adalah Pahlawan Nasional Indonesia karena berkat Sumpah Palapa-nya maka Nusantara dapat dipersatukan. Maka adalah wajar kalau untuk mengenang jasa-jasa besar beliau bagi Indonesia, univeritas tertua di negera ini dinamakan Universitas Gajahmada (UGM). Wajar kalau satelit komunikasi kita yang menghubungkan seantero Indonesia dan Asia Tenggara diberi nama Satelit Palapa I, II, III dan seterusnya. Dan wajar pula kalau nama Gajah Mada dan Palapa senantiasa diabadikan untuk memberi nama gedung bertingkat,  plaza,  pertokoan atau jalan raya.  Bahkan wajar pula kalau istilah-istilah dan bahasa yang dipakai dimasa kejayaan beliau  kita pergunakan kembali dalam khasanah berbahasa dan berbangsa Indonesia.

Negara Kesatuan Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Orde Baru diakui sebagai Negara Majapahit yang disempurnakan sehingga merupakan pilihan bernegara terbaik dan brilian. Apalagi kepemimpinan yang diemban dijalankan oleh Pemimpin Nasional Terbaik bergelar Bapak Pembangunan, dilaksanakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang diamalkan secara murni dan konsekwen.  Pendek kata, Indonesia dibawah kepemimpinan Orde Baru pasti akan segera menjadi negara nan jaya di dunia. Begitu kata mereka! Begitu kata para Penatar dan Manggala P4 itu berkhotbah. Tapi apa memang demikian yang sebenarnya?

Tatkala Pemerintahan Rezim Orde Baru ambruk tanggal 21 Mei 1998, barulah semua orang terkesiap bagai baru terbangun dari mimpi hampa. Hebatnya, seketika itu pula orang kontan berpaling total dari apa saja yang berbau Orde Baru. Seketika Orde Baru dicaci maki dan dihujat habis-habisan. Orde Baru dinista bagai najis yang sangat kotor. Malah dalam detik itu juga, Orde Baru langsung dianggap bahaya laten baru setelah bahaya laten PKI. Itulah yang dinamakan orang sebagai era reformasi telah datang, Orde Baru telah usang. Fajar baru telah merekah. Indonesia Baru sedang dinantikan.

Dalam menyongsong Indonesia Baru di era reformasi, Pemilu 1999 telah dilaksanakan. Hasilnya PDI Perjuangan pimpinan Ibu Megawati Soekarno Putri keluar sebagai pemenangnya. Kemudian disusul pula dengan beberapa Presiden sesudahnya, namun bagaimanakah format Indonesia Baru yang sedang dikhayalkan, ternyata belum juga jelas gambarannya. Malah dalam banyak media yang beredar di masyarakat, Indonesia Baru justru akan kembali ke masa silam. Katanya, Pemimpin Indonesia Baru haruslah   Satrio Piningit. Indonesia Baru haruslah  Negara Majapahit Baru yang modern sehingga sesuai dengan ke-Indonesiaan. Dan rumus kepemimpinan Indonesia haruslah menjunjung tinggi teori  NOTONAGORO. Ah, apa pula ini?

BAB II

MAJAPAHIT PENJAJAH NUSANTARA

Buku sejarah yang cukup representatif dalam menuturkan Majapahit dan sepak-terjangnya adalah “SEJARAH NASIONAL INDONESIA II karya Marwati  Djoened  Poesponegoro  dan  Nugroho Notosusanto, Departemen  Pendidikan  dan Kebudayaan,  Terbitan PN Balai Pustaka, Jakarta, 1984, Edisi ke-4. Pada halaman 411- 413  berbunyi: “Raja Kertanegara adalah raja Singhasari yang sangat terkenal, baik dalam bidang politik maupun keagamaan. Dalam bidang politik ia terkenal sebagai seorang raja yang mempunyai gagasan perluasan cakrawala mandala ke luar pulau Jawa, yang meliputi daerah seluruh dwipatara. Dalam bidang keagamaan ia sangat menonjol dan  dikenal sebagai seorang penganut agama Buddha Tantrayana.

Pada awal pemerintahannya ia berhasil memadamkan pemberontakan Kalana Bhaya (Cayaraja). Dalam pemberontakan itu Kalana Bhaya mati terbunuh. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1270. Pada tahun 1275, Kertanegara mengirim ekspedisi untuk menaklukkan Melayu. Pada tahun 1280 baginda raja membinasakan durjana yang  bernama Mahisa Rangkah dan pada tahun 1284 menaklukkan Bali, rajanya ditawan dan dibawa ke Singhasari. Demikianlah maka seluruh daerah-daerah lain tunduk  dibawah kekuasaan raja Kertanegara, yaitu seluruh Pahang, seluruh Melayu, seluruh  Gurun, seluruh Bakulapura, tidak perlu disebut lagi Sunda dan Madura karena seluruh pulau Jawa tunduk dibawah kekuasaan raja Kertanegara.

Pahang terletak di Malaysia, Melayu terletak di Sumatera Barat, Gurun nama pulau di Indonesia bagian timur dan Bakulapura atau Tanjungpura terletak di bagian barat daya Kalimantan. Rupa-rupanya yang dimaksud oleh pengarang Nagarakrtagama dengan nama-nama itu ialah seluruh wilayah Malaysia, seluruh Sumatera, seluruh Kalimantan dan Indonesia bagian timur, seperti ternyata dari bagian lain dari kitab Nagarakrtagama. Kekuasaan raja Kertanegara atas seluruh Nusantara itu, entah benar  atau hanya secara simbolis, dinyatakan pula dalam arca Camundi dari desa Ardimulyo (Singasari) yang berangka tahun 1292. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa arca Bhattari Camundi itu ditasbihkan pada waktu Sri Maharaja (Kertanegara) menang di seluruh wilayah dan menundukkan semua pulau-pulau yang lain.

Sebuah prasasti pada alas arca Amoghapasa dari Padangcoro yang berangka tahun 1286 memberi petunjuk bahwa Melayu benar-benar tunduk kepada Singhasari.  Disebutkan bahwa arca  Amoghapasa  itu dengan keempat-belas  pengiringnya beserta  saptaratna dibawa dari Jawa ke Suwarnabhumi dan ditegakkan di Dharmmasraya. Arca itu adalah punya dari Sri Wiswarupakumara. Yang diperintah oleh Sri Maharajadhiraja Kertanegara untuk mengiringkan arca tersebut ialah Rakryan Mahamantri Dyah Adwayabrama, Rakryan Sirikan Dyah Sugatabrama, Samgat Payanan Hang Dipankaradasa dan Rakryan Demung Pu Wira. Seluruh rakyat Melayu dari keempat kasta bersuka cita terutama rajanya ialah Srimat Tribuwanaraja Mauliwarmmadewa. Jelas dari prasasti itu bahwa kedudukan Kertanegara lebih  tinggi  dari Mauliwarmmadewa karena Kertanegara diberi gelar maharajadiraja sedangkan  Mauliwarmmadewa hanya memakai gelar maharaja”.

Kutipan diatas jelas menggambarkan bahwa upaya untuk mewujudkan gagasan  perluasan cakrawala mandala atau perluasan wilayah keluar pulau Jawa adalah dengan cara agresi militer berupa penaklukan demi penaklukan setiap negara tetangga yang  ditargetkan. Dengan demikian maka penyatuan wilayah-wilayah dilaksanakan berdasarkan tindak pemaksaan, penindasan, kekerasan dan penjajahan secara berkesinambungan.

Pada halaman 434 sampai 436 dari buku yang sama diceriterakan: “Dari Kakawin Nagarakrtagama, kita mengetahui bahwa dalam masa pemerintahan Tribhuwana telah terjadi pemberontakan di Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Pemberontakan itu  dapat dipadamkan oleh Gajahmada. Sesudah peristiwa Sadeng itu, kitab Pararaton menyebutkan sebuah peristiwa yang kemudian amat terkenal dalam sejarah, yaitu:  “Sumpah Palapa Gajah Mada”. Gajah Mada bersumpah dihadapan raja dan para pembesar Kerajaan Majapahit bahwa ia tidak akan amukti palapa sebelum ia dapat menundukkan nusantara, yaitu Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik.

Berita Cina yang berasal dari seorang pedagang yang  bernama  Wang Ta – Yuan  mencatat hal-hal yang menarik perhatian dalam perjalanannya. Catatan-catatan itu dihimpun dalam bukunya Tao – i  Chih – lueh. Menurut W.W. Rockhil, buku tersebut  ditulis sekitar tahun 1349. Diceriterakan bahwa She-po (Jawa) sangat padat  penduduknya, tanahnya  subur dan banyak menghasilkan padi, lada, garam, kain dan burung kakak tua, yang semuanya merupakan barang ekspor  utama.  Banyak  terdapat  bangunan yang indah di She-po. Dari luar She-po mendatangkan mutiara, emas, perak, sutera, barang keramik dan barang dari besi.  Mata uang dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam dan tembaga. Banyak daerah yang mengakui kedaulatan  She-po, antara lain beberapa daerah di Malaysia, Sumatera, Kalimantan Selatan dan  Kalimantan Timur  dan  beberapa daerah di  Indonesia  bagian timur.

Dalam tahun 1334 lahirlah putera mahkota yang diberi nama Hayam Wuruk.   Kelahirannya disertai alamat gempa bumi, hujan  abu, guntur  dan  kilat bersambungan di udara sebagai akibat  meletusnya gunung Kampud.

Dengan bantuan Patih Hamangkubhumi Gajah Mada, Raja Hayam Wuruk  berhasil membawa Kerajaan Majapahit kepuncak kebesarannya. Seperti halnya Raja  Kertanegara yang mempunyai gagasan politik perluasan cakrawala mandala yang meliputi seluruh dwipatara, Gajah Mada ingin pula melaksanakan gagasan politik  Nusantaranya yang telah dicetuskan sebagai Sumpah Palapa dihadapan Raja Tribhuwanothtunggadewi dan para pembesar kerajaan Majapahit. Dalam rangka menjalankan politik nusantaranya itu, satu demi satu daerah-daerah yang belum bernaung dibawah panji kekuasaan Majapahit ditundukkan dan dipersatukannya. Dari pemberitan Prapanca didalam Kakawin Nagarakrtagama kita mengetahui bahwa daerah-daerah yang ada dibawah pengaruh kekuasaan Majapahit itu sangat luas.  Daerah-daerah itu meliputi daerah-daerah di Sumatera di bagian barat sampai ke  daerah-daerah Maluku dan Irian  di bagian timur; bahkan pengaruh itu telah diluaskan pula sampai ke beberapa negara di wilayah Asia Tenggara. Agaknya  politik  nusantara ini berakhir sampai tahun 1357 dengan terjadinya peristiwa Bubat (Pasunda-Bubat),  yaitu  perang antara orang Sunda dengan Majapahit.

Peperangan di Bubat yang menyebabkan semua orang  Sunda gugur, tidak ada yang ketinggalan. Peristiwa ini dikemukakan dengan panjang lebar didalam kitab Pararaton dan Kidung Sundayana, tetapi tidak dikemukakan didalam Kakawin Nagarakrtagama.  Agaknya hal ini memang disengaja oleh Prapanca karena peristiwa tersebut tidak menunjang kepada kebesaran Kerajaan Majapahit, bahkan dapat dianggap sebagai kegagalan politik Gajah Mada untuk menundukkan Sunda.”

Berdasarkan paparan diatas, agaknya tidaklah terdapat cukup alasan untuk menyimpulkan bahwa Kerajaan Majapahit merupakan Kerajaan Nasional Pemersatu Nusantara. Tidak ada alasan pula untuk mengangkat Mahapatih Gajah Mada sebagai Pahlawan Nasional  Indonesia dibalik  Sumpah Palapanya.  Justru sebaliknya,  Kerajaan  Majapahit lebih pantas dijuluki sebagai Penjajah dari Jawa. Mahapatih Gajah Mada lebih pas dijuluki sebagai Petualang Politik yang haus kekuasaan di seluruh nusantara.  Negara Majapahit adalah negara agresor yang sangat aktif menaklukkan negara-negara tetangganya. Oleh karena itu, apakah masih pantas kalau Kerajaan Majapahit tetap disebut sebagai Kerajaan Nasional Pemersatu Nusantara? Pantaskah bila Mahapatih Gajah Mada senantiasa disanjung dengan Gelar Pahlawan Nasional Pemersatu  Nusantara? Entahlah, karena bangsa Indonesia masih sulit membedakan makna kata “pemersatu” dengan “penjajah”.

BAB III

NAN  SARUNAI  USAK  JAWA

A.   Majapahit  Menjajah  Tanah  Dayak

Kedatangan orang-orang Majapahit ke Tanjung Negara atau Pulau Kalimantan untuk melaksanakan penaklukan diyakini terjadi dalam beberapa gelombang agresi.   Ekspedisi pertama dilaksanakan semasa kekuasaan Raja Kertanegara setelah tahun 1280. Ekspedisi lanjutan dan yang paling dahsyat terjadi berkali-kali pasca Sumpah  Palapa Mahapatih Gajah Mada dimasa kekuasaan Maharaja Tribhuwanottunggadewi setelah tahun 1331. Kemudian agresi-agresi aktif militer Majapahit terus-menerus dilakukan dibawah Maharaja Hayam Wuruk  (lahir  tahun 1331)  dengan bantuan penuh Mahapatih Hamangkubhumi Gajah Mada. Akhirnya, Kerajaan Majapahit berhasil mencapai puncak kejayaan setelah “bersatunya” seluruh kerajaan-kerajaan di Nusantara dan Asia Tenggara. Kemudian politik Nusantara ini berakhir tahun 1357 tatkala terjadinya peristiwa Bubat. Demikian kesimpulan yang dapat ditarik didalam paparan Bab II.

“Kerajaan Hindu yang berdiri pertama kali di Kalimantan ialah Kutai, waktu itu bernama Tanjung Kute, kira-kira pada tahun 400. Peninggalan Kerajaan Hindu di Kutai meliputi sejumlah barang kesenian yang terdapat dalam Goa Kumbeng, Kotabangun dan Muara Kaman (Sangkulirang). Menurut tulisan dalam barang itu menunjukkan berasal dari masa Raja Mulawarman anak Aqwawarman, cucu Kudungga. Batu kesenian ini sekarang tersimpan di Gedung Gajah Jakarta dan menurut penyelidikan para ahli nyatalah bahwa batu itu merupakan batu tertua peninggalan Hindu di Indonesia.

Ketika kerajaan Hindu berkembang diseluruh kepulauan Indonesia hingga kemasa Kerajaan Hindu-Majapahit, pulau Kalimantan tidak terlewatkan oleh pengaruh Hinduisme, dimana waktu itu Kalimantan masih  bernama  Tanjung Negara. Kerajaan  Hindu masuk menduduki Kalimantan kira-kira tahun 1350 pada masa Hindu-Majapahit. Andayaningrat yang bergelar Ratu Penggir berlayar dengan kapal dan tentaranya untuk menaklukkan beberapa tempat di seluruh Indonesia, seperti  Makassar,  Gowa,  Banggawai, Salaya, Bantian (Selebesi), Sumbawa, Flores, Timor, Ceram, Ternate, Brunei, Jambi, Riau, Lingga, Pasai, Udung, Tanah Semenanjung, Malaka, Mempawah, Sukadana, Pasir, Pulau Laut, Sebuku, Banjarmasin, Pontianak, Sambas, Jawa Barat,  Jawa Timur  dan Jawa Tengah.

Pada antara tahun 1300-1400 di Kalimantan ada beberapa tempat yang telah dimasuki Hindu tetapi bercampur dengan peradaban Jawa disebabkan oleh Kerajaan Majapahit. Dalam abad ke-14 (1365) sebagian daerah yang telah ditaklukkan Majapahit adalah Kotawaringin, Sampit, Katingan, Kapuas dan Banjarmasin yang beribukota di Tanjungpura (terletak di sungai Pawan, Ulu Matan, Kalimantan Barat). Tanjung Pura dimasuki oleh Kerajaan Hindu kurang lebih sejak tahun 1200, yaitu sebelah selatan  Sukadana, Sebuku, Pulau Laut, Pasir, Kutai, Berau (atau seluruh Kalimantan bagian  selatan  dan timur).

Kerajaan Hindu Majapahit masuk menduduki Kalimantan bagian selatan  dan timur, meliputi Kotawaringin tahun 1350,  Sampit  tahun 1350,  Sungai  Barito  tahun 1350, Munir (Pulau Laut)  tahun 1350, Sawaku (Sebuku) tahun 1350, Tabalong tahun 1350, Pasir tahun 1350, Tanjung Kute tahun 1350, Muara Kaman (Sangkulirang) tahun 1400  dan Berau tahun 1350. Peninggalan yang dapat dijumpai adalah Candi Laras di  Margasari, Candi Agung di Amuntai dan batu kesenian di Muara Kaman, Gunung Kumbang dan Kota Bangun (Sangkulirang).

Tampaknya kedatangan kerajaan Hindu-Majapahit di Kalimantan berturut-turut dimulai dari sepanjang pantainya, baru kemudian masuk ke pedalaman. Di tanah Barito mereka menggunakan kapal-kapal masuk melalui sungai Barito, mendirikan negara dan rumah-rumah  pemukiman. Mereka berlabuh di pulau yang mereka sebut Ampu Jatmika, Pulau Hujong Tanah (Kalimantan?) dan terus mudik melalui sungai  Barito (Murung). Seorang mualim atau Pandita Hindu melarang Laksamana  mengambil  jalan  sebelah kiri karena takut kepada suku Dayak. Karenanya mereka  masuk  melalui sebelah kanan,  disitu merupakan tempat  yang baik.*6)

Hikayat Lambung Mangkurat yang terkenal di Kalimantan Selatan menceriterakan bahwa  seperangkat kapal layar dari  Keling  dibawah pimpinan  Empu  Jatmika datang di pulau  Hujung  Tanah (Kalimantan).  Mula-mula disatu  pemberhentian mendirikan Candi Laras di Margasari.  Kemudian  sebagian  rombongan lainnya  terus  mudik  dan  mendarat di tanah yang “panas dan harum baunya” lalu mendirikan Candi Agung dan Kerajaan Kuripan Jaya (Negara Dipa-Hindu). Bekas-bekas bangunan batu bata Candi Agung dan lainnya masih terdapat disudut kota Amuntai sekarang. Berdirinya kerajaan ini kira-kira pada zaman Gajah Mada-Majapahit atau mungkin zaman  akhir  kerajaan  Singhasari  (1300-1400).

Lambung Mangkurat (Lembu Mangkurat) anak Empu Jatmika terkenal sebagai pembina utama kerajaan ini. Keturunannyalah kemudian yang menurunkan raja-raja Banjar-Martapura sejak tahun 1600 hingga berakhir pada zaman Belanda tahun 1860. Konon kabarnya Candi Agung sebagai peninggalan zaman Hindu di Amuntai masih utuh sampai zaman Islam permulaan tahun 1600, dan kemudian dihancurkan Belanda*7) ketika mereka dapat menduduki Amuntai akhir 1800. Kerajaan Banjar masuk Islam dengan bantuan Kerajaan Demak tahun 1600.*8)

Ketika Kerajaan Hindu-Majapahit diperintah oleh Raja Brawijaya putera Angka Wijaya, saat itulah kerajaan mengalami keruntuhan. Raja yang  merobohkan Kerajaan Majapahit ialah Raden Patah dengan delapan orang menterinya,  yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri,  Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Ngundung dan Sunan Demak. Mulai saat itulah agama Islam tersebar di seluruh Indonesia.

Dengan runtuhnya kerajaan Majapahit maka berkembanglah Kerajaan Islam Banjarmasin tahun 1540, Kerajaan Islam Kotawaringin tahun 1620, Kerajaan Pasir (Tanah Grogot) tahun 1600, Kerajaan Kutai tahun 1600, Berau dan Bulungan tahun 1700, Pontianak  tahun  1450,  Matan tahun 1743 dan Mempawah tahun 1750.*9)

Pada mulanya kerajaan Hindu berperang dengan kerajaan-kerajaan Islam, terutama Kerajaan Hindu Candi Laras, Candi Agung, Tanjung  Pura dan lain-lain. Tetapi karena  rakyat semakin banyak memeluk agama Islam termasuk sebagian rakyat Dayak di pantai-pantai, akhirnya Kerajaan Hindu menyerah. Rakyat Dayak yang telah masuk Islam sering disebut sebagai Dayak Melayu dan kebanyakan berdomisili di Kuala  Kapuas, Tumpung Laung (Barito) dan dibeberapa Kampung Melayu lainnya.  Sebenarnya mereka tetap suku Dayak, hanya saja sudah  beragama Islam.*10)

B.  Nan  Sarunai   Usak  Jawa

Kalimantan bagian tengah dan selatan atau Tanah Dayak Besar sebagai negeri merdeka orang-orang Dayak (Ngaju) adalah negeri yang aman, makmur dan sejahtera. “Sebelum abad XIV, daerah ini belum mengenal pendatang atau penjajahan atas wilayah tersebut.*11) Barulah pasca tahun 1300 M, orang-orang Dayak mengenal kontak dengan bangsa asing dalam arti negeri orang Dayak  mulai  didatangi oleh orang-orang  dari luar secara berturut-turut.

“Ch. F.H. Dumont sebagaimana dikutip oleh Tjilik Riwut menyebutkan bahwa orang-orang Dayak ialah penduduk pulau Kalimantan yang sejati. Sejak dahulu mereka ini mendiami sentero pulau Kalimantan, mulai dari sepanjang daerah pesisir hingga  kesebelah darat atau pedalaman. Akan tetapi tatkala orang-orang Melayu dari Sumatera  dan Tanah Semenanjung Malaka datang ke sini, terdesaklah orang-orang Dayak itu  lalu mundur, bertambah lama bertambah jauh ke sebelah darat pulau Kalimantan. Selain dari pada orang Melayu, telah datang pula orang Bugis dan Makassar mendiami pantai timur dan pantai barat pulau Kalimantan. Demikian pula orang Jawa telah datang semasa kerajaan Majapahit. Dan orang asing yang datang di Kalimantan sebelah barat yaitu orang Tionghoa.*12)

Kedatangan orang-orang Majapahit yang pertama terjadi di Kayutangi. Begitu Kayutangi berhasil ditaklukkan dan kebudayaan Hindu telah ditancapkan, mulai terpencarlah suku-suku Dayak ke  pedalaman melalui jalan sungai dan daratan. Jadi, di Kayutangi inilah  diperkirakan  akhir jumpa dan  perpisahan antara suku-suku Dayak. Disinilah akhir kebersamaan dan awal perpisahan yang kemudian mempertegas  lahirnya suku keluarga atau suku-suku baru. Artinya dari usul Kayutangi inilah yang memaksa orang-orang Dayak Ot dipisahkan dari saudaranya Dayak Ngaju, Ma’anyan,    Dusun, Bakumpai, Taboyan dan suku lainnya. Orang Dayak Ot Danum dan Dayak  Ngaju berpisah dari saudaranya dan eksodus menelusuri sungai Barito, sungai  Kapuas, sungai Kahayan dan juga menyusur pesisir lalu memasuki sungai Arut, Lamandau dan sungai-sungai kecil lainnya. Sedangkan keluarga Bakumpai, Ma’anyan, Dusun dan Lawangan pergi mudik meninggalkan negeri asalnya menelusuri sungai-sungai Barito, Tabalong dan anak cabang sungai yang masih dalam kitaran geografi yang  sama.*13)

Sejarah tradisional (traditional history) yang ditemukan pada suku Dayak Ma’anyan yang dijumpai dalam Taliwakas  serta  nyanyian para wadian (dukun) dengan tegas menyatakan bahwa “kontak” dengan Majapahit telah mengkibatkan kehancuran kerajaan orang Dayak. “Nan Sarunai Usak Jawa”***(lihat catatan khusus III) (Negara Nan Sarunai Dihancurkan bangsa Jawa), begitulah episode papat mamang atau sumpah serapah dan caci maki itu ditembangkan dalam ratap tangis sejati. Begitulah pembacaan sejarah kejayaan Nan Sarunai yang dinista pendatang Jawa dari selatan. Begitu menyedihkan mendengarkan kidung wadian itu bertutur pilu merista kegetiran. Sungguh sangat menyakitkan. Apatah lagi  tatkala fihak musuh kemudian dengan bangga mengangkat dan menobatkan Majapahit dan Gajah Mada sebagai  Pahlawan Nasional Pemersatu Nusantara,  semua itu tiada makna lain bagi suku Dayak  (khususnya Ma’anyan) berikut generasi-generasi penerusnya kecuali air mata nanah  dari sebuah derita abadi nan tiada akhir.

Agresi-agresi militer Majapahit ke Kalimantan menaklukkan kerajaan orang Dayak di pesisir, menurut F. Ukur yang memetik pendapat Muh. Yamin, diperkirakan antara tahun 1309 sampai 1389. Sedangkan Tjilik Riwut mengutip literatur pada zaman Belanda memperkirakan dalam tahun 1350. Tetapi yang pasti, begitu Kayutangi telah  takluk ketangan Majapahit, mengungsilah orang-orang Dayak ke pedalaman mengikuti pemimpin kaum masing-masing. Dalam pengungsian dan pelarian itu, orang-orang Dayak Ma’anyan mendirikan kerajaan Nan Sarunai. Dan “beberapa informasi menyebutkan bahwa disekitar  Candi Agung  berdiri pula kerajaan selain Nan Sarunai, yaitu Negeri Gagelang dan Negara Kuripan.*14)

Ekspansi militer Majapahit****(lihat catatan khusus IV) rupanya tidak berhenti sampai ditakluknya kerajaan Dayak di pesisir saja. Kerajaan Nan Sarunai kembali digempur ulang oleh tentara Majapahit*****(lihat catatan khusus V). Kerajaan orang Dayak ini diserang dan dihancurkan habis-habisan. Semua pemimpin suku Dayak Ma’anyan dikabarkan tewas. Dan tokoh yang berperang melawan Majapahit itu adalah Ambah Idung dan Ambah Jarang. Sedangkan Idung, Jarang dan anak-anak Dayak lainnya beserta kaum wanita diungsikan dan disembunyikan di dalam hutan di gunung.  Akibat perlawanan dahsat itu, Nan Sarunai akhirnya hancur lebur tanpa sisa. Semua pimpinan dan tentara Nan Sarunai mati dibunuh. Tinggallah anak-anak, orang tua dan kaum wanita  yang  mengungsi ke dalam hutan yang selamat.

Dengan tewasnya pahlawan dua bersaudara Ambah Idung dan Ambah Jarang******(lihat catatan khusus VI) bergelar Datu Taturan Wulau Miharaja Papangkat Amas, maka kerajaan Nan Sarunai yang wilayahnya meliputi pesisir Sungai Tabalong sampai ke Tanah Pasir di Kalimantan Timur telah ditinggalkan secara mengenaskan. Kedaton Nan Sarunai tane ngambang talam di sekitar Margasari berikut sumur abadi Ambah Jarang  isa puang ta’u karing, dilupakan secara  paksa. Singkatnya, musnahlah kerajaan Nan Sarunai dari kampung halamannya di tangan musuhnya dari  Jawadwipa.

Begitu Idung dan sepupunya Jarang telah menginjak dewasa di pelarian, kembali mereka mencoba membangun dan meneruskan  Kerajaan Nan Sarunai baru di  Watang Helang Rano Tane Ngagang Wunrung, terletak diantara dua  sungai  yang tiada lain adalah  sungai  Tabalong  dan sungai Mahakam. Kemudian Watang Helang Rano Tane Ngagang Wunrung inilah yang disebut sebagai Kerajaan Nan Sarunai Wa’o atau  Kerajaan Nan Sarunai Baru.

Akhir segala perlawanan kerajaan Nan Sarunai ditandai dengan dikuasainya daerah  Tumpuk Uhang atau Banua Lawas oleh Raja Ampu Jatmika. Pusat Kerajaan Nan Sarunai itu telah ditaklukkan dan dikuasai secara penuh sehingga diteruskan penguasaannya sampai masa Lambung Mangkurat. Dan “Lambung Mangkurat yang dikenal sebagai Patih Negara Dipa atau Pimpinan Negara Dipa, kekuasaannya semakin  merangkak  maju. Berbagai penaklukkan dilakukan oleh ahli-ahli strategi  dan ekonominya antara lain oleh Wiramartas (jabatan, bukan nama)  dan  lain-lain.

Lambung Mangkurat sendiri kemudian menemukan “puteri” yang dikenal dengan Junjung Buih (Tunjung Buih). Untuk memperkuat serta memperkokoh kekuasaan dan wilayah, (dia) mengorbankan (membunuh sebagai persembahan) Sukmaraga dan Patmaraga untuk kepentingan negara dan rakyat. Mungkin ini sebentuk pernyataan  ketundukan  atau  kerjasama  berdampingan  dengan  penguasa lama yakni Nan Sarunai (Ma’anyan), disamping mendudukkan (Puteri) Junjung Buih sebagai lambang  kekuasaan Kerajaan Negara Dipa dan leburnya rakyat kedua negara kedalam bentuk baru, yaitu rakyat Negara Dipa yang membawahi pula beberapa kerajaan taklukan seperti Negara Gagelang, Kuripan, Batang Balangan, Batang Tabalong  dan  lain-lain.

Berdirinya Candi Agung disertai dengan menapaknya kekuasaan dalam bentuk Pemerintahan Kerajaan Negara Dipa yang diperkuat  lagi dengan perkawinan antara Junjung Buih dengan bangsawan Kerajaan Majapahit bernama Cakranegara, yang kemudian setelah  menjadi  raja Negara Dipa bergelar Pangeran Suryanata.

Dari penelitian arkeologi, ada sejumlah indikasi yang disamarkan dalam Tutur Candi dan Hikayat Banjar,  yaitu:

1. Pendiri Negeri Negara Dipa  dan  Candi bernama Ampu Jatmika  yang berasal dari Majapahit.

2.   Ampu Jatmika menyuruh menjemput keluarga dan hartanya ke Negeri Keling di  Majapahit.

3.   Ampu Jatmika menaklukkan daerah-daerah lain disekitar Negara Dipa dipimpin   seorang Puteri  bernama Junjung Buih yang bersuamikan pangeran dari Majapahit bernama Suryanata (Cakranegara).

4.   Pangeran Suryanata menaklukkan negeri-negeri di Kalimantan yang sebagian sudah disebut dalam Kitab Negarakrtagama.

5.   Data dari kitab-kitab tersebut memungkinkan kisah Negara Dipa adalah sebuah  NEGARA VASAL  dari  Majapahit  sejak  sebelum  tahun  1365 M. *15)

Kehancuran dan kekalahan Kerajaan Nan Sarunai serta leburnya rakyat Nan Sarunai kebawah kekuasaan (baru) Negara Dipa membuat rakyat Nan Sarunai terpaksa menerima perdamaian dibawah pemerintahan orang lain. Yang pasti, Negara Dipa didirikan diatas puing-puing Negara Nan Sarunai oleh Ampu Jatmika dari Majapahit.  Negara Dipa inilah cikal bakal dari Kesultanan Banjarmasin.

Dampak ikutan bubarnya Negara Nan Sarunai (abad XIV) akibat agresi militer Majapahit dan akibat didirikannya Negara Dipa di atas puing-puingnya, kembali membuat penduduk Dayak Ma’anyan yang tidak terima melakukan eksodus mencari pemukiman-pemukiman baru ke pedalaman. Akhirnya terjadi lagi perpisahan dan perpecahan sehingga muncul pula pemukiman-pemukiman baru yang terpisah-pisah. Pemukiman baru itu muncul menyebar dari sekitar Gunung Rumung, Katuping Balah,  Waman Sabuku, Candi Agung, Candi Laras, Patukangan, Labuhan Amas, Bakumpai  Lawas, Ulak Banyu Tanggang, Maniungku, Abun  Alas, Muara Binsau, Danau Salak, Dangka Nangkai,  Kupang Sunnung, Danaukien (Danikien), Tuntang Alu dan terakhir pemukiman Baras Ruku.

Dalam abad XVII terjadi lagi perpisahan dan pelarian dikalangan suku Dayak Ma’anyan keturunan Nan Sarunai. Ini terjadi karena pemukiman yang ada dianggap sudah terlalu padat dan tidak adanya kata sepakat diantara pemimpin masing-masing. Maka perpisahan pun terjadi dibawah para Patih sebagai pemimpin pemerintahan dan Uria sebagai pemimpin hukum adat. Tercatat ada 7 orang Uria dan 12 orang Patih yang memimpin pengembaraan untuk pencarian pemukiman baru tersebut.

Dalam pencarian pemukiman itu, Uria Warung membangun pemukiman baru di Murung Kaliwen (sekarang desa Haringen). Uria Biring mengembara dan membangun desa di Dayu Lasi Muda. Uria Malangkan beserta rombongannya berhenti dan membangun pemukiman di Kayu Tinggi (Tangi?). Uria Mapas memimpin rakyatnya membangun Desa Patai. Uria Tadung Wanyi membangun di Kandangan. Uria Rantau membangun perkampungan di Karau, dan Uria Puneh  membangun pemukiman di Witu  (sekarang DAS Barito).

Para Patih yang berjumlah 12 orang juga pergi mengembara mencari dan mendapatkan daerah pemukiman masing-masing. Patih Saluang membangun pemukiman di Bakumpai. Patih Rumis membangun di Kahayan (Petak Bahandang). Patih Uwei membangun di Uwei (Teweh Pupuh). Patih Bantar membangun daerah Agung  Langit.  Patih Balimbing membuka hutan dan membangun daerah Balimbing. Patih Sabah membuka daerah Waruken. Patih Buhungen membangun daerah Buhungen. Patih Bisu membangun kampung Bentot (Patangkep Tutui). Patih Jimang membuka dan memimpin pembangunan perkampungan di Pusa. Patih Ganting membuka hutan dan membangun Desa Murutuwu. Patih Mawuyung membangun daerah Balawa dan Patih Sanggak memimpin pembangunan daerah perkampungan Wengau.

Semenjak kehancuran Kerajaan Nan Sarunai sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan pribumi, anak-cucu suku Dayak (Ma’anyan) melakukan eksodus, pengungsian dan pembukaan pemukiman sebanyak 18 kali. Terakhir perpindahan berhenti di Kupang  Sunnung, Daniken, Tuntang Alu dan Baras Ruku. *16)

Dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit oleh Raden Patah dan Walisanga(?), berkembanglah kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa dan Nusantara. Sementara kerajaan Islam di Kalimantan mulai tumbuh diawali dari Kesultanan Banjarmasin dibawah Pangeran Samudera atau Pengeran Suriansyah alias Maruhum tahun 1540, Kesultanan Kotawaringin Tahun 1620 dan kerajaan lainnya setelah tahun tersebut.  Begitu agama Islam menjadi agama resmi Kerajaan Banjar tahun 1600 dengan bantuan Kerajaan Demak, dimulailah gelombang pengembangan Islam di Tanah Dayak Besar melalui para pedagang Melayu. “Sebagian suku-suku Dayak menerima ajaran Islam dan memeluk agama Islam. Sebagian lagi belum dapat memeluk agama Islam dan terus menetap di kampung asalnya. Dalam perkembangan selanjutnya, suku-suku Dayak yang telah memeluk agama Islam tidak lagi mengaku sebagai orang Dayak tetapi menyebut diri mereka sebagai orang Melayu yang sekarang disebut orang Banjar. Walau pun Dayak Islam ini tidak lagi mengaku Dayak tetapi mereka tetap saja mengaku bersaudara atau seketurunan dengan orang-orang Dayak di pedalaman. Sebagai buktinya, sampai saat ini pun apabila diadakan upacara adat misalnya Ijambe atau Wara pada suku Dayak Ma’anyan atau Dayak Dusun, mereka senantiasa mengundang saudaranya yang beragama Islam dan menyediakan  tempat khusus  yang  disebut Balai Hakei (Balai bagi Saudara yang beragama Islam).*17) Makanan dan sajian pun dibuat terpisah, tanpa ada perasaan putus persaudaraan.

“Sewaktu Kerajaan Banjar dibawah Lambung Mangkurat, dialah yang terus mendesak saudara-saudaranya untuk memeluk agama Islam. Namun akhirnya diadakanlah perjanjian perdamaian sehingga sebagian suku Dayak Ma’anyan dapat menata kembali kehidupan mereka (yang porak poranda). Namun bagi sebagian yang lain yang tidak bersedia hidup berdampingan, mereka kembali memutuskan untuk mengembara masuk hutan ke pedalaman. Akibatnya, anak-anak suku Dayak Ma’anyan yang sudah bercerai-berai sebelumnya, kembali terpecah-belah lagi dimasa masuknya agama Islam. Dan dapat diduga hasilnya, sekali lagi suku Dayak terbagi-bagi menjadi suku-suku yang lebih kecil.*18)  Inilah  realitas.

Apabila kemudian dihubung-hubungkan antara kebiasaan suku Dayak ini yang suka berpindah-pindah mencari pemukiman baru dengan penamaan mereka menjadi suku Ma’anyan, maka ada penulis yang menduga bahwa asal kata “Ma’anyan” diambil dari penggalan kalimat “Ma’ waruga karang anyan”, artinya: “pergi ke tanah datar atau darat / pedalaman”. Singkatnya, suku Dayak Ma’anyan artinya suku Dayak yang pergi (minggat) ke pedalaman.

Dugaan kedua adalah asal mula terjadinya Ngayau (perburuan dan pemenggalan kepala) dikalangan tertentu sub suku Dayak Ma’anyan. Menurut khabar, akibat penderitaan–penderitaan berkepanjangan sebagai akibat penjajahan dan pembunuhan oleh laskar Majapahit terhadap rakyat Nan Sarunai maka diadakanlah aksi balas dendam terhadap para pembunuh sanak keluarganya. Logikanya, utang darah dibalas darah, utang nyawa dibalas nyawa. Balas dendam wajib semacam ini disebut balas pati (Dayak Ngaju) dan Maleh Jake (Dayak Ma’anyan). Hanya saja didalam proses melakukan pembalasan dendam ini terdapat sedikit perbedaan antara suku Dayak Ngaju dan suku Dayak Ma’anyan / Lawangan. Pada suku Dayak Ma’anyan atau Lawangan tidak ada alternatif lain didalam melakukan pembalasan ini, hanya saja waktu pembalasan ada yang segera dan ada yang memakan waktu tetapi tetap wajib diadakan balas dendam.

Pengayauan (perburuan kepala) sebagai kelengkapan upacara kematian agaknya sulit dilepaskan dari unsur balas dendam. Malah dalam banyak keadaan, kebiasaan mengayau adalah memenuhi tuntutan kepercayaan (agama) sekaligus penggenapan balas dendam. Misalnya, seorang pahlawan suku Dayak meninggal dunia ditewaskan musuhnya dari Majapahit. Maka segenap sanak keluarga akan menangisi kepergian sang pahlawan dengan tangis tatum atau ratap tangis sejati nan penuh ristaan pilu. Berdasarkan kepercayaan lokal yang dianut, kematian merupakan peralihan dari dunia pertama kepada dunia kedua. Keadaan dunia kedua atau alam kematian dipercaya sama dengan dunia fana hanya saja lebih sempurna, lebih menyenangkan, lebih berkecukupan dan lebih ramai. Agar roh si mati sampai dengan selamat ke dunia kedua atau alam syurga maka diperlukan upacara kematian yang disebut tiwah (Dayak Ngaju) atau mia / ngadaton / ijambe (Dayak Ma’anyan) atau dala (Dayak Ot Danum) atau wara (Dayak Lawangan / Dusun). Apabila kematian tidak diantar dengan upacara diatas maka roh si mati diyakini tidak akan pernah sampai ke tujuannya melainkan hanya berada ditempat peristirahatan sementara bernama Bukit Pasahan Raung (Dayak Ngaju) atau Lewu Itak Barungkaian Muntai Nini Mangkuwuyu Liu (Dayak Ma’anyan). Ditempat ini roh si mati terombang ambing tanpa kepastian dan penasaran.

Dalam rangkaian upacara kematian tersebut diperlukanlah kepala-kepala manusia sebagai prasyarat utama. Kepala-kepala manusia yang diperlukan adalah yang mati dibunuh (potong leher) khusus untuk keperluan upacara, sebab menurut keyakinan orang Dayak, roh-roh kepala-kepala itu diperlukan sebagai budak-budak yang sangat penting guna menghantarkan roh si mati dalam perjalanan menuju dunia kedua. Singkatnya, si mati harus diantar oleh roh-roh korban pengayauan dalam perjalanannya yang sangat berat menuju syurga. Semakin banyak budak yang berhasil dipersiapkan oleh kaum keluarga maka semakin mudah perjalanan roh si mati. Artinya, kalau si mati telah meninggal akibat dibunuh tentara Majapahit maka budak yang paling baik mengantar roh si mati ke alam syurga adalah roh-roh tentara-tentara Majapahit itu pula.  Jadi syarat yang harus dilengkapi kaum keluarga terutama yang bertindak sebagai Kayau (Para Pemburu Kepala / the head hunters) adalah kepala-kepala tentara Majapahit yang memang dihajatkan untuk upacara tersebut. Tetapi seandainya belum berhasil dan si mati belum bisa diupacarakan atau dihantar ke syurga Lewu Liau atau Tumpuk Datu Tunyung, selama itu pula roh si mati akan tetap penasaran dan dapat mengganggu kaum keluarga yang masih hidup. Dengan demikian maka proses kematian dimaksud merupakan tanggungan keluarga dan dapat dianggap utang yang harus dipenuhi sampai fihak keluarga berkemampuan melaksanakannya.

Apabila ada dugaan penamaan suku Dayak Ma’anyan berasal dari kebiasaan melarikan diri dari kejaran musuh dan ini terjadi sejak zaman Majapahit maka asal usul pemenggalan kepala untuk upacara kematian (Ijambe / Wara) juga ada dugaan dimulai sebagai akibat langsung dari kebengisan tentara Majapahit terhadap suku Dayak. Berat dugaan, permulaan kayau dibeberapa sub suku Dayak Ma’anyan berasal dari dendam kesumat terhadap eksistensi Majapahit yang menjajah tanah Dayak secara kejam. Artinya, kayau  belum dikenal orang Dayak tertentu sebelum Majapahit memporak-porandakan segala sendi-sendi kehidupan negeri berdaulat orang Dayak Ma’anyan.

Dugaan ketiga adalah asal mula maraknya ilmu hitam dan aji-aji kesaktian (alimu) dikalangan tertentu suku Dayak terutama sub-sub suku Dayak Ma’anyan. “Didalam peperangan, orang Dayak sebenarnya tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik saja tetapi didukung oleh kekuatan jiwa yaitu amiruwe atau hambaruan. Kalau orang Dayak sudah amuk maka kekuatannya akan melebihi kekuatan sehari-hari. Sebelum orang Dayak pergi ke medan perang maka sebelumnya jiwa mereka dikuatkan dengan mantera, jimat, (minyak sakti) dan sebagainya. Dan sebagai daya paling kuat untuk kekuatan jiwa tidak lain adalah tengkorak manusia yang mati dibunuhnya sendiri”.*19)

Dengan kekalahan terus-menerus yang dialami rakyat Dayak sejak Kayu Tangi, Nan Sarunai hingga Nan Sarunai Wa’o didalam menghadapi tentara jahat Majapahit maka dapat disimpulkan bahwa alam kesaktian orang-orang Majapahit jauh lebih digjaya (sakti) dari pada ilmu kanuragan orang-orang Dayak.

Tjilik Riwut secara khusus membicarakan masalah kesaktian ini didalam bukunya “Kalimantan Membangun”, dengan sub judul “Majapahit dalam Alam Kesaktian”. Dengan mengutip pendapat Prof. C. Van Vollenhoven, seorang perintis Ilmu Hukum Adat Indonesia, beliau mengatakan bahwa “pada awalnya adalah kesaktian”. Kalimat seperti itu tampaknya (sangat) ganjil (termuat) dalam sebuah buku yang membahas susunan tatanegara.*20) Maka setelah memperhatikan penaklukan demi penaklukan yang dilakukan oleh Majapahit serta menilai bagaimana lahirnya suku-suku baru dikalangan suku Dayak teristimewa yang terjadi didalam suku Dayak Ma’anyan yang senantiasa terusir hingga 18 kali membuka pemukiman baru, patut diduga bahwa tumbuh suburnya ilmu hitam dan ilmu kesaktian dikalangan orang Dayak khususnya Ma’anyan adalah akibat langsung dari penjajahan Majapahit. Malah dikalangan suku keluarga tertentu dapat dipastikan bahwa asal mula ilmu hitam, aji-aji kesaktian dan ilmu gaib lainnya memang berasal dan bermula dari kehadiran Majapahit di  kampung halaman mereka.

BAGIAN KEDUA

Tema :

Politik adalah sejarah untuk masa yang akan datang.

Sub Tema : Apakah terlarang kita memikirkan masa depan kita bersama ?

BAB IV

INDONESIA  MENUJU  MAJAPAHIT  BARU

KEMBALI KE MAJAPAHIT BARU

Bagi segelintir orang Dayak, Negara Persatuan Majapahit adalah negara penjajah walaupun diberi kedok Negara Kesatuan. Sebagian rakyat dan Pemerintah di Jawa memang tetap nekad memperjuangkan “Majapahit” sebagai wujud nasional Indonesia baru. Tetapi dalam semangat Dayak tertentu, baik secara historis, substansial maupun ideal, ide semacam ini tentu saja mereka ditolak. Artinya, ada arus idealisme yang berlawanan sedang terjadi antara spirit Pemerintah Pusat dengan spirit Dayak si Negeri Jajahan. Maka apapun alasannya, kembali kepada Majapahit Baru sudah pasti ditentang orang Dayak yang menyadari. Artinya, apabila benar cita-cita kembali kepada Majapahit Baru atau Back to the New Majapahit terus diupayakan oleh Tuan-tuan Besar di Jawa, sama artinya Pemerintah Pusat Republik Indonesia-Jawa-Majapahit sedang mempersiapkan lahirnya Negara Borneo Merdeka atau bentuk-bentuk separatisme lainnya di tanah Dayak.

Beberapa paranormal memberikan sinyal kuat bahwa sebagian rakyat Jawa sudah mulai rindu dengan Majapahit-Soeharto. Alasannya, Soeharto adalah sosok tokoh Jawa asli yang telah berhasil memberikan harga sembako murah kepada rakyat Jawa.    Kamtibmas juga aman ditangan Pak Harto sebab Babinsa ada dimana-mana. Jadi, Soeharto adalah ruh Ratu Adil yang didambakan kehadirannya. Demi alasan ini maka  kian timbullah semangat Orde Baru yang diperbaharui. Lalu bagaimana format Orde Baru yang lebih baru ini? Sangat susah untuk meramunya. Yang pasti rumus kebernegaraan Indonesia adalah rumus ilmu pasti yang pasti tidak pasti. Artinya Indonesia Baru adalah Indonesia yang Pancasila – Sriwijaya – Majapahit – Orde Lama – Orde  Baru – Orde  Barusan dan Orde seterusnya —- yang  diorak-arik rapi kedalam  KKN(?). Singkatnya, Indonesia Baru yang didambakan ternyata tetap saja samar kriteria dan reka wujudnya. Pendek kata, tatkala Majalah MISTERI menampilkan  “INDONESIA MENUJU MAJAPAHIT BARU”*21) sebagai cita-cita luhur berbangsa dan bernegara Indonesia, sangat pasti kehadirannya lusa akan dipenuhi dengan “MITOS – MITOS non nalar*22). Katanya, Presiden RI haruslah Satrio Piningit dan atau Trah Majapahit*23). Atas penetapan yang mal-demokratis dan nepotis seperti ini, serta-merta ruh Dayak akan menjadi antipati, bahkan mungkin reaktif. Kenapa begitu dan apa argumentasinya? Sangat jelas buku ini memaparkan alasannya. Konklusinya, semangat Dayak menolak rencana back to the New Majapahit itu! Lalu bagaimana kalau nanti ada kompromi, semisal: isinya sudah bukan lagi Majapahit tetapi bajunya tetap Pancasila dan UUD 1945 yang disempurnakan? Mari kita simak saja “bonus” yang sudah dipersiapkan pada bagian akhir dari buku ini!

BAB V

NKRI  DAN  NEO MAJAPAHIT

A.   ANTARA  NKRI   DAN  NEO MAJAPAHIT

Banjarmasin Post, Minggu 16 Mei 1990 mempersoalkan Kepahlawanan Hassan Basry yang terjegal sebagai Pahlawan Nasional hanya  karena beliau bukan GOLKAR tetapi kader militan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tjilik Riwut asal Kalteng sudah mendapatkan KEPPRES tentang pengangkatannya sebagai Pahlawan Nasional, kenapa Hassan Basry yang Proklamator 17 Mei 1949 tidak? Menanggapi pertanyaan itu, mantan Gubernur Kalsel Ir. H.M. Said membuka kartu. Ternyata hanya masalah sentimen partai yang membuat Hassan Basry tidak pernah diusulkan sebagai pahlawan  nasional. “Kita kan tahu di zaman Orde Baru, pemerintah menghendaki adanya satu kekuatan sosial politik tunggal yang kuat: GOLKAR.  Karena itu, kalau orang tidak menjadi anggota Golkar tidak akan mungkin diangkat sebagai pahlawan nasional”, ujarnya.*24)

Menanggapi kasus Hassan Basry ini, Prof. M.P. Lambut  berucap:  “Kalau ingin sejarah Hassan Basry diakui dunia, kita harus mentaati ilmu sejarah. Kita memang belum mempunyai historiografer”.

“Di mata orang Jawa”, kata Lambut, “Kalimantan masih sering dipandang sebagai jajahan. Karenanya banyak sejarah Kalimantan yang tenggelam (dan) tidak muncul ke permukaan. Ini harus kita akui. Ahli sejarah yang ada bukan  yang memperhatikan kita di sini. Karena itu kalau kita ingin membaca sejarah perjuangan, di Jawa-lah tempatnya.  Kita  nyaris tidak ada.”

“Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi. Karena ketidak-jujuran bersejarah tersebut akan menghilangkan sebagian dari kehidupan manusia. Jadi kejujuran bersejarah  sangat perlu. Tapi kejujuran bersejarah itu masih sangat kecil. Kita masih menonjolkan diri kita dulu dan mengesampingkan orang lain. Kalau itu yang kita lakukan,  yang rugi kita semua!”, ujarnya*25)

“Bukti menunjukkan, sejarah panjang Indonesia adalah kisah negara yang akrab dengan kekerasan. Sebuah catatan bangsa yang bangga dengan catatan merah perebutan kekuasaan sejak zaman raja-raja. Ken Arok merebut kekuasaan dengan kekerasan. Majapahit menaklukkan wilayah-wilayah dengan mengerahkan bala tentara. Falsafah: “Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake”, hanyalah bahasa fonem kalangan Jawa yang dipersonifikasikan dalam legenda wayang. Semuanya hanya dusta orang-orang Jawa. Orang-orang di Jawa yang katanya lebih suka menghindari konflik daripada harus mengkonfrontir untuk menemukan titik temu, atau membuat lawan kalah terhormat atau memenangkan diplomasi tanpa mengerahkan tentara, menjadi sesuatu hal yang musykil. Padahal real politik seharusnya menerapkan rembug dan tawar-menawar. “Kemana sih kearifan lokal yang telah ada di kalangan rakyat Indonesia itu?”, tanya Emmy Hafild prihatin.*26)

Ketika Prof. M.P. Lambut mempertanyakan kejujuran bersejarah dari bangsa ini yang telah raib dan Emmy Hafild mempertanyakan kearifan lokal yang hilang, seniman Remy Sylado justru jauh-jauh hari tetap berani menunjukkan kejujurannya. Ketika Orde Baru  sedang sangat garangnya, Remy diwawancarai “Tabloid Wanita Indonesia” yang  anak tertua Orde Baru tentang kekagumannya kepada Bung Karno. “Apa saja yang  anda kagumi tentang beliau?”  “Bayangkan!”, jawab Remy, “di usia 20-an beliau sudah maju di depan Landraad menggugat Belanda (Pemerintah yang syah) dengan  pembelaannya yang terkenal itu. Dan pada usia itu juga beliau tampil sebagai seorang  intelektual yang sempurna. Salah satu fikirannya yang menarik adalah, bukan hanya Belanda yang menjalankan Imperialisme-Kolonialisme, tapi juga bangsa kita sendiri  dalam  Majapahit  dan  Sriwijaya”*27)

B.  KOLONIALIS-IMPERIALIS-PANCASILAIS

Bagi Hendardi (PBHI): Konsep NKRI Tak Relevan lagi sehingga dia tampak cukup netral melihat permasalahan daerah-daerah yang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Didepan Forum Konferensi menyoroti Pelaksanaan Agenda HAM di Indonesia yang digelar di Washington DC, Hendardi tampak seperti serba salah. Namun dia menyatakan, umumnya masyarakat Indonesia menolak upaya-upaya pemisahan diri. “Masyarakat Indonesia sangat sulit secara fair menerima terpisahnya wilayah-wilayah Indonesia. Alasannya lebih pada emosional dibandingkan dengan rasional”, katanya. “Orang seperti saya yang membela Xanana Gusmao atau Mohammad Nazar (aktivis Aceh) sering dianggap atau didemonstrasi sebagai Pengkhianat Bangsa!”

“Dalam berbagai kasus”, kata Hendardi, “banyak provokasi dilakukan para tentara. Tegasnya, tentara pula yang menjadi sumber semua persoalan sehingga banyak fihak yang ingin daerahnya keluar dari NKRI”. Persoalan sejarah dan sejenisnya bukan  menjadi penyebab utama orang-orang minta merdeka. “Sejarah bukan alasan. Di wilayah-wilayah seperti Papua, Aceh dan daerah-daerah lain, militer adalah sumber persoalan. Politik kekerasan yang selama ini dilakukan Orde Baru”. Jadi penyebab utama banyak daerah yang minta keluar dari NKRI akibat tidak tahan ditindas lebih lama lagi oleh politik kekerasan yang sejak lama dimulai Orba. Hanya dengan merdekalah penderitaan disiksa tentara dapat diakhiri. Tanpa lepas dari Indonesia, banyak yang pesimistik penyiksaan tentara berhenti. Lepas dari kekerasan tentara semata-mata hanya dapat dicapai jika mereka lepas dari Indonesia. Kata Hendardi, “Logika berfikir mereka atau masyarakat di daerah yang bergejolak itu saya kira untuk memisahkan diri dari politik kekerasan militer adalah melepaskan diri dari Indonesia.  Jadi saya setuju bahwa jalannya penyelesaian dari semua ini untuk Indonesia adalah keadilan!”*28)

“Usaha menyatukan bangsa di Nusantara sebenarnya sudah berlangsung sejak zaman Majapahit, dimana Gajah Mada dengan Sumpah Palapa-nya berusaha mempersatukan kepulauan Nusantara dengan jalan menaklukkan semua kerajaan-kerajaan kecil. Namun kini, kata Peneliti dari Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta Drs. H. Ramli Nawawi, setelah setengah abad lebih kemerdekaan Indonesia tercapai, sadar atau tidak, bangsa Indonesia telah terbawa pada indikasi munculnya in group dan out group (kelompok kita dan kelompok mereka). Padahal perasaan tersebut dapat merupakan benih dari suatu sikap yang dinamakan etnosentris. Anggota-anggota kelompok sosial ini sedikit banyak akan mempunyai  kecenderungan untuk menganggap segala sesuatu yang termasuk dalam kebiasaan kelompoknya sendiri sebagai sesuatu yang terbaik apabila dibandingkan dengan kebiasaan kelompok yang lain. Sikap ini, menurut Ramli, bisa disamakan dengan kefanatikan sehingga kadang-kadang sukar sekali bagi yang bersangkutan untuk mengubah pandangan dan sikapnya. “Walau pun dia menyadari hal itu adalah salah”.*29)

“Benarkah sebutan Bhinneka Tunggal Ika belakangan ini hanya menjadi slogan saja? Karena memang, di pulau Jawa yang cukup luas ini, tentu saja akan dikuasai oleh Kebudayaan dan Bahasa Jawa. Namun ironisnya, kehidupan  budaya di tanah air seolah-olah hanya budaya Jawa saja yang berhak hidup di Indonesia”. Begitulah persoalan yang mengemuka dalam diskusi budaya di Jakarta. Kritikus dan budayawan Moehammad Sobary mengakui kuatnya budaya Jawa yang mencengkeram kehidupan kebudayaan di tanah air. “Seolah-olah hanya budaya Jawa saja yang berhak hidup, sedangkan budaya lain seolah tak punya arti sama sekali! Padahal sebenarnya  potensi mereka sama besarnya, sehingga sudah seharusnya kedudukan mereka sama dengan kebudayaan Jawa!” Lalu kenapa bisa begitu sangat menyakitkan? “Penyebabnya tidak lepas dari andil dan ketimpangan rezim Orde Baru. Seni tradisi lokal kita yang sudah beratus-ratus tahun tumbuh berkembang, tiba-tiba saja harus mampus ketika rezim  Orde Baru berkuasa. Mereka cenderung hanya mementingkan budaya Jawa saja, sebab sebagian mereka yang duduk di rezim Orde Baru memang berlatar-belakang budaya Jawa”.*30) Puncaknya ketika mantan penguasa Orde Baru yang Bapak Pembangunan  Indonesia, Jenderal Besar Soeharto harus diperiksa dalam kasus korupsi tujuh yayasan yang dipimpinnya, orang Orba asli itu tiba-tiba tidak bisa berbahasa Indonesia. “Gara-gara mantan Presiden Soeharto sulit berbahasa Indonesia, Tim Penyidik Kejagung akhirnya menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia. Dengan bahasa gado-gado ini, tim penyidik akhirnya berhasil mendapatkan seluruh jawaban yang dipertanyakan kepada Soeharto. “Ada sembilan pertanyaan yang diajukan kepada Soeharto. Semua pertanyaan sudah dijawab”, kata Kapuspenkum Kejagung Yushar Yahya di Jakarta.

Tugas mengorek keterangan dari Soeharto dengan menggunakan bahasa gado-gado itu diserahkan kepada Purwanto. Maklum dari lima jaksa penyidik yang kemarin ngluruk ke rumah Soeharto di Jalan Cendana Nomor 8 Jakarta Pusat, memang hanya Purwanto yang faham betul bahasa Jawa. Namun Purwanto menolak mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang menggunakan bahasa Jawa tersebut. “Pokoknya, saya  berbahasa Jawa yang halus, kromo inggil. Soal apa yang ditanyakan tim penyidik sudah menyangkut materi pemeriksaan. Jadi tak perlu saya sebutkan.”*31)

C.   DE-JAWANISASI   INDONESIA

Sangat menarik tulisan Bapak Sindhunata berjudul “De-Jawanisasi Politik Indonesia”*32). Menurut beliau, “Faham Kesatuan Mitis yang mempengaruhi lahirnya konsep Negara Integral (Negara Kesatuan) kiranya perlu dikoreksi secara mendasar. Konsep Negara Integral itu mengandung bahaya totaliterisme yang sudah terbukti hampir lima puluh tahun ini. Lebih dari itu, konsep itu sudah terlalu usang untuk ikut berlomba dalam tatanan globalisasi yang makin menuntut spesifikasi dan pluralisasi. Jangankan menurut kaidah kenegaraan moderen, menurut teori nasionalisme yang tua pun, konsep negara integral itu sudah juga ketinggalan. Menurut pemikir Perancis, Ernest Renan (1823-1892), katagori ras, bahasa, agama, kepentingan bersama, bahkan letak geografis tertentu belumlah cukup untuk membentuk suatu nation. Nation tidak hanya menyertakan unsur-unsur obyektif tetapi juga unsur subyektif. Dasar sebuah nation adalah pengolahan bersama atas pengalaman kolektif baik dimasa lalu maupun masa kini, pengenangan bersama akan upaya yang sudah lama diusahakan,  pengenangan akan perasaan senasib sepenanggungan dan pengenangan akan tokoh-tokoh besar yang membuat kita seperti sekarang. Semua ini harus dikerjakan terus-menerus.”

Renan mengatakan, nation sesungguhnya senantiasa dihadapkan pada tindakan untuk memilih dan memutuskan. Semacam plebisit adalah norma yang setiap hari harus dijalankan, sebagaimana setiap individu harus mengaktualisasikan dirinya setiap hari lewat pengambilan keputusan dan pilihan. Jadi nation itu tidak hanya mengacu pada masa lalu tetapi juga pada masa depan. Pilihan masa depan mengharuskan kita  berani  memutuskan warisan masa lalu yang tidak relevan. Nation bukan pengertian yang stabil, tetapi dinamis, karenanya juga dapat berubah.

Pengertian nation yang kita punyai sangatlah stabil. Pengertian itu hanya mengacu pada masa lampau dan mempertahankan apa yang diperoleh dari masa lampau itu sebagai suatu stabilitas, yakni kesatuan yang tak boleh ditawar-tawar lagi. Isu negara federal  dianggap keliru karena akan membahayakan stabilitas itu. Tak banyak argumen baru mengapa kita harus mati-matian mempertahankan negara kesatuan kecuali bahwa negara kesatuan itu adalah warisan bangsa. Padahal mungkin saja pencarian-pencarian baru termasuk alternatif negara federal justru akan memperkuat dan memperkaya kesatuan itu. Dalam pemikiran Renan, memang kesatuan yang mau mencari kemungkinan barulah yang akan jauh lebih kuat dan menjamin, daripada kesatuan yang mandek dan buntu. Ditinjau dari segi etnologi, ide negara kesatuan integral juga kurang dapat dipertanggungjawabkan. Ide itu lebih mementingkan makrokosmos, kurang melihat eksistensi mikrokosmos. Padahal, integrasi warga negara itu dimulai pada mikrokosmos, bukan pada makrokosmos nasional. Akar pada yang lokal itulah pengandaian bagi suatu kewarganegaraan nasional.

Sebenarnya di zaman kerajaan, integralisme negara itu sudahlah tidak stabil. Zaman Mataram, sudah sering terjadi pembrontakan dari mancanegara dan pasisiran. Maklum, negara yang padang obore itu sering hanya satu ritualisasi kemegahan di pusat, dan tidak menyalakan kesejahteraan dan kewibawaannya secara konkret sampai ke mikrokosmos-mikrokosmos pasisiran maupun mancanegara.

Orde Baru pun sesungguhnya adalah rapuh, karena tidak memperhatikan mikrokosmos-mikrokosmos dalam negara. Begitu Soeharto di-lengserkan, Orde Baru  pun sudah tidak lagi padang obore. Serentak mikrokosmos-mikrokosmos yang selama Orba tidak diberi kesempatan untuk bereksistensi, kini “memberontak” untuk menyatakan diri. Gelombang anti Jawa kiranya perlu dimengerti sebagai protes mikrokosmos yang telah dihomogenkan oleh kekuasaan di tingkat makrokosmos itu.

Meminjam istilah Juergen Habermas, integralisme itu telah membuat Kolonisierung  der Lebenswelt (kolonisasi lingkungan hidup) mereka-mereka yang ada dalam mikrokosmos. Lewat system ekonomi, sistem pembangunan dan sistem birokrasinya, negara telah mengkolonisasikan subsistem-subsistem masyarakat ditingkat mikro bahkan sampai kepada tingkat batin individu-individu. Kebebasan individual ditekan. Kelompok-kelompok ditingkat mikro tidak diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri. Kolonisasi diam-diam menciptakan bom waktu yang tinggal meledak. Dan bom waktu itu mulai meledak. Ledakan justru lewat saluran-saluran katagoristis yang diciptakan oleh Orba sendiri yakni saluran SARA. Ternyata, integralisme negara yang katanya untuk menjaga kesatuan itu sebenarnya adalah penyulut bagi pecahnya kerusuhan antar etnis yang sempat merebak belakangan ini.

Kritik lain terhadap paham negara integralistik perlu dikemukakan  sehubungan dengan fikiran Soepomo, bahwa paham kekeluargaan dan staatsidenya mengacu pada unsur negara Khositu Dai Nippon dibawah Tenno Heika. Paham negara integral yang  kekeluargaan itu memang cocok dengan negara kekaisaran Jepang.

Dalam bukunyaWays Thinking of Eastern Peoples” (1993), Hajime Nakamura mengatakan, alam fikiran Jepang kuno memang sangat meng-atas-kan negara diatas segala-galanya. Hal itu tampak misalnya dalam karya penulis Shinto, Chikafusa Kitabe (1293-1354), yang mengklaim bahwa Nippon adalah nation yang Ilahi, keturunan dari Dewi Matahari. Nakamura mengingatkan, orang-orang Jepang dimasa mendatang harus sadar akan bahaya  ultranasionalis yang ada pada dirinya.

Pengebawahan individu dibawah negara seperti diatas jelas-jelas telah terjadi di Indonesia karena paham negara kekeluargaan Soepomo itu. Soetan Syahrir tidak setuju dengan paham itu, karena paham tersebut mengecualikan kebebasan individu. Tanpa  kebebasan individu, tak mungkin individu dapat bertangung jawab. Padahal hanya  dengan tanggung jawab, kita dapat membangun negara secara bersama-sama.

Kecuali mengacu kepada Khositsu Dai Nippon dibawah Tenno Heika, paham  integralistik Soepomo juga kepada unsur-unsur Nazi Jerman. Unsur Nazi yang diacunya yakni ein totaler Fuhrerschaft (persatuan pimpinan dan rakyat) dan das Ganze  der politischen Einheit des Volkes (totalitarianisme negara). Pada zaman Soepomo memang belum ada kritik tajam terhadap paham Nazi. Tetapi jika dibaca dalam konteks sekarang, acuan itu sangat mengejutkan. Sebab sekarang atas alasan politik apapun, paham Nazi tidak dapat dibenarkan secara moral oleh siapa pun. Maka acuan pada paham tersebut kiranya juga harus dikoreksi, jika kita ingin mempunyai landasan pemikiran tentang UUD ’45 yang tidak cacat secara  moral dimasa-masa mendatang.

Unsur Nazi yang paling ditakuti juga oleh orang Jerman sendiri adalah sifat rasismenya. Hitler mengagungkan kebudayaan Jerman diatas segala-galanya. Ia ingin bahwa bangsa Jerman mengupayakan suatu kultur yang mengatasi kultur bangsa manapun. Atas dasar itu, Jerman dipredestinasikan untuk membentuk suatu bangsa yang besar. Dan bangsa ini harus melebarkan sayapnya dan dalam pelebaran itu meniadakan bangsa-bangsa yang lebih rendah kulturnya. Tak mungkinlah faham nasionalisme ekstrem yang rasis diupayakan, jika tak ada penguasa yang otoriter. Maka nasionalisme ekstrem yang rasis itu harus menjadi fasis.

Kendatipun spontan kita akan menyangkali, dua bahaya terakhir itu patut diwaspadai oleh kultur Jawa, yang melatar belakangi paham integralisme negara kita. Patut diingat, kebudayaan Jawa menganggap dirinya sebagai kebudayaan adiluhung. Seni nasional, sekurang-kurangnya dalam hal kuantitas, menunjukkan betapa seni Jawa itu dominan, lebih dominan daripada kebudayaan lainnya. Secara kuantitatif, orang-orang di luar Jawa jadi lebih paham dengan seni Jawa. Sementara orang Jawa kurang paham dengan seni luar Jawa. Pengaruh budaya yang menganggap dirinya adiluhung tidak hanya terwujudkan dalam pentas seni tetapi juga dalam pentas politik nasional. Dalam istilah Franz Magnis Suseno (1999), hal itu disebut sebagai “Jawanisasi Tatakrama  Komunikasi Nasional”.

Jawanisasi macam itu terlihat dalam ungkapan-ungkapan hirarkis pada tatakrama politik. Orang memakai “Bapak” dan “Ibu” daripada “Saudara” atau “Saudari” atau “Bung”. Dari pada “datang” orang bicara “rawuh”. Daripada “memberitahu” orang memakai  kata “maringi dawuh”. “Tepa selira” juga telah  menjadi  tata  krama politik  Orde Baru. Celakanya, bukan atasan yang harus tahu diri tetapi bawahan yang harus tahu diri terhadap atasan. Magnis Suseno mengatakan, Jawanisasi tatakrama komunikasi nasional itu sebagai salah satu defisit budaya politik kita. Dimasa reformasi ini kita harus mengatasi defisit itu.

Dalam pemikiran Theodore Adorno, Jawanisasi macam itu disebut sebagai “estetifikasi kehidupan politik”. Sementara estetifikasi macam itu sebenarnya adalah sebentuk penindasan individu oleh masyarakat. Dengan estefikasi politik itu diupayakan suatu penyeragaman kesadaran dan tingkah laku dalam masyarakat. Rezim Nazi jelas-jelas  mempraktikkan estefikasi  politik tersebut. Estefikasi ini mempunyai pengandaian yang sangat rasis, yakni ras itu mendahului kultur. Kesadaran akan ras juga akan membentuk kesadaran akan kultur. Dan hanya dengan ras yang unggul dapat membentuk kultur yang unggul. Sudah selayaknya kultur yang unggul mengestifikasikan kehidupan, termasuk kehidupan politik.

Kita boleh menolak bahwa kebudayaan Jawa telah menjajah kebudayaan lainnya. Tetapi kiranya kita tidak bisa menolak bahwa telah terjadi estefikasi politik nasional oleh kebudayaan Jawa. Hal ini makin diperkuat jika kita mengamati kenyataan bahwa penguasa sentral yang Jawa selama Orba cenderung memasang aparat Jawa, baik sipil maupun tentara di wilayah-wilayah yang jauh dari sentral kekuasaan. Birokrasi Jawa melingkupi daerah mana saja di luar Jawa. Dan birokrasi itu sangat dimungkinkan karena penguasa pusat memasang kekuatan tentara sampai ke pelosok-pelosok.  Militerisme Orba untuk mempertahankan kekuasaan pusat yang totaliter itu adalah upaya-upaya yang lazim dikerjakan oleh rezim fasis. Sistem yang nyaris fasis memang sangat menjamin dalam menjalankan estefikasi politik Orba yang didominasi kebudayaan Jawa itu.

Demikianlah penjelajahan sepintas tentang potensi-potensi negatif dalam budaya Jawa yang mungkin bisa memancing prasangka-prasangka non-Jawa terhadap Jawa. Suatu analisis dan studi kebudayaan yang menyeluruh dan mendalam kiranya perlu dilakukan agar kita bisa makin mengetahui sentimen-sentimen non-Jawa terhadap Jawa. Pengetahuan itu sangat perlu untuk menghindarkan  konflik yang  bisa amat destruktif bagi kepentingan bangsa. Dimasa-masa mendatang tidak mustahil bahwa medan konflik itu akhirnya menjadi sangat vulgar yakni masalah eksistensi etnis Non-Jawa menghadapi etnis Jawa. Maklum dibalik ke-adiluhungannya, kebudayaan Jawa diam-diam menyimpan potensi rasis dan fasis.

D.  KONSEP  NKRI  HARUS  DINILAI  ULANG

Kesakralan Konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus berani dikoreksi dan dinilai ulang sebab “sudah 32 tahun Kalteng diperas oleh Pusat”*33). Lebih dari itu “Kalteng Dijajah Bangsa Sendiri” jauh lebih lama dari sekedar masa  keemasan Orde Baru yang 32 tahun. Buktinya, “mereka  punya  tanah tapi  bukan mereka yang memiliki hak untuk mengelola tanah itu. (Mereka punya hutan), bukan mereka yang memiliki hak untuk memanfaatkan kayunya, (mereka punya) emas dan bahan tambang lainnya, (tapi bukan mereka yang menikmatinya)”, begitu tandas  Prof. H. KMA Usop MA pada acara Penutupan Kongres II dan Mubes I  Masyarakat  Dayak di GPU Tambun Bungai (Palangka Raya), Sabtu malam (5/12)*34). Lalu bagaimana  kehendak rakyat Dayak atas masa depan anak-cucu dan kampung halamannya?  Sebagian melontarkan wacana merdeka atau menyepakati Republik Borneo Merdeka*35), sebagian lagi mempercayai pemikiran Prof. Dr. M. Amin Rais, YB  Mangunwijaya dan Prof. Dr. Ichlasul Amal (Rektor UGM) yang melontarkan isu  Negara federal*36).  Sebagian yang lain justru sangat setia kepada NKRI dan mengikuti apa saja yang menguntungkan pribadinya. Namun dari semua dialektika yang berkembang, isu federalisme untuk Indonesia baru agaknya yang paling bisa  diperhitungkan. Kenapa begitu? Prof. Dr. Ichlasul Amal “melihat bahwa kritik  mahasiswa yang mendukung konsep negara federal dan kemudian ramai-ramai mendukung PAN, itu terjadi karena mereka mengetahui seutuhnya bagai mana  Indonesia  jika  menggunakan  konsep negara federal”*37)

Bagi WS Rendra, “bentuk negara federal merupakan keniscayaan Indonesia. Kerajaan Sriwijaya di Sumsel dan Mataram I di Yogyakarta merupakan bentuk federalisme sehingga kedua-duanya kuat. Majapahit juga federal karena didalamnya banyak akuwu  yang sebenarnya  juga  cerminan federasi. Di Pare-Pare ada federasi tujuh kerajaan, di Bone federasi lima kerajaan. Demak zaman Raden Fatah juga berbentuk federasi sehingga kuat. Demikian  pula di Aceh, Samudera Pasai. (Jadi) setiap kekuasaan yang mencoba mengingkari keniscayaan akan cepat rontok. Ia mencontoh Mataram II, dimana Sultan Agung mencoba menghilangkan federasi. Hasilnya bukan hanya gagal mempersatukan Jawa tetapi juga cepat terpuruk. Gajah Mada yang mencoba menjadikan Majapahit  negara  kesatuan akhirnya membuat dia sendiri tersingkir.

Indonesia sekarang ini juga mengingkari keniscayaan federalisme, malah disertai dengan penjungkir-balikan konsep pemerintah. Sejak mantan Presiden Soekarno membubarkan Konstituante, pemerintah menjadi terlalu kuat dan  pemerintah  seolah identik dengan negara. Kalau ada yang berani melawan eksekutif dianggap makar karena melawan negara. Sekarang ini Indonesia sedang memetik dari buah kekeblingerannya. Aceh, Irian ingin merdeka. Keinginan masyarakat Aceh-Irian ini sebenarnya karena diprovokasi pemerintah sendiri. Sebenarnya mereka hanya tidak puas terhadap eksekutif”*38)

Sekarang kita tinggal menghitung, “Pilih tetap bersatu tapi bajunya boleh berbeda-beda, atau tetap dipaksa baju seragam tapi non Jawa akan terus bergejolak?”

Buntok, 29 Mei 2002

*) CATATAN KHUSUS I : Palangka Post, Senin, 26 Nopember 2001 dalam  kolom Wacana memuat tulisan M. Yusuf  A.S. dengan judul “Apa Sebenarnya Nama Kerajaan Tertua di Indonesia”. Disana disebutkan bahwa kerajaan tertua  yang pernah berdiri  di Nusantara itu ada empat nama dalam literatur sehingga membuat bingung. Dalam buku “Sejarah Nasional Indonesia” jilid I  yang diterbitkan Depdikbud melalui PN Balai Pustaka cetakan ketiga tahun 1979,  di hulu Sungai Mahakam (Kali­mantan Timur) pernah   berlokasi  kerajaan  tertua yang  merupakan sebuah   Kerajaan Hindu.  Tulisan Palawa dalam Bahasa Sansekerta yang terbaca pada salah satu prasasti yang disebut Yupa menyebut­kan bahwa Kerajaan Hindu tersebut diperkirakan berdiri sebelum berakhirnya abad IV Masehi atau dalam awal abad V. Dalam sebuah prasasti lain yang dibuat pada masa Raja Mulawarman terungkap bahwa Mulawarman adalah putera dari Aswawarman cucu Kudungga yang mendirikan dan menjadi raja pertama Kerajaan Hindu itu. Mulawarman sebagai raja ketiga yang namanya sangat tersohor dikalangan rakyat dan para brahma disebutkan telah menghadiahkan 20.000 sapi kepada para brahma yang mengindikasikan betapa kayanya kerajaan tersebut karena tampak betapa sulitnya menemukan puluhan sapi saat itu. Lalu apa sebenarnya nama kerajaan tertua itu? Tampaknya sampai sekarang belum ada kesepakatan atau persamaan pendapat dikalangan para sejarawan sebab sejauh ini ada empat nama yang tercantum dalam literatur, yaitu nama Kutai dalam “Sejarah Nasional Indonesia” jilid I meskipun tidak ada penjelasan misalnya nama Kutai tercantum  dalam  prasasti. Dalam  buku  lain  terbitan   Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen P & K tahun 1978 diterangkan bahwa kerajaan tertua tersebut bernama Kutai Martapura yang katanya menurut ceritera rakyat. Sementara itu Proyek Pengembangan Permuseuman Kalimantan Timur, Kanwil Departemen P & K Kalimantan Timur menyatakan nama kerajaan itu adalah Martadipura yang dalam literatur  terkenal dengan nama “Mulawarman”. Letak kerajaan diperkirakan di Kecama­tan Muara Kaman, Kabupaten Kutai dan terletak di pinggiran Sungai Mahakam. Sementara itu berdasarkan buku “East Borneo” edisi khusus Pariwisata Times menyebutkan, dari tiga Yupa yang ada disebutkan bahwa pada abad IV berdiri  sebuah  Kerajaan Hindu di Muara Kaman. Selanjutnya pada abad VII (770 Masehi) berdiri pula Kerajaan Martapura di Muara Kaman. Barulah pada tahun 1280 didirikan   sebuah kerajaan kecil bernama Kutai Kertanegara oleh  sekelompok pelarian dari kerajaan Singhasari dengan mengambil lokasi di delta Sungai Mahakam bernama “Kutai Lama”. Selanjutnya antara kedua kerajaan ini timbul perseteruan, yang akhirnya pada tahun 1350 kerajaan Kutai dipersatukan dengan Kerajaan Martapura lewat perkawinan antara Pangeran Batara Agung Paduka Nira dengan Puteri Indra Perwati.  Meskipun berdasarkan fakta kerajaan tertua di Nusantara didirikan oleh Kudungga namun para ahli sejarah patut meluruskan kebenarannya demi generasi mendatang. Selanjutnya, para sejarawan sudah sepantasnya untuk segera dapat mengungkapkan bukti-bukti sejarah berupa Yupa dan batu bertulis di Goa Kombeng Muara Kaman yang kini terpajang di Museum Mulawarman Tenggarong yang bekas Istana Kerajaan Kutai Kertanegara.

**) CATATAN KHUSUS II : Situs MAN 3 Malang Official Website mengabarkan [Senin,02 Maret 2009-08:23 AM] bahwa ”Ditemukan Naskah Asli Sumpah Palapa” yang terbuat dari 93 lembar daun lontar dan baru selesai diterjemahkan, mengungkap beberapa fakta baru. Menurut naskah itu, Sumpah Palapa diikrarkan oleh Patih Gadjah Mada pada masa Majapahit dipimpin Raja Tribhuana Tunggadewi, bukan pada masa Hayam Wuruk yang selama ini diketahui publik.

Sumpah Palapa menjadi satu-satunya sumpah terkenal yang diucapkan seorang Patih. Pada masa itu, Patih Gadjah Mada merupakan Patih yang disegani dan dihormati. Isinya, kurang lebih pernyataan Gadjah Mada yang berupaya menyatukan Nusantara dalam kekuasaan Majapahit. Menurut Wikipedia, Sumpah Palapayang terdapat di Kitab Paraton bunyinya: Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.Terjemahannya: Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Beliau Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya melepas puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya  melepaskan puasa”. Pada naskah kuno Kakimpoi Gadjah Mada juga diungkapkan bahwa Majapahit menyerbu Bali bukan pada masa Raja Sri Kresna Kepakisan, melainkan pada masa Raja Tribhuana Tunggadewi yang tak lain adalah Ibunda Hayam Wuruk. Naskah itu juga mengungkap, Sri Kresna Kepakisan bukanlah Raja Majapahit, tetapi Raja yang dipersiapkan Majapahit untuk menduduki Bali.Penerjamahan yang dilakukan oleh Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali, Prof. DR I Ketut Riana ini, rencananya akan dilanjutkan dengan pembuatan buku. Namun hingga saat ini, pihak-pihak yang ditawari untuk menfasilitasi penerbitan itu, seperti Bupati Mojokerto, Swasta dan Dinas Persenibud Jatim, belum memberikan tanggapan.

***CATATAN KHUSUS III : Menurut homeblog punya Avienz (May 6, ’09 10:01 PM for everyone): Suku Dayak Maanyan merupakan salah satu dari suku-suku Dusun (Kelompok Barito bagian Timur) sehingga disebut juga Dusun Maanyan. Suku-suku Dusun termasuk golongan suku bangsa Dayak rumpun Ot Danum sehingga disebut juga Dayak Maanyan. Suku Maanyan mendiami bagian timur Kalimantan Tengah terutama di kabupaten Barito Timur dan sebagian kabupaten Barito Selatan yang disebut Maanyan I. Suku Maanyan juga mendiami bagian utara Kalimantan Selatan tepatnya di Kabupaten Tabalong yang disebut Dayak Warukin. Dayak Balangan (Dusun Balangan) yang terdapat di Kabupaten Balangan dan Dayak Samihim yang terdapat di Kabupaten Kotabaru juga digolongkan ke dalam suku Maanyan. Suku Maanyan di Kalimantan Selatan dikelompokkan sebagai Maanyan II. Menurut orang Maanyan, sebelum menempati kawasan tempat tinggalnya yang sekarang, mereka berasal dari hilir. Menurut situs “Joshua Project” suku Maanyan berjumlah 71.000 jiwa. Menurut sastra lisan suku Maanyan, setelah mendapat serangan Marajampahit (Majapahit) kepada Kerajaan Nan Sarunai, suku ini terpencar-pencar menjadi beberapa sub etnis. Suku terbagi menjadi 7 subetnis, diantaranya: Maanyan Paju Epat (murni), Maanyan Dayu (Paju Isa),  Maanyan Paju Sapuluh (Kampung Sepuluh / ada pengaruh Banjar), Maanyan Benua Lima/Paju Dime (ada pengaruh Banjar), Maanyan Tanta (ada pengaruh Banjar) dan lain-lain. Keunikan Suku Dusun Maanyan antara lain mereka mempraktikkan ritus pertanian, upacara kematian yang rumit, serta memanggil dukun (wadian/balian) untuk mengobati penyakit mereka.

****) CATATAN KHUSUS IV: Bukti-bukti peninggalan Kerajaan Dayak di Pesisir Kalimantan yang diakui sebagai milik suku Dayak Ma’anyan adalah Murung atau Ujung Murung (Banjarmasin) sekarang. Adapun benda-benda temuan lainnya adalah: 1. Hujung Panti, yakni sebuah tonggak kayu yang bernama “Hujung Panti”, gunanya ialah tempat orang Maanyan kuno memandikan anak disungai untuk pertama kalinya yang disebut “Mubur Walenon’. Tonggak kayu itu dipakai hingga abad ke-14, terletak disebelah barat laut kota Banjarmasin.  2. Banjarmasin Timur, Banjarmasin, terdapat di km 3 masuk sejauh kurang lebih 800 meter ke kiri jalan arah Martapura, adalah sebuah tempat yang dinamakan Pangambangan. Pada daerah seluah 1 ha, terdapat permukaan tanah yang bersih karena tidak terdapat satupun pepohonan yang bisa tumbuh. Diduga disitulah tempat pemukiman orang Maanyan yang pertama yang dipercaya oleh mereka sebagai bekas bangunan Balai Adat hingga abad ke-16.  3. Pulau Banyar adalah kebun buah-buahan yang dinamakan Pulau Banyar Kayutangi, tempat pemukiman orang Maanyan hingga awal abad ke-16. Disini masih terdapat tiang-tiang bekas rumah kuno yang terbuat dari kayu besi yang masih tersisa sampai sekarang, terletak 24 km dari kota Banjarmasin arah ke lapangan terbang Syamsuddin Noor. 4. Belontang adalah patung-patung dan makam kuno dari kayu besi terletak di Liang Anggang. Belontang dalam adat orang Maanyan adalah simbolis arwah orang yang sudah meninggal diadakan pesta adat secara sempurna. 5. Gunung Paramatun atau Gunung Pematon atau gunung Madu-Maanyan, tempat penyimpanan pusaka kerajaan Nansarunai sesudah dirampas kembali dari Tanjung Negara atau Banjarmasin pada tahun 1362.  6. Sumur Pahit terdapat di kota Martapura terdapat Belontang dan sumur kuno yang dinamakan Sumur Pahit, peninggalan orang Ma’anyan hingga abad ke-14. Sewaktu penggalian saluran pengairan dari waduk Riam Kanan ke arah Banjar Baru terdapat kuburan kuno orang Ma’anyan yang dipakai hingga abad ke-16. 7. Pemukiman Nan Sarunai kuno di km 24 dari Martapura ke arah Rantau, 150 m kanan jalan. Disana terdapat sebuah gua dan tanah yang sedikit ditumbuhi pepohonan. Diduga tempat itu adalah bekas pemukiman yang disebut Nansarunai kuno hingga awal abad ke-13 dan belum mengenal pemerintahan sistim raja. Sesudah Nansarunai dipindahkan ke Banua Lawas, baru timbul pemerintahan dalam bentuk kerajaan serta lahirnya hukum adat yang dipakai oleh orang Maanyan hingga sekarang. 8. Pulau Kadap, Daerah tempat pemusatan prajurit-prajurit Nansarunai sebelum perang Nansarunai ke-2 tahun 1362. 9. Candi Laras di daerah Margasari, terdapat tempat pemujaan agama Hindu Syiwa dari kerajaan Negara Dipa abad ke-14 hingga abad ke-16. Disini terdapat juga sebuah patung batu berupa wujud kepala babi sebagai prasasti yang dibuat oleh orang Dayak Maanyan tahun 1363. 10. Negara, Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan adalah sebuah desa tempat pemukiman bekas prajurit-prajurit Majapahit, terdiri dari orang Majapahit, orang Madura, orang Bugis dan orang-orang Nan Sarunai setelah selesai perang Desember 1362. Desa ini sangat terkenal karena terdapat: a. Para pandai besi yang ahli dalam pembuatan senjata, kapal-kapal serta peralatan rumah tangga lainnya. b. Para ahli pembuat tembikar, kenong atau gamelan dan gelang untuk tarian wadian Bawo dan wadian Dadas. Khusus untuk gamelan mereka buat memakai lima nada, yaitu do, re, mi, sol dan la ialah nada-nada yang dipakai oleh orang Maanyan dalam musik. c. Terdapat sebuah sumur kuno yang airnya berwarna merah, sebagai prasasti peristiwa perang Desember 1362. 11. Candi Agung di Amuntai Tengah, Hulu Sungai Utara, yaitu candi tempat pemujaan agama Hindu Syiwa pada abad ke-14 dan Tambak wasi, yaitu tempat pembakaran mayat para prajurit Majapahit korban perang Nansarunai ke-1 pada bulan April 1358. 12. Banyu Hirang, kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, terdapat beberapa kuburan massa yang disebut Tambak, yaitu tempat penguburan para prajurit Nan Sarunai dan Majapahit korban perang Desember 1362. 13. Pada tahun 1953, pernah ditemukan oleh seorang penjala ikan yang bernama Abdullah Wahab sebuah tiang kapal tertimbun lumpur sedalam sekitar 1 m dari permukaan air. Jalanya tersangkut pada tiang kapal yang belum dia ketahui sejarahnya. Tempat ia menjala ikan tersebut yaitu sebuah danau yang dinamakan Telaga Silaba, di selatan Kabupaten Hulu Sungai Utara. (Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Peninggalan_purbakala_Maanyan“).

*****) CATATAN KHUSUS V: Satu peristiwa Majapahit menaklukkan Kerajaan Nan Sarunai adalah seperti digambarkan Sutopo Ukip (Minggu, 24 Agustus 2008) sebagai berikut: Tahun 1350, Laksamana Nala mengadakan ekspedisi ke Nan Sarunai dengan menyamar sebagai nahkoda kapal dagang. Di Nan Sarunai ia memakai nama samaran Tuan Penayar dan bertemu dengan Raja Raden Anyan bergelar Datu Taturan Wulau Miharaja Papangkat Amas serta Ratu Dara Gangsa Tulen. Laksaman Nala sangat kagum melihat begitu banyaknya barang-barang terbuat dari emas murni ketika ia dipersilahkan untuk melihat-lihat perlengkapan pesta adat di ruangan tempat bermusyawarah. Yang sangat dikagumi oleh Laksamana Nala ialah sokoguru balai adat yang terbuat dari emas murni juga dimana dibagian atasnya bermotif patung manusia.Setelah kembali ke Majapahit, Laksamana Nala berpendapat, untuk menundukkan Nan Sarunai harus dicari kelemahan Raja Raden Anyan yang mempunyai kharisma kuat. Pada pelayanan berikutnya, Laksamana Nala membawa serta seorang panglima perangnya yang bernama Demang Wiraja dengan memakai nama samaran Tuan Andringau serta beberapa prajurit dari suku Kalang. Hasil pengamatan Demang Wiraja dilaporkan kepada Laksamana Nala. Demikianlah pada awal tahun 1356, Laksamna Nala datang lagi ke Nan Sarunai dengan membawa serta istrinya bernama Damayanti. Sewaktu kembali ke Majapahit, sengaja Laksamana Nala membiarkankan isterinya tinggal di Nan Sarunai. Damayanti berwajah sangat cantik dan pribadinya menarik. Pada tahun 1356 itu, terjadi kemarau panjang, sehingga Raja Raden Anyan secara kebetulan bertemu dengan Damayanti di sumur yang khusus diperuntukkan bagi anggota keluarga kerajaan. Pertemuan pertama berlanjut dengan kedua dan demikian seterusnya sehingga Damayanti hamil dan melahirkan seorang anak perempuan lau diberi nama Sekar Mekar. Pada awal tahun 1358, Laksamana Nala datang lagi ke Nan Sarunai dan menemukan isterinya sedang menimang seorang anak perempuan. Damayanti yang memakai nama samaran Samoni Batu menerangkan bahwa anak yang ada dipangkuannya adalah anak mereka berdua. Dan Laksamana Nala percaya saja apa yang dikatakan oleh isterinya itu. Ketika kembali ke Majapahit, Damayanti beserta anaknya dibawa serta lalu tinggal di pangkalan aramada laut Majapahit di Tuban. Beberapa bulan kemudian, Laksamana Nala secara kebetulan mendengar isterinya bersenandung untuk menidurkan puterinya dimana syair-syairnya menyebutkan bahwa Sekar Mekar mempunyai ayah yang sebenarnya ialah Raja Raden Anyan. Bulan April 1358, datanglah prajurit-prajurit Majapahit, dibawah pimpinan Laksamana Nala dan Demang Wiraja menyerang Nan Sarunai. Mereka membakar apa saja termasuk kapal-kapal yang ada di pelabuhan dan rumah-rumah penduduk. Serangan itu mendapat perlawanan gigih prajurit-prajurit Nan Sarunai walaupun mereka kurang terlatih. Menurut cerita, Ratu Dara Gangsa Tulen bersembunyi dipelepah kelapa gading bersenjata pisau dari besi kuning, bernama Lading Lansar Kuning. Ia banyak menimbulkan korban pada pihak  musuh sebelum ia sendiri gugur. Raja Raden Anyan dalam keadaan terdesak lalu disembunyikan oleh para Patih dan Uria kedalam sebuah sumur tua yang sudah tidak berair lagi. Di atas kepalanya ditutup dengan sembilan buah gong besar, kemudian dirapikan dengan tanah dan rerumputan, agar tidak mudah diketahui musuh. Ketika keadaan sudah bisa dikuasai oleh pihak Majapahit, Laksamana Nala memerintahkan Demang Wiraja untuk mencari Raden Anyan hidup atau mati. Atas petunjuk prajurit-prajurit suku Kalang yang terkenal mempunyai indera yang tajam, tempat persembunyian Raja Raden Anyan akhirnya dapat ditemukan. Raja Raden Anyan tewas kena tumbak Laksamana Nala dengan lembing bertangkai panjang. Peristiwa hancurnya Nan Sarunai dalam perang tahun 1358 itu, terkenal dalam sejarah lisan suku Dayak Maanyan yang mereka sebut Nansarunai Usak Jawa. Dalam perang itu telah gugur pula seorang nahkoda kapal dagang Nansarunai yang terkenal berani mengarungi lautan luas bernama Jumulaha. Ia banyak bergaul dan bersahabat dengan pelaut-pelaut asal Bugis dan Bajau. Untuk mengenang persahabatan itu, maka puterinya yang lahir ketika ditinggalkan sedang berlayar, diberi nama berbau Bugis yaitu La Isomena. Prajurit-prajurit Majaphit yang gugur dalam perang tahun 1358 itu diperabukan berikut persenjataan yang mereka miliki di dekat sungai Tabalong yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan Tambak-Wasi. Tambak arti kuburan dan Wasi artinya besi (bahasa Maanyan kuno) sehingga Tambak Wasi adalah kuburan yang mengandung unsur besi.

******)CATATAN KHUSUS VI: Pendiri kerajaan Nansarunai adalah Raden Japutra Layar yang memerintah dari tahun 1309-1329 dilanjutkan Raden Neno 1329-1349 dan yang terkahir Raden Anyan 1349-1358. Gelas raden hanya khusus untuk raja, sedangkan para bangsawan lainnya memakai gelas patih, uria, damong, pating’i, datu dan sebaginya. Gelar raden itu berasal dari Majapahit, karena Japutra Layar sebelum menjadi raja adalah seorang pedagang yang sering bergaul dengan para bangsawan Majapahit. Ketika penyebaran agama Islam sampai ke Pasar Arba yang dipimpin oleh Labai Lamiah beserta para ulama asal Demak, Banten dan Aceh dalam tahun 1528, balai adat yang semula dihancurkan oleh Laksamana Nala dalam tahun 1358, sudah dibangun kembali dan dipergunakan untuk upacara adat Hindu Kaharingan pada zaman Majapahit berkuasa disana. Setelah kedatangan agama Islam, balai adat itu dirobah fungsinya menjadi mesjid dengan atap bertipe joglo. Mesjid itu mempunyai luas sekitar 200m2, dilengkapi dengan serambi keliling selebar 3m dan dapat menampung sekitar 400 jemaah. Tiang-tiang mesjid diambil dari bekas tiang balai adat dari kayu besar berdiameter 40 cm dan masih tidak keropos sampai sekarang.

Karena letak mesjid itu pada bekas balai adat ketika zaman kerajaan Nansarunai, sehingga mesjid tersebut juga menjadi lambang persaudaraan orang Maanyan, Banjar dan Merina di Madagaskar. Orang Merina kalau sembahyang selalu kiblatnya menghadap ke arah timur laut yang mereka sebut Anjoro Firarazana, berasal dari kata Maanyan Hang Jaro Pirarahan, yaitu nama balai adat di Nansarunai dahulu. Mesjid itu telah beberapa kali direhabilitasi, terutama dindingnya yang terbuat dari kayu borneo. Sewaktu diadakan rehabilitasi tahun 1975, barang-barang kuno sisa-sisa peralatan pesta agama Hindu Kaharingan yang semula diletakkan di loteng mesjid, dipindahkan ke tempat lain oleh orang-orang yang masih berbahasa Maanyan. Barang-barang itu antar lain piring celedon, kain Sindai, kenong, gong, boli-boli, guci tempat pengawetan daging atau ikan secara Maanyan yang disebut wadi, gendang berbadan panjang yang disebut Katamo’ng dan lain sebagainya. Di sekitar Masjid Pasar Arba atau Banua Lawas inilah kerajaan Nan Sarunai berpemerintahan dari tahun 1309 sampai 1358. Disini terdapat peninggalan kuno antara lain: 1. Makam raja Raden Anyan atau terkenal dalam sejarah lisan orang Maanyan mereka sebut Ammah Jarang, terletak di belakang masjid tua Banua Lawas.  2. Sumur Tua tempat Raden Anyan gugur ditumbak oleh Laksamana Nala, tertutup lantai mesjid.  3. Pohon Kamboja besar-besar, sebanyak tujuh pohon, terletak di belakang mesjid tua tersebut, sebagai peringatan moksanya tujuh orang putera Raden Anyan yaitu; Jarang, Idong, Pan’ning, Engko, Engkai, Liban dan Bangkas.  4. Terdapat sebuah sumur tua sekitar 1 km arah barat kota kecamatan Banua Lawas yang disebut Sumur Am’mah Jarang, nama kecil Raja Raden Anyan, digunakan khusus bagi anggota keluarga kerajaan Nan Sarunai.  Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Peninggalan_purbakala_Maanyan“)

CATATAN KAKI:

*1) Tabloid Bangkit, Nomor  27 / Th IV / 8-14 April 2002, halaman 11.

*2) Banjarmasin Post, Minggu 17 September 2000 halaman 4.

*3) Kalimantan Pos, Kamis 28 September 2000.

*4) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah: “SEJARAH DAERAH KALIMANTAN TENGAH”, 1997/1998, halaman 7.

*5) Jawa yang dimaksud bukan ditujukan untuk mendiskreditkan suatu suku bangsa secara umum tetapi lebih ditekankan kepada “rezim”  pada era tertentu.

*6) Tjilik Riwut: Kalimantan Membangun, Alam dan Kebudayaan, Penerbit PT. Tiara Wacana, Yogyakarta,  1993,   halaman 81-83.

*7) Kalteng Pos, Selasa, 30 Maret 1999 menyebutkan bahwa “Rombongan serdadu  Belanda  (Marsose) menyerang Candi  Agung  Amuntai  dan   membakar sekitar 100 buah rumah di Murung Kaliwen”. Dinamika Berita, Senin, 5 April 1999 menuturkan pembakaran Candi Agung tersebut dengan mengutip ratap tangis  sejati Taliwakas yang berbunyi: “Kaliwen  haut galis rakit apui. Murung  Mangis jarah sia tutung.  Wuwungan  jatuh galis  jari awu.  Rampan ribu jarah janang inu”.

*8) Tjilik Riwut: Kalimantan Membangun, Alam dan  Kebudayaan, op. cit,  halaman  88 – 89.

*9)   Tjilik Riwut, Ibid, halaman 117.

*10) Tjilik Riwut, Ibid, halaman 118.

*11)  Tjilik  Riwut,  op. cit.

*12) Proyek  Penelitian  dan  Pencatatan  Kebudayaan  Daerah Depdikbud : Sejarah Daerah Kalimantan Tengah, 1977/1978,  halaman 8.

*13) Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depdikbud, op.cit, hal 31

*14) Banjarmasin Post, Kamis, 5 Agustus 1993

*15) Banjarmasin Post, Kamis, 5 Agustus 1993.

*16) Kalteng Pos,  Selasa,  30 Maret 1999 dan  Dinamika Berita,  Senin dan Selasa, 5 dan 6 April  1999.

*17)  Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah,  loc. cit,  halaman  68.

*18)  Ibid, halaman 69-70.

*19) Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, ibid,  halaman  42.

*20) Tjilik Riwut, loc.cit, halaman 85-88.

*21) Majalah  MISTERI, tanggal  5 – 19 Pebruari 1999.

*22) Majalah  MISTERI, tanggal  20 Juli – 4 Agustus 1999   dan  GATRA,  tanggal 17 April 1999

*23) Majalah  LIBERTY, tanggal 1 – 10 Mei 2001  dan  MISTERI, 20 Juli –  4 Agustus 1999.

*24) Banjarmasin Post,  Minggu  16 Mei 1999 :   “Hassan Basry : Terjegal  karena Bukan Golkar

*25)  Banjarmasin Pos,  Minggu  16 Mei 1999,    judul:  “Kalimantan   Dipandang  Masih  Jajahan”.

*26) Banjarmasin Post, Minggu  9 Mei 1999:  “Sejarah Panjang   Kekerasan  Feodal”.

*27) Tabloid WANITA INDONESIA, Nomor 28 / V / Minggu II, Januari 1994:  “SLOGAN, KESENIAN  DAN AGITASI”.

*28) Jawa Pos, Minggu Pahing, 25 Pebruari 2001, Halaman 1.

*29) Banjarmasin Pos, 16 Agustus 1999: “Upaya Persatuan Ada Sejak Zaman  Majapahit”.

*30) Dinamika Berita, Senin 5 Juli 1999: “Budaya Jawa Dominasi Kehidupan Kebudayaan di Indonesia”.

*31) Kalteng Pos, Selasa 16 Mei 2000: “HMS Diperiksa Pakai Bahasa Jawa.”

*32) Kompas, Jum’at 23 Juli 1999: “De-Jawanisasi” Politik Indonesia”.

*33) Kalteng Pos, Kamis  26 Nopember 1998  Hal.  1.

*34) Kalteng Pos, Senin  7 Desember 1998 Halaman 1.

*35) Kalteng Pos, Senin  1 Nopember 1998.

*36) Kalteng Pos, Sabtu  8 Mei 1999.

*37) Kalteng Pos, Sabtu  8 Mei 1999.

*38) Harian  KOMPAS,  Senin  9 Agustus 1999.

KEPUSTAKAAN

1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah: “SEJARAH DAERAH KALIMANTAN TENGAH”, 1997/1998.

2.   MARWATI DJOENED POESPONEGORO DAN NUGROHO NOTOSUSANTO: “SEJARAH NASIONAL INDONESIA II”, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan – PN Balai Pustaka, Jakarta, 1984.

3. TJILIK RIWUT: “KALIMANTAN MEMBANGUN, Alam dan Kebudayaan”,  PT. Tiara Wacana, Yogyakarta,  1993.

4.  Banjarmasin Post, Kamis 5 Agustus 1993.

5.  Banjarmasin Post, Minggu 9 Mei 1999.

6.  Banjarmasin Post, Minggu 16 Mei 1999.

7. Banjarmasin Post, 16 Agustus 1999.

8. Banjarmasin Post, Minggu 17 September 2000.

9. Dinamika Berita, Senin 5 April 1999.

10. Dinamika Berita, Selasa 6 April 1999.

11. Dinamika Berita, Senin 5 Juli 1999.

12. Jawa Pos, Minggu Pahing 25 Pebruari 2001.

13. Kalteng Pos, Selasa 30 Maret 1999.

14. Kalteng Pos, Selasa 16 Mei 2000.

15. Kalteng Pos, Kamis 26 Nopember 1998.

16. Kalteng Pos, Senin 7 Desember 1998.

17. Kalteng Pos, Senin 1 Nopember 1999.

18. Kalteng Pos, Sabtu 8 Mei 1999.

19. Kompas, Senin 9 Agustus 1999.

20. Kalimantan Pos, Kamis 28 September 2000.

21. Palangka Pos, Senin 26 Nopember 2001.

22. Majalah MISTERI, 5-19 Pebruari 1999.

23. Majalah MISTERI, 20 Juli-4 Agustus 1999.

24. Majalah GATRA, 17 April 1999.

25. Majalah LIBERTY, 1-10 Mei 2001.

26. Tabloid WANITA INDONESIA, Nomor 228 / V / Minggu II / Januari  1994.

27. Tabloid BANGKIT, Nomor 27 / Th  IV / 8 – 14 April 2002.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s