Archive | Agustus 2010

LEGENDA BATU TULUNGAN (Versi 1 dan 2)

LEGENDA BATU TULUNGAN

 

 

BATU TULUNGAN

BATU TULUNGAN

ASAL KEJADIAN BATU TULUNGAN

 

 

 

Daftar isi

1. Prolog

2. Folklore Pertama

Legenda Batu Tulungan (1)

3. Folklore Kedua

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Legenda Batu Tulungan (2)

 

Prolog (Survei tanggal  5 – 8 November 2008 ke Kecamatan Gunung Bintang Awai )

 

 

Ekspedisi Sungai Ayuh Tahun 2008 merupakan survei kedua ke kecamatan Gunung Bintang Awai, namun merupakan ekspedisi pertama menyusuri sungai Ayuh. Starting point ekspedisi adalah Desa Patas, puncaknya di batu Tulungan dan ending-nya kembali ke Patas.

Daya tarik wisata alam dan budaya potensial yang berhasil terdeteksi selama memudiki sungai Ayuh adalah panorama hutan alami sepanjang sungai, perladangan masyarakat, tebing-tebing batu di sepanjang sungai terutama tebing-tebing curam di sekitar situs Batu Talaka, Tukat Diau / Tangga Liau, Tebing Batu Wutu Gayus, Batu Panggung di tengah sungai, Lubuk Sireren, Batu Tulungan, Tulungan Amis dan Liang Utau (Goa Tengkorak / Gua Rarung).

Semua daya tarik wisata alam dan budaya tersebut termasuk kawasan desa Bintang Ara sehingga antara desa Patas – Buyui – Bintang Ara – Malungai Dalam – Batu Tulungan – sampai ke Tulungan Amis, adalah hamparan kawasan yang sangat potensial sebagai kawasan wisata alam / minat khusus, terutama untuk trekking dan rock climbing, serta sangat ideal untuk pengembangan kawasan wisata budaya khas Dayak Bawo dan suku lokal lainnya.

Dalam ekspedisi susur sungai ini Tim berhasil meneliti dan mengambil gambar desa Bintang Ara, desa Buyui, batu Talaka, Tukat Diau, Batu Panggung, Tebing Batu Wutu Gayus, meneliti gosong di depan Batu Tulungan, memasuki batu Tulungan dan mencatati beberapa cerita rakyat yang hidup dimasyarakat.

Dua dari cerita rakyat itu khusus menuturkan kejadian gaib yang menjadi asal usul kejadian batu tulungan. Maka dalam kesempatan ini kedua kisah itu ditampilkan dalam bentuk buku cerita rakyat kabupaten Barito Selatan.

Selamat membaca!

.

.

Folklore Pertama

Daya tarik wisata alam berupa batu yang nyaris menutupi alur sungai Ayuh, “Batu Tulungan”, ternyata memiliki leg enda yang patut dicatat. Dalam ekspedisi kali ini tim mencatat 2 versi legenda Batu Tulungan. Untuk mempersingkat penuturan, inilah legenda versi pertama yang diceriterakan oleh Bapak Biriu atau Ambah Bogai, seorang tetuha masyarakat desa Bintang Ara. Secara asal usul beliau ini berasal dari suku Dayak Taboyan.

.

LEGENDA BATU TULUNGAN (1)

Batu Tulungan

Batu Tulungan

Bahari kala, di daerah hulu dari segala sungai yang ada di Kalimantan Tengah, tersebutlah sebuah tempat yang bernama Datai Lino. Datai Lino ini dikenal pula sebagai Kepala Barito atau ulu’ Barito karena dari sanalah induk segala sungai bermula. Ringkas surah, di Datai Lino ini hiduplah dua bersaudara yang bernama Ayus dan Silu. Ayus adalah kakak lelaki satu-satunya dari Silu dan Silu merupakan adik perempuan satu-satunya dari Ayus.

SURAT TERBUKA

Buntok, 27 Agustus 2010

Kepada

Seluruh pembaca Blog saya dimana saja berada

Saya, Syamsuddin Rudiannoor, pemilik blog ini menyampaikan surat terbuka sebagai berikut:

1. Bagi pembaca yang ingin mengutip isi blog saya dipersilakan mengutip dengan menyebutkan sumber pengambilan.

2. Bagi pemilik Tabloid, Majalah, Surat Kabar, Buletin atau sejenisnya yang berkeinginan mengutip isi blog saya dipersilakan mengutip dengan memberitahu kepada saya melalui SMS ke 081 349 606 504 atau e-mail ke srudiannoor@yahoo.com.

3. Bagi yang berkeinginan menjadikan isi blog saya sebagai buku atau sejenisnya dapat menerbitkannya asal memberitahu kepada saya baik secara lisan maupun tertulis. Saya memiliki tulisan tentang kebudayaan di blog ini (https://rudiannoor.wordpress.com/) dan tulisan tentang Islam di blog lain (http://syamsuddinrudiannoor@blogspot.com/).

Demikian disampaikan, atas permaklumannya diucapkan terima kasih.

Hormat saya,

Syamsuddin Rudiannoor

MOZAIK KEPARIWISATAAN KALIMANTAN TENGAH

MOZAIK KEPARIWISATAAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

 

 

BUDAYA TARI "WADIAN"

IRUANG WUNRUNG

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

 

.

KATA PENGANTAR

 

Buku sederhana ini diberi judul “MOZAIK KEPARIWISATAAN KALIMANTAN TENGAH”. Karya kecil ini  merupakan kumpulan tulisan  sejak tahun 1990 dan telah dipublikasikan oleh beberapa media massa lokal maupun nasional.

Dalam penyajiannya sebagai buku, artikel yang disuguhkan disusun  berdasarkan tahun pemuatan di media massa sehingga topik pembahasan menjadi tidak beraturan.

Semoga upaya mempublikasikan buku ini dapat menambah wawasan tentang Kepariwisataan Kalimantan Tengah terutama dinamika, tantangan dan hambatan pengembangannya sejak awal tahun sembilan puluhan.

Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Buntok,  3  Juni  2002

Penulis,

SYAMSUDDIN  RUDIANNOOR

 

 

.

.

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

1.   KALIMANTAN TENGAH BERBENAH DIRI

2.   PERKOSAAN  SEBAGAI  ATRAKSI  WISATA

3.   PENGEMBANGAN  DAN  TANTANGAN PARIWISATA   DI   KALIMANTAN TENGAH

4.   BAGAIMANA  KALAU  MENGEMBANGKAN  PRAMUKA   SAKA  PARIWISATA

5. BAGAIMANA  MENGUNJUNGI  OBYEK     WISATA   DI  PALANGKA  RAYA

6. ASET-ASET  WISATA  KAWASAN  TAMAN NASIONAL   TANJUNG   PUTING

7.  YANG  MENARIK  DARI  DESA  TUMBANG  KURIK

8.  MENGENAL  TAMAN  WISATA  DANAU    TAHAI   DI   PALANGKA  RAYA

9. ORANG  DAYAK  MEMANCING  IKAN  DARI DALAM  KELAMBU

10.  MANAJEMEN   “ORANG  UTAN”

11.   MENGINTIP  “PRIMADONA”  TANJUNG     PUTING   KALIMANTAN  TENGAH

12.   BATU  KECUBUNG  PANGKALAN  BUN

13.   TUDUNG SAJI BERMANIK PANGKALAN BUN

14.   KUMAI PERLU MUSEUM TANJUNG PUTING

15.   PROMOSI  EFEKTIF  PARIWISATA KALIMANTAN  TENGAH

16.  ORGANISASI  KELOTOK WISATA   KOTAWARINGIN  BARAT

17.  KALENDER  PARIWISATA  KOTAWARINGIN BARAT

18.  KAWASAN  TANJUNG  KELUANG,  ASET NASIONAL  YANG   TERABAIKAN

19.   KISAH  KOBAR  MENEMUKAN   DAN        KEHILANGAN  OBYEK   DAN  DAYA  TARIK WISATANYA

20.   TANJUNG PUTING :  REFLECTION OF “EDAN”

21.  TANJUNG  PUTING  BESAR  KARENA  ISU

22.  DONASI   DALAM   PARIWISATA  KOTAWARINGIN  BARAT

23.  PUSAT   INFORMASI   PARIWISATA KOTAWARINGIN  BARAT

24.   MAKAM  KIYAI GEDE DIMATA WISATAWAN

25.  KUMAI BUTUH MUSEUM TANJUNG  PUTING (2)

26.   DAYAK  BAWO  UNTUK  PARIWISATA

27. BABAK  BARU  WISATA  PESISIR KOTAWARINGIN   BARAT

.

.

1

KALIMANTAN TENGAH BERBENAH DIRI *)

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

.

.

A.  TAHUN PERTAMA REPELITA V

Hasil-hasil  pembangunan Sektor Pariwisata Kalimantan Tengah selama Tahun Pertama Repelita V antara lain telah berhasil melanjutkan dan mengembangkan beberapa fasilitas pariwisata di obyek  wisata Bukit Tangkiling, seperti membuat jalan paving stone, jalan  setapak dan beberapa pondok pandang, rehabilitasi jembatan, pembuatan shelter-shelter, tempat berteduh, menara air dan fasilitas lainnya.

Di obyek wisata Upun Batu / Batu Suli telah dibangun fasilitas wisata seperti dermaga mini, beberapa shelter dan pondok pandang. Didesa Tumbang Kurik telah dibangun dermaga apung, penataan  halaman, sarana air bersih dan rehabilitasi rumah betang desa Tumbang  Kurik. Sedangkan di Bandar Udara Tjilik Riwut Palangka Raya telah dibangun  Pintu Gerbang Pantan dan jalan handre block.

Hasil-hasil  pembangunan kepariwisataan yang telah    dilakukan    di   Kalimantan   Tengah namun bersifat non fisik diantaranya  meliputi keberhasilan melaksanakan penelitian (observasi, survei) dalam usaha pengembangan obyek-obyek wisata potensial di beberapa Daerah Tingkat  II  di  Kalimantan Tengah.  Telah mengadakan  kursus  dan  penataran tentang pariwisata dan industri pariwisata. Mengadakan beberapa kali peliputan (TVRI) dalam rangka Promosi Seni Budaya Daerah Kalimantan Tengah guna terus meningkatkan peranan kepariwisataan dalam  mensukseskan pelaksanaan program pembangunan daerah dan dalam usaha pelestarian seni budaya daerah. Mengadakan Kampanye Sadar Wisata  sebagai  salah satu usaha untuk menanamkan pengertian masyarakat secara luas tentang  pariwisata khususnya tentang Sapta Pesona  Pariwisata. Dan berapa  waktu lalu Kalimantan Tengah, khususnya kota Palangka  Raya telah  berhasil  menyelenggarakan Rapat Koordinasi Wilayah  Tujuan Wisata (WTW)   “E”  se Kalimantan.

.

B.  TAHUN KEDUA REPELITA V

Dalam  tahun  kedua  Repelita V, pembangunan pariwisata  di Kalimantan  Tengah adalah terus melanjutkan pembangunan obyek-obyek wisata  yang selama ini telah ada, melanjutkan pengembangannya dan mengadakan  inventarisasi,  perencanaan dan penyusunan  desain  pariwisata Danau Sembuluh di Kabupaten Kotawaringin Timur.

Pembangunan  yang bersifat non fisik  selama tahun kedua Repelita V adalah mengadakan Penataran/Kursus Kepariwisataan,  Pagelaran  Tari dan Lagu Daerah Kalimantan Tengah dalam rangka Hari Ulang Tahun TMII di  Jakarta  dan Lomba Tari dan Nyanyi Daerah se  Kalimantan  Tengah dalam rangka Hari Jadi Provinsi Kalimantan Tengah  ke-33  Tahun 1990 di  Palangka Raya. Juga telah mengadakan Pagelaran  Kesenian Daerah Kalimantan Tengah  pada Pekan Raya Jakarta Tahun 1990 di Jakarta, Peliputan  dan Promosi Seni Budaya Kalimantan Tengah melalui  media audio-visual serta melakukan kegiatan pemasaran industri pariwisata guna  mensukseskan program pembangunan di daerah Kalimantan  Tengah.  Sedangkan  untuk bulan September 1990  nanti,  Provinsi  Kalimantan Tengah akan ikut serta dalam Even Besar Indo Tourism di Jakarta.

.

C.  PENUTUP

Untuk  Tahun  Anggaran 1991/1992, Dinas Pariwisata Provinsi Daerah  Tingkat I Kalimantan Tengah telah menyampaikan  Usulan  program / proyek  kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat  I Kalimantan Tengah  cq. Ketua BAPPEDA Tingkat I Kalimantan Tengah.  Usulan  program/proyek dimaksud diharapkan dapat terbagi kedalam 3 (tiga) buah proyek, yang masing-masing sebagai berikut :

  1. Proyek Pembangunan Pariwisata di Daerah Tingkat II Kotawaringin Barat,  Palangka  Raya dan Kotawaringin Timur dengan  rencana anggaran sebesar   Rp. 501.000.000,-
  2. Proyek  Peningkatan  Fasilitas dan  Prasarana Fisik  Dinas Pariwisata   Provinsi   Dati  I  Kalimantan Tengah   sebesar    Rp. 434.946.000,-
  3. Proyek  Peningkatan  Promosi  dan  Pembinaan Industri Pariwisata  di  Kalimantan Tengah sebagai proyek baru dan direncanakan  bernilai  Rp. 380.000.000,-

Jumlah keseluruhan rencana biaya ketiga proyek tersebut untuk  Tahun  Anggaran 1991 / 1992 adalah  Rp. 1.316.446.000,- dengan  alasan  pengusulannya adalah :

  1. Mengharapkan  Daerah  Kalimantan Tengah segera  menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW) sebagaimana provinsi lain di Kalimantan.
  2. Dalam rangka menyongsong dan mensukseskan Program Tahun Kunjung­an Wisata Indonesia 1991 dan Tahun Kunjungan Wisata Asean 1992.
  3. Agar kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke Kalimantan  Tengah dapat meningkat  dengan  pesat.

3.

(Syamsuddin Rudiannoor)

*)   Dimuat  Tabloid   PESONA INDONESIA,  Jakarta,   Nomor. XX  EDISI  03-13 Agustus 1990, halaman 8.

 

WADIAN, Budaya Khas Dayak DAS Barito, Kalimantan Tengah

Selayang Pandang Pariwisata DAS Barito

Tari Wadian Iruang Wunrung

Wadian Iruang Wunrung

Gambaran Umum Pariwisata

Secara umum, daya tarik wisata global adalah alam dan budaya. Dalam lingkup Pariwisata Nasional, andalan daya tarik wisata Indonesia adalah panorama alam tropis dan budaya Nusantara yang beragam. Sedangkan dalam lingkup Wilayah Tujuan Wisata “E” Kalimantan maka daya tarik wisata Borneo (termasuk Malaysia dan Brunei) adalah Hutan Hujan Tropis (Tropical Rain Forest) dan Dayak. Dengan demikian maka seluruh pulau Kalimantan mengandalkan daya tarik wisata yang sama namun hakekatnya menyimpan keragaman dan keunikan yang berbeda-beda.

Gambaran Umum Pariwisata DAS Barito

Kepariwisataan DAS Barito tidak terlepas dari gambaran umum di atas. Pada dasarnya kepariwisataan daerah ini relatif sama dengan kabupaten lain di Provinsi Kalimantan Tengah yaitu sama-sama mengandalkan alam asli dan budaya Dayak.

Apabila melihat tingkat kepadatan penduduk DAS Barito yang relatif kecil, dapatlah dibayangkan bahwa daerah ini memiliki penduduk yang jarang. Dengan begitu otomatis wisata budayanya juga relatif kecil. Meski pun demikian, ternyata realitas faktual justru berbicara sebaliknya. Budaya kabupaten-kabupaten di DAS Barito ternyata memiliki keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain, bahkan mampu menunjukkan keberadaannya sebagai warna, nuansa dan ciri khas tersendiri bagi budaya dan pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah. Apa keunggulan budaya dimaksud? Itulah WADIAN. Oleh karena itu maka kali ini secara khusus menampilkan “WADIAN”, baik dari sisi Sejarah, Mitos dan Perkembangannya”.

.

.

WADIAN

(Sejarah, Mitos dan Perkembangannya)

.

1. PENGANTAR

Satu bentuk budaya yang menonjol di Kabupaten Barito Selatan adalah Seni Tari. Dan tari yang paling populer adalah Tari Wadian.  Tarian ini hanya ada di DAS Barito,  dengan ciri khas pemakaian gelang besar pada tangan para penarinya. Dengan demikian selama tarian dilakukan, gelang-gelang itu senantiasa beradu mengeluarkan bunyi-bunyian yang sangat meriah.

Penari Wadian Bawo sedang Bulat

Wadian Bawo

2. APA ITU WADIAN?

Wadian secara ringkas berarti basir, pemimpin ritual keagamaan, dukun dan tabib. Wadian juga berarti proses pekerjaan ritual Wadian. Dan wadian juga berarti tarian  magis untuk tujuan pengobatan atau kematian.

Dalam masyarakat Dayak DAS Barito, terutama pada Suku Dayak Ma’anyan, Dusun dan Lawangan, wadian terdiri dari beberapa jenis:

1. Wadian Amunrahu, yaitu pekerjaan wadian yang khusus dilakukan untuk tujuan pengobatan orang sakit.

2.  Wadian Dadas, yaitu pekerjaan wadian yang khusus dilakukan untuk pengobatan orang sakit. Wadian ini dilakukan oleh Wadian Perempuan, juga dikenal sebagai Wadian Dusun, bahkan dipandang juga sebagai Wadian Hakei (Balian Islam).

3.   Wadian Bawo, yaitu pekerjaan wadian yang dilakukan oleh kaum laki-laki dan bertujuan untuk pengobatan orang sakit.

4.   Wadian Matei, yaitu wadian khusus yang hanya dilakukan untuk upacara kematian.

5.   Wadian Wara, yaitu wadian khusus yang hanya ada pada suku Dayak Lawangan dan dilaksanakan dalam upacara kematian.

.

3. TARI WADIAN BAWO

(Versi Suku Dayak Ma’anyan)

Wadian Bawo

Wadian Bawo

Berdasarkan catatan Tjilik Riwut dalam bukunya ”KALIMANTAN MEMBANGUN, Alam dan Kebudayaan”, penerbit PT. Tiara Wacana Yogyakarta, halaman 474-475, asal mula Wadian Bawo adalah dari cerita rakyat suku Dayak Ma’anyan sebagai berikut :

Alkisah, tersebutlah sebuah kampung bernama Tenong Ranayab di daerah tanah tinggi Bawo yang dikepalai seorang Pembekal bernama Datu Too. Datu Too memiliki seorang anak laki-laki yang sangat gemar berburu bernama Lala. Lala dikenal masyarakatnya sebagai pemuda yang mengagumkan karena kekuatan tubuhnya, cita rasa berkeseniannya yang sangat tinggi dan kesaktiannya yang luar biasa.

Suatu kali dia mendemonstrasikan keahliannya berburu dari awal sampai akhir dalam bentuk tarian. Tarian inilah yang kemudian menjadi bakal Wadian Bawo. Dan dalam perkembangan selanjutnya, Tarian Wadian Bawo yang juga dikenal sebagai Tari Galang Bawo ini tumbuh menjadi tari sakral khas kaum lelaki yang bangga mempertunjukkan keahlian berburu, kekuatan otot dan kedigjayaan ilmu gaib dalam pengobatan orang sakit.

Menurut tutur para tetuha, Wadian Bawo berikut perkembangannya sebagai tarian gaib yang khas untuk pengobatan orang sakit lahir antara tahun 1501-1512.

.

4.  TARI GANGGERENG

(Versi Suku Dayak Ma’anyan)

Tjilik Riwut juga mengisahkan lahirnya Tari Ganggereng yang bertepatan waktunya dengan kelahiran Tari Wadian Bawo, tetapi berasal dari kampung yang berbeda. Kalau Wadian Bawo berasal dari kampung Tenong Ranayab maka Tari Ganggereng berasal dari Kampung Sarunai. Lalu bagai mana lahirnya Tari Ganggereng itu?

Suatu hari kampung Sarunai diserang musuh yang memporak-porandakan kampung itu. Akibat serangan itu, rakyat spontan bersatu melawan dan terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Rupanya perlawanan rakyat Sarunai tidak cukup sekedar memukul mundur para agresor, justru sebaliknya mereka berhasil mengejar dan mengalahkan musuhnya sampai ke kampung mereka.

Karena sangat gembira berhasil memukul lawan dan mengejar hingga kampung halamannya maka dalam perjalanan pulang dari peperangan, para pahlawan Sarunai menari-nari sambil terus mengguncang-guncangkan senjata yang mereka bawa. Dengan demikian, lahirnya tari Ganggereng adalah luapan kegirangan yang sangat besar atas  prestasi mengalahkan musuh secara gemilang.

.

5. TARI WADIAN DADAS

(Versi Suku Dayak Ma’anyan)

Penari Wadian Dadas

Tari Wadian Dadas

Tari Wadian Bawo dan Ganggereng kian meluas di banyak desa pada berbagai kalangan suku yang ada. Kekaguman orang kepada kepahlawanan penduduk Sarunai kian berkembang seiring tumbuhnya tari Ganggereng. Namun kekaguman kepada Wadian Bawo dengan tampilnya sosok Lala yang perkasa ternyata jauh lebih memukau. Akibatnya deman Lala dan Wadian Bawo kian menyebar kemana-mana.

Sampai akhirnya, pada tahun 1540, tersebutlah seorang wanita bernama Ineh Payung Gunting yang sangat berambisi menandingi kepiawaian, keperkasaan dan kesaktian Lala dengan wadian Bawo yang sangat dibanggakannya. Apa yang terjadi? Pergilah Ineh Payung Gunting keluar kampung menuju suatu tempat yang sangat baik untuk bertapa di Bukit Baratus alias Pegunungan Meratus. Tidak ada niat lain kepergian wanita cantik itu kecuali untuk mencari kesaktian yang sehebat-hebatnya dan keahlian lebih dalam menandingi tarian sakral wadian Bawo yang sudah terkenal.

Akhirnya, dari pertapaan di dalam goa itulah Ineh Payung Gunting bertemu dengan seekor ular besar jenis tadung kobra yang berdiri menari-nari melenggak-lenggokkan kepala serta pinggangnya yang ramping. Setelah itu dia juga berjumpa dengan seekor macan yang melompat-lompat kesana-kemari menuntun ilhamnya yang sangat dahaga. Ringkas cerita, kedua binatang inilah yang mengajarinya petunjuk dan gerak tari nan sangat indah dalam tapabratanya yang hening bisu. Dalam pertapaan itu dia juga menyerap makna melayang-layangnya mangamet si burung elang gaib. Sampai akhirnya, sempurnalah apa yang diidamkannya dari pertapaan itu, yaitu tercapainya kepandaian menari, ketangguhan ilmu kesaktian dan terkabulnya ilmu pengobatan secara gaib.

Hasilnya, tanpa terduga ternyata Ineh Payung Gunting sudah menjelma menjadi seorang penari handal dengan lenggak-lenggok erotis ular tadung, lompatan-lompatan gesit macan hutan dan mampu melayang-layang dalam wujud burung elang (mangamet) penguasa angkasa raya. Wanita inilah yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal Wadian Dadas.

.

6. INEH PAYUNG GUNTING

(Versi Suku Dayak Ma’anyan)

Pada awalnya, dalam adat suku Dayak Ma’anyan umumnya dan Suku Bawo khususnya, Wadian digunakan sebagai media pengobatan atau penyembuhan dari segala penyakit. Para pelaku wadian dianggap mempunyai kekuatan spiritual yang luar biasa. Kekuatan tersebut identik dengan kekuatan fisik laki-laki sehingga terbentuklah pandangan bahwa dunia wadian adalah milik laki-laki. Wadian laki-laki inilah yang dikenal dengan Wadian Bawo.

Kondisi tersebut terus berlangsung selama perjalanan kehidupan suku Bawo sampai pada suatu ketika terjadi pendobrakan dominasi laki-laki dengan munculnya seorang perempuan bernama Diang Dara Sangkuai Ulu. Perempuan ini dianugerahi kekuatan dan keterampilan wadian oleh seorang Dewi cantik dari Gunung Paramatun yang bernama Ineh Payung Gunting.

Pada awal penampakannya Ineh Payung Gunting berwujud seekor burung elang. Ineh Payung Gunting sangat tertarik dengan Diang Dara Sangkuai Ulu yang rajin mencermati setiap gerak-gerik ular. Akhirnya, Ineh Payung Gunting mengajarkan keahlian wadian serta menunjukinya kelengkapan-kelengkapan wadian seperti gelang dan selendang. Wadian wawei alias Wadian perempuan inilah yang kemudian terkenal luas dengan sebutan Wadian Dadas.

Keahlian Wadian Dadas ini kemudian diajarkan pula oleh Diang Dara Sangkuai Ulu kepada teman-teman perempuannya. Upaya-upaya memberdayakan diri dari keterkungkungan pandangan tradisional atas dominasi laki-laki ini nampaknya sangat menggangu pemikiran para laki-laki diantaranya Lala, anak kepala Suku Bawo yang selama ini dianggap paling handal melakukan wadian Bawo. Secara konfrontatif Lala menghendaki Diang Dara Sangkuai Ulu menghentikan niatnya dan menyadarkannya bahwa perempuan mempunyai banyak keterbatasan sesuai kondratnya. Konflik pun tidak dapat dihindarkan. Namun Diang Dara Sangkuai Ulu ternyata tetap bersikeras pada pendiriannya bahwa wanita juga mempunyai hak untuk mengangkat harkat dan martabatnya, terlebih lagi dengan tujuan mulia menolong sesama manusia melalui wadian. Maka terjadilah aksi saling unjuk kebolehan.

.

7. LAHIRNYA IRUANG WUNRUNG (1)

(Versi Suku Dayak Ma’anyan)

Lala pun sangat bersemangat mempertontonkan kebolehannya menari Wadian Bawo seraya memamerkan otot dan kesaktiannya kepada pesaing cantik Diang Dara Sangkuai Ulu. Namun apa yang terjadi? Diang Dara Sangkuai Ulu bukannya takut, justru sebaliknya dia melawan aksi atraktif Lala itu dengan membalas mempertontonkan keahliannya menarikan Wadian Dadas. Walhasil, gemerincing gelang-gelang Bawo dan Dadas pun silih berganti membelah suasana. Persaingan terjadi dengan sangat seru, keras dan memukau. Singkat kata, jurus atraksi baru Wadian Dadas yang dikeluarkan Diang Dara Sangkuai Ulu ternyata tidak kalah dahsyat dari gerakan berotot Wadian Bawo. Artinya, gerakan otot dan olah tubuh Lala yang mempertunjukkan keperkasaan lelaki harus berbalas tunai dengan atraksi sakti Diang Dara Sangkuai Ulu yang lincah bagai lompatan macan, melayang-layang bagai kepakan sayap burung mangamet dan gemulai laksana lenggak-lenggok leher dan pinggul ular tadung kobra yang seksi.

Menyikapi perang terbuka yang mengarah persaingan tidak sehat maka berkat kearifan kepala suku Bawo, konflik pun dapat diselesaikan secara damai dan bijaksana. Kepala suku Bawo menegaskan bahwa baik laki-laki maupun perempuan adalah berkedudukan setara didalam kehidupan. Oleh sebab itu maka beliau menyarankan kepada Lala dan Diang Dara Sangkuai Ulu untuk secara bersama-sama memajukan keahlian wadian dalam bentuk wadian baru yakni wadian bersama. Penampilan kolaboratif kedua wadian inilah yang dikemudian dikenal luas dengan istilah Iruang Wunrung (Ma’anyan) atau Ruang Wunrung (Dusun).

.

8. LAHIRNYA IRUANG WUNRUNG (2)

(Versi Suku Dayak Ma’anyan)

Pada suatu hari yang cerah, Kepala Suku Bawo sudah merencanakan menggelar acara Tumet Leut yaitu pertunjukan kesenian mirip berbalas pantun di depan rumah mereka. Karenanya beliau keluar rumah dengan diiringi anak dan istrinya.

Di halaman rumah, tampak telah tersedia ansak atau wadah sesajen yang masih kosong, dupa parapen, seperangkat alat musik, penginangan dan perangkat lainnya. Pada saat yang sama berdatangan pula para kerabat dan tetangga yang memang diundang untuk menghadiri acara seni itu. Tidak seberapa lama datanglah ibu Pasungan yang bertugas menyediakan isi ansak, maka wanita ini pun mengisi ansak dengan sesajen yang terdiri dari telur ayam, kue serabi, gula merah, ayam masak, buah kelapa dan harum-haruman. Belum lama sesajen selesai disusun rapi, kepala suku pun meminta istrinya yang sehari-hari dipanggil Ineh untuk mulai menembangkan Tumet Leut. Agaknya dia tidak sabar untuk segera mendengarkan lantunan lagu yang sudah lama tidak disenandungkan.

Pada saat Ineh sedang asyik mengalunkan Tumet Leut, tiba-tiba Lala datang dengan kasar dan marah sehingga tumet leut pun terhenti. Karena suasana tiba-tiba berubah, segera Kepala Suku bertanya kepada putra kebanggaannya. Apa jawab Lala? Rupanya dia sedang sangat marah besar karena wanita yang bernama Diang Dara Sangkuai Ulu mengaku sebagai Wadian dan itu merupakan kelancangan yang sangat ganjil dari seorang wanita. Tidakkah wadian hanya khusus untuk pria saja?

“Apa, iya?”

“Tentu saja iya. Apakah ayah anggap Lala sedang berbohong dan berpura-pura?”

“Ya.., tidak juga. Kan wadian hanya keahlian kaum pria saja, jadi apa mungkin wanita mengaku demikian? Dan lagi…., apa kamu tidak marah lantaran dia menolak kamu…?”, pancing kepala suku.

”Bukan itu masalahnya. Perempuan tidak tahu diri itu sudah terang-terangan mengaku wadian dan mengaku mampu menolong orang dengan wadiannya. Dia kabarnya memperoleh ilmu dari seorang dewi yang berasal dari Gunung Paramatun yang bernama Ineh Payung Gunting.”

”Kalau begitu kita semua masuk ke dalam rumah saja, kita makan dulu. Sambil makan, silahkan anakku berkisah tentang perempuan itu. Mari….!”

Maka orang-orang pun mengikut di belakang kepala suku memasuki rumah besar. Ringkas kata, dalam suasana makan, Lala pun bercerita kepada semua yang hadir di persantapan itu.

Sementara di tempat lain dan dalam suasana lain, Diang Dara Sangkuai Ulu sudah mencapai tahap akhir latihannya. Kembali dia mencermati gerak-gerik erotis ular yang meliuk-liukkan tubuhnya. Dia meniru gerak-gerik itu sekuat tenaganya. Tidak ada musik yang mengiringi. Hanya desau air mengalir dan gesekan dedaunan tertiup angin yang menjadi musiknya. Namun karena penghayatan yang sangat kuat, tanpa musik pun tarian itu sangatlah indah jadinya. Luar biasa. Sampai akhirnya, tiba-tiba datang seekor burung elang yang terbang tinggi-rendah dengan kepak sayapnya yang sesekali membentang diam.

Ternyata, elang itu penjelmaan dewi cantik yang bernama Ineh Payung Gunting. Dia pun turun dan berubah ke wujud aslinya. Katanya: ”Aku Ineh Payung Gunting dari Gunung Paramatun. Aku peduli dengan hasratmu yang kuat untuk menjadi wadian. Karena kesungguhanmu itu maka hari ini kuturunkan ilmuku untukmu dan kamu akan menjadi wanita pertama sebagai Wadian Dadas. Maka, jadilah orang yang setia dalam mengabdi kepada sesama.”

”Baiklah, Ineh”, jawab Diang Dara Sangkuai Ulu dengan penuh hormat. ”Terima kasih atas kebaikan Ineh kepada saya. Saya berjanji setia mengabdikan diri bagi kepentingan sesama.”

Maka Ineh Payung Gunting pun menyerahkan gelang-gelang dadas dan memakaikannya ke tangan Diang Dara Sangkuai Ulu. Kemudian Ineh Payung Gunting mengajari gerak-gerik wadian dadas seraya  mengalunginya selendang. Setiap gerak yang diajari diikuti dengan seksama oleh Diang Dara Sangkuai Ulu. Akhirnya, jadilah dia Wadian Dadas yang sempurna.

Sampai pada hari yang lain, tampaklah Diang Dara Sangkuai Ulu sedang melatih beberapa teman wanitanya. Tanpa diduga, datanglah Lala yang lama dendam kepadanya. Dengan marah-marah Lala menghentikan latihan itu. Kata Lala: ”Sudahlah Diang Dara Sangkuai Ulu. Tidak perlu kamu mengajari mereka hal-hal begitu. Wadian adalah pekerjaan laki-laki. Perempuan tidak bisa menjadi wadian. Wanita hanya boleh belajar memasak, melahirkan, mengasuh anak dan menjadi istri!”

”Semua itu kami pelajari karena memang itulah dunia kami. Tapi kami juga mau mengabdikan diri kepada kepentingan sesama, sehingga menjadi wadian tidaklah cukup untuk lelaki saja!”

”Kamu salah, Sangkuai Ulu!”, teriak Lala. ”Kamu melawan kodrat kewanitaanmu!!”

”Kami tidak merasa melawan kodrat!”, jawab Diang Dara Sangkuai Ulu tenang. ”Kami tetap akan menjadi wadian Dadas, wadian yang serupa tapi tidak sama dengan Wadian Bawo kebanggaanmu itu. Maaf saja, kami tetap berusaha menjadi wadian karena kami ingin berbuat kebajikan!”

”Tidak!!”, teriak Lala marah, ”hentikan dan turuti keputusanku. Apa kamu sanggup seperti ini..?”, tantang Lala seraya mendemontrasikan Wadian Bawo.

Diang Dara Sangkuai Ulu tertegun mendengar tantangan Lala. Sesungguhnya dia berniat menahan diri dan tidak melayani provokasi itu. Namun karena teman-temannya merasa perlu membalas maka mereka pun menjawab tantangan itu dengan mendemonstrasikan Wadian Dadas bersama-sama. Rupanya, aksi balas Wadian Dadas Diang Dara Sangkuai Ulu dan kawan-kawan membuat Lala sangat terkejut, tertegun dan salah tingkah. Meski pun begitu dia terus membawakan Wadian Bawonya menghadapi Wadian Dadas yang terus pula beraksi. Hasilnya, kedua fihak terus bersaing dalam keunggulan tari masing-masing. Kepala suku Bawo yang dari kejauhan membiarkan aksi permusuhan kedua fihak berlangsung akhirnya mendekat dengan membawa beberapa perangkat upacara. Beliau masuk ke arena persaingan dan memotong aksi tari permusuhan itu dengan maksud mendamaikan mereka. Katanya: ”Berhentilah kalian memamerkan tari permusuhan. Jangan lagi menari karena kemarahan. Jika kalian ingin  dikenal sepanjang zaman maka permusuhan ini harus dihentikan dan kita tampilkan keduanya dalam satu tarian yang penuh perdamaian. Mari kita tampilkan Wadian Dadas dan Bawo sebagai tarian bersama.”

Akhirnya, Diang Dara Sangkuai Ulu dan Lala berhasil didamaikan oleh Kepala Suku Bawo. Mereka akhirnya mau saling memaafkan. Mereka berjanji untuk tidak saling merendahkan. Mereka pun bersumpah tidak lagi saling menghina. Mereka juga  dimintakan kesungguhan nan sejati atas perjanjian itu. Maka atas keberhasilan itulah, kedua fihak di tampung tawari dalam sebuah upacara perdamaian adat kecil. Hasilnya, sejak saat itu Wadian Dadas dan Bawo tidak lagi beradu dalam tari permusuhan yang saling menjatuhkan namun senantiasa tampil bersama dalam sebuah pertunjukan yang hadir membawa gairah cinta dan  saling menguatkan.

.

9. AWAL PENGOBATAN

WADIAN BAWO DAN DADAS

(Versi Suku Dayak Dusun Witu Ma’ai)

Pada zaman dahulu, keberadaan manusia di Kalimantan sangatlah jarang, bahkan sangat luar biasa jarang. Meskipun begitu, pada sebuah tempat di hulu sungai Barito, di Gunung Pararawen, tersebutlah sebuah kelompok masyarakat kecil yang dipimpin seseorang yang bernama Tionggomba. Diluar masyarakat ini terdapat pula kelompok lain di sebelah timur yang dikepalai Maharaja Aji. Kelompok kecil lainnya berdomisili di sebelah barat dibawah pimpinan Balayurnompur Balikar Tana. Di sebelah selatan ada Anting Mamana dan keluarganya. Sedangkan di bagian selatan berdiamlah Silulaut Danum beserta keluarga kecilnya.

Meskipun masing-masing kelompok kecil tinggal berjauhan namun persahabatan mereka sangatlah kuat sehingga apabila salah satu kelompok memerlukan bantuan maka kelompok lain akan datang asalkan menerima kabar. Dengan begitu kegotong-royongan yang terbina sangatlah kental.

Tersebutlah peristiwa pada satu kampung di sungai Tewei yang disebut sebagai kampung Tendung Ranayas, Ranayas Bakoi Lou Ranayas Bakoi Belai. Di kampung ini tinggallah beberapa orang dari kelompok suku yang berbeda-beda. Kehidupan mereka rukun dan damai. Mereka hidup menurut adat mereka masing-masing.

Diantara mereka ternyata ada penduduknya yang bisa menjadi wadian yaitu Reun si wadian laki-laki dan Amme istrinya selaku wadian perempuan. Singkat cerita, sakitlah salah seorang penduduk di kampung itu. Namun celakanya, sakit itu tidak kunjung sembuh berbulan-bulan walau pun bermacam-macam obat telah diusahakan dan berbagai jenis ramuan telah diberikan. Sampai akhirnya mereka berkesimpulan bahwa penyakit yang diderita bukan sakit sembarangan dan harus mencari pengobatan lain. Maka atas kesepakatan bersama, diundanglah Reun dan istrinya Amme untuk mengadakan pengobatan wadian. Atas undangan itu keduanya pun tidak keberatan. Ringkas kata, inilah pengobatan wadian yang pertama dilakukan oleh Wadian perempuan maupun laki-laki di tepian sungai Barito.

.

10.  WADIAN DADAS =  WADIAN HAKEI

(NABI MUHAMMAD DALAM KEPERCAYAAN DAYAK DUSUN WITU MA’AI)

Tari Wadian Dadas yang hidup di Kabupaten Barito Selatan, khususnya di sekitar desa Kalahien pada suku Dayak Dusun Witu, merupakan bukti akulturasi yang sangat panjang antara Kaharingan (Animisme-Dinamisme khas Dayak), Hindu dan Islam. Keserasian dan keselarasan yang terus berkembang dari masa ke masa ini semakin membuktikan bahwa budaya lokal memang senantiasa akomodatif dan kooperatif atas setiap perkembangan yang terjadi. Maka untuk membuktikannya, inilah hikayat lahirnya Wadian Dadas orang Dayak Dusun Witu di sekitar Desa Kalahien yang diceritakan kembali oleh Bapak Saiten R. Natu dari narasumber utama Kakah Makei Damon. Ternayata Wadian Dadas adalah Wadian Hakei atau Wadian Islam karena menurut versi ini wadian Dadas lahir dari keterikatannya dengan kisah Nabi Muhammad.  Inilah kisah itu:

Syahdan… tersebutlah sebuah Kerajaan aman-makmur yang tidak diketahui dimana lokasinya dan pada zaman apa masa keberadaannya. Yang diketahui, pemerintah lokal itu dipimpin seorang raja. Diantara rakyatnya terdapat seorang pemuda gembel, Elok Nur Hakim, yang pekerjaannya mengais sampah setiap hari untuk mencari makan. Meskipun pria muda ini pekerjaannya sangat tidak lazim dizaman itu yakni mengais sampah dan sisa-sisa buangan makanan orang, tetapi dia pemuda yang baik. Kenapa dikatakan baik? Karena dia jujur, cerdas, tidak bisa mencuri dan tidak pernah menyakiti orang lain. Badannya secara kasat mata juga terbilang normal dan sehat namun tidak diketahui kenapa dia memilih sisa makanan buangan sebagai pengisi perutnya dikala lapar? Hanya ini keganjilan yang ada padanya.

Raja yang memerintah termasuk pemimpin bijaksana. Dia selalu menghajatkan kebaikan bagi seluruh rakyatnya.  Oleh karena itu tidak heran kalau raja ini selalu berdo’a dan berhasrat supaya senantiasa dimampukan membahagiakan kehidupan semua makhluk. Entah karena obsesi dan impiannya yang berlebihan atau memang pengharapan mulianya yang didengarkan Yang Maha Kuasa, pada suatu malam yang damai, Raja bermimpi diberikan segenggam tepung ajaib oleh Makhluk Gaib yang tidak bisa diterkanya siapa. Kata makhluk itu, tepung yang diberikan merupakan tepung ajaib, apabila dijadikan kue dan dimakan akan bisa membuat yang memakannya mengerti bahasa segala makhluk dan benda-benda, baik makhluk hidup, makhluk gaib maupun benda-benda mati. Karena diberikan dalam mimpi, sang raja tidak begitu menghiraukannya. Tetapi begitu dia terbangun dan membuka tangang kanannya, ternyata tepung gaib itu benar-benar ada di sana. Terperajatlah dia menyadari mimpi yang menjadi nyata.

Antara percaya dan tidak, raja lalu memerintahkan juru masak istana untuk segera membuatkannya roti lempeng “tumpi” dari tepung segenggam yang dibawanya. Dan atas perintah raja itu maka segeralah  dibuatkan kue serabi sesuai petunjuk raja. Namun karena pekerjaan di dapur saat itu sangat banyak sedangkan suaminya yang biasa membantu memasak sedang sakit maka pekerjaan Mak Jongos menjadi semrawut dan tidak beraturan. Disatu sisi dia harus cermat memasakkan bubur  putri raja yang sedang cerewet, disisi lain dia juga harus mendahulukan pesanan roti gulung dari ibu suri. Belum pekerjaan yang disuruh ratu seperuh jalan, tiba-tiba pula raja menyuruhnya membuat tumpi. Agak kerepotan agaknya juru masak itu hari ini. Namun karena semua pengkhidmatan yang dilakukannya untuk anggota keluarga raja, terpaksa wanita paruh baya itu mengerjakannya dengan suka cita sesuai kemampuannya.

Akibat juru masak sangat sibuk mengerjakan tugas utama, kue tumpi yang sedang dipersiapkan ternyata terabaikan juga. Tatkala telah tercium aroma hangus menyebar di ruang dapur, barulah disadari masakan serabi yang sedang di atas tungku sudah gosong mengeluarkan aroma tidak sedap. Serta merta juru masak mengangkat masakan itu. Gemetar wanita itu ketakutan. Bercucuran keringat dingin keluar dari dahinya yang hitam. Dia sangat takut kepada murka raja apabila kelalainnya diketahui paduka. Maka agar peristiwa itu tidak segera tersebar ke luar dapur segera kue gosong itu dibuangnya keluar jendela. Dalam detik itu juga kue serabi baru sudah dibuat dengan tepung lain yang ada di rak dapur istana. Tampak lega perempuan itu seraya mengipasi badannya yang kepanasan. Ada senyum dibibir tua yang sangat setia itu.

Pengembara jujur lagi miskin, Elok Nur Hakim, rupanya berada di sisi dapur istana. Dimana pun keberadaannya, dia tidak pernah membuat orang bersakwasangka. Itulah istimewanya dia. Dia tampak sengaja untuk hidup dalam kondisi miskin papa. Dia hanya makan dari kaisan sampah  yang telah dibuang orang. Dia sangat jujur dan pantang mengambil hak orang. Dia zahirnya tampak seperti lelaki kebanyakan yang normal-normal saja. Tapi kenapa dia hanya mau hidup berkelana dan mengambil makanan sisa? Inilah misteri dalam dirinya. Dan disisi istana kini dia berada. Namun keberadaannya sama sekali tidak mengusik siapa pun yang berada di sana.  Para pengawal tetap acuh tak acuh akan dia. Kerabat istana dan para tetangga hanya sesekali memperhatikan ulahnya yang kalam dan dingin. Begitu pun ketika lelaki putih semampai ini tiba-tiba berjongkok, mengambil sesuatu dari tanah dan memakannya.  Semua memandang biasa apa yang sedang terjadi.

Namun segala sesuatu yang dianggap biasa rupanya berdampak luar biasa bagi Elok Nur Hakim. Setelah pria ini selesai melahap makanan gosong yang baru diambilnya dari tanah, tiba-tiba saja terjadi perubahan luar biasa dalam dirinya. Seketika kepalanya terasa berputar-putar. Sekejap matanya terasa berkunang-kunang. Namun peristiwa aneh itu hanya berlangsung sebentar saja. Selepas itu tiba-tiba dia sudah memiliki pandangan dan pemahaman lain terhadap alam dan lingkungan yang ada disekitarnya. Baginya semua tumbuhan-tumbuhan, hewan, dinding istana, langit, batu, dahan kayu, angin, baju robek yang dipakainya dan semua benda ternyata pandai berbicara dan berkata-kata. Agaknya dia telah menerima anugerah kemampuan memahami segala bahasa. Sementara di dalam istana, raja yang baru saja memakan kue tumpi yang dihidangkan ternyata tidak mendapatkan apa pun dari janji yang dialaminya didalam mimpi. Masygul hati paduka memikirkan keanehan mimpinya yang tidak terlaksana?  Kenapa tepung yang diperolehnya dari mimpi ternyata tidak bisa membuatnya seperti yang dijanjikan?

Disaat Elok Nur Hakim sudah faham segala bahasa benda dan alam raya, saat itulah datang kapal besar mengunjungi negerinya. Semua mata tertuju ke pelabuhan di tepi sungai. Semua perhatian tercurah ke sana. Semua ketakjuban terlihat nyata. Betapa tidak, baru kali inilah ada kapal megah singgah ke negeri ini.

Setelah dicari tahu, ternyata kapal megah dan besar ini milik Nabi Muhammad. Sang Nabi sedang berkunjung seorang diri ke negeri ini. Sungguh luar biasa, seorang manusia mulia naik perahu seorang diri mengunjungi negeri nan sangat jauh.  Intinya, beliau Rasul Allah rupanya ada keperluan kepada raja penguasa negeri.

Nabi Muhammad sudah berada di astana Raja, sementara kerumunan rakyat masih banyak memenuhi pelabuhan dan tepian pantai. Rakyat rupanya belum puas  menyaksikan keagungan kapal Rasul. Dan dalam keadaan yang sama Elok Nur Hakim masih tetap mengelusi lambung kapal nan megah. Dia masih terpana akan keindahan dan kemegahan kapal dihadapannya. Ketika kekaguman dan lamunan masih menjadi satu, tiba-tiba Elok Nur Hakim terperajat bukan kepalang. Betapa tidak, tiba-tiba kapal kayu nan megah itu berkata-kata laksana manusia kepadanya:

“Segera bunuh aku, tenggelamkan aku! Sekarang umurku sudah sampai.  Aku harus mati hari ini juga.  Cepat tumbuk perutku sampai bocor dan aku tenggelam!”

“Bagai mana bisa begitu?”, tanya Elok Nur Hakim heran.

“Cepat lakukan pintaku. Umurku sudah sampai. Aku harus mati,  sekarang !“

“Tidak,” jawab Elok menolak keras. “Kamu kan kapal seorang Nabi, badanmu juga masih bagus.”

“Tidak!!”, jawab kapal itu berteriak keras. “Aku harus mati dan tenggelam sekarang  juga karena umurku ditakdirkan habis hari ini!”

“Tidak bisa, kamu kendaraan Nabi Besar. Bagaimana nabi pergi kalau kamu tenggelam di sini?”

“Ayolah tolong…!”, ucap kapal itu menghiba. “Aku harus mati sekarang.., ini sudah takdirku…”

Karena kapal terus menghiba dan tidak kendor jua dari keinginannya maka Elok pun mencari akal untuk memenuhi keinginan segera mati  itu.  Akhirnya, ditemukanlah sebuah  alu besar dibelakang kampung. Karena suasana siang tidak mungkin merusak kendaraan orang mulia maka Elok pun berbisik akan membunuhnya dimalam hari.  Dengan berat hati  kapal pun setuju.

Mentari sudah jauh ditelan malam. Malam pun sudah pula lama berlalu. Nabi pun rupanya tidak turun ke kapal malam ini namun bermalam di astana raja.  Sangat sunyi malam itu meronai mayapada.

Elok Nur Hakim turun menembus kegelapan malam. Perlahan dia menuruni tebing sungai yang terjal. Berhati-hati dia menuruni anak tangga yang agak licin. Sesampainya di pelabuhan, dia berhenti untuk meminum air sungai seraya mengatur nafasnya yang pendek-pendek. Setelah menghela nafas agak dalam, dibangunkannya kapal yang sudah tertidur itu untuk menanyakan kembali ketetapan hatinya.

“Iya, “kata kapal itu segera. “Takdirku memang sudah sampai hari ini.  Aku harus mati.”

“Baik, “kata Elok Nur Hakim mencoba tenang. “Jangan salahkan aku atas keinginanmu ini. Aku melakukan ini hanyalah membantu kamu!!”

“Iya.., aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu. Semoa Tuhan memberikan yang terbaik untukmu…”, ucap kapal itu bernada do’a.

Setelah disadari permintaan sang kapal untuk segera karam dan mati tidak kunjung berhenti maka dengan kesadaran penuh, pengrusakan pun dilakukan  sekuat tenaga.  Segera alu kayu besi menghantam lambung kapal dengan dahsatnya. Seketika hantaman lain bertubi-tubi menghujam perut dan lambung kapal. Susul menyusul hantaman lain menghancurkan badan kapal. Datang lagi pukulan dan hantaman lain secara bertenaga. Hinggap pula tumbukan berikut membabi-buta,  yang akhirnya kapal itu perlahan-lahan tenggelam di tengah malam yang gelap gulita.

Karena terdengar sangat gaduh di pelabuhan maka berduyun-duyun rakyat dan aparat kerajaan memblokir keadaan. Apa yang terjadi? Ternyata ada pengrusakan di pelabuhan. Buktinya apa? Karamnya kapal sang Nabi yang dirusak adalah bukti yang tidak terelakkan. Kesimpulannya,  seseorang bernama Elok Nur Hakim telah tertangkap tangan menenggelamkan kapal Nabi Muhammad secara sengaja.  Tentu saja Nabi yang sedang bertamu di astana raja menjadi sangat  murka.

Atas aksi pengrusakan itu maka Nabi Muhammad menuntut keadilan. Berselang beberapa hari pemberkasan perkara telah selesai dilakukan. Hari berikutnya, Elok Nur Hakim telah duduk dihadapan Mahkamah Kerajaan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Apa yang terjadi dengan persidangan itu selanjutnya?  Ternyata keadilan tidak dapat ditegakkan sebab sistem peradilan di kerajaan belum mengatur persidangan yang menghadirkan benda mati sebagai saksi. Dan karena persidangan menemui jalan buntu maka proses pengadilan dihentikan dan para fihak yang berselisih dianjurkan menempuh jalan damai secara kekeluargaan.

Karena Nabi Muhammad tidak juga kendor dalam menuntut keadilan maka dibawalah perkara itu ke peradilan mana saja yang memungkinkan. Akhirnya dibawalah perkara itu ke peradilan gunung tetapi gunung tidak mungkin memutuskan perkara manusia. Dibawalah dia ke peradilan binatang buas tetapi binatang buas pun tidak bisa mengadili manusia. Dibawa juga kasus itu ke sidang peradilan bangsa Jin tetapi hukum jin jauh lebih rendah dari perangkat peradilan manusia. Dibawa juga perkara ini kepada pengadilan Malaikat tetapi Kantor Pengadilan Malaikat berikut para hakim dan jaksanya tidak ada yang pernah mengadili manusia.

“Oh.. angin, tidak kah kalian bisa memberikan keadilan bagiku?“, tanya Nabi Muhammad kepada bayu nan sepoi-sepoi basah.

“Tidak mungkin, “ jawab sang bayu lembut sekali. “Angin mana pun tidak akan bisa membuat keadilan bagi manusia.”

“Oh bulan nan cerah di angkasa, “seru Nabi Muhammad pula, “tidak kah engkau bisa mengadili kasus ku  ini dengan seadil-adilnya?”

“Tidak mungkin, “ jawab sang rembulan, “bulan hanyalah bisa memantulkan cahaya yang menerpanya.”  Artinya, pengadilan mana pun dan sistem hukum apa pun tidak mungkin akan bisa memberikan keputusan yang adil selama tidak mau mencari keadilan Tuhan. Akhirnya, kasus yang ganjil ini terus mengambang tanpa bisa dicarikan jalan keluar yang memuaskan. Dengan begitu maka tetaplah Nabi Muhammad dengan kekecewaan hatinya dan Elok Nur Hakim pun tetap merasa benar dengan segala ilmu aneh yang dimilikinya.

Waktu terus bergulir, zaman terus berganti. Karena Elok Nur Hakim tetap merasa benar dan Nabi Muhammad tetap merasa telah dirugikan maka keduanya terus berjalan mencari keadilan. Singkat kata, jadilah Elok Nur Hakim dan Nabi Muhammad menjadi dua pengembara yang kian hari terus berjalan dalam kerinduan  akan  keadilan.  Jadilah mereka dua insan bersengketa yang sama-sama merantau mencari keadilan kemana pun juga. Mereka berselisih setiap hari tetapi terus pula berjalan beriringan. Mereka terus mengembara ke mana pun yang dirasa bisa memberikan keadilan.

Khatamul safar, tibalah pengembaraan pada sebuah sungai berair deras. Di atas sungai tampak terbujur sebatang pohon laksana  jembatan. Sambil mengambil air dan minum di tepiannya, Nabi Muhammad bertanya kepada air:

“Wahai air yang jernih lagi menyejukkan.  Tidak kah kamu bisa memutuskan perkara kami berdua?”

“Perkara apa itu?”

Maka berceriteralah Nabi Muhammad tentang perkara dan keluh-kesah yang menimpanya. Setelah mendengar semua kisah dan sang air menyatakan ketidak-sanggupannya, saat itulah batang pohon yang melintang di atas sungai berkata:

“Aku bisa memutuskan perkara kalian.”

“Apa, bisa?”, tanya Elok Nur Hakim terperajat dan agak tidak percaya.

“Iya, bisa.”

“Bisa?”, tanya Nabi Muhammad penuh harap.

“Iya,“ jawab batang pohon itu kalam. “Cuma harus ada persyaratan yang harus kalian patuhi. Kalian setuju?”

Setelah merenung sejenak maka Elok Nur Halim dan Nabi Muhammad mengatakan setuju.

“Baik, “ kata pohon itu tegas.  “Kamu, Elok Nur Hakim, saat ini juga harus segera berada di ujungku sebelah sini dan Muhammad harus segera berada di ujung sebelah seberang sana. Kalian harus berada di kedua ujung badanku, harus terpisah jauh berbatas sungai ini.  Faham?”

“Iya.”

“Baik, segera kalian berpisah.”

Setelah Nabi Muhammad menempati ujung kayu di seberang sungai dan Elok Nur Hakim berada di ujung kayu yang lain, segeralah pohon akan memutuskan perkara yang rumit dimaksud. Apa yang akan terjadi?

“Baiklah, “kata pohon kayu itu tenang. “Aku akan segera memberikan keadilan bagi kalian berdua. Pertama yang akan aku katakan, kalian berdua sama-sama berada difihak yang benar. Oleh karena itu aku putuskan kalian tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Tidak ada yang menang dan tidak pula ada yang kalah.  Namun supaya kalian sama-sama merasa mendapatkan keadilan maka saat ini juga aku mematahkan batang tubuhku menjadi dua.”

Dan “prak”, saat itu juga pohon di atas sungai itu patah dan langsung jatuh ke dalam sungai. Air bermuncratan ditimpa kayu besar yang ambruk. Segera dia terbawa arus yang deras. Sejak kejadian itu maka Elok Nur Hakim dan Nabi Muhammad tidak bisa lagi bersama-sama. Kedua pencari keadilan itu harus terpisah oleh sungai lebar yang berair deras. Itulah takdir yang harus mereka terima: “berpisah,” sebab kalau mereka tetap bersama maka selamanya mereka terus berperkara. Singkat kata, Nabi Muhammad dipersilakan berjalan di sisi sungai yang memang diperuntukkan baginya sementara Elok Nur Hakim juga terus mengembara di sisi lain dari sungai yang bening, sejuk dan berarus deras itu. Itulah takdir kehidupan bagi mereka.

Sejak peristiwa itu,  Nabi Muhammad tidak diketahui lagi jalan kisahnya. Tinggallah kisah Elok Nur Hakim yang terus merambah kemana-mana. Menurut sohibul kisah, perjalanan hidupnya sebagai pengembara miskin terus berjalan. Dia terus mengembara membawa dirinya kemana saja. Meski miskin dan berjalan tanpa tujuan tetapi tetap terkenal selaku manusia jujur dan rendah hati. Dari pengembaraan itulah akhirnya dia sampai pada tempat yang aneh di hutan. Didalam hutan itu terdapat gua akar yang menyerabut di punggung pohon besar. Disanalah terdapat tolongan atau gua setinggi manusia dewasa. Karena sedang kelelahan berjalan, tidurlah Elok Nur Hakim di dalam gua akar pada hutan nan tenang itu.

Selang dua jam kemudian lelaki itu terbangun. Dilihatnya matahari sudah condong ke Barat. Angin senja terasa lembut menyapu kulit. Kicau burung dan jerit kera terasa indah membelah suasana. Setelah menguap dan mengusap-usap mata, tiba-tiba dia tertegun pada sebuah benda yang tersampir rapi di pojok dalam gua. Apa itu? Bergeraklah dia ke arah benda yang membuatnya penasaran. Setelah dekat, diraihnya benda segi empat berwarna hitam itu. Benda apa ya? Setelah diangkat, jelaslah kalau itu sebuah buku. Seketika hatinya menjadi sangat gembira karena selama ini dia tidak pernah memegang buku.  Jangankan memegang buku, melihat buku pun belum.  Sepanjang yang diketahuinya, buku dijaman itu hanyalah milik raja atau para pendeta. Artinya buku adalah barang langka, mewah  dan sangat luar biasa nilainya.

Begitulah…, ketika buku itu dibolak-baliknya dengan   sangat hati-hati dari halaman ke halaman, tahulah dia bahwa yang berada ditangannya adalah buku ilmu yang sangat  dahsyat.  Sebabnya apa? Karena buku itu ternyata buku “Ilmu Panahuli.” Siapa saja yang bisa mengamalkannya akan bisa menghidupkan orang mati. Siapa pun pemiliknya maka dialah Pangeran Sambung Nyawa. Siapa pun yang menemukannya, dialah manusia digjaya yang beroleh keberuntungan nan sangat hebat. Sungguh luar biasa.

Karena kegembiraan yang luar biasa, Elok Nur Hakim yang pandai segala bahasa akhirnya membaca buku itu dengan lafal keras. Huruf demi huruf dirajutnya menjadi kata-kata bermakna. Kata demi kata diucapkannya menjadi kalimat berirama. Begitu rapal sudah terbaca sampai akhir,  saat itulah tiba-tiba bumi bergunjang. Sekonyong-konyong pohon-pohon dan dedaunan hutan berubah gemuruh laksana angin ribut. Luar biasa suasananya. Mencekam. Tidak lama berselang, sebuah gundukan tanah terbongkar membelah tengah. Apa yang terjadi kemudian? Perlahan tapi pasti keluarlah sesosok manusia besar dari pecahan bumi yang kian menganga. Sesudah sosok itu keluar dengan sempurna, barulah Elok sadar kalau dialah yang dimaksud dengan manusia masa lampau bergelar Tuan Haji.

Seraya menghilangkan kekaguman dan keterperajatan yang luar biasa, Elok berkata:

“Wahai Tuan Haji yang baru saja dihidupkan. Karena orang-orang mati yang lain masih sangat banyak maka aku harus menghidupkan mereka. Pasti mereka ingin seperti kamu, ingin hidup kembali. Tidak adil kalau satu saja yang dihidupkan sedangkan yang lain dibiarkan mati.”

“Iya…, tapi bagai mana caranya?”, tanya Tuan Haji belum yakin.

“Tuan Haji harus mau menolongku.”

“Caranya?”

“Kuburkan aku hidup-hidup. Apabila aku sudah mati, kujemput semuanya dari alam roh. Caranya, Tuan Haji harus membaca buku ilmu Panahuli ini berulang-ulang sampai kami semua muncul ke dunia ini.”

“Seberapa lama aku harus membacanya?”

“Baca dan ulangi terus sampai kami bangkit dari alam kubur.”

“Wah….!”

“Kenapa? Kamu setuju kan, sebab aku sudah berbuat baik kepadamu?”

Akhirnya dengan berat hati terpaksa Tuan Haji bersedia melakukan keinginan Elok Nur Hakim. Maka dibuatlah liang kubur secara bergotong royong.  Setelah liang selesai digali, Elok bergegas merebahkan dirinya. Dan tanpa banyak fakir, Elok meminta tubuhnya segera dikubur dengan tanah. Dengan hati yang gundah dan bertanya-tanya, terpaksa Tuan Haji melaksanakan apa yang diminta.  Tidak terlalu lama, jadilah kubur layaknya kuburan baru. Sesuai dengan petata yang diberikan, dibacakanlah kitab Panahuli berulang-ulang di atas kubur baru itu.

Di alam kematian, ruh Elok Nur Hakim memulai perjalanan panjangnya. Sesampainya di Tumpuk Diau atau perkampungan para arwah, Elok mengajak semua arwah untuk kembali ke alam dunia. Apa yang terjadi? Ternyata semua orang mati  bersedia diajak hidup kembali.  Maka tanpa berlama-lama,  Elok pun memegang tangan salah satu arwah. Arwah itu kemudian memegang tangan arwah yang lain. Dan arwah yang lain memegang pula tangan arwah lainnya. Begitulah akhirnya seluruh arwah yang ditemui Elok Nur Hakim saling bergandengan sepanjang mata memandang.

Tidak lama kemudian berjalanlah rangkaian arwah itu dibawah komando Elok Nur Hakim. Mereka berjalan menuju pintu dunia yang hanya diketahui Elok Nur Hakim saja.  Dari perjalanan panjang itu tibalah mereka di Padang Makhsyar. Sesampai di sana pelarian itu diketahui oleh Allah Ta’ala sehingga Tuhan berkata kepada Malaikat Jibril: “Wahai Jibril.  Kalau mereka semua kembali ke dunia maka dunia akan penuh sesak. Dunia tidak muat untuk dihuni manusia. Oleh sebab itu Aku perintahkan agar kamu menurunkan badai besar, angin ribut barat yang sangat kencang sehingga buku yang dibaca oleh Tuan Haji di atas kuburan itu terpelanting dan hancur berantakan.”

Segera Malaikat Jibril melaksanakan firman Tuhannya.  Hasilnya tersapulah buku Panahuli itu oleh deru badai yang sangat dahsyat.  Karena bacaan Tuan Haji tiba-tiba berhenti, serta-merta Elok Nur Hakim tidak bisa melihat jalan kembali yang harus dilalui. Hilang sudah pintu dunia yang menerangi. Tidak lama berselang, matilah Elok Nur Hakim dan seluruh arwah yang telah susah payah digiringnya. Apa artinya? Elok dan semua pengikutnya benar-benar mati untuk selama-lamanya.

Setelah Allah mempertimbangkan sifat jujur Elok Nur Hakim dan pengorbanannya yang sangat besar untuk menolong sesama manusia maka Allah berkenan untuk membangkitkan ruhnya. Sejak saat itu maka ruh Elok Nur Hakim diizinkan kembali ke dunia dengan harapan budi baik akan tetap hidup sepanjang masa.  Karena Allah tidak berkenan membangkitkan ruh Elok kedalam jasadnya semula, maka dititiplah ruh itu kepada burung mangamet alias burung elang. Mulai kejadian itulah maka timbul keyakinan masyarakat Dayak bahwa burung elang merupakan burung umpui, yaitu burung yang sengaja  diutus Allah untuk menolong manusia dengan tugas memberikan tanda-tanda baik dan buruk kepada manusia.

Setelah ruh Elok Nur Hakim benar-benar telah menjadi ruh burung mangamet, sejak itulah burung mangamet selalu berupaya menolong manusia sebisanya. Maka ketika terjadi satu peristiwa, merasuklah ruh burung mangamet kedalam jasad perempuan bernama Ineh Payung Gunting. Apa yang terjadi? Serta merta perempuan itu berubah menjadi wanita gila. Gila apakah dia? Tiada kegilaan lain melainkan gila menari dan gila joget. Gila joget? Oh Tuhan. Setelah kegilaan itu benar-benar diperhatikan, barulah ketahuan ternyata kerasukan ruh Mangamet merupakan perantara untuk menjadi Wadian atau Penari Dukun dalam menyembuhkan orang sakit. Barulah diyakini bahwa ruh Elok Nur Hakim yang menjelma menjadi ruh burung Elang rupanya akan aktif melolong penderitaan manusia ketika dia merasuk menjadi Wadian nan gila menari.

Realitas keyakinan yang hidup dimasyarakat, setiap orang bisa diamuk dan kerasukan ruh Elok Nur Hakim, terutama perempuan. Maka siapa saja yang dirasuk lalu menjadi wadian maka tanpa disadarinya dia akan bisa menjadi dukun. Dia akan mampu mengobati orang sakit.  Dan karena wadian ini bersumber pula dari “Islam” dan sama sekali tidak sama dengan wadian asli  yang bernama Wadian Bawo maka orang pun mengenalnya juga sebagai Wadian Dadas. Wadian Dadas ini lama-kelamaan dikenali juga sebagai Wadian Hakei atau Wadian Islam sebab ada keterkaitan riwayat dengan Nabi Muhammad. Malah syarat bagi orang yang memungkinkan untuk disarung menjadi Wadian Dadas adalah mereka yang berpantang memakan babi, memakan bangkai, meminum darah dan semua makanan yang diharamkan Islam lainnya. Maka tatkala musik Wadian telah dibunyikan, siapa pun berpeluang dirasuk ruh mangamet, ruh kebajikan yang menjelma dari sikap suka menolong si Elok Nur Hakim.

.

11. PENGOBATAN

DENGAN CARA RITUAL WADIAN

(Versi Suku Dayak Dusun Witu Ma’ai)

A. Sekelumit Sejarah Wadian

Pada zaman dahulu, jauh sebelum masuknya agama dan kebudayaan Buddha, Hindu, Islam dan Kristen ke pedalaman sungai Barito, suku Dayak sudah menganut agama lokal yang bernama KAHARINGAN. Agama ini sangat percaya kepada Tuhan yang menciptakan dunia beserta seluruh isinya. Mereka percaya bahwa Tuhan tidak bisa dilihat dan manusia benar-benar diciptakan oleh tuhan yang gaib itu. Tuhan yang maha pencipta dan gaib inilah yang mereka kenal sebagai JUS. Namun diluar itu, mereka juga percaya kepada tuhan yang hadir, tuhan yang berwujud, tuhan yang menampakkan diri ke dalam dunia. Siapakah tuhan wujud itu? Itulah ibu-bapak yang menciptakan manusia melalui proses perkawinan. Artinya, siapa pencipta manusia setelah tuhan Jus menciptakan yang pertama kalinya? Pencipta itu tiada lain adalah tuhan berwujud manusia yang hadir sebagai ibu-bapak kita masing-masing. Jadi, kedudukan manusia adalah pencipta kedua setelah penciptaan tuhan yang maha kuasa. Begitulah keyakinan lokal memahami jati diri tuhan mereka.

Keyakinan Kaharingan berikutnya, semasa manusia belum lahir ke dunia dam masih tinggal di dalam rahim ibu, manusia diasuh oleh empat saudaranya yang lain. Mereka berempat inilah yang melindungi, mengasuh dan menjaga bayi selama sembilan bulan di masa kehamilan. Keempat saudara itu dikenal sebagai 4 M, yaitu Adam Supi, Adam Napi, Salira Jaya Sangga dan Bayang-bayang Salira. Artinya,  begitu seorang bayi dilahirkan ke dunia maka dia sebagai manusia senantiasa membawa pula keempat saudaranya tadi.

Lalu kemana dan dimana mereka berempat setelah ikut dilahirkan ke dunia? Saudara yang pertama segera mengambil kedudukannya sebagai perwakilan Tuhan. Dia senantiasa mengawasi saudaranya yang manusia dalam porsinya seperti tuhan. Saudara yang kedua berkedudukan di Kayangan. Dari sana dia senantiasa mengawasi gerak langkah manusia saudaranya yang lahir bersamanya. Saudara yang nomor tiga segera mengambil kedudukannya di bumi pada suatu tempat sehingga apabila manusia itu nantinya mati maka dialah yang mengaturnya. Sedangkan saudara yang keempat mengambil tempatnya di pusat air bernama Laut Salambu, dari sinilah dia senantiasa memantau dan menjaga saudaranya yang tinggal di bumi. Oleh karena itu, kehidupan seorang manusia tidak lepas dari peran gaib keempat saudaranya di alam lain sehingga apabila keempat saudara itu diperlukan maka bisa dipanggil untuk dimintakan pertolongannya. Dan cara meminta pertolongan gaib semacam ini ada berbagai macam, diantaranya dengan Wadian, Badewa atau Manabit. Inilah cara pengobatan tradisional yang hidup dikalangan suku Dayak tertentu di sungai Barito.

.

B. Rukun Wadian

Dengan demikian jelas ternyata Kaharingan mengenal dua macam dunia, yaitu dunia nyata atau bumi atau alam syariat atau alam benda, dan dunia gaib alam alam nisbi atau alam tempat tinggal keempat saudara gaib atau alam batin.

Antara alam dunia dan alam gaib terdapat hubungan timbal-balik yang sangat kuat karena di alam batin inilah segala baik-buruk, mulia-hina dan benar-salah berproses, sedangkan dunia benda hanyalah penampakkannya saja. Makanya alam tubuh atau alam dunia tidak bisa lepas dari alam gaib sebab seluruh kekayaan dunia, bahkan seluruh anggota tubuh manusia adalah obat sekaligus penyakit yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Tinggallah manusia yang mampu tidaknya memanfaatkan potensi yang tersedia dengan bantuan kekuatan alam gaibnya masing-masing. Namun pada umumnya manusia tidak tahu potensi yang ada sejak di alam gelap kandungan ibunya ini karena begitu dilahirkan ke dunia dan merasakan nikmatnya dunia maka mereka pun silau dan lupa. Karenanya maka orang yang senantiasa mampu menyadari dan memanfaatkan potensi ini hanyalah para wadian karena mereka sanggup mengatasi gemerlap dunia yang sangat menyilaukan. Itulah kenapa apabila ada orang yang sakit atau mendapat gangguan makhluk halus, para wadianlah harapan untuk penyembuhannya. Artinya, para wadian adalah orang pintar dan manusia pilihan yang dipandang mampu mengobati pasien secara duniawi maupun gaib.

.

Rukun Wadian dalam tatanan Kaharingan pada Dayak Dusun Witu Ma’ai yang hidup di Kalahien adalah :

  1. Diawali dengan Nyangka Diau. Nyangka Diau artinya proses penolakan arwah orang mati terdahulu supaya mereka jangan mengganggu acara Wadian yang akan diadakan. Dari disini dapat difahami bahwa tidak semua roh itu baik, banyak juga roh terdahulu yang jahat.
  2. Narere Weah, yaitu proses memuji kemuliaan asal-usul beras sehingga rohnya dapat dipercaya dan bisa menjadi perantara yang mampu mengundang para roh halus agar mendekat.
  3. Maruko Tenga, yakni kita bisa menjadi Wadian karena kita memiliki anggota badan yang lengkap tanpa cacat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Karena tubuh kita sempurnalah maka kita boleh menjadi wadian.
  4. Panyamayan, yaitu menjelaskan satu persatu sejarah dan asal usul alat-alat wadian secara lengkap.
  5. Nulak Luing, yaitu seorang wadian memerintahkan dan memberangkatkan para roh beras untuk segera memanggil paksa roh-roh Wadian terdahulu, para pendamping mereka, para makhlus halus maupun para arwah. Dalam Nulak Luing ini Wadian juga memerintahkan roh-roh beras untuk masuk menembus perut bumi guna mengundang saudara kita yang menjaga bumi bernama Tondoi Tane beserta Itak Tuhan Panyurat Kakah Tuhan Panyurat yang tinggal di negeri perut bumi bernama Nuo’ Nengkun Jaun Ja’ Kuta Miris Tulang Jauh, karena merekalah pencatat amal manusia sehingga merekalah yang berhak untuk  menghapuskannya.
  6. Karena Nulak Luing yang diberangkatkan dibagi delapan maka dua diperintah ke arah utara karena disana ada beberapa suku yang mampu wadian sehingga harus mengundang mereka memintakan kekuasannya. Roh yang diperintahkan ke barat segera mengundang Balayur Nompur Balikar Tana karena mereka juga bagian dari suku dayak yang pandai wadian. Roh yang diperintah ke timur segera mengundang para Wadian tangguh Entau Uma Ngejan Bakian Usuk Tangur, Tungkis Pantak Ayang Balian Usuk Lumut, Jarungan Kapiyuiyan, Lawangan Tingkun Bulan, Maanyan Tanah Koreng, Bukit Sapu Sawit, Bajau Rampa Mipa. Ke selatan diperintah untuk menjemput Silu Laut Danum, Ine Lintai Tunding Tasik dan Gayus si wadian terkenal masa lalu. Utusan juga diperintah menjemput para jawata penguasa dasar laut seperti Bawe Ukir Wawin Rampan Tende, Jawata Udan Luyus, Udan Bulau, Itak Serempu Tuha, Kakah Serempu Tuha, Ratu Sembah Ulun Deo, Ratu Junjung Ulun Ware, Tilo Ingkeng Langulau Papak Paung Bungka Kajang Junjung Mulung Bungkar Jaman deri Pate Bungkar Kero.
  7. Selanjutnya Luing diperintahkan lagi naik ke atas yakni ke Bawo langit atau langit ketujuh karena disana ada Lampung Kurung Bawo Langit, Ue Lume Bawo Langit, Tarai Ngenter Bawo Langit, Pimping Seri Bawo Langit, Agong Musu Bawo Langit, Rendnak Ayang Tuhan Tunjung, Kopas Buen Siau Bulau, Etong Ayang Rendneu Tatau Tuker Ibus Rendnon Tajau Latung Tiung Raris Mulung. Juga dibawa para bidadari dari Kayangan seperti Rintung Lolang Rewa Lolang Ijau Lolang Raden Lolang, Raden Lolang Neke Nuo Karang Intan Ja’a, Kuta Karang Kamang. Akhirnya kepada Tuhan juga dimohonkan segala permintaan seperti Lesing Sangiang Bawe Sense Lewan Ayang, Bawen Tumar Allah Ta’ala, Nayu Terenjok Langit, Maruhum Ngitung Ulun Sultan Jaga Alam. Akhirnya Wadian pun mengundangan pula leluhur kita yang tiada jauh seperti Dewa Kalalungang Aning Kalalio, Pangintuhu Panginsuet Api Apang Imak Ame Janggut Nayu Jamping Timang Kukut Esa Togau Bala, Imang Babadong Jimat Babasal Sampu A’as Bulau Aroi Sampu Penyang Narik Uyat.
  8. Setelah semua mantra yang terkumpul dalam Ruko Bomba dilapalkan maka Wadian pun berdiri, Ngarunak Jus,  yakni merasuk dirinya sampai benar-benar dimasuki ruh-ruh dan makhluk-makhluk gaib yang telah diundang dan dipanggil. Setelah para makhluk gaib itu masuk ke tubuh wadian satu persatu maka jadilah dia sebagai Jus. Wadian duduk lalu bertanya kepada tuan rumah tentang apa tujuan mengundang segala makhluk gaib, apakah wadian untuk mengobati penyakit atau tujuan selainnya? Setelah jawaban diterima bahwa wadian untuk pengobatan maka Wadian berdiri lalu berjalan menuju pintu depan rumah. Wadian pun turun ke tanah menuju Panyawang dan melaksanakan Nerau Pujat yaitu memanggil roh jahat Nyekok Molong agar membuang penyakit yang menggangu pasiennya. Setelah roh jahat diyakini akan memasuki tubuh maka seluruh lampu di dalam rumah pasien dimatikan sehingga wadian bekerja mengobati si sakit dalam kegelapan malam. Saat itulah si Wadian Ngomol Nyamau yakni membuang, mengusir dan melawan segala penyakit yang menyerang pasiennya. Begitu sudah ada tanda bahwa pengobatan telah selesai maka lampu rumah pun segera dinyalakan. Dengan demikian maka wadian selesai dilaksanakan.

.

.

RUANG WUNRUNG

( PERKEMBANGAN WADIAN MASA KINI )

Pemerintah Daerah Kabupaten Barito Selatan dalam hal ini Dinas Informasi Komunikasi Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Barito Selatan, sering berpartisipasi pada berbagai even budaya baik Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah maupun Tingkat Nasional. Dari semua penampilan tersebut, tarian daerah yang senantiasa ditampilkan dan diandalkan adalah tari Wadian. Dan tari Wadian yang paling sering mewakili Barito Selatan bertemakan “TARI RUANG WUNRUNG”, yaitu tari wadian kolaboratif antara Wadian Dadas dengan Wadian Bawo.

Apa saja macam tari Ruang Wunrung yang pernah ditampilkan itu? Berikut dicuplik sinopsisnya secara ringkas.

.

1. “INEH PAYUNG GUNTING” (TMII Jakarta Tahun 2002)

Pada zaman dahulu, dalam adat suku Dayak Ma’anyan umumnya dan Suku Bawo khususnya, Wadian digunakan sebagai media pengobatan atau penyembuhan dari segala penyakit. Para pelaku wadian dianggap mempunyai kekuatan spiritual yang luar biasa.  Kekuatan tersebut identik dengan kekuatan fisik laki-laki  sehingga terbentuk pandangan bahwa dunia wadian adalah milik laki-laki. Wadian laki-laki inilah yang dikenal sebagai Wadian Bawo.

Kondisi tersebut terus berlangsung selama perjalanan kehidupan suku Bawo sampai pada suatu ketika terjadi pendobrakan dominasi laki-laki dengan munculnya seorang perempuan bernama Diang Dara Sangkuai Ulu. Perempuan ini dianugerahi kekuatan dan keterampilan wadian oleh seorang Dewi cantik dari Gunung Paramatun yang bernama Ineh Payung Gunting. Pada awal penampakannya Ineh Payung Gunting berwujud seekor burung elang. Ineh Payung Gunting sangat tertarik dengan keinginan mulia Diang Dara Sangkuai Ulu dalam mencermati setiap gerak-gerik ular. Ineh Payung Gunting kemudian menurunkan dan mengajarkan keahlian wadian serta menunjukinya kelengkapan-kelengkapan wadian seperti gelang dan selendang. Wadian wawei alias Wadian perempuan inilah yang kemudian  dikenal luas dengan  Wadian Dadas.

Keahlian Wadian ini kemudian diajarkan oleh Diang Dara Sangkuai Ulu kepada teman-teman perempuannya. Upaya-upaya memberdayakan diri dari keterkungkungan pandangan tradisional atas dominasi laki-laki ini nampaknya sangat menggangu pemikiran para laki-laki diantaranya Lala, seorang anak kepala Suku Bawo, yang selama ini dianggap handal dalam melakukan wadian Bawo. Secara konfrontatif Lala menghendaki Diang Dara Sangkuai Ulu menghentikan niatnya dan menyadarkannya bahwa perempuan mempunyai banyak keterbatasan sesuai kondratnya. Konflik pun tidak dapat dihindarkan. Namun Diang Dara Sangkuai Ulu ternyata tetap bersikeras pada pendiriannya bahwa wanita juga mempunyai hak untuk mengangkat harkat dan martabatnya, terlebih lagi dengan tujuan mulia menolong sesama manusia melalui wadian. Terjadilah  aksi saling unjuk kebolehan, namun berkat kearifan kepala suku Bawo, konflik dapat diselesaikan dengan damai dan menegaskan bahwa baik laki-laki maupun perempuan adalah berkedudukan setara didalam kehidupan ini.  Oleh sebab itu kepala suku Bawo menyarankan kepada Lala dan Diang Dara Sangkuai Ulu untuk secara bersama-sama memajukan keahlian wadian untuk menolong sesama manusia dalam bentuk wadian bersama. Penampilan kolaboratif kedua wadian tersebut kemudian dikenal dengan istilah  Iruang Wundrung (Ma’anyan) atau Ruang Wunrung (Dusun).

(Dipersembahkan menurut versi Dayak Ma’anyan oleh Tim Tari Pemerintah Kabupaten Barito Selatan)

.

2. RUANG WUNRUNG MAKAN PANGANTU (Sinopsis Tari Festival Budaya Isen Mulang Tahun 2004)

Ruang Wunrung Makan Pangantu merupakan upacara sakral masyarakat pedalaman Sungai Barito berupa pemberian makan berbentuk sesajian  yang dipersembahkan dalam rangka pemenuhan hajat atau janji yang telah dimohonkan kepada Pangantu atau para roh-roh halus yang dianggap perwujudan makhluk sakti yang mampu mengabulkan segala permohonan.

Upacara ini disajikan dengan menampilkan Ruang Wunrung yaitu digabungkannya Tari Wadian Bawo dan Wadian Dadas secara bersamaan sebagai tanda syukur kepada para dewata Nanyu Sangiang  Hiyang Piumung.

Wadian adalah orang-orang yang membawakan tarian Gelang Dadas dan Bawo berdasarkan ilham para dewata Nanyu Sangiang.  Ciri khas tarian ini berupa gemerincing gelang-gelang yang dibawakan dalam gerak tari yang lemah gemulai dan diiringi tetabuhan beraneka irama sebagai pertanda diadakannya komunikasi antara Nanyu Sangiang dengan hamba-hambanya.

Upacara Ruang Wunrung Makan Pangantu ini dilengkapi tempat sesajian dari batang bambu, di dalamnya disajikan beraneka macam sesajen yang tersusun rapi.

Persembahan Sanggar Tari IRING WITU Buntok

.

3. BAPARAH DAN BAYAR PARAPAH (Sinopsis Tari Festival Budaya Isen Mulang Tahun 2005)

I.    TARI PERTAMA:

Wadian Bawo masuk membawa anak yang sakit, Batabur: permohonan kepada Jus Mulung

II.   TARI KEDUA:

Para Wadian Dadas masuk arena membawa mangkok   lilin; persiapan akan masuknya Wadian Bawo dengan membawa penyamaian, opas dan tampung tawar dalam acara bayar parapah.

III.      TARI KETIGA           :

Wadian Dadas dan Wadian Bawo memanggil roh-roh halus atau Jus Mulung dalam pemenuhan bayar parapah.

IV.         TARI KEEMPAT:

Wadian Dadas dan Wadian Bawo membentuk lingkaran menyatukan kekuatan Pangantu / Jus Mulung masing-masing untuk menerima pembayaran Parapah.

V.          TARI KELIMA:

Para Jus Mulung yang dipanggil oleh para Wadian Dadas dan Wadian Bawo telah datang untuk menerima sesajen  dari keempat Wadian Bawo.

VI.         TARI KEENAM :

Para Wadian kesurupan/kesarungan Jus Mulung yang dipanggil dan mereka langsung menerima sesajian yang ada sampai terjadi Balian Bulat.

VII.       Wadian Dadas dan Wadian Bawo memulangkan Jus Mulung dan menampung tawarkan anak yang sakit tadi  untuk membersihkan dan menjauhkannya dari segala sesuatu yang bisa mengganggu baik kesehatan maupun  ketenangan jiwa raga dari gangguan kekuatan roh halus yang jahat.

Wadian selesai.
Persembahan Sanggar Tari IRING WITU Buntok

.

3. ”WADIAN RUANG WUNRUNG, BULAT DAN APAI LAWAI”

(Sinopsis Tanggal  20 April 2008)

Tari ditampilkan dalam tiga fase yaitu Ruang Wunrung, Wadian Bulat dan Apai Lawai.

Fase Pertama : Iruang Wunrung

Tari Ruang Wunrung adalah perpaduan antara wadian bawo (laki-laki) dengan wadian dadas (perempuan) yang ditarikan di dalam satu ruangan atau tempat pertunjukan. Tarian ini dibawakan secara kolaboratif sebagai bentuk acara syukuran dan tari suka cita, dimana para penari menampilkan keahlian masing-masing dengan lemah gemulai, saling bercanda serta penuh keakraban dan kebersamaan.

Tarian ini juga merupakan harapan dan penggambaran bahwa dalam kita hidup memerlukan :

  1. Sarana untuk bersyukur atas berkah dan inayah dari Allah SWT.
  2. Menggambarkan bahwa didalam kita berbuat dan bertindak adalah sesuai  kemampuan yang ada pada kita, namun perlu dilaksanakan secara lemah lembut, ceria dan dalam semangat toleransi.

Fase Kedua : Tari Wadian Bulat

Tari Wadian Bulat merupakan ciri khas Wadian Bawo, ditarikan secara atraktif dan dilaksanakan dengan iringan musik yang sangat meriah. Wadian bulat ini merupakan simbol mufakat bulat.

Fase Ketiga : Apai lawai

Wadian Bawo yang menarikan wadian bulat selanjutnya berguling-guling di atas tikar yang di atasnya berserakan duri-duri salak yang sangat tajam. Tarian ini merupakan gambaran bagi kedua mempelai bahwa dalam mengayuh bahtera kehidupan nanti pasti akan ada riak, gelombang serta onak duri kehidupan yang menghadang namun harus dilalui dan singkirkan dari jalan kehidupan yang berliku-liku. Tarian ini sangat sesuai dengan motto Provinsi Kalimantan Tengah ”Isen Mulang” yang artinya  ”pantang mundur”, sehingga biduk keluarga yang dibina oleh kedua mempelai akan memperoleh ”Dahani Dahanai Tuntung Tulus” atau ”selamat sejahtera dan bahagia  untuk selama-lamanya.”

(Ditarikan oleh Sanggar Tari Ranu Mareh, Mabuan dihadapan Majlis Perkawinan putra Bapak Bupati Barito Selatan di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin tanggal 20 April 2008)

WAYANG KHAS KALIMANTAN TENGAH (2)

WAYANG KHAS KALIMANTAN TENGAH (2)

.

JUDUL UTAMA

.

PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR

.

Penulis :

SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Alamat :

Jalan Panglima Batur Nomor 7 RT 11 Buntok 73711

Kalimantan Tengah

Kontak Telepon : 0525-22238 ;  0813 4960 6504

e-mail :  srudiannoor@yahoo.com

.

.

BABAGONGAN

(Wayang Khas Kalimantan Tengah)

BAGIAN KEDUA

.

.

Sub Judul

ATMOSFIR 50 TAHUN ARCAPADA MERDEKA

2004

.

Babagongan 1

.

DOSA BULAN HARAM

Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Negeri Arcapada telah sampai usia emasnya. Karenanya,  selama satu bulan rakyat wayang diharuskan  ikut  memeriahkan pesta emas kampung tercinta.  Satu bulan penuh peringatan dan perayaan digelar besar-besaran.  Satu bulan penuh suka cita rakyat harus ditampilkan. Satu bulan pol berbagai atraksi dan lomba berpacu silih berganti. Pokoknya sabulanan tungkal, kata orang Kutaringin. Akibatnya, ulang tahun kali ini sangat meriah warnanya.  Sangat cerah rona kulit wajahnya.  Sangat manis suasananya. Indah. Meriah. Jauh lebih indah  dan meriah dari tahun-tahun sebelumnya.

Umbul-umbul berjajar-jajar dimana-mana. Pokoknya meriah dan sedap dipandang mata, tidak perduli tiangnya bambu curian. Tidak  perduli kain  benderanya kain rampokan atau hasil manyimbat. Itu semua urusan panitia. Yang penting semua harus meriah dan dapat selamat di-SPJ-kan ke Bagian Keuangan. Toh semua itu demi bangsa dan negara. Sebagian pertanggung-jawaban juga diakui sebagai dukungan sponsor, jadi bukan hasil mambegal, titik.

Lega hati Kiyai Semar Pangantutan Alaihi Salam  melihat pertumbuhan dan kemajuan negerinya hingga usia lima puluh tahun ini. Senyum lelaki sepuh-tuha-ganal burit itu seraya bergumam:

“Alhamdulillah…”, katanya penuh kesyukuran. “Se- tengah abad sudah negeri ini. Tahun emas negeri tercinta.  Inilah bulan suci negeriku. Inilah bulan haram itu. Bulan penuh berkah bagi kampung tersayang. Bulan yang lebih baik dari 600 bulan sebelumnya selama merdeka. Inilah bulan penuh  berkah bagi kampung tersayang.  Kiranya Allah senantiasa beserta kita….!!”

“Puji Tuhan”, kata Petruk Onta melengkapi gerunum dan ristaan Bapaknya. “Maju pesat negeri kita ya, Bah?”

“Maju apa?”, sergah Bagong Jambulita protes sekonyong-konyong. “Mana bisa maju?”

“Beraninya Yu ngomong jelek begitu!”, hardik Gareng sok garang. “Ngomongan  itu dasarnya apa?”

“Itu mereka sendiri yang pasang spanduk. Negeri ini masih punya  utang 50 tahun dengan BRI!”

“Apa?”, tanya Petruk keras seraya merasa sangat heran. “NKRI punya utang?”

“Iya!”, jawab Bagong keras pula. “Coba lihat spanduk-spanduk itu. Bunyinya begini: “50 tahun Negeriku, 100 Tahun BRI!” Kan sulit negeri kita maju kalau masih punya utang 50 tahun di BRI? Belum lagi kalau bunga utangnya cukup tinggi, kan repot?”

“SSttt!”, kata Kiyai Semar seraya membungkam mulut anaknya yang kritis. “Kamu jangan bikin-bikin penyakit, ah!”

Melotot mata Semar memandangi anaknya yang boncel nakal. Besar mata itu bagai bola tenis Steffi Graf.  Merah mata itu bagai  mata  Jin Kauk.

Besok harinya, ikut juga Semar Pawai Pembangunan dalam rangka HUT Emas negerinya. Dia tahu keikut-sertaannya akibat korban instruksi. Jelas itu. Tapi demi negeri wayang tercinta dan demi kesyu­kuran 50 tahun kemerdekan, tersenyum juga Semar sepanjang jalan. Terus saja tersenyum dan tersenyum. Sampai akhirnya, tersenyum pula dia tatkala arak-arakan tengah melewati panggung kehormatan didepan rumah jabatan Batara Guru Penguasa Arcapada Khalifatullah Panatagama.

Di podium kehormatan, tersenyum lebar Tuan Besar Batara Guru seraya terus melambai-lambaikan tangannya. Duh Tuhan,  bangga betul lelaki itu menyambut salam emas seluruh peserta pawai. Walau aki­batnya dia harus berdiri terus dan melambai terus dari tengah hari hingga malam. Capek dia. Wei, senyum itu terus mengembang dibibirnya, walau pun dia harus kehilangan Shalat Asyar dan Maghrib sekaligus. Celakanya lagi, Pandita Abdus Salam Rauf Tarus yang Ketua Majelis Ulama Arcapada, yang berdiri disamping Batara Guru, yang terus tersenyum dan melambai pula, juga adem ayem melangkahi waktu  fardu Asyar-Maghrib. Celaka!

Karena arak-arakan masih lama baru akan berakhir  sementara perut  Semar sudah mulai melilit-lilit sakit pertanda hampir masuk waktu Isya’, terpaksa orang tua itu meninggalkan barisan pawai. Riuh-rendah peserta pawai menyoraki Semar yang lari meninggalkan barisan.

Sesampainya di masjid kecil di Kampung Raja, seketika sakit mulas perut Semar hilang. Dan memang, penyakit perut orang tua itu akan kontan hilang kalau dia dekat masjid atau pengajian. Dus, cepat lelaki abdi itu mengambil wudlu. Segera ia mendirikan shalat jama’ ta’khir Magrib-Isya. Segera dia bertaubat dan berdoa. Segera dia pingsan di masjid itu. Tuhan telah menghukumnya. Tuhan sedang men­jewer kupingnya yang keras. Tuhan sedang menegurnya. Kenapa? Karena dihari emas negerinya, dihari haram kampungnya. Dia tidak memperbanyak syukur dan dzikir kepada-Nya. Dia tidak meningkatkan rasa ingatnya kepada Allah, tidak. Malah dihari itu dia telah banyak berbuat dzalim dengan mempraktekkan shalat jama’ dua kali  di waktu Dhuhur dan Isya dalam sehari! Apa betul kelakuan serupa itu? Apa ada rukhsah untuk kejadian remeh seperti itu?  Belum lagi shalat itu dilakukan dengan sangat tidak khusuk. Kan celaka besar?

Tapi bagaimana dengan ribuan peserta pawai lain plus Batara Guru, Batara Narada, Patih Supala dan Pandita Abdus Salam Rauf Tarus yang sama sekali los alias lepas total shalat mereka dihari haram ini?  Apakah  hari  haram  ini  juga haram hukumnya? Atau apakah semua dosa-dosa ini Semar juga yang menanggungnya? Entahlah! Karena dalam masyarakat pewayangan, Batara Guru adalah juga Pandita Durna. Kan dia Wan Guru Ugama Sayyidul Muslimin Panatagama Arcapada menurut SK. Buktinya, setelah dia berganti baju dari Baju Batara Guru  menjadi Pandita Durna, dia cukup sering menjadi khatib shalat Jum’at.  Kalau sudah begini, apa pantas Semar juga yang menanggung dosanya?  Kan bukan Semar yang Eselon  I   tapi  Dia?

Kumai,  29 Juni  1996.

.

.

Babagongan 2

.

NYELU BULAU,  PESTA BULAU

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Perayaan Tahun Emas Negeri Arcapada juga sangat meriah di Kelurahan Nyaru Menteng Panunjung Tarung. Tidak kalah meriah bila harus dibandingkan dengan kelurahan lain, kampung lain, kabupaten lain bahkan propinsi lain. Kok bisa begitu? Ya jelas dong!  Karena pada puncak perayaan atau hari H atau Hari Haram itu seluruh kegembiraan dikeluarkan tanpa sisa.  Seluruh potensi seni budaya dikedepankan. Semua karya terbaik dan lomba terindah digalakkan dan dipersembahkan demi negeri tersayang.  Pokoknya,  sip  deh!

Terjadi perang spanduk dimana-mana. Lihatlah dan bacalah. Ada yang berbunyi:  “Selamat Nyelu Bulau, Lewu-ku”.  “Selamat Pesta Bulau Kawan Pahari”.  “Dirgahayu Negeriku Tercinta!”  “Selamat Datang Kebangkitan Nasional II, Selamat Datang Abad XXI”. “Selamat Memasuki PJP Tahap II”. Pendek kata, berwarna-warni tulisan-tulisan itu berserakan. Berkelap-kelip lampu-lampu hias menerangi malam yang sejuk. Megah meriah tugu-tugu, umbul-umbul dan umbel sepanjang kampung. Riuh-rendah segala lapisan dan penjuru desa. Habis-habisan mulut-mulut gang dan dukuh disambut Lawang Sakaping atau Pintu Gerbang terbaik. Seru disegala penjuru. Hebat. Dahsat! Camuh.  Semrawut.  Kalut.  Hot!

Malam Resepsi Kenegaraan adalah malam puncak perayaan yang paling ditunggu-tunggu. Apa kabar? Tentu saja karena ada hiburan gratis dan terbesar. Buktinya, diatas panggung hiburan acara telah dimulai dengan segala kemeriahannya. Di puncak panggung, Antang Bajela Bulau tampak tersenyum bangga. Sedangkan didadanya bertulis besar: DIRGAHAYU NEGERIKU. Pendeknya, semua yang hadir dimalam itu terlihat sangat gembira. Semua bangga. Semua bahagia.  Coba cari, wayang mana yang tidak senang dihari akbar ini?  Tidak ada, kan? Semua gembira. Semua cermin kegembiraan. Semua harus gembira. Harus!

Karena ini pesta rakyat, maka rakyat yang jadi raja. Rakyat yang dimanja. Bukan sebaliknya, rakyat yang berjubel-jubel dan datang duluan, Batara Guru dan Pejabat Tinggi malah datang terlambat. Dan celakanya, mana Batara Guru sebagai pemimpin panutan telah  datang terlambat, eee… malah dipersilakan duduk paling depan dan  dikasih makanan paling enak.  Ini kan tidak adil namanya! Aturannya, siapa yang datang paling duluan, itulah panutan. Itulah teladan. Jangan yang datang paling molor yang paling dimuliakan. Kan camuh sa’umuran! Yang tepat itu seperti terminologi Jum’atan di masjid, gitu lah! Yang datang duluan, dia yang duduk paling  depan  dan dapat pahala terbesar. Siapa yang paling telat datangnya, pahala Jum’atnya hilang,  titik!  Tidak pandang bulu. Tega. Lugas. Adil!

Malam itu pentas Dang Dut adalah arena paling heboh. Bagaimana tidak, rakyat Nyaru Menteng adalah rakyat dang dut.  Semua mesti dimulai, diisi dan diakhiri dengan dang dut.  Semua harus dang dut.  Pokoknya harus dang dan dut. Kalau tidak dang dut, rakyat tidak faham.  Rakyat cuma tahu dang dut! Titik. Begitulah hati rakyat:  Hati  dang dut.  Dut.

Satu persatu artis Dang Dut bergoyang dan berdendang. Kesim­pulannya, seluruh goyang dang dut yang disajikan biduanita malam itu hukumnya haram.  Sekali lagi “haram!”. Tapi meskipun goyang-goyang dang dutnya haram, nyatanya para ulama dan masyarakat menikmati hiburan haram itu. Apalagi artis penyanyi itu kebanyakan telah hajjah dan selalu memakai “assalamu’alaikum” sebelum berdendang dan bergoyang, karuan saja hukum haram kontan berubah menjadi mubah bahkan wajib bagi mata alias fardu ain. Kan mubazir kalau tontonan terbesar tidak ditonton, kapan lagi ada yang semeriah ini? Gratis lagi. Hasilnya, halal dan haram tidak penting malam itu. Yang penting rakyat senang. Buktinya? Rakyat paling kecil yang duduk paling depan tampak paling terhibur di kursi empuknya.  Sementara tangan kanannya pegang paha ayam goreng, tangan kirinya pegang sekaleng sprite dingin. Kepalanya tampak manggut-manggut. Bibirnya selalu tersenyum-senyum. Sedangkan para petinggi kampung sebangsa Batara Guru, Batara Narada, Tuan Kadi dan Patih Supala, tetap saja mereka berdiri berdesak-desakan diujung paling belakang. Kasihan para pejabat itu terhimpit-himpit dan terdesak-desak kesakitan.  Kacar liur mereka melihat rakyat kecil yang duduk paling depan dengan segala fasilitas  makanan dan kenyamanan yang menggiurkan. Tapi apa mau dikata? Semua ini telah terlanjur disebut pesta rakyat, jadi rakyat yang jadi raja. Rakyat harus menikmati malam ini. Rakyat yang mesti gembira. Bagitu kata Undang-undang.

Lalu apa pasal para pejabat tinggi macam Batara Guru, Batara Narada, Tuan Kadi dan Patih Supala harus berdiri berdesak-desakan paling belakang? Ya salah sendiri! Kenapa dalam setiap kegiatan hobinya datang molor! Kenapa tradisi terlambat dipelihara? Kalau maunya duduk paling depan dan dapat kursi paling empuk, ya datang dong paling awal. Kebiasaan sih datang terlambat! Salah awak seorang! Ibarat Jum’atan, masih untung pahala Jum’atnya tidak sampai dibatalkan. Coba kalau dibatalkan, kan kasihan Sampeyan semua.  Masih untung ada dispensasi, paling minim demi alasan persatuan dan kesatuan bangsa wayang. Coba kalau tidak, bisa runyam dunia pewayangan.

Sampai akhirnya ke larut malam, pesta terus berjalan semakin meriah. Dang-dut itu semakin seru saja menunjukkan lenggak-lenggok kegenitannya. Semua bergoyang. Janggut bergoyang.  Tangan bergoyang. Jagung Arab bergoyang. Pinggul begoyang. Buah kates juga bergoyang. Padang ilalang juga bergoyang. Semua jadi berjoget. Semua berdendang riang. Semuanya tampak sangat bergembira. Semua berdang-dut ria.  Ceria!

Atagfirullah al azdim.  Rupanya Dang Dut itu shalat tahajjud mereka. Besok harinya, koran-koran menulis berita heboh dimalam pesta bulau itu. Betapa tidak? Ada rumah kemalingan saat ditinggal nonton dang dut 50 tahun kemerdekaan. Ada pemuda mati karena minum spritus dan pil koplo. Ada gadis diperkosa pemuda berandal dan pengangguran. Ada tukang ojek dibunuh karena rebutan betina haram. Celakanya lagi, berita itu justru terbaca oleh Kiyai Semar yang jantungan.  Hasilnya, repot lagi orang sekampung mengurus  orang tua itu.  Pingsan lagi lelaki tua itu begitu koran pagi selesai dibacanya. Huh, dasar Semar cengeng!  Baca berita tidak penting saja koma.

Kumai,  29 Juni  1996.

.

.

Babagongan 3

.

DATANG BULAN SEKAMPUNG

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Semua orang  tahu kalau negeri Arcapada  telah sampai  usia emasnya. Semua orang tahu kalau selama tahun emas segalanya  dikaitkan  dengan peringatan emas.  Semua juga tahu kalau Pawai Emas telah dilaksanakan  dengan  gegap  gempita penuh keemasan.  Bahkan  orang kampung pendulangan liar tidak lupa memperingati hari emas negerinya dengan beramai-ramai memasang gigi emas. Pokoknya, sekali emas  tetap  emas.

Pawai  Emas  telah dilaksanakan dengan sangat meriah.  Semua orang  tahu kalau para petinggi kelurahan dan ribuan  peserta  pawai sama  sekali tidak shalat wajib karena  arak-arakan  tidak  kunjung usai.  Tapi adakah yang tahu kejadian remeh di sebuah surau reot  di tepi  kali?  Begitu adzan Ashar berakhir, tak satu pun orang kampung yang  datang shalat ke surau.  Yang shalat cuma  Resi Bisma  dan  si boncel Bagong  Jambulita. Yang lain kemana? Orang kampung  agaknya masih  setia berdiri di tepi-tepi jalan menonton pawai.   Selebihnya? kebanyakannya ikut pawai dengan tertib dan semarak. Demi Tuhan dan segala  ciptaan-Nya, pawai itu memang sangat meriah  dan  luar  biasa.  Sungguh sayang kalau harus dilewatkan begitu saja. Shalat kan  mema­kan  waktu juga? Kan sayang kalau tertinggal walau cuma sebarisan demi  membela shalat! Besok kan pawai tidak ada lagi?  Kalau  shalat kan masih bisa besok dan seterusnya? Pendeknya,  itulah rona dunia.

Begitu adzan Magrib berakhir, tak ada pula orang kampung yang datang shalat ke surau. Ada apa gerangan?  O…, rupanya pawai masih belum juga usai sejak dhuhur hingga magrib. Rupanya anak-anak negeri masih  setia menyaksikan arak-arakan dan ikut arak-arakan.  Rupanya, gelar  dunia  fana telah mendominasi hidup  manusia. Kiranya  Allah masih berkenan mengampuni dosa-dosa mereka, amin!

Selesai  tahiyat  akhir dan memberi salam, Imam shalat  Resi Bisma  dan makmum  tunggal Bagong Jambulita  meneruskannya  dengan  dzikir  dan  do’a. Selepas itu, berbicaralah Resi  Bisma  memberikan kuliah  magrib  kepada agen tunggalnya. Kuliah itu terkenal  dengan kuliah  tujuh  menit atawa kultum. Kuliah  singkat  tentang manusia dalam pandangan Allah sang Pencipta. Juga pandangan manusia tentang Allah Tuhannya. Kuliah tentang bagaimana Allah dan Manusia saling berpandang-pandangan.

Tidak  lama  setelah kultum sang resi  berakhir, Resi  Bisma membuka  mimbar bebas, forum demokrasi.  Begitu kata kader-kader  PDI  menuntut.

“Bagaimana, Ndak?”,   tanya Resi Bisma menawarkan.

Cukup nakal lempar­an itu. Bagong yang dipanggil Andak alias Endek alias Pendek  rupanya  tidak mendengar. Setengah melamun rupanya Endek Bagong  senja itu.  Entah apa yang difikirkannya.

“Endek Bagong?”, seru Bisma sekali lagi. Agak keras suara itu.

“Hah? Ya! “, jawab Bagong kaget.

“Bagaimana pendapat Bagong tentang Magrib di hari Emas ini?”

“Eeee,  maksud Wan Resi?”, tanya Bagong bingung. Telmi  rupanya  ABG  masa  kini itu,  mungkin akibat pengaruh pil koplo atau pil  ekstasi yang kian merebak luas.

“Pendapatmu  tentang  magrib sepi ini? Tentang surau  bagai  kuburan  ini?   Adakah do’a emas kita tadi didengar Allah, sementara yang lain membelakanginya dengan alasan tontonan emas  dan pertunjukan  emas pula?”

“Ya, bagaimana, ya?  Ya salah, dosa….!”

“Benar, Nak! Tapi ya bisa juga tidak, lho?”, jawab Resi Bisma  bagai  pegawai  negeri yang terbiasa berpolitis kata. Agak  munafik  bunyi  kalimat itu terlontar.

“Lho,  kok?”, tanya Bagong heran tak percaya. Maklum dia masih  anak kecil,  jadi terlalu  lugu untuk segera  mencerna  maksud  kalimat  bersayap.

“Iya….., tidak berdosa!”, tegas Resi Bisma meyakinkan. “Kan Allah tidak      mewajibkan perempuan haid untuk shalat! Malah haram hukumnya  kalau  shalat juga, begitu!”

“Hah?”,  gumam Bagong heran sekali.

“Iya!”, tegas Resi Bisma pula.

“Jadi Wan Resi menganggap orang sekampung perempuan semua hari ini?”

“Yap!!”

“Dan  haid  semua?”

“Ya!”

“Tapi  Abah  ulun Semar, Kang Petruk, Kak Gareng, Kang  Fuad,  Tuan Kadi, Pangeran Bendahara, Batara Guru, Batara Narada,  Wan  Patih  Supala  dan Pandita Abdus Salam Rauf Tarus, semua laki-laki tulen! Malah  ada  diantaranya yang punya istri dua, tiga atau  empat!? Bahkan ada lagi yang dilengkapi pula dengan WIL?”

“Iya  betul! Tapi itu kan cuma jenis kelamin. Itupun hanya  sebatas keterangan KTP! Realitanya?”, tanya Bisma aneh.

“Realita  bagaimana? Semua juga pada bisa kencing berdiri?”,  tanya Bagong tambah heran. “Wan Guru bisa saja?!”

“Realitanya kan hari ini orang sekampungan prei shalat!  Itu tandanya  orang sekampung perempuan semua! Wanita semua!”

“Artinya?”

“Artinya,  cuma kita berdua saja laki-laki dikampung ini  sekarang!  Yang lain betina semua!!”

”Lha  Abah,  Kang  Petruk,  Kang  Gareng?  Mau dikemanakan  burung  mereka?”

“Formalnya  mereka  tetap  lelaki. Tapi di hati  Ane, mereka  semua wanita!  Sebab apa? Sebab kalau mereka tidak dianggap  wanita,  Ane  salah!  Ane ikut berdosa besar!”

“Berdosa apa, Wan?”

“Ya  itu  tadi!  Hanya wanita haid yang haram  shalat. Kalau  mereka tidak wanita, buat apa mereka mengharamkan shalat pada hari ini?”

“Hihi…!”, tertawa Bagong mengukir senyum.  “Wan Resi memang benar!  Wan  Resi cerdas!  Hitung-hitung rukhsoh, ya  Wan?  Darurat, gitu!”

“Begitulah! Semoga darah ambeien Semar terhitung darah haid hari ini?”

“Subhanallah!”, istigfar Bagong sok ulama.  “Siapa tahu datang bulan kompak ini sebagai akibat Pil Penunda Haid yang dimakan ramai-ramai bulan puasa lalu?”

“Iya kali?”

“Tapi kok bisa haid-nya kompak dihari emas ini semua, ya?   Dan masya Allah,  lama sekali khasiat pil itu hingga hari ini?”

“Mungkin sekali!  Ini kan era moderen!”

“Pantas  orang sekampung puasa sebulan penuh tahun kemarin!   Rupanya  ada pil ampuh, ya!?”

“Itulah kemajuan dunia, Nak!  Haid saja  bisa  ditunda  demi ibadah puasa yang dipaksakan. Hati-hati saja meniti hidup ini.”

“Inggih, Wan!”, jawab Bagong terkesan Kejawen total.

Hari  memang sudah malam. Malam itu berlalu dengan  mencubit pipi Sang Pencipta. Marahkah Baginda Sidinullah hal adzim itu? Cuma Dia yang Kuasa menjawabnya.  Wallahu  a’lam bis sawab.

Kumai,  27 Juni  1996.

.

Babagongan 4

.

JI’UN

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Alkisah datanglah seorang pendulang emas kepada Kiyai Semar Alaihi Salam.  Lelaki ini datang mengadu tentang kejadian yang telah dialaminya di pendulangan. Ini sebuah kisah nyata.  Kisah yang terjadi di Negeri Siang di Kepala Barito, Kalimantan Tengah.  Kisah nyata pemburu emas di tahun emas. Lalu kenapa lelaki itu mengadu kepada Semar? Kenapa? Karena menurut pandangannya, Kiyai Semar diyakini akan mampu memberikan suatu kepastian.  Satu kepastian, satu saja. Yakni, berdosakah dia dalam kaitan dengan peristiwa yang terjadi  itu?

“Tapi Abah ingin dengar dulu duduk soalnya. Setelah itu baru Abah bisa memberikan pandangan. Kalau belum-belum sudah ditanya soal halal-haram atau berdosa-tidaknya, tentu Abah tidak bisa menjawab. Iya toh?”,  kata  Semar  kebapakan penuh santun.

“Inggih, Kiyai!”,  jawab pemuda itu sopan pula.

“Baguslah kalau demikian! Ini baru pemuda Arcapada!”,  puji Semar  manis. “Kalau begitu, silakan anak berceritera terlebih dahulu!”

Setelah  menarik  nafas  dalam maka berceriteralah  lelaki muda bernama Nanang Emek itu. (Dasar kebiasaan,  hanya karena terlalu banyak wayang Banjar yang bernama Nanang di banua, terpaksa Nanang yang satu ini diberi gelar Nanang Emek. Sebenarnya tidak pantas menggelari wayang menyangkut anatomi.  Ini kan termasuk penghinaan. Tapi karena terbiasa, terpaksa si Nanang ini terima saja setiap dipanggil Nanang Emek alias Nanang Temek  alias  Nanang Pesek.   Kan camuh?). Begini ceritera itu:

Sebagai Penambang Emas Tanpa Izin atau PETI, Nanang termasuk pendulang kelas kambuhan. Kenapa begitu?  Karena dia akan bekerja alias mendulang emas apabila hatinya sedang senang saja. Istilahnya, dia baru bekerja kalau sedang mood atau sedang pas arah anginnya. Ma’entai hewui bahalap, kata Ewen Tumbang Kapuas. Kasus spesifiknya? Ketika ramai-ramai orang menambang di Ampalit,  ada Nanang Emek di sana.  Tatkala musim orang sedang hot ma’udak Sungai Sekonyer dan Taman Nasional Tanjung Puting, terkadang hadir Nanang Emek di sana. Terakhir ketika ribut-ribut-but orang mendulang dan  menyemprot di udik Tanah Siang, muncul pula si Emek di sana. Pokoknya, dimana ada bau emas, di situ ada Nanang.  Syaratnya, asal hatinya lagi senang. Ujar bahasa Sangiang, hung kuweh tege bulau, hete tege Nanang.  Dimana ada emas,  di  situ   ada   Nanang.   Pendeknya,  sudah kenyang si Nanang dicap pemerintah sebagai penambang liar dan kocar-kacir dikejar Tim Penertiban PETI. Puas pula tunggang-langgang diburu Tim Siluman yang datang dari mana-mana. Susah benar hidup ini. Tapi biar pun begitu, prinsip dimana ada emas disitu ada Emek agaknya tetap berlaku.  Hasilnya, tiada emas berarti tak ada pula Emek  disana.  Hidup Emek!

Maka berjubellah orang banyak di penambangan liar udik Barito. Tak tahulah orang-orang itu datangnya dari mana. Pokoknya banyak  sekali manausia di sana. Kehidupannya sangat kompleks. Boleh dibilang kehidupan disana adalah kehidupan gembel. Di sana ada emas. Ada perempuan hot dan pundut alias lonte. Ada brandy, wisky dan baram. Ada dadu gurak dan daun domino. Ada rumah video porno dan komplek liar. Pokoknya, ada bandar merejalela disana. Keras. Undas dan begundal berkumpul.  Klop dengan kilau emas yang sungguh menggoda.

Walau nyaris semua pemegang KTP di pendulangan beragama Islam, namun sayang tak satu pun yang terdengar mengaji. Tak sempat. Sibuk. Itulah alasannya. Faktanya? Karena begitu pagi mulai merekah, semua orang langsung pergi ke hutan memburu emas. Dan begitu gelap tiba, barulah mereka kembali ke pondok di kem untuk tidur. Sampai  akhirnya,   tak  ketahuan  seorang  pendulang mendadak sakit dan meninggal di pondok kem sewaktu ditinggal pergi.  Baru kematian itu diketahui setelah para pendulang kembali dari hutan. Hari sudah lepas magrib. Cuara sangat gelap berkabut. Badan sudah lemas semua. Apa kabar? Bingung orang se kem mendapat musibah itu.  Lebih bingung lagi, yang meninggal ternyata di KTP-nya bukan beragama Islam. Bagaimana ini? Bagaimana cara menyelesaikannya? Ini peristiwa langka. Nah lho, repot semua jadinya. Celaka!

Hari sudah kian malam. Hujan turun rintik-rintik. Polisi tidak ada didekat kem. Posisi kem benar-benar sangat terpencil diantara bebukitan dan hutan seram. Sementara yang mati juga tidak jelas asal-usulnya. Tak satu pun yang tahu juriat tutus si mayit. Disisi lain, si mati juga tidak pandai bergaul sebagai pendulang pendatang baru di sana. Buntutnya, belum sebulan menjadi pendulang, e..e..e.. malah mati tanpa basa-basi. Tapi bagaimana penyelesaian kasus ini? Semua serba bingung. Semua buntu. Serba susah. Serba salah. Padahal, mayat sudah kian membeku bagai bongkahan es.

Setelah runding punya runding, disimpulkan bahwa mayat harus segera dikuburkan malam itu juga. Kalau tidak, kapan lagi?  Bikin  repot saja. Kalau ditunda-tunda malah bisa bikin perkara baru. Jadi, mayat harus ditanam malam ini juga.

Secepatnya mayat digulung dengan tikar tidurnya. Selesai diikat, segera mayat diantar beramai-ramai seluruh penghuni kem  masuk hutan. Berjalan sekitar setengah jam, rombongan stop di tengah hutan yang dinggap cocok.  Segera liang lahat digali beberapa orang. Secepatnya tikar gulung bangkai diturunkan ke dalam lubang dan ditimbuni tanah lembab hutan belantara. Selepas ditimbun, serentak  mereka menjadi kebingungan. Ada apa? Pasalnya, tak satupun oknum wayang yang ikut malam itu yang tahu cara mendo’akannya.  Jangankan  mendoakan mayat lain agama. Diri sendiri saja tak tahu apa itu do’a. Do’a sapu jagat saja tidak pas kalau harus disuruh membacanya.  Buntutnya, terjadilah ketegangan di pusara basah itu seketika. Setelah berjalan beberapa saat, dead lock berhasil ditembus. Artinya, masih syukur ada seseorang yang punya nalar agak lebih disaat-saat paling kritis. Kesimpulannya, mayat dihibur saja dengan lagu yang relatif hafal semua. Setelah suara terbanyak mencapai kata sepakat, menyanyilah para wayang itu bersama-sama memecah keheningan malam buta. Koor mereka bagai pasukan bina vokalia.

Ini bukan penghinaan atau mengada-ada. Ini fakta yang baru sempat didokumentasikan. Ya. Begitu koor itu telah setengah jalan dalam menyanyikan Lagu Wajib Indonesia Raya:

“……….Bangunlah Jiwanya………

Bangunlah Badannya….,

Untuk…………….!”

Lari semua para pengantar jenazah ini meninggalkan pusara. Fikir mereka, siapa tahu mayat itu tiba-tiba bangun begitu mendengar lagu yang dilantunkan menyuruhnya bangun?  Siapa kira dia bisa bang­kit akibat lagu itu? Ih, siapa nyana dia jadi hantu? Kan bisa gawat.  Bisa celaka!

“Bagaimana, Kiyai? Apa saya berdosa berada disana malam itu?”, tanya Nanang mengakhiri ceriteranya. Halus suara itu menghiba.

Hanya berkerut dahi Kiyai Semar dibuatnya. Bingung orang tua itu  kelihatannya.

Kumai,  1 Juli  1996.

.

.

Babagongan 5

.

BACK TO BASIC

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Terdengar juga oleh Kiyai Semar tentang maraknya pemakaian istilah back to basic. Koran-koran begitu gencar memberitakannya. Majalah, tabloid dan buletin tak kalah seru memuat berbagai makna dan versinya. Apalagi akhir-akhir ini semakin banyak saja seminar, temu ilmiah dan fihak-fihak tertentu yang menggunakan sekaligus mempopuler kan istilah itu. Akibatnya, jadilah back to basic sebagai istilah baru yang sedang hangat dibibir. Sedang  ‘in’  kata  biak  anum.  Sedang nge-pop kata yang lain lagi.

Bagi Gus Dur, back to basic merupakan upaya sungguh-sungguh kembali ke khittah-26. Bagi para serdadu  juga punya  makna dan arti sendiri dalam rangka membina citra keprajuritannya.  Para ulama dan beberapa lapisan masyarakat juga ramai memakainya dengan cita rasa dan takaran masing-masing. Ujung-ujungnya,  Kanjeng Semar  malah jadi bingung untuk menemukan makna hakiki dari kalimat baru  bertuah itu.

“Menurut kamu, apa itu back to basic?”, tanya Bagong kepada tetangganya Misru’ yang baru sembuh dari sakit gila.

“Hah?”, tanya Misru’ bego. Maklum Misru’ Kumai terkenal pinpinbo.

“Iya-iya!  Back to basic itu apa?”

“Ooo!”, jawab Misru’ heran berkepanjangan. “Anuu…, anu…!”

“Kok anu-anu?”, tanya Bagong lagi, “apa dong, cepat?”

“Iya! Back to basic artinya?  Artinya, kalau asalnya gila, sekarang  waras, besok ya back to basic! Ya… gila lagi, hahaha…!”

“Jadi?”, tanya Bagong kurang percaya, back to basic itu besok gila  kembali alias ……?”

“Ya… tergantung dari mana kita mulai?”, jawab Misru’ mendadak  intelek mengandung tanya.

“Kalau begitu, back to basic sama dengan kumat?”

“Oooooooo….”.

Di sebuah masjid yang sedang ramai dengaan siswa Pesantren Kilat, lain lagi yang didengar Nala Gareng tentang back to basic.

“Back to basic artinya kembali kepada fitrah! Ringkasnya insaf, sadar, taubatan nasuha. Kembali jadi orang-baik-baik…!”, ujar sang ulama kilat menjawab pertanyaan seorang santri.

“Kalau begitu, sebelum back to basic kita harus gila duluan,  mabuk, sinting, teler, madat dulu ya?”, tanya seorang santriwan  ekspres  main-main.

“Iya dong!”, timpal seorang santri kilat lain yang lebih kilat lagi  atau  santri kilat khusus. “Harus itu!”

“Ya..bisa juga!”, jawab sang ulama ekspres mencoba demokratis.  “Tapi  kalau sebelumnya kita telah baik-baik, ya sebaiknya tidak perlu gila dulu agar bisa back to basic. Kan lebih indah kalau kita tetap fitrah sepanjang masa, begitu…!”

“Ooo…!”

“Tapi manusia mana yang tidak pernah khilaf? Coba? Makanya back to basic cukup baik buat kita semua. Insyaf kita, sadar kita!  Back to  basic kita…!”

Lalu apa yang didapat Petruk Onta dikelompok wayang yang lain  untuk istilah yang sama?

“Back to basic itu ya kembali ke kandang semula, Abah!”,  jelas Petruk kepada Abah Semar yang mengutus mereka  bertiga  beradik  untuk melacak arti dan makna back to basic. “Jadi kalau dulunya mereka hidup di Jakarta sebagai copet dan maling. Begitu gagal jadi transmigran di Despot Kutaringin karena tidak bisa bertani…, ya  mereka  akhirnya back to basic!  Ya kembali jadi maling!”

“Oooo!”, gumam Semar dengan senyum misterius.

“Kok, ooo? Apa abah sudah jelas?”, tanya Petruk datar.

“Astagfirullah hal adzim!”, kata Semar istigfar seraya  mengurut dadanya yang hitam.

“Memang kenapa, Bah?”, tanya Bagong keheranan begitu melihat Kiyai  Semar istigfar sambil terkaget-kaget.

“Iya, Bah, kenapa?”, timpal Nala Gareng  ikut heran.

“Jadi…., back to basic itu rupanya yang mencuri guci-guci antik dan sapundu nenek moyang Dayak Darat?”,  reka Semar bingung tak  pasti.

“Entahlah, Bah? “, jawab Petruk gampang untuk menghindar diri.

“Iya!”, celetuk Gareng santai. “Kan kita-kita bukan intel!”

“Tapi kalau saya dengar-dengar, kayaknya…..iya..!”, ucap Petruk  terputus dan bimbang.

“Dengar apa?”, tanya Semar mencegat dan bergairah.

“Itu, Bah!  Para trans itu, Bah.  Katanya selain mereka back to basic  di Kutaringin, mereka kabarnya juga back to basic ke tempat-tempat lain disekitar kita! Malah terakhir… mereka benar-benar akan back to basic ke Jakarta ke kandang asalnya. Katanya malah ada yang  sudah pergi segala…?!”

“Lha kok? Laa…., terus lahan pertanian mereka yang diberi pemerintah untuk digarap?”, tanya Bagong bingung.

“Ya dijual, dong!  Masa harus ditinggal begitu saja? Kan sayang kalau  tanah itu kembali jadi tanah ulayat Dayak Darat.  Tak sudi lah,  ya…?”

“Memang bisa tanah rakyat yang sudah dirampok pemerintah bisa dikembalikan kepada rakyat lagi?  Kan… Mas Atmo kepala BPN  sudah  bilang  kalau di Kalteng tidak dikenal tanah ulayat!  Semua  kan tanah pemerintah,  tanah negara!”

“Terus…, mereka back to Jakarta, mau apa?”, tanya Gareng sambil  memegang kuncirnya.

“Ya kamu…lagi!!”, cela Petruk Onta kepada saudaranya yang bego setengah linglung itu. “Ya back to begal!  Back to nyopet, dong!  Back to nJowo!  Kan Koes Plus sudah bikin lagunya segala….!”

“Kok bisa?”, potong Bagong heran.

“Iya!”, jawab Petruk cepat. “Kan lagu itu yang telah mereka nyanyikan beramai-ramai ketika menaiki tangga kapal  Bukit Raya di Pelabuhan Kumai! “

“Hah?”

“Iya! Ramai-ramai mereka koor “….Ke Jakarta aku kan kembali…. Walau pun apa yang  kan terjadi..!”

“Begitu, ya?”, tanya Semar pendek setengah hati.

Begitu laporan anak-anaknya telah lengkap diterima Kiyai Semar, pingsan lagi hamba Alaihi Salam  itu  ditengah   gubug  tuanya.  Dasar Semar cengeng! Mendengar berita begitu saja langsung terkena  alergi berat.  Huu..!

Kumai,  29  Juni  1996.

.

.

Babagongan 6

.

MANGUJUK  ANAK  WARIK

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Ribut para pemuda dan remaja Kampung Bawah Rangas akhir-akhir ini.  Apa pasal? Ternyata mereka sebagai OKP dan Ormas  Pemuda  yang bernaung dibawah Sentral Organisasi Pemuda Kampung (SORPEK) terlibat selisih pendapat dengan ketua umum. Kata pepatah bijak, beda  pendapat adalah rahmat. Benar pendapat itu kalau perbedaan hanya  masalah furu. Tapi kalau beda pendapat sudah mencapai atmosfir ruh, itu sudah perkara sangat gawat. Itu sudah perkara prinsip. Perkara asas. Perkara visi dan misi perjuangan. Itu sudah musibah namanya.

Ramai  para  ketua Ormas dan OKP mengumbar berita  di koran-koran untuk menggoyang ketua umum. Tak ketinggalan diperkuat  dengan aksi unjuk rasa dan aksi beber poster. Ada mimbar bebas dimana-mana. Riuh  rendah pawai penggusuran itu berlangsung. Isinya,  Ketua  Umum sudah menyimpang jauh dari alur konstistusi perjuangan. Dia  sudah ingkar dari janji-janji kampanyenya. Dia sudah bukan lagi ketua yang dapat  dipertanggung-jawabkan menurut AD/ART  organisasi. Pokoknya, dia sudah khianat secara nyata. Dia hanya mengincar kursi  semata-mata.

Meskipun aksi unjuk rasa dan unjuk berita berlangsung hingga berbulan-bulan, ternyata sang Ketua Umum tak tergoyahkan oleh hingar-bingar teriakan mayoritas anggotanya. Apa pula  sebabnya? Ternyata AD/ART hanya mengesahkan proses pengangkatan dan pemberhentian ketua umum melalui kongres, bukan ditentukan oleh unjuk  rasa. Lalu kenapa tuntutan kongres prematur juga gagal menyejukkan hati  aparat Kelurahan?  Olala! Ternyata Ketua Umum yang ada masih  yang terbaik dimata Batara Guru. Belum lagi karena alasan keamanan, alasan  sibuk dan alasan pendanaan yang belum tersedia. Artinya, Ketua yang  sudah ada  masih dibutuhkan oleh fihak Kelurahan. Artinya  pula, disaat orang ramai sedang gencar menyatakan pendapat dengan suara keras dan kampanye  terbuka yang cenderung brutal.  Sang Ketua  Umum ternyata  jauh lebih arif dan bijaksana. Dia nyatanya lebih memilih tenang dan pro kampanye  tertutup  dalam survival  tactic-nya.  Buktinya,  dia tenteram saja duduk di kursinya. So pasti satu kursi empuk di DPRD-K akan mulus jatuh ke pantatnya tahun depan. Makna lainnya? Dia dipan­dang masih lebih mampu bekerja sama dengan pemerintah daripada  yang  lainnya. Dia masih yang nomor satu dalam hal kemampuan mendengarkan bisikan sepi pemerintah daripada mayoritas kawan-kawannya. Dia lebih sejuk cara politiknya. Dia lebih mengayomi. Dia kenal betul tradisi dan tanah pijakannya. Dia tidak terjebak dengan slogan-slogan  semu demokrasi Barat. Dia memang anak bangsa ini.  Begitu kata mereka.

Merasa  aksi-aksi  mereka menemui jalan buntu, pusing para anggota  Ormas dan  OKP itu.  Salah sendiri,  kenapa berani-berani meludah ke atas? Kenapa coba-coba mengabaikan asas musyawarah untuk mufakat, mufakat dulu sebelum musyawarah, lalu musyawarah lagi untuk menuju mufakat? Coba? Kan rugi sendiri, toh?

Karena  sudah  kehabisan cara dan upaya. Karena  sudah habis akal-muakal. Pergilah para pemuda itu kepada Al Mukaram  Al Allamah Arif Billah Asy Sayyid  Semar  Alaihi Salam.  Pendek kata singkat ceritera.   Fahamlah  Semar akan duduk persoalan yang dilaporkan kepadanya. Kesimpulannya, Semar tidak  memihak  siapa-siapa dalam Kasus SORPEK  ini.  Namun  sebagai Sayyidul Ummah atau Mayoret Marching Band Pemda atau Dirijen Orkestra Anak Negeri, dia berkenan memberikan kenang-kenangan berupa  se­buah renungan. Hanya itu.  Karena cuma itu yang  dapat diberikannya sebagai  warga IDT. Lalu macam apakah mutiara hikmah  pemberian  Ki Ageng Semar? Intinya, jangan pakai kekerasan.  Solusinya? Ditariklah sebuah qiyas.

Di hutan rimba Tanjung Puting pernah terjadi hal serupa.  Tapi  kejadiannya  antara  sesama  Ormas dan OKP warik dari bangsa Kera.  Di hutan sana, terdapat seekor warik anak Batara Hanuman bernama Batara  Tarsius. Tarsius sangatlah betah tinggal disatu-satunya pohon sakti-subur-makmur-bagus-mewah-berbuah lebat pemberian ayahnya Abah Batara Hanuman  si Raja Kera. Hal ini sangat membuat iri warik-warik  alias kera-kera  lain yang tidak kebagian pohon.  Hasilnya,  si  Tarsius selalu diupayakan untuk diusir dari pohonnya. Terusannya, terjadilah usaha  kudeta  dan penggusuran besar-besaran. Caranya?  Segala cara terus  dilakukan. Misalnya, pohon syurga itu diguncang-guncang  oleh ratusan bahkan ribuan anggota Ormas dan OKP warik anum.  Hasilnya, si kecil  Tarsius  tidak juga jatuh dari pohonnya.  Malah  sebaliknya, warik itu semakin kokoh pelukannya kedahan pohon.  Gagal.

Pernah  pohon  itu ditebang oleh salah satu OKP,  tapi tetap saja pohon sakti itu berdiri lagi dan Tarsius tetap abadi diatasnya. Pernah  juga  disewa preman bernama Dewa Badai  untuk menghembus- kan angin  topan Tornado dan badai Helen, tapi tetap saja Tarsius  dapat bertahan. Sampai akhirnya, putus asa semua fihak yang terkait penggusuran.  Pusing semua. Lalu apa akal?  Tersenyumlah Dewi Bayu  lalu menawarkan  jasanya kepada mayoritas warik miskin yang sedang  sedih  bergeletakan di semak-semak di bawah pohon sakti Tarsius.

“Bagaimana caranya, Dewi Bayu?”, tanya anak Bekantan menghiba.

“Iya,  Dewi!  Tolonglah  kami ini!?”, seru  anak orangutan memohon  kasihan. Sungguh memelas suara pinta itu.

“Iya-iya,  baiklah!”,  jawab Dewi Bayu enteng.  “Tapi bekerja  sama  denganku ada syaratnya! Oke?”

“Oke!  Syaratnya apa dulu, cepat saja katakan?”, pinta anak beruk tak  sabar.

“Tapi setuju tidak?”

“Pasti kami setuju!”, janji kelompok anak lutung alias hirangan.

“Baik. Syaratnya, pertama. Hentikan semua aksi brutal. Hentikan aksi unjuk  rasa. Hentikan adu otot. Hentikan aksi  saling  hardik dan cemo’oh.  Faham?”

“Faham!”

“Kedua,  segera kembali keinduk organisasi masing-masing dan secara terbuka bersedia meminta maaf secara jantan. Dan ketiga, bersedia  menunggu hingga musim buah tahun depan!   Oke??”

“Oke  sih oke!  Tapi kenapa mesti menunggu kongres, eh  musim buah tahun depan segala?”, protes anak Owa-owa.

“Maaf-maaf!  Aku tidak butuh protes. Aku kesini cuma butuh bersedia apa tidak dengan segala syarat itu? Kalau tidak ya sudah! Aku tidak rugi. Aku cuma mau menolong kalian saja, titik!”

“Baik-baik! Kami setuju!!”, potong anak orangutan memangkas.

“Oke! Kita tunggu tahun depan! Daagg!”, ucap Dewi Bayu pamit pergi.

Lalu Dewi itupun pergi bersama angin. Gone with the wind!

Hari berganti,  bulan berlalu, sampailah kepada tahun yang dijanjikan. Sampailah masa musim buah yang sangat dihajatkan.  Dan  sampailah kehari yang sungguh diharapkan. Di siang itu, sungguh sebuah siang yang penuh deg-degan. Para warik gelandangan sudah gelisah tak sabar menunggu aksi kolusi halus mereka dengan Dewi Bayu siang ini. Namun demi janji, terpaksa mereka  mau  saja  pura-pura tidur di bawah pohon besar  Tarsius  yang  maha  bagus  dan menggiurkan. Sementara di atas, terlihat Tarsius  sedang  asyik  berat  santap siang dengan aneka-rupa  buah-buahan lezat di pohonnya. Selepas membantas atawa makan besar, Tarsius sekali  lagi kekenyangan.  Wow lezat, oi.

Difihak lain, Dewi Bayu sudah bermitra atau bersekongkol pula dengan Dewa Surya. Hari ini sebagai hari H pelaksanaan Kongres alias Persekongkolan Resmi merupakan hari yang dijanjikan.  Dewa Surya menjanjikannya sebagai hari yang paling panas. Hasilnya? Hari ini memang sangat panas   terik   sesuai  pesanan.  Akibatnya?     Begitu kekenyangan sedang dinikmati Tarsius dengan bersantai, perlahan-lahan satwa itu merasakan kepanasan  yang kian  bertambah-tambah. Gelisah kera kecil berkuasa itu kegerahan. Tepat disaat strategis sudah pas  hitungannya,  beraksilah Dewi Bayu dengan mengeluarkan keahliannya.  Hasilnya? Begitu  Dewi Bayu menghembuskan angin sejuknya yang semilir membelai-belai, seketika Tarsius yang telah dibuat kekenyangan dan kegerahan  merasa nyaman dan  rileks.  Selang beberapa menit kedepan, kontan Tarsius meresa sangat mengantuk. Menguap mulut satwa itu penuh kenikmatan. Tidak seberapa lama, tertidurlah dia dengan penuh kenyamanan.

Terus, begitu kenikmatan tidur lelap kekenyangan dibelai Dewi Bayu  telah mencapai titik klimaksnya, tiba-tiba  Tarsius terjatuh dengan sendirinya dari atas pohon. Olala. Rupanya tidur nyenyak telah  membuatnya  lupa akan pegangan. Dampaknya? Tanpa komando,  saat  itu juga  ramai-ramai para Ormas dan OKP yang pura-pura tidur menangkap Tarsius yang terjatuh. Segera mantan bos itu diamankan dengan  tuduhan KKN.  Dan karena tidak ada unsur kriminal  atau  tindak  pidana tampak didalamnya maka Kongres atau Persekongkolan Resmi itu mencapai sukses besar. Bravo Generasi Muda!  Viva Pemuda!  Hidup Kera!

Setelah   Tarsius   jatuh,   lalu  siapa yang pantas untuk naik  ke pohon ajaib itu? Ribut lagi warik-warik anum berebut untuk naik.  Ramai  lagi  banua akibat ulah anak bekantan, anak orangutan,  anak owa-owa, anak beruk, anak lutung dan anak warik bamban saling cakar-cakaran berebut pohon. Kelahi lagi mereka membuat huru-hara dan onar sambil hura-hura. Dasar anak warik! Dasar bangsa kera! Maunya berorganisasi apa kelahi? Apa memang begini yang namanya  organisasi modern post mufakat itu?

Kumai,  6  Juli  1996.

.

.

Babagongan 7

.

GENERASI PANANARUSNYA

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Suasana  Kampung  Bawah Rangas sudah reda suhu  politiknya. Kasus SORPEK  sudah dianggap selesai dengan naiknya  kembali  Ketua lama  dipucuk pimpinan. Tapi apakah  dinamika  kehidupan berhenti sampai  disitu?  Ternyata tidak! Buktinya, kembali  Ormas Pemuda  dan OKP yang ada membuat gebrakan yang cukup realistis  dan akademis.  Apa  itu?  Dengan bekal restu fihak Kelurahan  dan  restu Ketua Umum, digelarlah Seminar tentang Pemuda dan Kepemimpinan  Masa Depan. Intinya, ternyata masih banyak unsur dan oknum  pemuda  yang belum  puas  dengan didudukkannya ketua lama  sebagai  ketua  umum. Alasan  lain,  para  pemuda yang terangkum di ormas dan  OKP  belum sepenuh  hati  mampu menerima kalau hanya disebut  sebagai  pemimpin tukang  ribut atau pengguna setia pil koplo  semata.  Disisi lain, SORPEK  juga  memerlukan masukan darah segar untuk  memacu perkembangannya menyongsong abad-21.

Berbicaralah  para  cerdik pandai dari segenap negeri  dalam seminar  itu.  Ada akademisi, teknokrat. Ada resi, pembakal. Dan  ada pula  asykar  alias serdadu.  Kok  asykar  bicara  kepemimpinan, bukan tentang  perang?  Ya entahlah, sebab panitia yang menentukan  semua itu. Logikanya? Mudah saja. Otoritas berada ditangan panitia, titik.

Semua narasumber berbicara dalam topik yang sama, meski dalam kadar  dan tensi yang beragam. Masing-masing  memaparkan  pentingnya sistem kepemimpinan menurut versi masing-masing. Secara utuh,  kese­muanya  terangkum dalam pandangan Islam sebagai tariqat atau  pengakuan  keberagaman sudut pandang. Konsep asasinya tetap  sama,  yaitu kepemimpinan adalah fitrah Tuhan. Kepemimpinan adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Tapi bagaimana bentuk dan proses kepemimpinan?  Itu  yang menjadi bahasan seminar kali ini.  Itu yang sedang menjadi perdeba­tan.  Tapi  ingat, Pemimpin bagi Tuhan tidak sama  dengan  Penguasa. Karena  baginya, hanya Dia saja yang Maha Kuasa. Tidak ada  penguasa  lain selain  Dia, titik.  Maka kalau tetap  ada pemimpin yang mengaku  sebagai penguasa maka dia tidak lain adalah pencuri kekuasaan  Tuhan. Dia adalah maling, rampok dan begal yang sangat  nyata. Sangat jauh beda antara Pemimpin dan Penguasa.

Dalam sesi  tanya  jawab, terdengarlah  berbagai suara  dan  kepentingan.  Satu diantaranya bertutur: “Dalam  tragedi SORPEK”, kata seorang Ketua OKP, “itu memang  potret hitam-putih  kegagalan kami. Gambar bopeng wajah kami.  Tapi  untuk Ketua Umum   lama  yang  ternyata   duduk  kembali, kami tetap tidak dapat terima! Sebab dimata kami, kepemimpinan  Pak Ketua Umum  adalah  gagal bagi organisasi!”

“Gatot!”, teriak Ketua OKP yang lain tinggi, “gagal total!”

“Tapi kenapa kok Dia didudukkan kembali?”, tanya yang lain sengit.

Setelah moderator menyela, pertanyaan itu dijawab  narasumber dari kaki-tangan Kelurahan. Katanya datar:

“Kami  pun sependapat dengan Ketua-Ketua ORMAS dan  OKP tadi.   Dimata kami,  Ketua Umum SORPEK gagal total dalam kepemimpinannya. Tapi kok bisa jadi Ketua Umum lagi?  Pertama, tragedi SORPEK telah  menunjuk­kan bahwa ketua-ketua Ormas dan OKP hanya bisa berebut kepemimpinan daripada jadi Pemimpin. Buktinya? Begitu jabatan Ketua Umum lowong, yang  ada  cuma cakar-cakaran semata! Bagi Kelurahan, ini  sangat berbahaya. Apalagi ini menjelang Perang Baratayudha  tahun  depan. Artinya, Ketua lama masih layak untuk diangkat kembali untuk sementara waktu. Ringkasnya, dia kita akui gagal total dalam  kepemimpi­nan terdahulu. Namun meskipun demikian, tenaganya masih kita butuh­kan  untuk  memimpin SORPEK beberapa tahun mendatang.  Ya…sambil menunggu  lahirnya Tokoh Pemimpin SORPEK yang baru dan lebih  baik. Disamping itu, apa salahnya kita memberikan kesempatan sekali  lagi kepada  beliau untuk berkarya lebih baik. Semoga sang  ketua  dapat memetik pelajaran dari pengalaman terdahulu. Hanya soal waktu  saja masalahnya.  Siapa tahu kader-kader yang ada sudah  semakin  dewasa  dalam masa penantian itu.  Sekian!”

Muncul kesimpulan dan satire lain di forum itu:

“Kalau  demikian,  kegagalan  bukan berarti  akhir sebuah  jabatan. Maknanya, meskipun Marcos dipandang gagal dan korup dalam  kepemimpinannya, dia tetap saja dibutuhkan  sebagai  Maskot Philipina. Bagaimana bencinya  orang  sedunia  terhadap  kepemimpinannya,  toh terus saja Fidel Castro dibutuhkan negerinya sebagai Maskot Negara Kuba.  Tetap saja Semar Maskot Punakawan, meskipun  beliau dikenal  sebagai pemimpin droping yang dipaksakan untuk menjadi pemain dalam  percaturan dunia pewayangan. Tetap saja Paduka Raja  Sultan  dari Dinasti Bolkiah sebagai maskot Brunei Darussalam, walau  bagaimana juga omongan orang. Terus saja orangutan menjadi Maskot Kotawaringin Barat meskipun cukup banyak alternatif  lain yang dapat dipilih.  Apa  ini  berarti kepemimpinan abadi, gitu?  Lalu  mana  dong  suksesi  itu?”

“Yes, hidup Hitler! Jerman memang uber alles!!”, sela seseorang.

Pendapat itu memperoleh tanggapan panelis ahli lainnya:

“Benar saja pendapat semua itu! Namun sisi pandang lain juga  pantas kita perhatikan. Contoh konkritnya, kita punya tragedi SORPEK  yang sangat memalukan. Seluruh Ormas dan OKP setuju ketua umum  diganti. Kepemimpinannya  dinilai gagal. Semua sependapat. Tapi apa  jadinya dengan  suksesi gaya beber poster dan unjuk rasa itu?  Begitu  ketua umum  mundur atau dimundurkan, mana itu pemimpin yang  lebih baik?  Coba  jawab? Kan tidak ada buktinya. Non sense!  Yang  terbukti  kan cuma  cakar-cakaran rebutan kedudukan sampai berlarut-larut.  Kalau terus  dibiarkan,  pasti kelahi terus sampai bungkuk dan  beranak-cucu?! Kacau kampung ditangan pemuda.”

“Ya!”,  sindir  seorang cecunguk OKP bernada sinis serius.  “Kalau  keadaan terus seperti  sekarang, kesinambungan kepemimpinan sama dengan keabadian bagi seorang komandan. Singkatnya, kami sebagai  generasi penerus akan terus menjadi generasi nunggu terus. Yang  jadi  Ketua, terus saja jadi generasi terus menerus. Sedangkan yang paling bawah atawa  anggota, selamanya sebagai generasi tak  terurus!! Memang susah jadi yang paling kurus. Sebab kebanyakan pemuda akhir abad 20 ini kegemukan sehingga sulit sekali mencari  pengurus untuk  duduk jadi pengurus!!”

“Heh!  Apatis sekali kamu?!”, cela seorang Ketua OKP yang  merangkap  sebagai Abdi Dalam Kelurahan.

“Ho-oh!”, jawab ketua ormas lain. “Habis serba salah sih? Ada suksesi,  salah!  Tidak diadakan malah lebih salah!  Nanti  bisa  dikira komunis segala, ih!  Masih untung cuma dicap ormas papan nama saja. Tapi gimana, dong?”

“Ambil  saja jalan tengah!”, celetuk Ketua OKP yang lain.  Maka  pas pula yang bicara seorang wanita Ketua Ormas Perempuan.

“Ya  jelas  ambil jalan tengah dong kalau yang menyarankan  seorang gadis  cantik macam sampeyan!”, celah yang lain sambil  menunjukkan tingkat kebuayaannya, “Perempuan kan nyuruhnya menuju yang ditengah saja!  Sebab kalau menuju yang lain kan bisa haram hukumnya!”

“Ya… jangan porno, dong!!”, bantah seorang utusan daerah.

“Iya, nih!  Senangnya  kok  saru!”

“Saya kira tidak juga! Paling yang dimaksud adalah yang paling aman, gitu! Yang aman memang ambil jalan tengah.  Kanan-kiri oke, gitu!”

“Ya, benar itu!”

“Tapi bagaimana kalau jalan tengah itu berarti munafik atau plintat-plintut atau tidak berpendirian?”

“Ya repot, dong!”

“Repot gimana?”

“Jelas  repot sekali! Coba fikir! Dikira perempuan, eh… ternyata lelaki. Kan tidak bisa dipakai. Kita kan bukan hombreng!  Kita  ini asli,  lho!  Jadi kita tidak bisa AC-DC. Mana mau kita  sama  wadam alias bancir alias bencong! Amit-amit!!”

“Iya, ya! Biar cantik kaya Sherly tapi kalau jenis kelaminnya  laki-laki,  kan tidak jalan!”

“Ya repot, ya?”

“Terus gimana?”

“Ya teruskan sendiri! Sesuaikan saja dengan falsafah hidup berbangsa dan bernegara di kelurahan masing-masing!”

Dari luar forum, Kiyai Semar dan ketiga anaknya cuma tersenyum getir mencium angin besar yang sedang berhembus dikampungnya.  Angin Barat rupanya  angin politik yang sedang  menerpa kencang.  Allahu Akbar!  Semar hanya mampu termangu-mangu dipelataran  politik  tanah  air  ini!

Kumai, 28 Juli 1996.

.

Babagongan 8

.

K A P S T O K

Oleh : SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Kampung Tingang memang kampung yang terbilang dinamis. Buktinya, seluruh lapisan masyarakat turut aktif dalam proses pembangunan negeri.  Jangan tanya soal aktifitas generasi  mudanya. Orang-orang anum kampung itu tak kalah bersemangat  dalam mengisi  pembangunan  bangsa. Malah  karena terlalu bersemangatnya,  timbul buah bibir minus tentang oknum orang anum yang dinilai terlalu   aktif  dalam menggeluti pembangunan ini. Buktinya? Simak saja dialog bebas yang terdengar dibilik ini disiang yang mendung.

“Biarkan saja!  Itu  kan hak asasi warganegara!”, jawab Gareng acuh  bangat.

“Iya. Hak asasi sih iya! Tapi sebagai orang Timur, sopan santun kan perlu dipertimbangkan!?  Masa disemua  organisasi  masuk sebagai  pengurus? Sepuluh organisasi, sepuluh jabatan yang dipegang?!”,  bantah Petruk.

“Itu namanya kepercayaan! Jabatan adalah kepercayaan, Om..! Kamu iri ya tidak dapat kepercayaan seperti dia?”, sindir  Bagong  sinis.

“Kepercayan  apa? Iri bagaimana? Ini sih namanya  aji mumpung! Kaji tampulu, Julak ai! Mumpung Abahnya  masih  jadi  pejabat   anu!     Tampulu   babe masih  jadi  Dewa Anu di Kelurahan  Anu!  Huh…..?”, cibir  Gareng bernada syirik.

“Kalau dia dipandang cakap dan mampu?  Apa  Kakang tetap iri juga, hah?”, celoteh Bagong menggoda.

“Buat apa? Asal sportif saja. Siratal mustakim, gitu! Oke-oke saja! Namun  perlu dicatat, tanpa organisasi apa pun,  aku  masih tetap hidup, kan?”

“La, kalau tidak iri, coba tolong jangan usil dengan aktifitas orang lain, dong!”, seru Nala Gareng kalam sopan bernada menasehati, “Siapa tahu dia benar-benar berorganisasi dalam rangka beribadah!  Kan dosa berprasangka buruk  kepada orang lain!?”

“Ini  bukan prasangka, Dik! Saya hanya mempermasalahkan pantas  apa tidak?   Dan lagi, di banua ini kan bukan cuma dia saja yang  pandai berorganisasi. Asas pemerataan dong difikirkan?”, kilah Petruk  tak mau kalah.

“Pantas,  bagaimana? Atau pemerataan model apa, Kang?” tanya Bagong  serius.

“Begini,  Gong!”,  jawab Petruk antusias. “Pantas apa tidak satu orang memegang semua kepengurusan organisasi yang ada di banua,  padahal di banua cukup banyak pemuda lain yang cakap untuk itu? Kedua,  apa  pantas hal itu dilakukan seorang wanita? Wanita, Dik?  Coba fikir? Kapan dia sempat jadi pengurus yang baik bagi sepuluh organisasi itu kalau  dalam satu minggu cuma  ada tujuh hari? Kapan? Dan kapan pula dia sempat belajar jadi  calon istri atau  calon  ibu  yang baik kalau dia sudah ekstra sibuk  begitu?  Kapan?”

“Ya  kapan-kapan!”

“Apa  ini  tidak mengundang tanda tanya?”, tanya Petruk  kian sinis  serius.  “Apa ini tidak sekedar menumpuk jabatan untuk tujuan politis tertentu?”

“Maksudnya?”

“Iya! Bisa saja dia berorganisasi sebanyak mungkin hanya untuk batu loncatan menjadi Caleg!?  Ini kan namanya Galeg Hunter?  Atau, bisa saja  dia begitu untuk sebanyak mungkin mencari kesempatan ke luar daerah  demi  uang  perjalanan yang lumayan? Kalau  sudah  begini, dimana  dong letak terminologi ikhlas dan lillahi  ta’ala-nya?  Kan repot kalau kegiatan ibadah sudah dipolitisir?”

“Tapi  kan masih wajar!”, bantah Gareng permisif. “Itu kan imbalan yang  setimpal bagi kerja  keras  yang dilakukannya  tak kenal  waktu…?!”

“Meski dia seorang wanita?”, tanya Petruk nyinyir.

“Emansipasi, toh?”, jawab Gareng padat.

“La…, pria mau dikemanakan?”

“Ya….  jadi Bapak Rumah Tangga!”, potong Bagong cepat. “Kan tidak  salah?”

“Sori saja!  Itu  salah fatal!   Sangat salah sekali!  Keliru  besar kalau  kita menempatkan wanita sebagai saingan  pria  dalam kata  emansipasi!  Pria itu mitra wanita,  bukan musuh!”

“Boleh juga!?”, jawab Bagong ragu.

“Iya!  Sesuaikan dong dengan fitrahnya!”, jawab Petruk agamis. “Dan sebaiknya  wanita itu lebih proporsional kalau banyak belajar  di rumah.  Sebab apa?  Sebab wanita adalah ibu rumah tangga yang menjadi  penyejuk hati suami dan anak-anaknya!!”

“Lalu,  sejak tadi ngobrol ngalor-ngidul kahulu-kahilir,  yang  jadi sasaran protes siapa?”, tanya Bagong tak faham.

“Fikir, dong?  Jangan suka enaknya saja!”

“Tahu, ah!  Buat apa repot-repot mikir! Kasih tahu, dong?”.

“Oooo..,  telmi ya kamu, Boncel?”, cibir Gareng. “Siapa lagi  kalau bukan  si  Nyai Siang-Malam. Kan Petruk sentimen  berat kepadanya!  Maklum cintanya ditolak mentah-mentah!?”

“Sori berat!”, bantah Petruk keras mau memukul Gareng.

“Et-et!”,  sahut Bagong tangkas seraya cepat-cepat melompat menjadi  penengah.  “Diskusi cukup sampai disini saja!  Sebagai penutup, kita harus segera menarik kesimpulan yang  baik!  Jadi, kesimpulannya bukan berkelahi, dong, oke?”

“Oke!”

“Baik!”

“Kalau begitu, kesimpulannya?”

“Namakan  saja  gadis  yang kita  permasalahkan  itu sebagai    gadis    kapstok! Dan     cantolkan atau gantungkan atau sampirkan saja  semua baju organisasi kepundaknya!”,  usul Petruk merengut.

“Boleh.  Asal  jangan ada unsur sentimen  pribadi dalam kesimpulan  itu”, kata Gareng bernada damai.

“Bagus!  Ini baru kesimpulan yang manusiawi sekaligus Indonesiawi!  Dengan begitu maka perang saudara dapat dihindari!”, potong  Bagong cepat seraya mendinginkan suasana.

“Hehe!”

Apa iya? Entahlah!

Kumai,  31 Oktober 1996.

WADIAN DADAS (Sebuah Kearifan Lokal)

WADIAN DADAS

SUKU DAYAK DUSUN WITU MA’AI BERKISAH TENTANG NABI MUHAMMAD

(Sebuah Akulturasi Budaya dan Kearifan Lokal Suku Dusun di Desa Kalahien)

Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

WADIAN DADAS

PENGANTAR

Pemerintah RI dibawah Presiden Dr. Soesilo Bambang Yudhoyono, dalam hal ini Menteri Syaifullah Yusuf (2005) telah mengklasifikasi Kabupaten Barito Selatan sebagai Kabupaten Induk Tertinggal di Indonesia. Meski masuk jajaran “termiskin” di Indonesia tetapi Kabupaten Barito Selatan bukanlah daerah minus.  Justru sebaliknya,  kemiskinan yang dialami bukanlah miskin tanpa kekayaan, malah miskin didalam kekayaan.  Hanya saja kekayaan yang ada belum mampu membuat penduduknya kaya. Bak kata pepatah usang, “ayam mati di lumbung padi”.  Realitas seperti ini, apakah miskin karena takdir atau miskin karena memang ada unsur lainnya (?)

Walau menyandang Kabupaten Induk Termiskin di Indonesia tetapi Kabupaten Barito Selatan justru memiliki satu keunggulan menonjol, yaitu “Tidak Merasa Miskin.” Buktinya, kemiskinan struktural yang menjepit, tidak mematikan rakyat untuk tetap berbudaya.   Dan salah satu bentuk budaya miskin tapi kaya tersebut adalah mengejawantahkan Hikayat Wadian Dadas kedalam Seni Tari Akulturatif yang kian berkembang. Tidak tanggung-tanggung, ternyata orang Dayak Dusun Witu yang beragama nenek moyang: “Kaharingan”, yang berdomisili di desa miskin: “Kalahien”,  yang sama sekali tidak mengerti Islam, ternyata mempunyai kisah tersendiri tentang Nabi Muhammad, nabinya orang Islam. Dan anehnya lagi, kisah Nabi Muhammad tersebut merupakan dasar tari tradisional yang sangat terkenal: “Wadian Dadas”.  Maka untuk mengetahui hikayat Wadian Dadas versi Suku Dayak Dusun Witu  itu,  simaklah buku sederhana ini.  Selamat menyimak.

Buntok,  14  Oktober  2005

MENELUSURI AKAR SEJARAH

Kalimantan Negeri Dayak yang Sejati

Kalimantan bagian tengah dan selatan atau Tanah Dayak Besar adalah  negeri  merdeka  orang-orang Dayak yang aman, makmur dan sejahtera. “Ch.  F.H.  Dumont sebagaimana dikutip Tjilik Riwut menyebutkan bahwa orang-orang Dayak ialah penduduk pulau Kalimantan yang sejati. Sejak dahulu mereka ini mendiami seantero pulau Kalimantan, mulai dari sepanjang daerah pesisir hingga  kesebelah darat  atau pedalaman. Akan tetapi tatkala orang-orang Melayu dari Sumatera  dan Tanah Semenanjung Malaka datang ke sini, terdesaklah orang-orang Dayak itu lalu mundur, bertambah lama bertambah jauh  ke sebelah darat pulau Kalimantan. Selain dari pada orang Melayu, telah datang pula orang Bugis dan Makassar mendiami pantai timur dan pantai barat pulau Kalimantan. Demikian pula orang Jawa telah datang  semasa kerajaan Majapahit.  Dan orang asing yang datang di Kalimantan sebelah barat yaitu orang Tionghoa.”*1)

Komunitas Dayak sudah hidup di pesisir sebelum tahun 700 Masehi.  Pada sekitar tahun 700 M orang Dayak pesisir mendapatkan “gangguan” dari Suku Melayu Sumatera yang mengakibatkan orang-orang Dayak harus “diusir” dari tanah nenek moyangnya.  Sebagian orang Dayak lari ke pedalaman dan sebagian lagi bermigrasi ke negara lain. Bukti menunjukkan, suku Dayak Ma’anyan sebagian harus lari sampai ke Madagaskar dengan  perahu  jukung*2).   Baru  pada  abad  ke-13  orang  Jawa  dari  Jawa Timur datang menebarkan penderitaan baru bagi orang Dayak. “Sejak tahun 1200 Kalimantan merupakan salah satu daerah jajahan Kediri”.  Ini menurut berita China, sehingga rombongan Empu Jatmika   dari   Keling   yang   bermigrasi   itu  adalah   “transmigran”  sekaligus  “penakluk”*3)  negeri-negeri orang.

Meneliti dan menelusuri sejarah Dayak memang memiliki kesulitan tersendiri karena orang Dayak tidak mengenal tulisan.  Tulisan yang ada sejak zaman dahulu hanyalah berupa “tanda-tanda atau sandi” yang disebut Patuk Bakaka atau Tetek Bakaka. Data sejarah yang diperoleh hanya bersumber dari ceritera turun-temurun dari mulut ke mulut, yang oleh Antropolog Amerika Serikat A.B. Hudson disebut sebagai Traditional His­tory. Dan dua traditional history yang dikenal dikalangan Bangsa Dayak yang hidup di Pulau Kalimantan bagian tengah dan selatan adalah Tetek Tatum di kalangan suku Dayak Ngaju dan Ot Danum serta Taliwakas dikalangan suku Dayak Ma’anyan (dan Dusun).

Didalam  Tetek  Tatum dijumpai  keterangan banyak sekali kerajaan orang  Dayak  yang terdapat pada setiap pemukiman mereka. Setiap kerajaan  itu dijumpai seorang pemimpin  dari mereka.  Dan dengan  jelas  juga disebutkan bahwa Murung  yang sekarang  dikenal sebagai  Ujung  Murung (Banjarmasin?) adalah tempat  kediaman dan kerajaan  milik  suku Dayak Ngaju. Tetapi dalam tetek Tatum tidak dijumpai ceritera pertempuran dengan Majapahit atau kebudayaan Hindu sehingga realitas ini agak  berbeda dengan yang dialami oleh  suku  Dayak  Ma’anyan  Nan  Sarunai.*4)

Jauh  sebelum  Majapahit  menjajah kerajaan orang Dayak Ma’anyan (abad  XIV), suku ini sudah merasakan bagaimana sakitnya dijajah oleh bangsa asing dari Sumatera (Melayu) sehingga sejak abad VII mereka  sudah harus melarikan diri ke pedalaman Kalimantan. Sebagian  pelarian bukan saja hijrah ke pedalaman Kalimantan tetapi justru mengungsi ke Madagaskar dengan mempergunakan perahu  jukung. Rombongan dikabarkan sempat mampir di beberapa tempat seperti  Pulau Bangka  di dekat Sumatera.

Akibat pengungsian ini maka jadilah orang-orang Dayak Ma’anyan sebagai penduduk pertama  di  kepulauan tersebut sehingga tidak mengherankan apabila bahasa Madagaskar memiliki kemiripan dengan bahasa  Ma’anyan.*5)

Meski  kebanyakan  tanah Dayak mendapatkan pengaruh luas agama dan kebudayaan Hindu, tetapi “menurut Korm, di daerah Kapuas pada mata air Takarak  terpahat pada dinding lukisan-lukisan  aksara  Pallawa dari masa yang lebih muda,  berisi kalimat-kalimat kepercayaan  agama  Buddha dan amsal-amsal suci lain dengan maksud yang serupa”.*6)  Dengan demikian maka daerah ini telah pula dipengaruhi oleh kebudayaan dan agama Buddha sehingga agama asli Dayak yang berintikan kepercayaan dinamisme-animisme lokal, secara pasti telah mengalami proses akulturasi panjang dengan datangnya agama-agama baru dari seberang.

 

BERDIRINYA KERAJAAN BANJAR

 

Akhir Kerajaan Nan Sarunai, Awal Kerajaan Banjar

Banjarmasin Post, Kamis, 5 Agustus 1993,  berjudul: “Apa  Dibalik Candi Agung” oleh Attabranie Kasuma, menye­butkan bahwa “di daerah Candi Agung sebelum kekuasaan Ampu Jatmika paling sedikit ada tiga kerajaan, yaitu Kerajaan Nan Sarunai, Negeri Gagelang dan Kuripan.” Namun untuk menyebut pulau Borneo secara keseluruhan, berdasarkan peta zaman Belanda yang dibuat tahun 1938, Negara Kalimantan disebut sebagai Tanjung Negara, artinya Negara yang menjulur ke laut.  Dan Pahlawan Nasional asal Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut, menulis “istilah Tanjung Negara adalah nama yang dikenal sejak masa kejayaan Kerajaan Majapahit.”SUMBER PENULISAN

 

Catatan kaki:

*1) Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depdikbud  Sejarah Daerah Kalimantan Tengah, 1977/1978, halaman 8.

*2) Banjarmasin Post, Minggu 17 September 2000 halaman 4.

*3)    Tjilik  Riwut :  KALIMANTAN  MEMBANGUN,  Alam  dan Kebudayaan,  PT. Tiara Wacana, Yogyakarta

*4)   Sejarah Daerah Kalimantan Tengah, Ibid, halaman 66.

*5)    Banjarmasin Post, Minggu, 17 September 2000, Resensi: Mengenal Jukung Lebih Dekat (Erik Petersen).

*6)    Tjilik  Riwut :  KALIMANTAN  MEMBANGUN,  Alam  dan Kebudayaan,  PT. Tiara Wacana, Yogyakarta, Halaman 88 (mengutip Zafry  Zam zam:  MENCARI  KEPRIBADIAN  SENDIRI).

*7)    Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah: “SEJARAH DAERAH KALIMANTAN TENGAH”, 1997/1998, halaman 7.

*8)    Jawa yang dimaksud bukan ditujukan untuk mendiskreditkan suatu suku bangsa secara umum tetapi ditekankan kepada “rezim”  pada era tertentu.

*9) Banjarmasin Post, Kamis, 5 Agustus 1993.

*10)  Kalteng Pos, Palangka Raya, Selasa, 30 Maret 1999  menyebutkan bahwa “Rombongan serdadu Belanda  (Marsose) menyerang Candi Agung Amuntai  dan  membakar  sekitar  100 buah rumah di Murung Kaliwen. Dinamika Berita, Banjarmasin, Senin, 5 April 1999 menuturkan pembakaran Candi Agung tersebut dengan mengutip ratap tangis sejati  Taliwakas yang berbunyi: “Kaliwen  haut galis  rakit apui.  Murung Mangis jarah sia tutung. Wuwungan jatuh galis  jari awu.  Rampan ribu jarah janang inu”.

*11)  Tjilik Riwut, ibid,  halaman 88-89.

12) Tjilik Riwut, Op.cit, halaman 117.

*13) Jawa Pos, Jum’at 12 Juli 1991

*14)  Banjarmasin Post, Rabu 18 Jui 2003.

*15)  Tabloid Bebas, No. 092, 7-13 Maret 2001, hlm 5.

*16) Tabloid Bebas, No. 092, 7-13 Maret 2001, hlm 5.

*17) Tablid Bebas, No. 093, 14-20 Maret 2001, hlm  4.

A. WAWANCARA di Buntok, 1 Desember 2005 Pukul 09.30 WIB

NARA SUMBER UTAMA:  MAKEI  DAMON

DICERITERAKAN  KEMBALI OLEH :  SAITEN  R. NATU

SANGGAR TARI “IRING WITU” BUNTOK  Pimpinan: MUANDI (Ambah Ucan)

B. KEPUSTAKAAN

 

1.   Tjilik  Riwut,   “KALIMANTAN  MEMBANGUN”, Alam  dan  Kebudayaan, Penerbit PT. Tiara Wacana, Yogyakarta, 1993.

2.   Proyek  Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan  Daerah Depdikbud, “SEJARAH DAERAH KALIMANTAN TENGAH”, 1977/1978.

3.   Marwati Djoened Poesponegoro  dan  Nugroho Notosusanto: “SEJARAH NASIONAL INDONESIA III”, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Penerbit  PN Balai Pustaka,  Jakarta,  1984.

4.   Monografi Daerah Kalimantan Tengah.

5.   Harian Banjarmasin Post, Minggu, 17 September 2000.

6.   Harian Banjarmasin Post, Kamis, 5 Agustus 1993.

7.   Harian Kalteng Pos, Selasa, 30 Maret 1999.

8.   Harian Dinamika Berita, Senin, 5 April 1999.

9.   Harian Jawa Pos, 12 Juli 1991.

10. Tabloid mingguan Bebas, No. 092,  7-13 Maret 2001.

11. Tabloid mingguan Bebas, No. 093, 14-20 Maret 2001.

12. Tabloid mingguan Bebas, No. 094, 21-27 Maret 2001.

13. Harian Banjarmasin Post, Rabu, 18 Juni  2003.

14.  Sinopsis-sinopsis.


WAYANG KALIMANTAN TENGAH (BAGIAN PERTAMA)

WAYANG KALIMANTAN TENGAH

.

Judul Utama

.

PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR

 

.

Oleh

Syamsuddin Rudiannoor

 

.

.

KATA PENGANTAR

Bulan Januari 2001 saya tercatat sebagai PNS pendatang baru di Pemda Kabupaten Barito Selatan dan ditempatkan di dinas baru pula yaitu  Dinas Informasi, Komunikasi dan Pariwisata Kabupaten Barito Selatan. Kenapa pendatang baru?  Sebab saya baru pindah bulan itu setelah 3,5 tahun sebagai PNS pada Dinas Pariwisata Propinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya  dan  8,5 tahun sebagai PNS Pemda Kabupaten Kotawaringin Barat di Pangkalan Bun.

Suatu hari Sabtu pertengahan Januari 2001, saya bertemu dengan Amang Nain (Kurnain  Apa’ Rama, PNS pada Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Barito Selatan) di perempatan Jalan Patianom – Uria Mapas – Panglima Batur, Buntok.  Apa yang terjadi?  Beliau menanyakan kedatangan saya. Saya jawab bahwa saya sudah pindah ke Buntok dan ditempatkan di Dinas Informasi, Komunikasi dan Pariwisata Kabupaten Barito Selatan.  Beliau tampak gembira dan menyampaikan harapan.  Katanya: “Bagus beh Ikau pindah! Mudah-mudahan Ikau kawa maangkat kesenian daerah itah!”   Menyadari harapan itu, saya jadi terkenang masa lalu dengan beliau. Apa itu?  Dalam  Riwayat  Lahirnya Babagongan, saya menyebut  lahirnya  2 Dalang lokal Buntok, yaitu Kai  Pa’ Baer (Kumis Saililah) dan Julak Pa’ Anen (Juri).  Kedua orang ini adalah  dalang pertama  dan generasi perdana yang saya tahu pernah dimiliki Buntok.  Setelah itu, barulah saya menyadari bahwa akan muncul lagi dalang baru atau generasi kedua dibelakangnya. Dalang baru itu tiada lain adalah Kurnain atau Amang Nain. Saya pernah melihat beliau magang dalang, berlatih memainkan saron, kangkanong dan gendang. Tapi sayangnya, saya tidak pernah tahu lagi dimana raibnya segala perangkat pewayangan itu pasca periode Amang Nain?  Seingat saya, Buntok pernah punya itu semua, tapi saya tidak tahu dimana semuanya sekarang.

Kalau Ki Dalang Kai Pa’ Baer dan Julak Pa’ Anen  saya pernah menyaksikan pertunjukannya.  Tapi khusus Amang Nain, saya belum pernah melihat keahlian beliau dilapangan. Makanya saya jadi ragu apakah Amang Nain pernah sempat lahir sebagai dalang atau belum? Agaknya, perubahan zaman telah mematikan kreativitas pe­wayangan di daerah ini.  Harapan saya, semoga sisa-sisa budaya wayang yang pernah ada itu dapat ditelusuri kembali keberadaannya, minimal dapat dikenang sebagai sebuah nostalgia yang indah.  Disisi lain, saya sebagai orang keempat dibelakang Amang Nain,  untuk sementara hanya mampu mengenang dan memainkan wayang Buntok itu sebatas melalui Babagongan ini saja.  Cuma ini daya upaya saya yang ada.

Wayang Buntok kali ini membawakan lalakun Wayang Kalimantan Tengah dengan judul: “PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR”. Tampilan ini merupakan kumpulan Babagongan  Seri  Pertama hingga Keenam, yang tentu saja akan diikuti dengan Babagongan seri berikutnya. Harapan saya, semoga karya ini bermanfaat adanya.

Diakhir pengantar ini disampaikan pengakuan jujur bahwa beberapa judul dari sekian banyak judul babagongan merupakan pengaruh langsung dari EMHA AINUN NADJIB tatkala beliau memberikan ceramah pada Pengajian Umum Cendekiawan Muslim Al Falah Surabaya pada hari Ahad, 28 Pebruari 1988 dengan tema: “ASPIRASI POLITIK UMMAT ISLAM INDONESIA DAN  REALISASINYA  DALAM KURUN WAKTU DUA PULUH TAHUN TERAKHIR”.

Terima kasih.

Buntok, 30  Mei  2002

Ki Dalang

SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

 

 

 

.

.

.

RIWAYAT LAHIRNYA BABAGONGAN

Antara tahun 1968 sampai 1975, Buntok masih kota sangat kecil yang sederhana. Kala itu sarana informasi rakyat yang paling moderen baru  berupa pesawat radio dan sedikit tape  recorder.  Tidak  ada pesawat televisi.  Listrik masih belum PLN.  Mobil masih tidak  ada. Sepeda  motor  termasuk vesva masih berbilang jari. Siaran RRI merupakan siaran idola seluruh rakyat.  Dus, dalam suasana seperti itu, tumbuhlah  saya sebagai seorang anak bawang berusia  5  sampai  12 tahun.

Dalam  kebersahajaan hidup Buntok tahun-tahun tersebut,  terkenanglah saya  akan  jasa almarhumah nenek  saya  Jawiah. Kenapa demikian? Karena dari mulut tua beliau, saya mendengar secara berulang-ulang  banyak kisah atau ceritera rakyat yang cukup variatif pokok  bahasannya. Pendeknya, ada ceritera kancil dan pak tani.  Ada kisah kura-kura dan burung pelatuk. Ada Sangumang dan keluarganya. Ada kisah Batara Gangga. Ada ceritera Supak dan Gantang.  Dan yang terakhir saya ingat adalah kisah lucu yang beliau namakan Babagongan  atau  Wayang Epat.

Kembali  ke suasana Buntok tahun 1968-1975, hiburan   rakyat   yang  hidup  kala itu  adalah musik-musik RRI  plus sedikit seni  tradisional.  Dan salah satu seni tradisi itu adalah  pagelaran  pentas wayang kulit. Terus, wayang kulit yang dimaksud adalah Wayang Banjar (atau  wayang Jawa yang dimainkan oleh orang Banjar (?)).  Pendek kata, seni yang dominan dimainkan di pahuluan Barito kala itu adalah seni pesisir yang dibawa orang Banjar.  Sampai kemudian, tercatat ada dua orang lokal yang berhasil menyalin kaji dan menjadi  dadalang wayang Banjar (yaitu Kai Pa’ Baer atau Haji Kumis Saililah dan  Julak Pa’ Anen alias Juri), meski pun kualitasnya terbilang prematur bila harus tega dibandingkan dengan dalang Jawa atau Paguruannya dari  Banjar.  Namun  anehnya, justru kelahiran prematur dalang  Buntok  berikut kualitasnya  yang diragukan, malah melahirkan wayang baru  yang tak kalah unik, minimal setelah kisah wayang itu dituturkan kembali oleh nenek saya Jawiah  kepada  saya  sebagai  cucunya.

Ilustrasinya mungkin begini.  Ketika wayang asli atau  wayang India  (berhasil dan atau gagal) diadopsi orang  Jawa,  orang  Jawa menciptakan wayang baru yang sesuai dengan kejawaannya.  Oleh karena itu,  tidak heran kalau kemudian wayang asli mendapat anggota baru (putera  daerah Jawa) seperti Wisanggeni, Ontoseno sampai  Punakawan alias Kiyai Semar dan anak-anaknya. Meskipun skenario ceritera tetap kisah India sejati  tapi sudah ada sisipan muatan  lokal akibat bakincahnya  para aktivis  pendatang  baru  tadi.    Lalu   tatkala  wayang India telah benar-benar (diakui) menjadi Wayang Jawa Asli, kala itulah  wayang   “diambil” oleh  Urang  Banjar   sesuai   kemampuannya.   Hasilnya,  keruwetan kisah India yang masih   “mampu” dipertahankan  Wayang Jawa, mulai “gagal” dilidah Dalang Banjar. Siapa waruh siapa tambuk?  Dari perkembangan selanjutnya, malah dalam beberapa kasus  wayang Banjar yang main di Buntok, bawayang justru kian menonjolkan sisipan Punakawannya saja daripada pakem asalnya. Terus, ketika wayang India yang telah di-Jawa-kan lalu di-Banjar-kan itu sampai juga ke Buntok, permintaan  pasar  atau selera rakyat  Buntok yang  sederhana  justru “hanya” menantikan Punakawan saja dalam khasanah  bawayang  mereka. Sampai  kemudian, karena keranjingan Punakawan berikut  akibat  kegagalan  nenek saya dalam mencerna lakon pewayangan,  malah  mematok kavling pewayangan baru dilingkungan keluarga kami. Itulah yang oleh nenek saya dinamakan Babagongan atau Wayang Epat atau Wayang Ampat. Artinya,  bawayang bagi nenek saya hanyalah Lalakun Punakawan  saja, dimana pemain utamanya adalah  si  endek  Bagong  Jambulita.

Kalau asalnya bawayang lakon utamanya adalah orang  India dan  kisah India, yang ketika di Jawa ‘bertemu’ Punakawan  sebagai sisipan.   Justru di Buntok  lakon utamanya  adalah  Punakawan. Keterbatasan nenek saya dalam menyerap dan menceriterakan  kembali kisah wayang tersebut kepada saya akhirnya malah mematok bahwa lakon utama wayang adalah Bagong plus ayahnya  Semar berikut kakaknya Petruk Onta dan Nala Gareng. Barulah kemudian  artis Babagongan yang empat itu yang ketemu  wayang-wayang lain dalam perjalanan hidup mereka yang penuh liku-liku.  Artinya, telah terjadi pemutar-balikan rambu-rambu dan ideologi pewayangan di Kampung  Buntok. Dan anehnya, revolusi itu justru terjadi di Buntok dilidah nenek saya Jawiah yang buta huruf dan buta wayang.

Mungkin timbul pertanyaan, kenapa Babagongan atau Wayang Epat yang menyimpang justru ditampilkan kedepan?  Jawabannya  singkat saja.   Saya  hanya ingin menampakkan bahwa Babagongan  atau  Wayang Epat merupakan wayang khas Kalteng yang mudah-mudahan dapat  menjadi pilar  seni  budaya nasional.  Ini yang pertama. Kedua, lewat  Baba­gongan saya ingin menjadikannya jembatan informasi yang dapat dibaca oleh Pemerintah dalam arti luas dan masyarakat pada umumnya.  Karena apa? Sebab  cukup  banyak dinamika dalam  masyarakat  Kalteng  yang mungkin belum sempat dibaca oleh pemerintah. Atau sebaliknya, cukup banyak  informasi dari pemerintah yang kurang sampai kepada  rakyatnya.  Singkatnya, kiranya Babagongan ini dapat menjadi sarana silaturrahim  non formal  dalam bermasyarakat  dan berpemerintahan  di Propinsi Kalimantan  Tengah, sebab seluruh  isi  dan kulit  dalam lalakun Babagongan yang ditampilkan diusahakan semaksimal  mungkin menyerap  dinamika masyarakat Kalimantan Tengah yang  sedang  aktif bergerak maju.

Semoga upaya ini dapat diterima dengan baik, amin.

Kumai, 31 Januari  1997

Penggagas,

Syamsuddin  Rudiannoor

Jl. H.M. Idris No. 581 RT 07

Kumai – Pangkalan Bun  74181

.

.

BABAGONGAN BAGIAN PERTAMA

.

Sub Judul

.

SEMAR PEMIMPIN DROPING

.

Babagongan 1

.

TRAGEDI  KENTUT  SEMAR

(PEMIMPIN  1)

Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

.

 

Batara  Guru  sedang berceramah di depan  para kiyai, lurah, demang, pembakal, dambung, mantir dan aparat desa lainnya se Arcapada. Katanya sih temu kangen atau jumpa fans atau temu kader alias jumpa aparat, walau para malaikat dan para wayang tetangga menuduhnya sebagai kampanye. Kampanye premature — kata mereka. Kampanye berlaku surut, kata orang tertentu Biro Keuangan mengomentari pertanggung-jawaban pendanaannya. Tapi apapun kata orang, Batara Guru tetap punya kilah mantap untuk menepis segala pendapat miring, sumbang dan parau yang ditujukan ke arah partainya. Siapa sih yang tidak kenal Batara Guru alias Si Komo alias Paduka Duli Tuan Raja yang bersemayam di atas Api Nan Tak Kunjung Padam itu? Tentu semua orang kenal dia, sebab dialah manusia paling cerah masa depannya di Nusantara Wayang ini bersama Mbak Titot. Begitu ramal Gus Dur.

Ceramah Batara Guru pada intinya masalah kepemimpinan menjelang PJP II. (Tidak pernah membicarakan masalah bawahan, selalu masalah kepemimpinan atawa  masalah atasan). Itu artinya masalah proses suksesi dan demokratisasi. Singkatnya masalah Dekorasi alias demokrasi dan suksesi.

Mendengar ceramah yang itu-itu juga dari si Anu sampai si Anu berikutnya, telinga Kiyai Semar Alaihi Salam menjadi kehilangan kontrol atas data yang masuk komputer otaknya. Crouded kepala hamba jujur itu. Pusing tujuh keliling secara otomatis. Lalu apa pasalnya? Ternyata ketika telinga kirinya memproses data pendengaran: “….demokrasi harus kita giatkan terus karena demokrasi adalah pemerintahan rakyat, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat…!” Secara ajaib telinga kanannya malah mendengar  “…. demokrasi harus kita  giatkan terus karena demokrasi adalah pemerintahan saya,  dari saya,  oleh sampeyan  dan  untuk  saya…!”

Membaca input dari telinga kiri (baca: reciver kiri) dan telinga kanan yang paradoksal alias saling melengos, kontan  super komputer otak Semar jadi konslet. Blap, mendadak  kepalanya jadi pusing, mata berkunang-kunang, tenggorokan terasa mual sekali dan badan mendadak panas dingin. Seperseribu detik kemudian, data amburadul itu menohok-nohok perutnya yang  kosong  (karena Semar memang sedang puasa sunnah), menggelitik senjata pamungkasnya  yang cukup lama diam. Dan — bergejolaklah angin dalam lambung dan ususnya. Dus….., seperseratus detik kemudian, menggelegarlah bunyi kentut Kiyai Semar Alaihi Salam membelah ruang Sidang Paripurna Istimewa Luar Biasa  Tiada  Tara  Seantero Jagat Dunia Fana.

Sontak mendadak para peserta temu kader melirik Kiyai Semar yang  mengeluarkan  kentut dahsat. Tunggang langgang para jin dan setan yang duduk dikursi utama dan pengembira lari ketakutan. Suasana jadi riuh rendah memprotes kentut Lurah Teladan Karang Tumaritis yang dinilai tidak punya etiket dan sopan santun Nasional. Percuma dong penataran P4 yang telah diikuti di Jakarta?

“Ai…, tuha-tuha kada ba’adat, Lih?”, gumam seorang peserta Hulu Sungai murka. Akibatnya, kontan ruang sidang gelap gulita karena aliran listrik PLN langsung konsleting. Udara tercemar bau kentut seluruhnya, menyebabkan terjadinya kabut hitam di langit  kota. Matahari langsung tertutup mendung kelabu. Rumput-rumput di halaman langsung layu. Bunga-bunga segar langsung layu dan mati. Tapi celakanya, tatkala belalang kembara yang sudah berencana merusak padi-padi  petani Kumpai Batu Atas, pas mendengar ledakan kentut  Semar, kontan planing itu langsung dibatalkan dan dialihkan menyerang Kotawaringin Tuha. Ya….., hancurlah sawah orang Kutaringin dan untunglah para petani di Negeri Paman Bu’un untuk sementara. Kenapa Negeri Paman  Bu’un masih untung? Sebab dendam para belalang itu tak  akan pernah  sirna kalau Kumpai Batu tetap berdekatan dengan lokalisasi Kalimati.

Bergegas-gegas para hadirin  berebut  keluar menyelamatkan diri. Karena kalau tidak segera keluar, baju safari organisasi  yang dipakai  hadirin akan lengket bau kantut sadu’ Semar. Kalau  kentut sadu’  sudah lengket di baju, harapan enam bulan baju itu terus berbau,  kecuali pemilik baju segera melakukan umroh  dan  bertaubat nasuha di Masjidil Haram. Itupun kalau taubatnya diterima Allah. Kalau tidak, bisa seumur-umur baju itu akan terus berbau-bau dan bau. Wow sedap!

Dengan perasaan murka, Batara Guru Komo (bukan Batara Guru Ijai) lari  keluar ruangan lewat pintu darurat di dekatnya. Dia meludah sambil mengumpat: “Bangsat!! Baru di sini ada Lurah berani menghina Ketua Umum di depan forum resmi. Sudah dikasih mobil dinas, dikasih  fasilitas, dikasih kesempatan korupsi, dikasih ini-itu, tetap saja belum mampu berterima  kasih! Awas kamu, pasti ku-recall!!!”

Tercenung Semar di ruang itu sendirian setelah ditinggal lari seluruh peserta Samrat. Dicopotnya baju safari  organisasi  yang dipakainya. Diciumnya baju itu. Ternyata bajunya juga tercemar  bau kentut. Merasa kecewa, segera baju kuning orsospol dilipatnya sembarangan. Tanpa banyak kicau, kontan baju yang  telah berubah berwarna  kuning  tahi  itu  dilemparnya keluar. Hasilnya, terbanglah sang baju dengan megahnya di langit banua. Umpatnya sembrono: ”Salah sendiri, kenapa safari partai memilih warna mirip warna tahi..!”

Demi melihat baju Semar terbang keluar, riuh rendah orang luar berebut menjangkau baju pengurus itu. Akibatnya, terjadilah tragedi baru di luar arena sidang. Dan karena begitu serunya perebutan baju terjadi, ada saja anggota partai yang berkelahi dan berbu­nuh-bunuhan demi baju pengurus yang didambakan. Ada yang berhasil? Ternyata belum! Sebab semakin baju itu diperebutkan, semakin tinggi baju itu ditampur angin. Terbang kesana terbang kemari. Melayang kesana melayang kemari. Cenderung kesana cenderung kemari. Terbang dan terbang ke arah mana angin berhembus, tak perduli bisikan nurani. Sampai akhirnya, sangkutlah baju keramat itu di pohon simalakama yang cukup tinggi di tengah kota.

Sudah tahu sangkut di pohon simalakama yang akarnya menjuntai di dasar neraka, tetap saja para pemburu baju saling berebut habis-habisan. Berkelahi lagi beberapa pengincar setia baju itu sesamanya. Berbunuh-bunuhan  lagi  mereka demi berebut galah yang diperlukan. Lalu  ketika  seorang anggota partai akhirnya  berhasil mendapatkan galah dengan cara cukup machiavelistik, giranglah hati badut  konyol itu. Gumamnya dalam nada bangga: “Huh…! Pasti aku segera diambil sumpah sebagai  pengurus baru! Makanya, kalian yang  masih kurang sakti,  kurang  banyak mantera dan sesajen (atau kurang banyak memo, lampiran dan hahantaran), jangan coba-coba melawan aku. Pasti Yu akan tahu akibatnya! Dasar tolol! Mana bisa jadi pengurus partai kalau alamat pohon cendana saja tidak tahu, kan aneh?  Huh…!”

Wei…, tersenyum badut itu penuh kemenangan, senyum yang menurut para wartawan Barat Laut adalah senyum paling  tragis  di  dunia.  Kenapa begitu ya? Karena senyum itu lebih banyak pamer taring daripada unsur ramahnya. Tapi akan berhasilkah pemimpin kita itu nantinya?  Hanya dalang yang maha tahu!

Kumai, 30 Oktober 1996.

 

Kumpulan Cerpenku tentang Buntok

Kata Pengantar

Kesah-kesah pandak atau kumpulan cerita pendek fiksi ini merupakan tulisan yang dibuat antara 1987 sampai 1991. Karena baru 5 yang diketemukan maka baru inilah yang sempat dirangkai kedalam sebuah antologi sederhana, yang diberi judul ”Buntok…(Si Bungas dan Montok). Semoga saja potret faktual kehidupan di Kalimantan Tengah yang dilukis secara abstrak ini ada manfaatnya walau pun hanya sedikit saja, amin.

Sekedar bernostalgia, awal keberanian menulis fiksi adalah ketika di SMA Negeri –1  Kuala Kapuas (1980-1983), saya diajar oleh dua guru Bahasa Indonesia suami istri yakni  Drs. Johannes Joko Santoso Passandaran dan Dra. Supriatun.  Kedua orang ini sangat berperan menumbuhkan kecintaan dan keberanian tulis-menulis sehingga dimasa itulah saya meraih Juara I Lomba Mengarang Prosa Hari Pahlawan Tingkat Kabupaten Kapuas dan Juara II Lomba Mengarang Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah. Terima kasih tak terhingga kepada Bapak dan Ibu berdua.

Selepas SMA di Kuala Kapuas, saya kuliah di Surabaya.  Di Surabaya saya terus membuat tulisan sehingga beberapa cerpen sempat menghiasi koran mingguan ibukota Jakarta seperti “Terbit Minggu” dan “Sentana”. Namun karena pengarsipan yang buruk maka tulisan-tulisan itu raib dan tanpa arsip sama sekali. Maka ketika kemudian timbul lagi gairah menulis dan mereka ulang apa yang pernah ditulis dahulu maka segeralah dibuatkan antologi sederhana. Semoga dengan ditulis ulangnya  karya – karya sederhana ini maka akan bisa menambah khazanah budaya kita khususnya bagi kebudayaan di Provinsi Kalimantan Tengah.

Mohon maaf atas segala kekurangannya. Terima kasih atas segala perhatiannya.

Buntok,  15 Juni 2005

SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

 

 

 

 

 

 

 

Cerpen – 1

MATA KUNING

Buntok, 1980

Waktu Masinal*1) beberapa bulan lalu, aku kakak seniornya. Aku Lurah regunya. Aku juga Patih kelompoknya. Itulah aku dan jabatanku. Walaupun sedemikian pentingnya jabatanku, aku tetap belum kenal siapa dia? Siapa bapaknya? Siapa datu moyang atau ninik mamaknya? “Ah…, buat apa?”, fikirku egois, “toh gadis-gadis lain bertebaran dimana-mana.”

Tapi sekarang ini, hari ini, jam ini dan detik ini, aku jadi  bego dan penasaran lantaran dia. Lha …. kenapa? Nah ini. Coba fikir…! Masa dara lembut macam dia senangnya berada di arena dadu gurak? Ujar kabar, dia sering ada di kampung-kampung mana saja dijagat Barito Raya apabila keramaian Wara, Ijambe, Mia, Ngadaton atau Mambatur sedang berlangsung. Pokoknya…., dimana ada acara ampung kematian, di situ ada dia. Dimana ada judi rakyat, di situ ada dia. Yang pasti, usik liau*2) adalah arena  kubangan favoritnya. Nah ini.., terasa gaib. Apa betul tabiat gadis yang terlihat lembut, keibuan dan manis ini sedemikian menjijikkan?

Dan yau…, betapa kagetnya aku ketika terus kubaca diary miliknya: “…namaku Pia.., lahir di Penda Asam. Hobi: apa saja. Warna kesenangan:…kuning. Mataku juga kuning. Ya, warna untuk rindu selalu; …didalam rindunya aku…, barangkali engkau yang tahu..!” Hehehe…, hei gadis gila, kenapa Diary-mu ini ada di tasku? Dasar kutu kudis.., siapakah makhluk misterius yang sengaja menyelipkannya di tas butahku?*3)  Memang menantang, ya? Apa dia tidak tahu kalau aku ini kakak senior harapan bangsa.  Huh…., bego lho!

Sepulang di rumah, aku tetap bingung dengan Diary yang katanya milik Pia. Kok bingung? Ya .. gitu deh. Masa gadis desa yang suka warna kuning dan mengaku bermata kuning ini sering pergi ke arena judi? Dan aku…? Kenapa juga aku mesti mikiri anak kampung itu?  Memangnya…, orang yang sedemikian cool macam aku ini, yang sangat macho ini, yang keren ini.., masa harus rela buang-buang waktu memikirkan Diang*4) Imut yang tidak ada apa-apanya itu? Sory lah ya! Tapi.., tapi kenapa kok tetap kepikiran juga, ya? Itulah…., kenapa fikiran tidak bisa diatur bosnya?  Setan lho fikiran.  Buang-buang waktu dan energi saja. Percuma.

 

DATA DIRIKU

DATA DIRI

Makkah al Mukarramah

FOTOKU UMRAH TAHUN 2009

Aku, SYAMSUDDIN RUDIANNOOR (Rudi), lahir di Buntok, ibukota Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah, pada hari Kamis tanggal 30 Mei 1963. Ayahku Abdul Gani bin Mamat bin Katu, asal Mambulau / Kuala Kapuas Seberang, Kabupaten Kapuas. Beliau pensiunan PNS, mantan Kepala SMP Negeri 1 Buntok, Kepala SMP Negeri 2 Kuala Kapuas dan SMP Negeri Dahirang Kuala Kapuas. Ibuku Lamsyah binti Amir Hasan bin Inggar Bahan asal desa Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, juga pensiunan PNS, mantan Kepala SKKP Negeri Buntok dan Kepala SKB Kuala Kapuas.

Aku lahir sebagai sulung dari 7 bersaudara, adik kandung terdiri: Dra. SRI UTAMI (Yuyut, tinggal di Belgia), TRIO HARTO (Weweng, domisili di Kuala Kapuas), Dra. NURILLA AGUSTINA (Lila, PNS Pemda Kotawaringin Timur di Sampit), HIDAYAT SUBHAN (Swasta di Kuala Kapuas), APGRIO KARTANO (Ateng, Guru SMP Negeri Kuala Kurun) dan SITI FITRIATI (Pipit, PNS Pemda Kabupaten Kapuas di Kuala Kapuas).

Menikah tahun 1990 dengan Wiwik Setyowati binti Djono, asal Madiun, aku dikaruniai dua orang putra bernama Faizar Rudiannoor (19) dan Muhammad Irfan Rudiannoor (14).

Riwayat Pendidikan: TK 1969-1970 di Buntok, SD Negeri III Buntok 1971-1976, SMP Negeri 1 Buntok 1977-1979, kelas 3 pindah ke SMP Negeri 2 Kuala Kapuas 1979-1980, SMA Negeri 1 Kuala Kapuas 1980-1983, D III Akademi Pariwisata “Satya Widya” Surabaya Jurusan Perhotelan 1983-1986 dan S-1 Sosiologi Tahun  2004.

Pekerjaanku PNS Daerah Kabupaten Barito Selatan, bertugas di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Jalan Pelita Raya No. 50 Telepon (0525) 21192 Buntok 73711. Alamat rumah ku Jalan Panglima Batur No.7  Buntok 73711  Telepon  (0525)  22238,  HP. 081 349 606 504.

Pengalaman Kerja: 1). 1989-1992 Staf Dinas Pariwisata Propinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya. 2). 1992-1996 Pelaksana Kepariwisataan Pemda Kabupaten Kotawaringin Barat di Pangkalan Bun. 3). 1996-2000 Kaur Umum pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat di  Pangkalan Bun.  4). 2001-2003  staf  Dinas  Informasi, Komunikasi dan Pariwisata Kabupaten Barito Selatan di Buntok.  5). 2004-2008 Kasi Bina dan Pengembangan Sarana Wisata Dinas Informasi, Komunikasi, Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Barito Selatan.  6).  2008-sekarang Kasubbag Penyusunan Program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Barito  Selatan.

Pengalaman Menulis: 1). Juara I Sayembara Mengarang Prosa Hari Pahlawan ke – 36 Tahun 1981 Tingkat Kabupaten Kapuas.   2). Juara II Sayembara Mengarang Hardiknas Tingkat Propinsi Kalimantan Tengah Tahun 1982. (Kanwil Depdikbud).   3). Penerima Sertifikat Lomba  Karya  Tulis  Ilmiah Keagamaan Tingkat Nasional untuk Mahasiswa dari IMM-UGM Yogyakarta Tahun 1987.   4). Pendidikan  Pers dan Teknik Penulisan Karya Ilmiah Populer di Sema Fisip  Universitas Sunan Giri Surabaya tahun 1987.   5).  Penerima Penghargaan  Sayembara Karya Tulis Ilmiah Populer Nasional dari Majalah Amanah Jakarta Tahun 1988.   6). Koresponden / Perwakilan Kalteng Tabloid Pariwisata PESONA INDONESIA  Jakarta Tahun 1990-1992. 7). Koresponden / Perwakilan Kalteng Tabloid Pariwisata  WARTA PESONA  Bandung  Tahun 1991-1993.  8). Penulis tetap Bulanan Pariwisata  GRAHA WISATA Jakarta tahun 1991-1993. 9). Penulis  cerpen  temporer untuk harian ibukota (Sentana,  Pos  Kota,  Terbit) tahun 1983-1990.   10. Penulis temporer Kolom  dan  Opini  untuk  Koran  Kalselteng hingga sekarang.