Arsip

WADIAN DADAS (Sebuah Kearifan Lokal)

WADIAN DADAS

SUKU DAYAK DUSUN WITU MA’AI BERKISAH TENTANG NABI MUHAMMAD

(Sebuah Akulturasi Budaya dan Kearifan Lokal Suku Dusun di Desa Kalahien)

Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

WADIAN DADAS

PENGANTAR

Pemerintah RI dibawah Presiden Dr. Soesilo Bambang Yudhoyono, dalam hal ini Menteri Syaifullah Yusuf (2005) telah mengklasifikasi Kabupaten Barito Selatan sebagai Kabupaten Induk Tertinggal di Indonesia. Meski masuk jajaran “termiskin” di Indonesia tetapi Kabupaten Barito Selatan bukanlah daerah minus.  Justru sebaliknya,  kemiskinan yang dialami bukanlah miskin tanpa kekayaan, malah miskin didalam kekayaan.  Hanya saja kekayaan yang ada belum mampu membuat penduduknya kaya. Bak kata pepatah usang, “ayam mati di lumbung padi”.  Realitas seperti ini, apakah miskin karena takdir atau miskin karena memang ada unsur lainnya (?)

Walau menyandang Kabupaten Induk Termiskin di Indonesia tetapi Kabupaten Barito Selatan justru memiliki satu keunggulan menonjol, yaitu “Tidak Merasa Miskin.” Buktinya, kemiskinan struktural yang menjepit, tidak mematikan rakyat untuk tetap berbudaya.   Dan salah satu bentuk budaya miskin tapi kaya tersebut adalah mengejawantahkan Hikayat Wadian Dadas kedalam Seni Tari Akulturatif yang kian berkembang. Tidak tanggung-tanggung, ternyata orang Dayak Dusun Witu yang beragama nenek moyang: “Kaharingan”, yang berdomisili di desa miskin: “Kalahien”,  yang sama sekali tidak mengerti Islam, ternyata mempunyai kisah tersendiri tentang Nabi Muhammad, nabinya orang Islam. Dan anehnya lagi, kisah Nabi Muhammad tersebut merupakan dasar tari tradisional yang sangat terkenal: “Wadian Dadas”.  Maka untuk mengetahui hikayat Wadian Dadas versi Suku Dayak Dusun Witu  itu,  simaklah buku sederhana ini.  Selamat menyimak.

Buntok,  14  Oktober  2005

MENELUSURI AKAR SEJARAH

Kalimantan Negeri Dayak yang Sejati

Kalimantan bagian tengah dan selatan atau Tanah Dayak Besar adalah  negeri  merdeka  orang-orang Dayak yang aman, makmur dan sejahtera. “Ch.  F.H.  Dumont sebagaimana dikutip Tjilik Riwut menyebutkan bahwa orang-orang Dayak ialah penduduk pulau Kalimantan yang sejati. Sejak dahulu mereka ini mendiami seantero pulau Kalimantan, mulai dari sepanjang daerah pesisir hingga  kesebelah darat  atau pedalaman. Akan tetapi tatkala orang-orang Melayu dari Sumatera  dan Tanah Semenanjung Malaka datang ke sini, terdesaklah orang-orang Dayak itu lalu mundur, bertambah lama bertambah jauh  ke sebelah darat pulau Kalimantan. Selain dari pada orang Melayu, telah datang pula orang Bugis dan Makassar mendiami pantai timur dan pantai barat pulau Kalimantan. Demikian pula orang Jawa telah datang  semasa kerajaan Majapahit.  Dan orang asing yang datang di Kalimantan sebelah barat yaitu orang Tionghoa.”*1)

Komunitas Dayak sudah hidup di pesisir sebelum tahun 700 Masehi.  Pada sekitar tahun 700 M orang Dayak pesisir mendapatkan “gangguan” dari Suku Melayu Sumatera yang mengakibatkan orang-orang Dayak harus “diusir” dari tanah nenek moyangnya.  Sebagian orang Dayak lari ke pedalaman dan sebagian lagi bermigrasi ke negara lain. Bukti menunjukkan, suku Dayak Ma’anyan sebagian harus lari sampai ke Madagaskar dengan  perahu  jukung*2).   Baru  pada  abad  ke-13  orang  Jawa  dari  Jawa Timur datang menebarkan penderitaan baru bagi orang Dayak. “Sejak tahun 1200 Kalimantan merupakan salah satu daerah jajahan Kediri”.  Ini menurut berita China, sehingga rombongan Empu Jatmika   dari   Keling   yang   bermigrasi   itu  adalah   “transmigran”  sekaligus  “penakluk”*3)  negeri-negeri orang.

Meneliti dan menelusuri sejarah Dayak memang memiliki kesulitan tersendiri karena orang Dayak tidak mengenal tulisan.  Tulisan yang ada sejak zaman dahulu hanyalah berupa “tanda-tanda atau sandi” yang disebut Patuk Bakaka atau Tetek Bakaka. Data sejarah yang diperoleh hanya bersumber dari ceritera turun-temurun dari mulut ke mulut, yang oleh Antropolog Amerika Serikat A.B. Hudson disebut sebagai Traditional His­tory. Dan dua traditional history yang dikenal dikalangan Bangsa Dayak yang hidup di Pulau Kalimantan bagian tengah dan selatan adalah Tetek Tatum di kalangan suku Dayak Ngaju dan Ot Danum serta Taliwakas dikalangan suku Dayak Ma’anyan (dan Dusun).

Didalam  Tetek  Tatum dijumpai  keterangan banyak sekali kerajaan orang  Dayak  yang terdapat pada setiap pemukiman mereka. Setiap kerajaan  itu dijumpai seorang pemimpin  dari mereka.  Dan dengan  jelas  juga disebutkan bahwa Murung  yang sekarang  dikenal sebagai  Ujung  Murung (Banjarmasin?) adalah tempat  kediaman dan kerajaan  milik  suku Dayak Ngaju. Tetapi dalam tetek Tatum tidak dijumpai ceritera pertempuran dengan Majapahit atau kebudayaan Hindu sehingga realitas ini agak  berbeda dengan yang dialami oleh  suku  Dayak  Ma’anyan  Nan  Sarunai.*4)

Jauh  sebelum  Majapahit  menjajah kerajaan orang Dayak Ma’anyan (abad  XIV), suku ini sudah merasakan bagaimana sakitnya dijajah oleh bangsa asing dari Sumatera (Melayu) sehingga sejak abad VII mereka  sudah harus melarikan diri ke pedalaman Kalimantan. Sebagian  pelarian bukan saja hijrah ke pedalaman Kalimantan tetapi justru mengungsi ke Madagaskar dengan mempergunakan perahu  jukung. Rombongan dikabarkan sempat mampir di beberapa tempat seperti  Pulau Bangka  di dekat Sumatera.

Akibat pengungsian ini maka jadilah orang-orang Dayak Ma’anyan sebagai penduduk pertama  di  kepulauan tersebut sehingga tidak mengherankan apabila bahasa Madagaskar memiliki kemiripan dengan bahasa  Ma’anyan.*5)

Meski  kebanyakan  tanah Dayak mendapatkan pengaruh luas agama dan kebudayaan Hindu, tetapi “menurut Korm, di daerah Kapuas pada mata air Takarak  terpahat pada dinding lukisan-lukisan  aksara  Pallawa dari masa yang lebih muda,  berisi kalimat-kalimat kepercayaan  agama  Buddha dan amsal-amsal suci lain dengan maksud yang serupa”.*6)  Dengan demikian maka daerah ini telah pula dipengaruhi oleh kebudayaan dan agama Buddha sehingga agama asli Dayak yang berintikan kepercayaan dinamisme-animisme lokal, secara pasti telah mengalami proses akulturasi panjang dengan datangnya agama-agama baru dari seberang.

 

BERDIRINYA KERAJAAN BANJAR

 

Akhir Kerajaan Nan Sarunai, Awal Kerajaan Banjar

Banjarmasin Post, Kamis, 5 Agustus 1993,  berjudul: “Apa  Dibalik Candi Agung” oleh Attabranie Kasuma, menye­butkan bahwa “di daerah Candi Agung sebelum kekuasaan Ampu Jatmika paling sedikit ada tiga kerajaan, yaitu Kerajaan Nan Sarunai, Negeri Gagelang dan Kuripan.” Namun untuk menyebut pulau Borneo secara keseluruhan, berdasarkan peta zaman Belanda yang dibuat tahun 1938, Negara Kalimantan disebut sebagai Tanjung Negara, artinya Negara yang menjulur ke laut.  Dan Pahlawan Nasional asal Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut, menulis “istilah Tanjung Negara adalah nama yang dikenal sejak masa kejayaan Kerajaan Majapahit.”SUMBER PENULISAN

 

Catatan kaki:

*1) Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depdikbud  Sejarah Daerah Kalimantan Tengah, 1977/1978, halaman 8.

*2) Banjarmasin Post, Minggu 17 September 2000 halaman 4.

*3)    Tjilik  Riwut :  KALIMANTAN  MEMBANGUN,  Alam  dan Kebudayaan,  PT. Tiara Wacana, Yogyakarta

*4)   Sejarah Daerah Kalimantan Tengah, Ibid, halaman 66.

*5)    Banjarmasin Post, Minggu, 17 September 2000, Resensi: Mengenal Jukung Lebih Dekat (Erik Petersen).

*6)    Tjilik  Riwut :  KALIMANTAN  MEMBANGUN,  Alam  dan Kebudayaan,  PT. Tiara Wacana, Yogyakarta, Halaman 88 (mengutip Zafry  Zam zam:  MENCARI  KEPRIBADIAN  SENDIRI).

*7)    Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah: “SEJARAH DAERAH KALIMANTAN TENGAH”, 1997/1998, halaman 7.

*8)    Jawa yang dimaksud bukan ditujukan untuk mendiskreditkan suatu suku bangsa secara umum tetapi ditekankan kepada “rezim”  pada era tertentu.

*9) Banjarmasin Post, Kamis, 5 Agustus 1993.

*10)  Kalteng Pos, Palangka Raya, Selasa, 30 Maret 1999  menyebutkan bahwa “Rombongan serdadu Belanda  (Marsose) menyerang Candi Agung Amuntai  dan  membakar  sekitar  100 buah rumah di Murung Kaliwen. Dinamika Berita, Banjarmasin, Senin, 5 April 1999 menuturkan pembakaran Candi Agung tersebut dengan mengutip ratap tangis sejati  Taliwakas yang berbunyi: “Kaliwen  haut galis  rakit apui.  Murung Mangis jarah sia tutung. Wuwungan jatuh galis  jari awu.  Rampan ribu jarah janang inu”.

*11)  Tjilik Riwut, ibid,  halaman 88-89.

12) Tjilik Riwut, Op.cit, halaman 117.

*13) Jawa Pos, Jum’at 12 Juli 1991

*14)  Banjarmasin Post, Rabu 18 Jui 2003.

*15)  Tabloid Bebas, No. 092, 7-13 Maret 2001, hlm 5.

*16) Tabloid Bebas, No. 092, 7-13 Maret 2001, hlm 5.

*17) Tablid Bebas, No. 093, 14-20 Maret 2001, hlm  4.

A. WAWANCARA di Buntok, 1 Desember 2005 Pukul 09.30 WIB

NARA SUMBER UTAMA:  MAKEI  DAMON

DICERITERAKAN  KEMBALI OLEH :  SAITEN  R. NATU

SANGGAR TARI “IRING WITU” BUNTOK  Pimpinan: MUANDI (Ambah Ucan)

B. KEPUSTAKAAN

 

1.   Tjilik  Riwut,   “KALIMANTAN  MEMBANGUN”, Alam  dan  Kebudayaan, Penerbit PT. Tiara Wacana, Yogyakarta, 1993.

2.   Proyek  Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan  Daerah Depdikbud, “SEJARAH DAERAH KALIMANTAN TENGAH”, 1977/1978.

3.   Marwati Djoened Poesponegoro  dan  Nugroho Notosusanto: “SEJARAH NASIONAL INDONESIA III”, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Penerbit  PN Balai Pustaka,  Jakarta,  1984.

4.   Monografi Daerah Kalimantan Tengah.

5.   Harian Banjarmasin Post, Minggu, 17 September 2000.

6.   Harian Banjarmasin Post, Kamis, 5 Agustus 1993.

7.   Harian Kalteng Pos, Selasa, 30 Maret 1999.

8.   Harian Dinamika Berita, Senin, 5 April 1999.

9.   Harian Jawa Pos, 12 Juli 1991.

10. Tabloid mingguan Bebas, No. 092,  7-13 Maret 2001.

11. Tabloid mingguan Bebas, No. 093, 14-20 Maret 2001.

12. Tabloid mingguan Bebas, No. 094, 21-27 Maret 2001.

13. Harian Banjarmasin Post, Rabu, 18 Juni  2003.

14.  Sinopsis-sinopsis.