Arsip

OLEH-OLEH BARSEL SEGERA TERSEDIA LAGI

Sebagaimana posting kami pada hari Senin tanggal 14 Agustus 2014 dengan judul “Keripik dan Stik Lagi Kosong, Buku-buku masih Tersedia” maka saya Syamsuddin Rudiannoor atas nama Barsel Promo saat ini sedang memproduksi kembali aneka keripik dan stik. Dengan demikian insya Allah mulai hari Senin tanggal 1 September 2014 produk oleh-oleh khas Kabupaten Barito Selatan tersebut bisa diperoleh lagi di gerai kami. 
 
Kami kembali minta maaf atas kekosongan ini mengingat beberapa calon pembeli yang datang dan pemesanan melalui panggilan telepon harus kecewa dan pulang dengan tangan hampa. Toko kami “SIMPANG” dan Barsel Promo insya Allah segera memasarkan produk oleh-oleh tersebut.
 
Sekian, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kekurangan kami.

PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR (Wayang Buntok)

RESENSI BUKU

DSC00664Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

Katagori : Kumpulan cerita pendek versi wayang lokal Kalimantan Tengah

Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR Yogyakarta

Jumlah halaman : 366 halaman

Harga jual: Rp. 120.000,-

Kualitas cetak: Offset diatas book paper

Tahun Penerbitan: Cetakan I September 2013

Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok

Kontak telepon/sms: 0813 4960 6504

 

DSC00681WAYANG BUNTOK…, hah APAAN TUH..?

Antara tahun 1968 sampai 1975, Buntok masih kota sangat kecil yang sederhana. Kala itu sarana informasi rakyat yang paling moderen baru berupa pesawat radio dan sedikit tape recorder. Tidak ada pesawat televisi. Listrik masih belum PLN. Mobil masih tidak ada. Sepeda motor termasuk vesva masih berbilang jari. Siaran RRI merupakan siaran idola seluruh rakyat. Dus, dalam suasana seperti itu, tumbuhlah saya sebagai seorang anak bawang berusia 5 sampai 12 tahun.

Dalam kebersahajaan hidup Buntok tahun-tahun tersebut, terkenanglah saya akan jasa almarhumah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau. Kenapa demikian? Karena dari mulut tua beliau, saya mendengar secara berulang-ulang banyak kisah atau ceritera rakyat yang cukup variatif pokok bahasannya. Pendeknya, ada ceritera kancil dan pak tani. Ada kisah kura-kura dan burung pelatuk. Ada Sangumang dan keluarganya. Ada kisah Batara Gangga. Ada ceritera Supak dan Gantang. Dan yang terakhir saya ingat adalah kisah lucu yang beliau namakan Babagongan atau Wayang Epat.

Kembali ke suasana Buntok tahun 1968-1975, hiburan rakyat yang hidup kala itu adalah musik-musik RRI plus sedikit seni tradisional. Dan salah satu seni tradisi itu adalah pagelaran pentas wayang kulit. Terus, wayang kulit yang dimaksud adalah Wayang Banjar (atau wayang Jawa yang dimainkan oleh orang Banjar (?)). Pendek kata, seni yang dominan dimainkan di pahuluan Barito kala itu adalah seni pesisir yang dibawa orang Banjar. Sampai kemudian, tercatat ada dua*) orang lokal yang berhasil menyalin kaji dan menjadi dadalang wayang Banjar, meskipun kualitasnya terbilang prematur bila harus tega dibandingkan dengan dalang Jawa atau Paguruannya dari Banjar. Namun anehnya, justru kelahiran prematur dalang Buntok berikut kualitasnya yang diragukan, malah melahirkan wayang baru yang tak kalah unik, minimal setelah kisah wayang itu dituturkan kembali oleh nenek saya Jawiah binti Lelang kepada saya sebagai cucunya.

Ilustrasinya mungkin begini. Ketika wayang asli atau wayang India (berhasil dan atau gagal) diadopsi orang Jawa, orang Jawa menciptakan wayang baru yang sesuai dengan kejawaannya. Oleh karena itu, tidak heran kalau kemudian wayang asli mendapat anggota baru (putera daerah Jawa) seperti Wisanggeni, Ontoseno sampai Punakawan alias Kiyai Semar dan anak-anaknya. Meskipun skenario ceritera tetap kisah India sejati tapi sudah ada sisipan muatan lokal akibat bakincahnya para aktivis pendatang baru tadi. Lalu tatkala wayang India telah benar-benar (diakui) menjadi Wayang Jawa Asli, kala itulah wayang “diambil” oleh Urang Banjar sesuai kemampuannya. Hasilnya, keruwetan kisah India yang masih “mampu” dipertahankan Wayang Jawa, mulai “gagal” dilidah Dalang Banjar. Siapa waruh siapa tambuk? Dari perkembangan selanjutnya, malah dalam beberapa kasus wayang Banjar yang main di Buntok, bawayang justru kian menonjolkan sisipan Punakawannya saja daripada pakem asalnya. Terus, ketika wayang India yang telah di-Jawa-kan lalu di-Banjar-kan itu sampai juga ke Buntok, permintaan pasar atau selera rakyat Buntok yang sederhana justru “hanya” menantikan Punakawan saja dalam khasanah bawayang mereka. Sampai kemudian, karena keranjingan Punakawan berikut akibat kegagalan nenek saya dalam mencerna lakon pewayangan, malah mematok kavling pewayangan baru dilingkungan keluarga kami. Itulah yang oleh nenek saya dinamakan Babagongan atau Wayang Epat. Artinya, bawayang bagi nenek saya hanyalah Lalakun Punakawan saja, dimana pemain utamanya adalah si endek Bagong Jambulita.

ARTIS WAYANG BUNTOK CUMA EMPAT, Plus…

Kalau asalnya bawayang lakon utamanya adalah orang India dan kisah India, yang ketika di Jawa ‘bertemu’ Punakawan sebagai sisipan. Justru di Buntok lakon utamanya adalah Punakawan. Keterbatasan nenek saya dalam menyerap dan menceriterakan kembali kisah wayang kepada saya akhirnya malah mematok bahwa lakon utama wayang adalah Bagong plus ayahnya Semar berikut kakaknya Petruk Onta dan Nala Gareng. Barulah kemudian artis Babagongan yang empat itu yang ketemu wayang-wayang lain dalam perjalanan hidup mereka yang penuh liku-liku. Artinya, telah terjadi pemutar-balikan rambu-rambu dan ideologi pewayangan di Kampung Buntok. Dan anehnya, revolusi itu justru terjadi di Buntok di lidah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau yang buta huruf dan buta wayang.

Mungkin timbul pertanyaan, kenapa Babagongan atau Wayang Epat yang menyimpang justru ditampilkan kedepan? Jawabannya singkat saja. Saya hanya ingin menampakkan bahwa Babagongan atau Wayang Epat merupakan wayang khas Kalimantan Tengah yang mudah-mudahan dapat menjadi pilar seni budaya nasional. Ini yang pertama. Kedua, lewat Baba­gongan saya ingin menjadikannya jembatan informasi yang dapat dibaca oleh Pemerintah dalam arti luas dan masyarakat pada umumnya. Karena apa? Sebab cukup banyak dinamika dalam masyarakat Kalteng yang mungkin belum sempat dibaca oleh pemerintah. Atau sebaliknya, cukup banyak informasi dari pemerintah yang kurang sampai kepada rakyatnya. Singkatnya, kiranya Babagongan ini dapat menjadi sarana silaturrahim non formal dalam bermasyarakat dan berpemerintahan di Propinsi Kalimantan Tengah, sebab seluruh isi dan kulit dalam lalakun Babagongan yang ditampilkan diusahakan semaksimal mungkin menyerap dinamika masyarakat Kalimantan Tengah yang sedang aktif bergerak maju.

Selamat menikmati….

 

 

 

*)         Dua orang lokal yang berhasil menjadi Dalang Wayang Banjar itu adalah Kai Pa’ Baer (Kumis Saililah) dan Julak Pa’ Anen (Juri).

RESENSI BUKU GIGIR GAMPAR BARITO RAYA (Amuk 1860 – 1905)


Judul buku : GIGIR GAMPAR BARITO RAYA (Amuk 1860 – 1905)

Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

Katagori : Sejarah Daerah Kalimantan Selatan dan Tengah

Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR Yogyakarta

Jumlah halaman: 171 halaman

Kualitas cetak: Kertas bookpaper

Tahun Penerbitan: Cetakan I Oktober 2013

Harga jual: Rp. 60.000,-

Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok

Kontak telepon/sms:   0813 4960 6504

 

RESENSI BUKU Buku sederhana ini merupakan sejarah lokal kedua yang ditulis oleh Syamsuddin Rudiannoor setelah Nan Sarunai Usak Jawa. Proses pengumpulan bahan dilakukan sejak tahun 2003.

Patut diakui buku GIGIR GAMPAR BARITO RAYA (Amuk 1860 – 1905) ini, Bab Pertama dan Kedua kebanyakan merupakan kutipan buku pertama “NAN SARUNAI USAK JAWA”. Bagian ini merupakan pendahuluan dari sejarah Kalimantan sebelum timbulnya masa kelam kolonisasi dan kekejaman penjajahan bangsa Barat.

Kemudian untuk Bab Ketiga sampai Ketujuh diolah dan diramu dari berbagai sumber namun menitik-beratkan kepada buku “PERANG BANJAR” karya Bapak H.G. Mayur, SH. Beliau sendiri secara jujur mengungkapkan bahwa beliau mengambil bahan dari buku “De Bandjermasinsche Krijg” yang disusun oleh Mayor tituler pensiun W.A. van Rees dari Tentara Hindia Belanda. Meskipun demikian referensi lain tetap dipakai secara cermat sehingga tulisan menjadi mengalir dengan lancar. Pada bagian ini tergambar dengan jelas hiruk pikuk heroisme bangsa Dayak didalam memerangi kolonialisme bangsa Belanda di Nusantara khususnya di tanah Banjar yang dampak nyata dari pertempuran puluhan tahun ini berakibat langsung hingga ke pedalaman sungai Barito.

Sedangkan bab terakhir, berpedoman kepada karya Bapak Tjilik Riwut sertatulisan mutakhir lain yang didapat dari Harian Banjarmasin Post dan Tabloid Bebas. Dengan begitu maka buku ini memiliki daya tarik khusus bahkan kejutan yang tidak didapatkan dari buku sejarah lainnya seperti adanya bukti bahwa Panglima Burung adalah Pahlawan Dayak yang gagah perkasa didalam masa kejuangannya dipenghujung periode akhir perang Banjar di hulu sungai Barito di Tanah Dusun.


Sampai sekarang Panglima Burung yang di Barito dikenali sebagai “Pahlawan Jihad Barito” adalah wanita yang sangat cantik. Dia memiliki beberapa panggilan akrab oleh masyarakat. “Ada yang menyebutnya “Ilum” atau  “Itak” namun nama populernya adalah “Bulan Jihad”. Kabarnya, Bulan Jihad memeluk agama Islam dengan perantaraan Gusti Zaleha kawan seperjuangannya.Dan Gusti Zaleha adalah puteri Gusti Muhammad Seman, putera Pangeran Antasari yang memimpin Perang Banjar hingga memasuki kawasan Barito Utara dan (Barito) Selatan dengan semboyannya “Haram Manyarah, Waja Sampai ka  Puting”.  

Semoga buku sederhana ini bisa menambah wawasan kita didalam menghargai masa lalu bangsa kita yang sedemikian berat dan sangatlah besar.

RESENSI BUKU LIANG SARAGI, Semuanya karena Cinta….

Judul buku : LIANG SARAGI, Semuanya karena Cinta….

Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

Katagori : Legenda Daerah Kalimantan Tengah (Barito Timur)

Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR Yogyakarta

Jumlah halaman : 252 halaman

Harga jual: Rp. 70.000,-

Kualitas cetak: Offset diatas kertas HVS 70 gram

Tahun Penerbitan: Cetakan I Juli 2013

Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok

Kontak telepon/sms:      0813 4960 6504

 

Buku legenda “LIANG SARAGI, Semuanya karena Cinta”, merupakan kisah cinta tragis dan legendaris yang berasal dari Kabupaten Barito Timur Provinsi Kalimantan Tengah. Buku ditulis oleh Syamsuddin Rudiannoor pada tahun 1996.

Lokasi kejadian yang digambarkan “Liang Saragi” adalah perkampungan Tudan Tarung yang apabila dilihat dengan kacamata saat ini berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Awang kabupaten Barito Timur.

Kisah bermula ketika Raja Tudan Tarung yang bernama Dambung Datu Tatan sakit keras dan meninggal dunia. Dengan peristiwa ini otomatis tahta kepemimpinan diwarisi oleh anaknya yang bejat moralnya bernama Dambung Gamiluk Langit.

Singkat kata, Raja Dambung Gamiluk Langit akhirnya mengawinkan putrinya bernama Putri Lingga Wulan Layu dengan Maju Ranang Mea padahal Maju Ranang Mea adalah juga anak kandungnya yang merupakan hasil selingkuhnya dengan Dara Layang Winei.

Proses perkawinan sedarah ini dilakukan oleh Raja Dambung Gamiluk Langit dengan mengorbankan Saragi Nanta kekasih hati putrinya tercinta. Perkawinan paksa dilakukan dengan cara yang sangat licik. Saragi Nanta adalah putra tunggal Wadian Wawei Dara Mauruwe yang selama ini merupakan dukun kerajaan yang sangat terpercaya.


Pesta pernikahan kerajaan yang digelar raja Dambung Gamiluk Langit ternyata berbuah petaka. Perkawinan sedarah ini justru mengundang rume atau kiamat lokal yang mengakibatkan kemusnahan Tudan Tarung secara total. Guntur petir menyambar balai pernikahan yang meriah. Hujan deras membasahi seluruh kampung dan penghuninya. Akhirnya kampung beradab itu terkutuk menjadi batu. Bekas-bekas perkampungan inilah yang kemudian dikenal sebagai LIANG SARAGI.

Adat Pernikahan “Burung Juei”

DSC00250Pada Ahad pagi tanggal 10 November 2013 dilaksanakan walimah pernikahan Jesiska di Jalan Karau Gang Sewarga Buntok. Aqad nikahnya telah dilaksanakan secara Islam semalam di tempat yang sama oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Dusun Selatan.

 DSC00466Dalam walimah pagi itu dilaksanakan kegiatan mempertemukan kedua mempelai dengan prosesi adat Dusun-Ma’anyan yaitu “Burung Juei”.

DSC00311Burung Juei pada perhelatan ini dilaksanakan oleh Sanggar Tari “Iring Witu” Buntok pimpinan Saiten R Natu.

 DSC00370

Menariknya dalam prosesi perkawinan adat ini adalah tampilnya para penari “Ruang Wunrung” atau wadian Bawo (laki-laki) dan wadian Dadas (perempuan) secara bersamaan, ditambah atraktifnya penampilan wadian anak-anak.

DSC00471Semoga biduk rumah tangga yang dibangun Jesisca dengan suaminya yang berasal dari Sukamara berjalan bahagian dan sejahtera selama-lamanya, amin.

 DSC00540

 

BARSEL EXPO 2013 RESMI DIBUKA

Barsel Expo 2013 resmi dibuka oleh Bupati Barito Selatan Ir  M Farid Yusran pada Minggu malam tanggal 15 September 2013 pukul 19.30 WIB di panggung utama arena pameran Stadion Batuah Jalan Kompleks Pelajar Buntok. Kegiatan seremonial ini juga sekaligus pembukaan Festival Budaya Dahani Dahanai Tuntung Tulus tahun 2013. Even Barsel Expo 2013 direncanakan berlangsung sampai dengan tanggal 21 September 2013.
Usai acara pembukaan dan menyaksikan pementasan oleh para Juara Dance dan Band Festival Tahun 2013, Bupati Barito Selatan yang didampingi oleh ibu Yangsi Hartini, SH dan para Pejabat Daerah lainnya melakukan peninjauan ke stan para peserta pameran.
Tampak dari kunjungan ke arena expo malam ini (20.00 WIB), beberapa stan mendapat perhatian lebih  karena menawarkan tampilan yang menarik diantaranya Dinas Kehutanan dengan burung hantu berjoget. Sementara stan lainnya menarik pengunjung dengan membagikan kuis dan tawaran hadiah yang menarik. Sedangkan lapak-lapak pedagang dan penjual makan minumramai mendapat kunjungan dan transaksi.
Sukses untuk Barsel Expo 2013. Semoga mampu menumbuhkan jiwa wirausaha yang menguat dikalangan masyarakat Barito Selatan, amin.
(Syamsuddin Rudiannoor)

WAYANG BANJAR MAIN DI BUNTOK

Pulang dari rapat jamaah Fardhu Kifayah As-Sunnah Buntok pada hari Sabtu tanggal 20 April 2013, sekitar pukul 16.45 WIB saya melewati Jalan Panglima Batur Buntok. Pas melintas di depan rumah mantan Sekda Barsel Bapak William Doeradjat, terlihat disana Bapak Joko tetangganya sedang sibuk mengatur beberapa orang yang bekerja mempersiapkan tenda, sound system dan kursi-kursi plastik. Dengan pemandangan itu bisa dipastikan bahwa disana akan ada acara yang belum jelas acara apa.

Setelah sholat Isya di masjid As-Sunnah saya melintas lagi di jalan Panglima Batur depan rumah Pak Joko dan tetangganya Ir. Ibarata (Tata) putra Bapak William Doeradjat. Saat itulah saya tahu kalau malam ini akan ada wayang kulit walaupun belum tahu wayang apa. Kalau memperhatikan juriat Joko dan Tata maka saya pikir wayang Jawa. Namun kalau melihat tata panggungnya maka sulit wayang Jawa seperti itu karena wayang Jawa selalu akan memperlihatkan para pemain dan sindennya.

Malam itu sehabis Isya saya kerja lembur mencat rumah. Dari dalam rumah jelas terdengar kalau alunan musik dari pertunjukan yang sedang digelar adalah wayang Banjar. Artinya sudah lebih 10 tahun saya tidak mendengar musik rancak gamelar Banjar. Meski pun rinduku dengan wayang Banjar sudah besar, baru sekitar pukul 22.10 WIB saya keluar rumah karena kerja cat-catan rumah pun baru bisa diselesaikan.  

Maka dengan baju kerja yang penuh cat dan badan berpeluh, saya pun pergi menonton wayang Banjar. Saya pun melihat amang Malik abah Aziz ikut nonton. Ada amang Daben dan Sapuani bin Sintar dari Tane Runtun. Beberapa kenalan lain yang rindu wayang juga terlihat disana. Intinya, Wayang Banjar yang dimainkan malam itu setidaknya memberikan alternatif dari hingar-bingarnya dunia materi yang kian menggila menguasai dunia. Hahaha.., kula berjamu. Siapa waruh siapa tambuk???!