Arsip

PEMASARAN BUKU-BUKU LOKAL

Barsel Promo Buntok memasarkan buku-buku lokal sebagai berikut: 

1) Sejarah Kalimantan Tengah I berjudul NAN SARUNAI USAK JAWA (Negara Dayak Dihancurkan Bangsa Jawa, ).

2) Sejarah Kalimantan Tengah II berjudul GIGIR GAMPAR BARITO RAYA, Amuk 1860-1905.

3). Wayang Kalteng berjudul PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR. 

4). Legenda Kabupaten Barito Timur berjudul LIANG SARAGI, Semuanya karena Cinta.


. http://1.bp.blogspot.com/-c0BZpX5iA14/U2m0Qd1xNdI/AAAAAAAABdA/3VUEIODZ0kw/s1600/FILE0001.JPG

Pengalaman Menulis Syamsuddin Rudiannoor : 1). Juara I Sayembara Mengarang Prosa Hari Pahlawan ke – 36 Tahun 1981 Tingkat Kabupaten Kapuas.  2). Juara II Sayembara Mengarang Hardiknas Tingkat Propinsi Kalimantan Tengah Tahun 1982. (Kanwil Depdikbud).  3). Penerima Sertifikat Lomba  Karya  Tulis  Ilmiah Keagamaan Tingkat Nasional untuk Mahasiswa dari IMM-UGM Yogyakarta Tahun 1987.  4). Pendidikan  Pers dan Teknik Penulisan Karya Ilmiah Populer di Sema Fisip  Universitas Sunan Giri Surabaya tahun 1987.   5).  Penerima Penghargaan  Sayembara Karya Tulis Ilmiah Populer Nasional dari Majalah Amanah Jakarta Tahun 1988.  6). Koresponden / Perwakilan Kalteng Tabloid Pariwisata PESONA INDONESIA  Jakarta Tahun 1990-1992. 7). Koresponden / Perwakilan Kalteng Tabloid Pariwisata  WARTA PESONA  Bandung  Tahun 1991-1993.  8). Penulis tetap Bulanan Pariwisata  GRAHA WISATA Jakarta tahun 1991-1993. 9). Penulis  cerpen  temporer untuk harian ibukota (Sentana,  Pos  Kota, Terbit) tahun 1983-1990.   10. Penulis Kolom  dan  Opini  untuk  Koran  Kalselteng hingga sekarang.
Kontak Penulis dan Pemasaran : Jalan Panglima Batur Nomor 7 / Karang Paci Ujung, samping Kejaksaan Negeri Buntok di Buntok, Hp 081 349 606 504

PRODUK BARSEL PROMO HIASI BEBERAPA STAN PAMERAN

Dalam rentang waktu 7 (tujuh) bulan sejak dipasarkan mulai 20 Februari 2014, produk oleh-oleh Barsel Promo sudah diikutkan dalam ajang pameran di daerah ini yakni Kalteng Expo di Palangka Raya tanggal 18-23 Mei 2014 dan Barsel Expo di Buntok tanggal 14-22 September 2014.

Pada Kalteng lalu produk Barsel Promo mengisi stan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) Kabupaten Barito Selatan. Sedangkan dalam ajang Barsel Expo diikutkan dalam stan yang sama dan PKK / Dharma Wanita Sekretariat Daerah Kabupaten Barito Selatan.

Dalam waktu dekat pada ajang Pameran Produk Pertanian di Kuala Kapuas kembali Barsel Promo dipercaya memajang produknya di stan BKPPP Kabupaten Barito Selatan.

Dalam skala kecil, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Barito Selatan juga memajang beberapa sampel produk makanan ringan Barsel Promo di ruang pamer Sekretariat PKK Kabupaten Barito Selatan di Jalan Pelita Raya Buntok.

BARSEL EXPO 2014 SEGERA DILAKSANAKAN

Pemerintah kabupaten Barito Selatan kembali akan menghelat agenda tahunannya “BARSEL EXPO 2014″ di Buntok. Gawi tahunan ini dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-55 Kabupaten Barito Selatan.
.
Barsel Expo 2014 dijadualkan pada tanggal 14 – 21 September 2014 bertempat di Stadion Batuah, Jalan Kompleks Pelajar Buntok.
Pada even tahun ini Pemerintah kabupaten Barito Selatan sebagai penyelenggara menggandeng Putra Rapi Kreasi sebagai pelaksana pameran dagang ini, didukung oleh Putra Rapi Jaya Production dan  Shophie, kemudian didukung pula oleh media partner TVRI Kalteng, RRI Kalteng, Evella FM, koran Tabengan, Borneo News dan Radar Palangka Raya.

Semoga dengan terselenggaranya pameran pembangunan dan perdagangan ini maka perekonomian dan pembangunan kabupaten Barito Selatan bisa lebih maju lagi.

BARSEL PROMO BUNTOK

Barsel Promo

“Barsel Promo” adalah Kelompok Usaha dan Pemasaran Bersama yang dicetuskan oleh Syamsuddin Rudiannoor bin Abdul Gani bersama Rismato bin Sarbit pada momen Barsel Expo 2012 di Buntok. Kemudian pada Sabtu malam tanggal 30 Maret 2013 kelompok ini resmi didirikan melalui rapat yang dihadiri 7 (tujuh) orang. Keberadaan kelompok diperkuat dengan Surat Keputusan yang ditanda-tangani oleh pencetus dan pendiri.
.

710df-label2bbarsel2b28129Mulai tanggal 20 Februari 2014 “Barsel Promo” secara resmi membuka usaha pembuatan oleh-oleh khas Barito Selatan / Kalimantan Tengah berupa produk makanan ringan jenis camilan dan penerbitan buku-buku kedaerahan. Kedua jenis usaha ini untuk saat sekarang merupakan karya Syamsuddin Rudiannoor dengan label Barito Raya Pro.

.

Tempat usaha dan sekretariat dijalankan di ruang usaha milik Syamsuddin Rudiannoor di Jalan Panglima Batur Nomor 7 / Karang Paci Ujung (samping Kejaksaan Negeri) Buntok. Dengan demikian di alamat ini ada dua kegiatan yaitu usaha kelompok bernama “Barsel Promo” dan usaha pribadi Syamsuddin Rudiannoor bernama “Barito Raya Pro”.

.

Daftar oleh-oleh khas Barito Selatan dan Kalimantan Tengah yang ada di gerai Barsel Promo Buntok adalah:

1f356-dsc00004

Daftar Produk Barito Raya Pro

                                               

I Makanan Ringan
No Jenis Camilan / Nama Bahan Dasar Kemasan / Harga per bungkus
1 Keripik Lambiding Lambiding jauk / kelakai Jutuh alumunium foil / Rp. 15.000,-
2 Stik Lambiding Lambiding jauk / kelakai Jutuh alumunium foil / Rp. 10.000,-
3 Keripik Paku Pakis/paku Tanjung Lembeng alumunium foil / Rp. 15.000,-
4 Stik Paku Pakis/paku Tanjung Lembeng alumunium foil / Rp. 10.000,-
5 Keripik Putri Malu Air (Sasupan Danum) Sasupan danum danau Kaladan alumunium foil / Rp. 15.000,-
6 Stik Ikan Benangin Ikan Benangin alumunium foil / Rp. 10.000,-
7 Stik Lancar Kujang Sulur / akar keladi alumunium foil / Rp. 10.000,-
8 Stik Putri Malu Air Sasupan Danum Kaladan plastik trans /     Rp. 10.000,-
9 Stik Sayuran Lambiding, Paku, Kacang panjang, Sawi, Lombok, alumunium foil / Rp. 10.000,-
10 Stik Nanas Nanas Parigi

alumunium foil / Rp. 10.000,-

II Buku Lokal
No Jenis Buku / Judul Topik Bahasan Kualitas / Harga per buku
1 Sejarah “Nan Sarunai Usak Jawa” Runtuhnya negara Nan Sarunai oleh agresi Majapahit Cetak offset / HVS / 89 halaman / Rp. 30.000,-
2 Sejarah “Gigir Gampar Barito Raya” Perang Barito dan heroisme para pahlawan lokal Cetak offset / bookpaper / 171 halaman / Rp. 60.000,-
3 Liang Saragi, Semuanya karena Cinta Legenda Liang Saragi / Barito Timur Cetak offset / HVS / 252 halaman / Rp. 70.000,-
4 Wayang “Punakawan dalam Satire Dayak Besar” Wayang khas Buntok tentang dinamika ipoleksosbud di Kalteng Offset / bookpaper / 366 halaman / Rp. 120.000,-

c073a-file0001

Bagi yang ada keperluan bisa menghubungi tempat usaha dan sekretariat kami di Jalan Panglima Batur Nomor 7 / Karang Paci Ujung (samping Kejaksaan Negeri) Buntok, dengan Syamsuddin Rudiannoor, kontak / sms 0813 4960 6504.

OLEH-OLEH BARSEL SEGERA TERSEDIA LAGI

Sebagaimana posting kami pada hari Senin tanggal 14 Agustus 2014 dengan judul “Keripik dan Stik Lagi Kosong, Buku-buku masih Tersedia” maka saya Syamsuddin Rudiannoor atas nama Barsel Promo saat ini sedang memproduksi kembali aneka keripik dan stik. Dengan demikian insya Allah mulai hari Senin tanggal 1 September 2014 produk oleh-oleh khas Kabupaten Barito Selatan tersebut bisa diperoleh lagi di gerai kami. 
 
Kami kembali minta maaf atas kekosongan ini mengingat beberapa calon pembeli yang datang dan pemesanan melalui panggilan telepon harus kecewa dan pulang dengan tangan hampa. Toko kami “SIMPANG” dan Barsel Promo insya Allah segera memasarkan produk oleh-oleh tersebut.
 
Sekian, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kekurangan kami.

PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR (Wayang Buntok)

RESENSI BUKU

DSC00664Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

Katagori : Kumpulan cerita pendek versi wayang lokal Kalimantan Tengah

Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR Yogyakarta

Jumlah halaman : 366 halaman

Harga jual: Rp. 120.000,-

Kualitas cetak: Offset diatas book paper

Tahun Penerbitan: Cetakan I September 2013

Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok

Kontak telepon/sms: 0813 4960 6504

 

DSC00681WAYANG BUNTOK…, hah APAAN TUH..?

Antara tahun 1968 sampai 1975, Buntok masih kota sangat kecil yang sederhana. Kala itu sarana informasi rakyat yang paling moderen baru berupa pesawat radio dan sedikit tape recorder. Tidak ada pesawat televisi. Listrik masih belum PLN. Mobil masih tidak ada. Sepeda motor termasuk vesva masih berbilang jari. Siaran RRI merupakan siaran idola seluruh rakyat. Dus, dalam suasana seperti itu, tumbuhlah saya sebagai seorang anak bawang berusia 5 sampai 12 tahun.

Dalam kebersahajaan hidup Buntok tahun-tahun tersebut, terkenanglah saya akan jasa almarhumah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau. Kenapa demikian? Karena dari mulut tua beliau, saya mendengar secara berulang-ulang banyak kisah atau ceritera rakyat yang cukup variatif pokok bahasannya. Pendeknya, ada ceritera kancil dan pak tani. Ada kisah kura-kura dan burung pelatuk. Ada Sangumang dan keluarganya. Ada kisah Batara Gangga. Ada ceritera Supak dan Gantang. Dan yang terakhir saya ingat adalah kisah lucu yang beliau namakan Babagongan atau Wayang Epat.

Kembali ke suasana Buntok tahun 1968-1975, hiburan rakyat yang hidup kala itu adalah musik-musik RRI plus sedikit seni tradisional. Dan salah satu seni tradisi itu adalah pagelaran pentas wayang kulit. Terus, wayang kulit yang dimaksud adalah Wayang Banjar (atau wayang Jawa yang dimainkan oleh orang Banjar (?)). Pendek kata, seni yang dominan dimainkan di pahuluan Barito kala itu adalah seni pesisir yang dibawa orang Banjar. Sampai kemudian, tercatat ada dua*) orang lokal yang berhasil menyalin kaji dan menjadi dadalang wayang Banjar, meskipun kualitasnya terbilang prematur bila harus tega dibandingkan dengan dalang Jawa atau Paguruannya dari Banjar. Namun anehnya, justru kelahiran prematur dalang Buntok berikut kualitasnya yang diragukan, malah melahirkan wayang baru yang tak kalah unik, minimal setelah kisah wayang itu dituturkan kembali oleh nenek saya Jawiah binti Lelang kepada saya sebagai cucunya.

Ilustrasinya mungkin begini. Ketika wayang asli atau wayang India (berhasil dan atau gagal) diadopsi orang Jawa, orang Jawa menciptakan wayang baru yang sesuai dengan kejawaannya. Oleh karena itu, tidak heran kalau kemudian wayang asli mendapat anggota baru (putera daerah Jawa) seperti Wisanggeni, Ontoseno sampai Punakawan alias Kiyai Semar dan anak-anaknya. Meskipun skenario ceritera tetap kisah India sejati tapi sudah ada sisipan muatan lokal akibat bakincahnya para aktivis pendatang baru tadi. Lalu tatkala wayang India telah benar-benar (diakui) menjadi Wayang Jawa Asli, kala itulah wayang “diambil” oleh Urang Banjar sesuai kemampuannya. Hasilnya, keruwetan kisah India yang masih “mampu” dipertahankan Wayang Jawa, mulai “gagal” dilidah Dalang Banjar. Siapa waruh siapa tambuk? Dari perkembangan selanjutnya, malah dalam beberapa kasus wayang Banjar yang main di Buntok, bawayang justru kian menonjolkan sisipan Punakawannya saja daripada pakem asalnya. Terus, ketika wayang India yang telah di-Jawa-kan lalu di-Banjar-kan itu sampai juga ke Buntok, permintaan pasar atau selera rakyat Buntok yang sederhana justru “hanya” menantikan Punakawan saja dalam khasanah bawayang mereka. Sampai kemudian, karena keranjingan Punakawan berikut akibat kegagalan nenek saya dalam mencerna lakon pewayangan, malah mematok kavling pewayangan baru dilingkungan keluarga kami. Itulah yang oleh nenek saya dinamakan Babagongan atau Wayang Epat. Artinya, bawayang bagi nenek saya hanyalah Lalakun Punakawan saja, dimana pemain utamanya adalah si endek Bagong Jambulita.

ARTIS WAYANG BUNTOK CUMA EMPAT, Plus…

Kalau asalnya bawayang lakon utamanya adalah orang India dan kisah India, yang ketika di Jawa ‘bertemu’ Punakawan sebagai sisipan. Justru di Buntok lakon utamanya adalah Punakawan. Keterbatasan nenek saya dalam menyerap dan menceriterakan kembali kisah wayang kepada saya akhirnya malah mematok bahwa lakon utama wayang adalah Bagong plus ayahnya Semar berikut kakaknya Petruk Onta dan Nala Gareng. Barulah kemudian artis Babagongan yang empat itu yang ketemu wayang-wayang lain dalam perjalanan hidup mereka yang penuh liku-liku. Artinya, telah terjadi pemutar-balikan rambu-rambu dan ideologi pewayangan di Kampung Buntok. Dan anehnya, revolusi itu justru terjadi di Buntok di lidah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau yang buta huruf dan buta wayang.

Mungkin timbul pertanyaan, kenapa Babagongan atau Wayang Epat yang menyimpang justru ditampilkan kedepan? Jawabannya singkat saja. Saya hanya ingin menampakkan bahwa Babagongan atau Wayang Epat merupakan wayang khas Kalimantan Tengah yang mudah-mudahan dapat menjadi pilar seni budaya nasional. Ini yang pertama. Kedua, lewat Baba­gongan saya ingin menjadikannya jembatan informasi yang dapat dibaca oleh Pemerintah dalam arti luas dan masyarakat pada umumnya. Karena apa? Sebab cukup banyak dinamika dalam masyarakat Kalteng yang mungkin belum sempat dibaca oleh pemerintah. Atau sebaliknya, cukup banyak informasi dari pemerintah yang kurang sampai kepada rakyatnya. Singkatnya, kiranya Babagongan ini dapat menjadi sarana silaturrahim non formal dalam bermasyarakat dan berpemerintahan di Propinsi Kalimantan Tengah, sebab seluruh isi dan kulit dalam lalakun Babagongan yang ditampilkan diusahakan semaksimal mungkin menyerap dinamika masyarakat Kalimantan Tengah yang sedang aktif bergerak maju.

Selamat menikmati….

 

 

 

*)         Dua orang lokal yang berhasil menjadi Dalang Wayang Banjar itu adalah Kai Pa’ Baer (Kumis Saililah) dan Julak Pa’ Anen (Juri).

RESENSI BUKU GIGIR GAMPAR BARITO RAYA (Amuk 1860 – 1905)


Judul buku : GIGIR GAMPAR BARITO RAYA (Amuk 1860 – 1905)

Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

Katagori : Sejarah Daerah Kalimantan Selatan dan Tengah

Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR Yogyakarta

Jumlah halaman: 171 halaman

Kualitas cetak: Kertas bookpaper

Tahun Penerbitan: Cetakan I Oktober 2013

Harga jual: Rp. 60.000,-

Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok

Kontak telepon/sms:   0813 4960 6504

 

RESENSI BUKU Buku sederhana ini merupakan sejarah lokal kedua yang ditulis oleh Syamsuddin Rudiannoor setelah Nan Sarunai Usak Jawa. Proses pengumpulan bahan dilakukan sejak tahun 2003.

Patut diakui buku GIGIR GAMPAR BARITO RAYA (Amuk 1860 – 1905) ini, Bab Pertama dan Kedua kebanyakan merupakan kutipan buku pertama “NAN SARUNAI USAK JAWA”. Bagian ini merupakan pendahuluan dari sejarah Kalimantan sebelum timbulnya masa kelam kolonisasi dan kekejaman penjajahan bangsa Barat.

Kemudian untuk Bab Ketiga sampai Ketujuh diolah dan diramu dari berbagai sumber namun menitik-beratkan kepada buku “PERANG BANJAR” karya Bapak H.G. Mayur, SH. Beliau sendiri secara jujur mengungkapkan bahwa beliau mengambil bahan dari buku “De Bandjermasinsche Krijg” yang disusun oleh Mayor tituler pensiun W.A. van Rees dari Tentara Hindia Belanda. Meskipun demikian referensi lain tetap dipakai secara cermat sehingga tulisan menjadi mengalir dengan lancar. Pada bagian ini tergambar dengan jelas hiruk pikuk heroisme bangsa Dayak didalam memerangi kolonialisme bangsa Belanda di Nusantara khususnya di tanah Banjar yang dampak nyata dari pertempuran puluhan tahun ini berakibat langsung hingga ke pedalaman sungai Barito.

Sedangkan bab terakhir, berpedoman kepada karya Bapak Tjilik Riwut sertatulisan mutakhir lain yang didapat dari Harian Banjarmasin Post dan Tabloid Bebas. Dengan begitu maka buku ini memiliki daya tarik khusus bahkan kejutan yang tidak didapatkan dari buku sejarah lainnya seperti adanya bukti bahwa Panglima Burung adalah Pahlawan Dayak yang gagah perkasa didalam masa kejuangannya dipenghujung periode akhir perang Banjar di hulu sungai Barito di Tanah Dusun.


Sampai sekarang Panglima Burung yang di Barito dikenali sebagai “Pahlawan Jihad Barito” adalah wanita yang sangat cantik. Dia memiliki beberapa panggilan akrab oleh masyarakat. “Ada yang menyebutnya “Ilum” atau  “Itak” namun nama populernya adalah “Bulan Jihad”. Kabarnya, Bulan Jihad memeluk agama Islam dengan perantaraan Gusti Zaleha kawan seperjuangannya.Dan Gusti Zaleha adalah puteri Gusti Muhammad Seman, putera Pangeran Antasari yang memimpin Perang Banjar hingga memasuki kawasan Barito Utara dan (Barito) Selatan dengan semboyannya “Haram Manyarah, Waja Sampai ka  Puting”.  

Semoga buku sederhana ini bisa menambah wawasan kita didalam menghargai masa lalu bangsa kita yang sedemikian berat dan sangatlah besar.